Clock

Monday, July 30, 2012

Imunisasi BCG

Lewat tulisan kali ini saya ingin mengajak reader ke dunia “BCG”. The title is not real immunisation. BCG disini adalah kelas-kelas yang saya masuki selama saya belajar di Pare. B untuk Best Class, C untuk Champion, dan G untuk Galaxy.

Satu bulan pertama di course yang berlevelkan “basic” membuat saya homesick. Namun, saya berpikir tidak ada salahnya belajar kembali dari tingkat dasar sambil mengamati cara guru mengajar, dan materi-materi yang disampaikan. Teman-teman lain yang bernasib sama seperti saya (kembali belajar dari tingkat dasar) juga mungkin berpikiran sama. Maybe it’ll waste my time, but never mind. Tidak ada yang sia-sia di dunia, apalagi di dunia pendidikan, selalu saja ada hal baru yang bisa didapatkan. So, di kelas yang sangat sangat dasar bagi saya ini, saya belajar kembali alphabet, vocabularies, pronounciation, games, dictation, and many more. Oke, jadi dalam waktu sebulan saya harus mempelajari semua materi dasar bersama teman-teman sekelas yang rata-rata baru tamat SMA. Wow, It looks like I’m the old one! :D Saya mencoba belajar dan tidak mengeluh meski ada rasa lelah yang luar biasa karena mempelajari semuanya untuk yang kesekian kalinya. Saya mencoba men-sugesti diri sendiri, “Oke Dian, yang harus kamu lakukan hanya melihat cara guru mengajar dan materi yang diajarkan, sehingga kelak ketika kamu mengajar, cara ini bisa diterapkan kepada anak didikmu”. 

 Satu bulan penuh yang tanpa terasa dilalui dengan beragam momen manis. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika ditunjuk menjadi produser dan sutradara pada pementasan drama, drama ini akan dipentaskan pada saat penutupan program. Kemudian saya pun menerima tantangan ini. Tak dinyana-nyana, selain menjadi produser dan sutradara, saya juga merangkap menjadi penulis skrip dan penata musik! Hahaha, it seems like I have a lot of hands, right? :D Untungnya, semua pihak yang terlibat di drama tersebut membantu saya dengan segenap tenaga dan waktu. Saat tersulit memang ketika mengumpulkan seluruh pemain menjadi satu, kadang latihan harus terlambat, kadang ada yang merajuk, kadang ada yang tidak serius. Come on! Mungkin seperti inilah yang terjadi pada sutradara dan produser di industri perfilman sesungguhnya, pikir saya. Satu bulan pun berlalu dengan tiada diduga.
Memasuki bulan kedua, saya tidak sabar menantikan pelajaran apa yang akan saya terima di kursus paling tua di Pare ini. Hal yang paling membuat saya senang adalah saya dan teman-teman 10 champions berada di kelas yang sama, meski dua orang teman harus terpisah karena perbedaan registrasi di awal. Oya, satu hal yang menarik belum saya ceritakan saat registrasi awal. Karena Basic English Course (BEC) merupakan kursusan tertua di Dusun Singgahan (baca tulisan saya terdahulu), peminat kursus ini juga paling banyak. Saat mendaftar, saya dan 8 (delapan) orang teman (karena 1 orang dari Baubau masih di perjalanan) harus antri dari pukul setengah 5 subuh. Can you imagine that? Hanya untuk mendaftar di sebuah tempat kursus, para peminat ini rela berjubel mengantri. Selain itu, karena sistem di tempat kursus ini agak konvensional, registrasinya juga memakan waktu yang lama, mungkin sekitar 2 (dua) hari karena jumlah peminat yang mencapai ratusan ini. Kembali lagi ke kelas Champion di bulan kedua. Di kelas ini saya merasakan hangatnya persahabatan dan persaudaraan. Selain mendapatkan ilmu yang benar-benar bermanfaat, saya juga mendapatkan banyak teman yang bisa diajak berdiskusi dan bermain. Study hard, play harder! :D Meskipun sebagian dari mereka baru saja menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA, mereka tidak segan untuk bertanya, berbagi, dan ‘menggila’. Rasanya selalu saja ada tawa di kelas ini. Guru-guru pun merasa senang mengajar di kelas kami, dan hal yang terpenting saya bisa menangkap dan menyerap sedikit demi sedikit ilmu maupun teknik mereka mengajar. Karena suatu saat nanti saya juga ingin membuka sebuah kursus bahasa Inggris dan mencerdaskan generasi bangsa di daerah saya. Dengan penghuni kelas ini saya juga sering belajar bersama, melatih diri menjadi seorang guru, ceritanya. Belajar sambil bermain dan bercanda, serius tapi santai. Yah, ada kebahagiaan tersendiri ketika seseorang mengerti dengan satu materi pelajaran yang saya sampaikan. 

