Clock

Monday, July 30, 2012

Imunisasi BCG

Lewat tulisan kali ini saya ingin mengajak reader ke dunia “BCG”. The title is not real immunisation. BCG disini adalah kelas-kelas yang saya masuki selama saya belajar di Pare. B untuk Best Class, C untuk Champion, dan G untuk Galaxy.

Satu bulan pertama di course yang berlevelkan “basic” membuat saya homesick. Namun, saya berpikir tidak ada salahnya belajar kembali dari tingkat dasar sambil mengamati cara guru mengajar, dan materi-materi yang disampaikan. Teman-teman lain yang bernasib sama seperti saya (kembali belajar dari tingkat dasar) juga mungkin berpikiran sama. Maybe it’ll waste my time, but never mind. Tidak ada yang sia-sia di dunia, apalagi di dunia pendidikan, selalu saja ada hal baru yang bisa didapatkan. So, di kelas yang sangat sangat dasar bagi saya ini, saya belajar kembali alphabet, vocabularies, pronounciation, games, dictation, and many more. Oke, jadi dalam waktu sebulan saya harus mempelajari semua materi dasar bersama teman-teman sekelas yang rata-rata baru tamat SMA. Wow, It looks like I’m the old one! :D Saya mencoba belajar dan tidak mengeluh meski ada rasa lelah yang luar biasa karena mempelajari semuanya untuk yang kesekian kalinya. Saya mencoba men-sugesti diri sendiri, “Oke Dian, yang harus kamu lakukan hanya melihat cara guru mengajar dan materi yang diajarkan, sehingga kelak ketika kamu mengajar, cara ini bisa diterapkan kepada anak didikmu”. 

 Satu bulan penuh yang tanpa terasa dilalui dengan beragam momen manis. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika ditunjuk menjadi produser dan sutradara pada pementasan drama, drama ini akan dipentaskan pada saat penutupan program. Kemudian saya pun menerima tantangan ini. Tak dinyana-nyana, selain menjadi produser dan sutradara, saya juga merangkap menjadi penulis skrip dan penata musik! Hahaha, it seems like I have a lot of hands, right? :D Untungnya, semua pihak yang terlibat di drama tersebut membantu saya dengan segenap tenaga dan waktu. Saat tersulit memang ketika mengumpulkan seluruh pemain menjadi satu, kadang latihan harus terlambat, kadang ada yang merajuk, kadang ada yang tidak serius. Come on! Mungkin seperti inilah yang terjadi pada sutradara dan produser di industri perfilman sesungguhnya, pikir saya. Satu bulan pun berlalu dengan tiada diduga.
Memasuki bulan kedua, saya tidak sabar menantikan pelajaran apa yang akan saya terima di kursus paling tua di Pare ini. Hal yang paling membuat saya senang adalah saya dan teman-teman 10 champions berada di kelas yang sama, meski dua orang teman harus terpisah karena perbedaan registrasi di awal. Oya, satu hal yang menarik belum saya ceritakan saat registrasi awal. Karena Basic English Course (BEC) merupakan kursusan tertua di Dusun Singgahan (baca tulisan saya terdahulu), peminat kursus ini juga paling banyak. Saat mendaftar, saya dan 8 (delapan) orang teman (karena 1 orang dari Baubau masih di perjalanan) harus antri dari pukul setengah 5 subuh. Can you imagine that? Hanya untuk mendaftar di sebuah tempat kursus, para peminat ini rela berjubel mengantri. Selain itu, karena sistem di tempat kursus ini agak konvensional, registrasinya juga memakan waktu yang lama, mungkin sekitar 2 (dua) hari karena jumlah peminat yang mencapai ratusan ini. Kembali lagi ke kelas Champion di bulan kedua. Di kelas ini saya merasakan hangatnya persahabatan dan persaudaraan. Selain mendapatkan ilmu yang benar-benar bermanfaat, saya juga mendapatkan banyak teman yang bisa diajak berdiskusi dan bermain. Study hard, play harder! :D Meskipun sebagian dari mereka baru saja menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA, mereka tidak segan untuk bertanya, berbagi, dan ‘menggila’. Rasanya selalu saja ada tawa di kelas ini. Guru-guru pun merasa senang mengajar di kelas kami, dan hal yang terpenting saya bisa menangkap dan menyerap sedikit demi sedikit ilmu maupun teknik mereka mengajar. Karena suatu saat nanti saya juga ingin membuka sebuah kursus bahasa Inggris dan mencerdaskan generasi bangsa di daerah saya. Dengan penghuni kelas ini saya juga sering belajar bersama, melatih diri menjadi seorang guru, ceritanya. Belajar sambil bermain dan bercanda, serius tapi santai. Yah, ada kebahagiaan tersendiri ketika seseorang mengerti dengan satu materi pelajaran yang saya sampaikan. 

