Clock

Saturday, August 11, 2012

Juventus, Conte, dan Twitter

Beberapa hari ini timeline twitter saya dipenuhi dukungan untuk pelatih Juventus, Antonio Conte, dan tentu saja dukungan untuk Juventus menjelang laga Piala Super Italia kontra Napoli. Dukungan yang diberikan para Juventini terkait dengan kasus yang sedang menimpa sang allenatore dalam Calcioscommesse. Di Italia, pertandingan sepak bola dijadikan ajang perjudian untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya. Jika di Indonesia perjudian dilakukan para Bandar-bandar judi (sepanjang pengetahuan saya kalau salah mohon dikoreksi), lain halnya di Italia. Beberapa ‘orang dalam’ tim terlibat langsung dalam perjudian tersebut. Seperti pada kasus Calciopoli yang menimpa beberapa klub di Serie A Italia, termasuk Juventus. Para ‘orang dalam’ bersepakat untuk mengatur skor demi memenangkan taruhan. Agak miris memang, mengingat pengaturan skor ini mengorbankan banyak hal, terutama perjuangan dan kerja keras para pemain.

Kembali pada kasus Calcioscommesse, Antonio Conte, Angelo
Alessio,  Cristian Stellini (yang kemudian mengundurkan diri dari Juventus), dan beberapa pemain seperti Leonardo Bonucci dan Simone Pepe  diduga terlibat dan akan diberikan sanksi. Namun, berita yang beredar belakangan Bonucci dan Pepe akan terlepas dari tuntutan karena si penuntut tidak bisa memberikan bukti yang cukup untuk menghukum mereka. Tinggallah sang coach, Conte yang terancam skors selama 10 bulan. Padahal kesalahan Conte hanya ‘tahu ada pengaturan permainan tapi tidak melaporkan’, saya juga tidak tahu dari segi ilmu hukum apa sanksi yang tepat untuk ‘kesalahan’ seperti itu mengingat sistem hukum Indonesia berbeda dengan Italia. Padahal awalnya Conte sudah mengajukan Plea Bargain yang diajukan pada sidang FIGC yang kemudian ditolak oleh FIGC. FIGC yang merupakan PSSI-nya Italia juga semudah itu menolak Plea Bargain Conte. Banyak pihak yang menyayangkan sikap FIGC ini dan menyebutnya tidak masuk akal dengan memberikan skors kepada Conte selama 10 bulan. Porsi hukuman yang hanya berbeda beberapa bulan dengan terdakwa sebenarnya.

Sikap FIGC ini juga mendapatkan banyak kecaman dari para
Juventini. Mereka menganggap FIGC sengaja ‘memotong’ langkah Conte. Seperti yang diketahui, Conte berhasil membawa Juventus merebut scudetto ke-30 dengan prestasi Unbeatable yang kemudian digagalkan Napoli di Piala Italia. Cara-cara kotor pun mulai dilakukan untuk melemahkan Juventus. Sebagaimana yang dilakukan para merda (sebutan untuk mereka yang tidak senang dengan keberhasilan Juventus) pada kasus Calciopoli tahun 2006, hingga Juventus harus turun ke Serie B. Tapi para punggawa Juventus tidak pernah kurang semangat perjuangannya. Di tahun inilah para pemain diuji, ketahanan mental, loyalitas dan perjuangan. Setelah turun ke Serie B beberapa pemain memilih hengkang, tinggallah segelintir pemain bintang yang menunjukkan kecintaan mereka pada Juventus sebut saja Alessandro Del Piero, Pavel Nedved, David Trezeguet, Gianluigi Buffon, dan Giorgio Chiellini.

Loyalitas para pemain inilah yang menguatkan langkah tim untuk terus maju, move on, hingga mereka bisa meraih capaian scudetto lagi. Untuk mencapai hasil tersebut pun tak mudah, mereka harus berjuang lagi beberapa musim, tidak bisa berlaga di Liga Champions, menduduki peringkat ke-7, dicemooh para merda, namun sekali lagi semua itu bukannya melemahkan alih-alih menguatkan semanga juang para pemain. Hal-hal inilah yang juga kemudian menguatkan para Juventini. Meskipun tim kesayangan ‘terpeleset’ berkali-kali, para Juventini pun tak henti memberikan dukungan kepada La Vecchia Signora. Akhirnya, semua kesulitan terbayar pada musim 2011-2012 dimana Juventus dapat meraih posisi puncak di Serie A sekaligus membukukan jumlah scudetto menjadi 30 (meskipun tidak diakui oleh beberapa pihak gara-gara kasus Calciopoli).