Bulan ketiga dan keempat juga berjalan dengan cepat seiring dengan bibit persahabatan yang sudah menjadi bunga persaudaraan dan buah kekeluargaan. Materi demi materi pelajaran disampaikan dengan sangat cermat oleh guru-guru. Teman-teman di kelas Champion juga bertumbangan satu demi satu dan meninggalkan segelintir orang di dalam kelas. Namun itu tidak menjadikan Champion patah arang. Satu hal yang sering guru kami, Mr. Hadi, berikan sebelum memulai pelajaran, Keys to get success: Strong Intention, Struggle hard, and Worship unto our God. Tiga kunci itu yang menjadi semangat di kala kami terutama saya sendiri, merasa kehilangan semangat untuk belajar. Di bulan ketiga dan keempat, selain belajar di dalam kelas, saya juga terpilih menjadi ketua Weekly Meeting. Meeting ini adalah kegiatan yang dilaksanakan seminggu sekali dan mengharuskan seluruh siswa untuk berpidato (dalam bahasa Inggris tentunya). Menjadi ketua ini merupakan saat-saat tersulit bagi saya, karena selain harus fokus pada pelajaran, saya juga harus fokus pada target utama saya ke Pare yaitu peningkatan TOEFL score (yang pada akhirnya tidak terlalu penting bagi saya). Memang menjadi ketua tidaklah berat pekerjaannya, tapi saya merasakan tanggung jawab yang sangat besar, karena selain kelas Champion di meeting ini juga saya mengetuai kelas Evolution. Saya dan partner kerja mencoba untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk bisa berpidato, karena permasalahan waktu beberapa meeting yang lain tidak bisa memberi kesempatan kepada semua anggotanya untuk berpidato. Di akhir program, para ketua Weekly Meeting diharuskan memberikan pidato pada acara Closing Meeting. Saya tidak pernah membayangkan akan berdiri di depan ratusan siswa dan guru-guru untuk berpidato.

Memasuki bulan kelima hingga ketujuh, saya masuk ke dalam kelas Galaxy dan kembali bertemu dengan wajah-wajah baru (tidak terlalu asing juga menurut saya karena beberapa orang pernah saya temui di bulan-bulan sebelumnya). Dan untungnya, saya juga berada di kelas yang sama dengan salah seorang teman dari 10 Champions, lucky me! Memasuki permulaan belajar di level paling tinggi kursusan ini, saya sedikit mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dan beradaptasi. Karena rasa kekeluargaan yang tinggi pada kelas-kelas sebelumnya, beberapa orang dari kami lebih senang untuk bergabung dengan ‘mantan’ teman sekelasnya dulu, begitu juga setelah kelas bubar. Dan saya bisa merasakan akan ada sedikit jurang pemisah diantara penghuni kelas Galaxy ini. Namun saya tidak terlalu ambil pusing dan terus mencoba berinteraksi dengan mereka. Mulai dari ikut makan bersama, pergi ke sawah di Daffodils bersama, belajar bersama, hingga yang paling ekstrem menurut saya adalah ikut latihan yell yell untuk yell competition. “Should I join this???” pikir saya waktu itu. Pernah membayangkan saja tidak, apalagi melakukannya! Namun semua aktivitas tetap saya jalani dengan ikhlas karena saya yakin semua kebaikan yang saya lakukan pasti ada hikmahnya untuk kehidupan saya kedepan. 

Dua hal tentang kursusan ini yang tidak bisa saya lupakan adalah ketatnya peraturan yang ada dan loyalitas para guru pada kursusan ini. Peraturan merupakan suatu hal yang tidak tertulis dan harus selalu diingat oleh para siswa. Disiplin adalah kunci untuk lulus dari tempat kursus ini. Tiga bulan terakhir merupakan program yang paling tinggi sekaligus berat karena kami harus berbicara bahasa Inggris setiap hari selama 24 jam. Siapa saja yang dengan sengaja melanggar akan langsung dikeluarkan! Kejam memang, tapi itulah kedisiplinan yang mereka pegang teguh bertahun-tahun lamanya. Di tingkat ini pula, kami harus membuktikan bahwa kami layak lulus dengan berkomunikasi langsung kepada turis asing di Candi Borobudur. Inilah satu hal yang saya tunggu-tunggu karena saya sudah tidak sabar mengunjungi situs budaya termegah di Indonesia dan pernah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Selain peraturan, guru merupakan faktor penting berhasilnya kursusan ini menciptakan lulusan berkualitas. Mereka adalah guru-guru yang berdedikasi dan berpengalaman. Mereka telah mengajari di BEC selama kurang lebih 10 hingga 13 tahun, meski ada beberapa yang baru menginjak tahun kedua. Saya hanya bisa berdecak kagum dan mengucapkan subhanallah, mereka mengajar hanya dengan modal semangat dan ikhlas. Dari 15 orang guru mungkin hanya 6 atau 7 orang yang pernah menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Yang paling saya salut, mereka tidak pernah lelah mengajar meski hanya di tempat kursus dan di sebuah dusun yang kecil, jauh dari perkotaan. Tidak berharap menjadi pegawai negeri ataupun duduk di pemerintahan. Mereka hanya ingin memajukan dusun kecil itu, Singgahan, yang ada di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Saya akan selalu merindukan semua itu, BEC, Pare, Mr. Kalend, dan semua guru-guru. Ciao! :D

2 comments:

  1. nice post.
    How's Mr. Kalend, Mr. Rijal?
    I was TC 100.

    ReplyDelete
  2. Thanks. I think they're good, because I left Pare last year, July 2011. Miss Pare so much! :D

    ReplyDelete