Bulan ketiga dan keempat juga berjalan dengan cepat seiring dengan bibit persahabatan yang sudah menjadi bunga persaudaraan dan buah kekeluargaan. Materi demi materi pelajaran disampaikan dengan sangat cermat oleh guru-guru. Teman-teman di kelas Champion juga bertumbangan satu demi satu dan meninggalkan segelintir orang di dalam kelas. Namun itu tidak menjadikan Champion patah arang. Satu hal yang sering guru kami, Mr. Hadi, berikan sebelum memulai pelajaran, Keys to get success: Strong Intention, Struggle hard, and Worship unto our God. Tiga kunci itu yang menjadi semangat di kala kami terutama saya sendiri, merasa kehilangan semangat untuk belajar. Di bulan ketiga dan keempat, selain belajar di dalam kelas, saya juga terpilih menjadi ketua Weekly Meeting. Meeting ini adalah kegiatan yang dilaksanakan seminggu sekali dan mengharuskan seluruh siswa untuk berpidato (dalam bahasa Inggris tentunya). Menjadi ketua ini merupakan saat-saat tersulit bagi saya, karena selain harus fokus pada pelajaran, saya juga harus fokus pada target utama saya ke Pare yaitu peningkatan TOEFL score (yang pada akhirnya tidak terlalu penting bagi saya). Memang menjadi ketua tidaklah berat pekerjaannya, tapi saya merasakan tanggung jawab yang sangat besar, karena selain kelas Champion di meeting ini juga saya mengetuai kelas Evolution. Saya dan partner kerja mencoba untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk bisa berpidato, karena permasalahan waktu beberapa meeting yang lain tidak bisa memberi kesempatan kepada semua anggotanya untuk berpidato. Di akhir program, para ketua Weekly Meeting diharuskan memberikan pidato pada acara Closing Meeting. Saya tidak pernah membayangkan akan berdiri di depan ratusan siswa dan guru-guru untuk berpidato.

Memasuki bulan kelima hingga ketujuh, saya masuk ke dalam kelas Galaxy dan kembali bertemu dengan wajah-wajah baru (tidak terlalu asing juga menurut saya karena beberapa orang pernah saya temui di bulan-bulan sebelumnya). Dan untungnya, saya juga berada di kelas yang sama dengan salah seorang teman dari 10 Champions, lucky me! Memasuki permulaan belajar di level paling tinggi kursusan ini, saya sedikit mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dan beradaptasi. Karena rasa kekeluargaan yang tinggi pada kelas-kelas sebelumnya, beberapa orang dari kami lebih senang untuk bergabung dengan ‘mantan’ teman sekelasnya dulu, begitu juga setelah kelas bubar. Dan saya bisa merasakan akan ada sedikit jurang pemisah diantara penghuni kelas Galaxy ini. Namun saya tidak terlalu ambil pusing dan terus mencoba berinteraksi dengan mereka. Mulai dari ikut makan bersama, pergi ke sawah di Daffodils bersama, belajar bersama, hingga yang paling ekstrem menurut saya adalah ikut latihan yell yell untuk yell competition. “Should I join this???” pikir saya waktu itu. Pernah membayangkan saja tidak, apalagi melakukannya! Namun semua aktivitas tetap saya jalani dengan ikhlas karena saya yakin semua kebaikan yang saya lakukan pasti ada hikmahnya untuk kehidupan saya kedepan. 

Dua hal tentang kursusan ini yang tidak bisa saya lupakan adalah ketatnya peraturan yang ada dan loyalitas para guru pada kursusan ini. Peraturan merupakan suatu hal yang tidak tertulis dan harus selalu diingat oleh para siswa. Disiplin adalah kunci untuk lulus dari tempat kursus ini. Tiga bulan terakhir merupakan program yang paling tinggi sekaligus berat karena kami harus berbicara bahasa Inggris setiap hari selama 24 jam. Siapa saja yang dengan sengaja melanggar akan langsung dikeluarkan! Kejam memang, tapi itulah kedisiplinan yang mereka pegang teguh bertahun-tahun lamanya. Di tingkat ini pula, kami harus membuktikan bahwa kami layak lulus dengan berkomunikasi langsung kepada turis asing di Candi Borobudur. Inilah satu hal yang saya tunggu-tunggu karena saya sudah tidak sabar mengunjungi situs budaya termegah di Indonesia dan pernah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Selain peraturan, guru merupakan faktor penting berhasilnya kursusan ini menciptakan lulusan berkualitas. Mereka adalah guru-guru yang berdedikasi dan berpengalaman. Mereka telah mengajari di BEC selama kurang lebih 10 hingga 13 tahun, meski ada beberapa yang baru menginjak tahun kedua. Saya hanya bisa berdecak kagum dan mengucapkan subhanallah, mereka mengajar hanya dengan modal semangat dan ikhlas. Dari 15 orang guru mungkin hanya 6 atau 7 orang yang pernah menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Yang paling saya salut, mereka tidak pernah lelah mengajar meski hanya di tempat kursus dan di sebuah dusun yang kecil, jauh dari perkotaan. Tidak berharap menjadi pegawai negeri ataupun duduk di pemerintahan. Mereka hanya ingin memajukan dusun kecil itu, Singgahan, yang ada di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Saya akan selalu merindukan semua itu, BEC, Pare, Mr. Kalend, dan semua guru-guru. Ciao! :D

Read More......

English Family

English Community of STAIN pontianak held a program named Ramadhan English Camp (REC) 2012. It was begun on 27th-29th July 2012 in ex Alianyang Center building. As a coordinator of EC STAIN Pontianak, my friends and I prepared this program for about one month. They were Zuraida, Eni Desiyani, and Titah Saputri. Besides, there were some people who helped us like Eko, Azmi, Suci, Yanto, Adi, and Bagus. At the first time we were really confused about what activities we should arrange to attract the participants. Long by long, we found some activities that perhaps beneficial for them. Because of holiday season, we just got four participants outside of club and two participants who are the members of EC. Furthermore, some of the organizing committee has never attended a program like this, so they became the participants too. 


First day, I felt trembling when we held the Opening Ceremony. Mr. Hermansyah as a Vice Chairman in Students Division had already come but guests and participants hadn’t come yet. I wished it’s not a bad symptom that this program couldn’t run well. One of the hardest part of this program was all participants must speak in English 24 hours. I knew it would be hard even for me, so we decided to simplify the rule, they may speak Bahasa Indonesia in discussion session. After Opening Ceremony, we introduced ourselves in a very unique way (thanks to our supervisor, Mr. Segu who told us this way). We were supposed to mention our name; real and western name, our hometown, our feelinng, opinion, and motivation. Then, we did some games to help memorizing our friend’s names. Because of Friday, we should finish our activity soon because the man would do Friday Prayer. When Friday prayer, the woman went to Alianyang Center directly and I caught up later. On the way, one of the facilitator phoned Zu because of Alianyang Center was locked. ‘Oh my dear!’ I thought, I hope it’s not another bad thing for us. When I reached Alianyang Center, the participants were sitting on the terrace floor. ‘Poor them!’ My heart said. After waiting for a long time, finally the keeper of the building came and opened it. ‘Okay! Here we go! Time to rock the three days with English!’ I told them. We cleaned up the place which we slept on, tidy up our clothes while waiting for the man come for Friday Prayer, and ready for the first session of this program. I thought the first day ran well. We began the program with Part of Speech discussion, Listening to the song; Hero from Mariah Carey, and did some games like missing lyrics. Then I gave them what I had got from Pare, Tenses song,and did some discussion too. An amazing thing was when we could sit and share together in English while waiting for breaking our fasting because it’s a Ramadhan month. Time to fasting for one month for Moslems. We ate together while making some jokes, discussed something, prayed Maghrib, Isya, and Tarawih. After that, we had a discussion again about Opening Mind by Social and Cultures. This was about the differences between Indonesian and western cultures and how each people treat others. The participants were interested in this discussion and asked many things about the cultures, social life, even education system.


The next day we also had a lot of discussion session with two lecturers from STAIN Pontianak, Mr. Segu and Mr. Maladi. However, before the discussion, we watched movie entitled “The Blind Side” first. The movie told about social and culture too, especially in America between Black and White people there. We paused the movie for a while and stepped to the next discussion about pronounciation and easy tenses. I was sure that the participants got a lot form Mr. Segu, even my friends and I as facilitator. Mr. Segu gave us some interesting videos to watch and learn English. One thing I like from the participants was their willingness to speak English even it still mixed with Bahasa. I just need their intention to study and learn English in this program. Moreover, they also learned how the way of speaking English easily. They got it from Mr. Maladi. I didn’t attend this session because Zu and I should go to find something and the main point was we needed the fresh air much! :D There was a bad condition when the gentlemen came late in one session. Even it was just handled by facilitator, they were late for 45 minutes and it was really an unforgivable condition. Zu and I got angry, but just at the moment and we continued our activity later. The last session for the second day was played “Never Ending Story” games and continued watching movie. Having watched movie, we shared and discussed it, and everybody spoke at that time. They had different idea about the movie, but they had same point of view about reaching dreams, strong intention, good effort, then those could alter the main character of the movie. He came from zero to hero, from no one to be someone. Having Sahur together was also unforgettable moment for us. Because it was really difficult to wake them up after all of the tiring activities.


The last day would be a precious day for the participants and I. We had an outbond, did sport and games while watching sunrise. It was held on the top of Alianyang Center building so we could watch a beautiful sunrise clearly. We did “I have never/ I have never been” game and I was one of the lost participants in this game. Then, we played “Guess Songs” which we should sing a song from one word that would be given. The last we played “One Word” game, it was about mention one word then our friends should mention another word with the last alphabet from the word that already mentioned before. Furthermore, we finished the outbond, cleaned up the building and our stuff, packed all the things and waited the last session of this day that was an introduction from the other English Clubs in Pontianak. They were Khatulistiwa English Community (KEY) and Excellence English Studio. The participants were so impressed by KEY and Excellence because they had a new family in English community. Besides, they learned many new things about managing a community. Finishing this session we had a photo session with all of REC participants and KEY plus Excellence. We had a very good and valuable time with them. We shared and asked many question about language community. They were also happy getting invloved in this program. As like English Community of STAIN Pontianak had found new family and new places to practice English. Finally, we closed REC program with some impression words from participants. We also had three best participants, they were Bagus, Sasa, and Ninda. Keep studying, guys! I hope we all can work together and succeed at last. I found many things from this program. But the important one, I found family here, they were in English Community of STAIN Pontianak. See you on other programs, good luck!

Read More......

My Blood is Black and White (Published also in Signora 1897.com)

Berbicara tentang Juventus seperti berbicara tentang perasaan cinta. Sebelumnya, perkenalkan, saya Dian K. Sari, fans Juventus dari Chapter Kalimantan Barat, khususnya Pontianak. 

Emang banyak yang bilang bicara tentang Juventus pasti tidak bisa lepas dari yang namanya Alessandro Del Piero, begitu pula saya. Pertama kali mengenal sepak bola waktu nonton pertandingan Piala Dunia 1998. Maklum, tiga orang saudara saya para pejantan tangguh, jadi pada saat musim-musim pertandingan Piala Dunia 1998 itu mereka tidak pernah mengubah channel televisi selain channel yang menyiarkan Piala Dunia 1998. Dari beberapa pertandingan yang saya tonton (pada waktu itu tidak semua pertandingan bisa saya tonton karena saya masih kelas 6 SD dan harus belajar buat ujian akhir), ada satu sosok yang membuat saya terpesona yaitu King Alex “Alessandro Del Piero”. 


Di usia 10 tahun praktis saya tidak tahu banyak tentang sepak bola, apalagi nama pemain-pemain dunia yang masing-masing membela timnas mereka. Tapi entah mengapa, melihat sosoknya yang kalem dan cakep itu membuat saya mulai beraksi mencari informasi tentang Alex Del Piero ini. Dari hasil pantauan saya beberapa hari kemudian (bahasanya ga nahan! :D), fakta yang saya temukan adalah Del Piero membela sebuah klub yang bermarkas di Turin, berseragam hitam putih, dan dijuluki si Nyona Tua. Sejak saat itu saya selalu mengikuti berita-berita dan pertandingan-pertandingan yang dilakoni skuad Il Bianconero. Pada saat itu saya mengoleksi kartu-kartu yang bergambarkan pemain-pemain sepak bola dunia, poster, dan stiker, yang paling banyak tentu saja pemain dari Italia. Perjuangan menjalani hobi ini sangatlah tidak mudah bagi saya, karena pada waktu itu saya dilarang mati-matian dengan Ibu saya. “Perempuan kok hobinya sepak bola!” kata beliau waktu itu. 


Saat duduk di kelas 1 SMP, saya juga kesulitan menonton pertandingan-pertandingan sepak bola, khususnya Juventus, karena pertandingan yang disiarkan biasanya sampai larut malam. Saya harus kucing-kucingan dengan Ibu saya, pura-pura tidur lebih awal, kemudian saat saudara-saudara saya menghidupkan televisi pelan-pelan saya pun keluar kamar. There’s nothing to say except alhamdulillah, Thanks God! Saya bisa menonton hingga akhir pertandingan. Meskipun performa para bintang-bintang Juventus tidak stabil yang membuat kondisi tim jadi tidak stabil pula, saya tidak pernah tertarik untuk pindah ke lain hati dalam hal sepak bola. Ada kalanya Juventus harus terpuruk ketika sang kapten, Del Piero terbekap cedera berkepanjangan, pemain-pemain bintang seperti Zidane, Inzaghi, Cannavaro harus meninggalkan klub. Namun ada juga saat-saat menyenangkan melihat performa Trezeguet, Davids, Nedved, Buffon bermain dengan akselerasi dan determinasi yang mengagumkan sehingga Juventus bisa kembali menikmati masa-masa kejayaannya. Semua itu merupakan dinamika kehidupan yang menantang saya untuk tetap bertahan ‘membela’ klub ini meski hanya sebagai tifosi. 


Di masa-masa SMA, saya senang sekali menulis novel, memang tidak pernah diterbitkan karena saya pikir di masa sekarang menerbitkan novel seperti itu (seperti novel yang saya tulis waktu SMA) sepertinya unqualified banget! Di setiap novel yang saya tulis, entah mengapa saya selalu menghadirkan Juventus sebagai klub favorit si tokoh utama. Tokoh imajinasi yang saya buat itu benar-benar ‘diciptakan’ untuk mencintai Juventus; kamar yang dicat hitam dan putih, poster-poster pemain Juventus tertempel di dinding kamar, hingga koleksi jersey Juventus. Those are just my imagination! Karena di dunia nyata, boro-boro mengubah cat kamar, menempel poster saja pasti akan langsung dicopot. Saya benar-benar telah terhipnotis oleh Si Nyonya Tua! Dengan hadirnya kasus Calciopoli, saya sangat sedih karena tidak bisa melihat tim favorit saya berlaga di Seri B. Meskipun saya dicemooh teman-teman karena tim favorit terlibat kasus, saya tetap tak bisa ke lain hati. Berita-berita tentang Juventus saya dapatkan dari internet dan koran-koran olahraga kala itu. Saya makin cinta dengan Juventus dan terutama Del Piero pada kasus Calciopoli itu, Juventus tidak patah semangat dan menunjukkan kualitasnya di Seri B, dan Del Piero, Buffon, Nedved, Chiellini, tetap bertahan di Juventus memainkan laga demi laga di Seri B dengan langkah yang tegap dan mantap. “A true gentleman never leaves his lady” kata-kata yang sangat emosional dari sang kapten dan memberikan semangat yang lebih bagi pemain lainnya. Ketika membaca tulisan tentang Calciopoli di blog Signora1897, saya jadi tergamam dan berpikir apakah ini salah satu strategi politik untuk menjatuhkan Juventus? Karena proses peradilan yang sangat cepat dan keputusan yang singkat dengan mencabut dua gelar scudetto, denda, dan turun ke Seri B, membuat para saingan Juventus di Seri A melenggang mantap di laga-laga itu tanpa Juventus. 


Tahun demi tahun berlalu, pelatih dan pemain datang silih berganti di Juventus, tapi Juventini dan Juvedona tetap setia membela tim ini. Halangan dan rintangan menjadikan Juventus, baik manajemen dan pemain, lebih dewasa dan matang. Meski berada di posisi ketujuh dua kali, Juventus tak patah arang untuk berjuang. Hingga scudetto ke 30 diraih musim 2011-2012 lalu. Sepertinya itu harga yang pantas di bayar Juventus setelah semua cobaan dan musibah yang dihadapi. Saat itu saya sedang di luar kota menjalani kursus bahasa di Pare, Jawa Timur. Penggemar sepak bola, khususnya Italia hanya saya saja di kos, jadi menonton laga demi laga pun harus saya lakoni sendirian. Sayangnya channel Indosiar di TV kos tidak terlalu bagus dan terkadang putus-putus, sehingga terkadang saya mengurungkan niat untuk menonton. Pertandingan terakhir musim lalu yang saya tonton adalah saat melawan Atalanta, Lecce, dan Napoli (yang disebut terakhir itu Coppa Italia). Saya sampai tidak bisa menahan air mata saat King Alex mencetak gol, ditarik keluar dan melakukan ‘pesta perpisahan’ dengan mengelilingi lapangan, blunder Buffon, dan yang paling mengharukan saat sang kapten mengangkat trofi scudetto. It couldn’t be expressed just by words or screaming! Benar-benar penantian panjang yang sangat unik ceritanya. Setelah penyerahan piala dan siaran pun habis, handphone dan twitter tetap stand by, air mata terus mengalir sambil membaca tweets dari juventini dan juvedona from all over the world. Raihan scudetto dan air mata kebahagiaan yang terharu ini rasanya ‘sesuatu banget’ daripada saat ditembak lelaki idaman :D Juventus per sempre sara! My blood is always Bianconero.

Read More......

Saturday, July 21, 2012

Pare oh Pare....!

Kampung Inggris, Pare???! Seperti apa tempat yang dinamakan Kampung Inggris itu? Saya selalu menanyakan hal tersebut ketika beberapa dosen dan teman di kampus berbincang mengenai kampung tersebut. Sejak saat itu, ingin sekali rasanya suatu hari nanti saya mengunjungi Pare. Mengapa? Karena saya suka bahasa Inggris, entah mengapa sejak di bangku Sekolah Dasar Bahasa Inggris selalu menjadi pelajaran favorit saya. Karena itu saya selalu berharap saya bisa menuntu ilmu di Pare. Tahun-tahun berlalu dan saya masih belum memiliki kesempatan untuk mewujudkan impian saya itu. Aktivitas yang padat membuat saya mengurungkan niat untuk pergi ke Pare. Bahkan saya tidak mencari informasi sama sekali karena saya pikir tidak punya kesempatan untuk pergi kesana. 

Pucuk di cinta ulam pun tiba, mengutip pepatah orang dolok-dolok (kata orang Melayu), saya akhirnya mendapatkan kesempatan kursus di Pare selama 7 (tujuh) bulan. The dream comes true, finally! Meskipun saya harus meninggalkan aktivitas dan pekerjaan di Pontianak, dengan semangat juang yang tinggi (ingat bahasa tulisan waktu masih mahasiswa :D) saya berangkat ke Pare lewat jalur kereta api dari Jakarta. “I’m leaving on a jet train...” sambil tersenyum dalam hati saya menikmati perjalanan kali kedua menggunakan kereta apai. Namun, kali ini saya harus menempuh waktu 12 jam dari Jakarta menuju Jombang, salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur. 

 Setelah mendapatkan informasi dari seorang teman yang rumahnya tidak jauh dari Pare, saya baru tahu jika Pare adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Posisi Pare juga sangat strategis, berada di tengah-tengah antara Kabupaten dan Kota lainnya seperti Kediri, Jombang, Blitar, Malang, Mojokerto, dan sebagainya (karena saya juga tidak tahu apa lagi sisanya :D) Nah, yang namanya Kampung Inggris ternyata sebuah daerah pedesaan yang kecil dan dipadati dengan puluhan tempat kursus, Desa Pelem Dusun Singgahan namanya. 

 Uniknya lagi, ternyata (banyak fakta yang baru saya ketahui setelah menjejakkan kaki di Pare) setelah saya amati, tidak hanya kursus bahasa Inggris saja yang ada di daerah ini, tapi juga kursus bahasa asing lainnya seperti Jepang, Korea, Arab, Mandarin, dan Perancis. Daerah ini sepertinya cocok dinamai Kampung Bahasa, karena tidak hanya bahasa Inggris saja yang di’kursus’kan disini. Mengapa Kampung Inggris, karena berdasarkan sejarahnya (cerita ini didapat dari bincang-bincang dengan salah satu pemilik tempat kursus di Pare) tempat kursus yang pertama kali berdiri di Singgahan ini adalah Kursus Bahasa Inggris, kalau tidak salah sekitar tahun 1976 atau 1977 (Saya belum lahir bahkan belum ‘direncanakan’ pada tahun tersebut :D). Peminat kursusan di Pare ini tidak sedikit, pelajar, mahasiswa, bahkan umum yang ingin mengikuti kursus di Pare berasal dari seluruh penjuru daerah di Indonesia; Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, bahkan Pulau Jawa juga, beramai-ramai membanjiri daerah yang dipenuhi dengan kebun Jagung ini. 

 Selain membuka peluang untuk pendidikan yang lebih maju di daerah pedesaan (secara belajar bahasa itu pintu untuk kita menuju negara lain), adanya kampung Inggris ini juga membuka kesempatan majunya perekonomian bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya tempat kursus yang banyak, masyarakat sekitar juga berlomba-lomba membuka tempat kos, warung makan, mini market, warung internet, kios pulsa, dan sebagainya. Dari perbincangan dengan beberapa warga di sana, mereka sangat bersyukur dengan hadirnya tempat-tempat kursus di wilayah pedesaan seperti ini. Sehingga mereka tidak kebingungan mencari pekerjaan ataupun harus merantau ke luar daerah, membuka usaha di Dusun Singgahan saja sudah cukup bagi mereka. So, guys, don’t waste your time, just visit and study in Pare! Arrivederci!

Read More......