Kali ini pun, para merda itu mencoba melemahkan Juventus pada
kasus Calcioscommesse yang menimpa sang pelatih, Antonio Conte. Karenanya dukungan di timeline Twitter tak pernah habis, terutama menjelang Piala Super Italia. Ada yang mengutuk tindakan FIGC, ada yang dengan penuh semangat menuliskan tweets untuk mendukung Juventus, dan ada juga yang hanya sekedar me-retweet link berita atau tweet lainnya demi mensupport tim kesayangan. Indonesia memang berada jauh bermil-mil dari Italia, namun dukungan tidak pernah dirasa ‘jauh’ untuk Juventus. Memenangkan Piala Super Italia bisa jadi hadiah berharga buat Conte. Meskipun akan diskors tapi itu tidak berpengaruh sedikitpun pada performa Juventus, begitu yang diungkapkan kapten Juventus, Buffon. Juventus sudah melewati banyak rintangan, kesulitan demi kesulitan sudah dihadapi, para pemain lebih matang dan dewasa menyikapi setiap masalah. Dukungan penuh dari manajemen pun semakin kuat seperti yang diungkapkan Marotta bahwa posisi Conte sebagai pelatih tak akan pernah digantikan. Hal ini menjawab isu yang menyebutkan bahwa Conte akan mundur dari jabatannya sebagai pelatih Juventus. Namun, Agnelli dan Marotta menyatakan dukungan mereka 100% kepada sang allenatore. Cara kotor apa lagi yang akan kalian pakai para merda! Juventus sekarang semakin kuat, tim, manajemen, tifosi, semuanya mendukung penuh Juventus. Tak peduli seberapa keras kalian mengguncang Juventus, kami semua tak akan pernah lelah menjadi beton-beton penguat untuk mempertahankan Juventus. Forza Conte! Forza Juventus! Per sempre sara!

Read More......

Wednesday, August 8, 2012

Hari-hari bersama tim volunteer Excellence Teaching di Excellence English Studio.

Tiga hari mengikuti pembekalan volunteer E-Teaching atau Excellence Teaching memberikan pengalaman baru dan menarik bagi saya. Selain teman-teman baru tentu saja, saya juga bertemu dengan para pemateri yang sangat kompeten di bidangnya. Sekilas informasi tentang program volunteer E-Teaching ini, pada bulan September hingga Desember para volunteer akan ditempatkan di SDI Miftahusshalihin Sungai Selamat, Siantan, Pontianak. Sekolah ini merupakan sekolah yang dirintis warga yang sangat peduli pada pendidikan. Perlu diketahui bahwa lingkungan tersebut adalah lingkungan para pemulung, sekolah tersebut juga mayoritas dari anak-anak pemulung.

Berdasarkan informasi dari salah seorang guru yang telah lebih dulu mengajar disana, Kak Dedew teman-teman memanggilnya, kondisi pendidikan di sekolah itu sangat miris. Anak-anak yang duduk di bangku kelas 3 (tiga) saja ada yang belum bisa membaca dan menulis. Namun mereka tetap saja ‘dinaikkan’ kelas mengingat jumlah murid yang sangat sedikit di sekolah tersebut. Selain itu, tantangan yang dihadapi para pengajar disana adalah bahasa, karena para siswa berbicara dengan bahasa ibu mereka yang berasal dari etnis yang sama, yaitu Madura. Sehingga, guru yang tidak bisa memahami bahasa mereka perlu melakukan pendekatan yang sangat maksimal.

Kembali lagi pada program pembekalan volunteer, peserta yang mengikuti kegiatan tersebut hanya sekitar 9 (sembilan) orang karena peserta yang lama terkendala pada waktu. Meskipun hanya segelintir orang yang mengikuti kegiatan itu, saya merasa ada suatu kesamaan dalam diri kami hari itu, yaitu sama-sama ingin memajukan pendidikan untuk anak-anak Indonesia.


Pada hari pertama, materi yang sangat mengena bagi saya adalah tentang Bermain dan Anak yang disampaikan oleh Mbak Desni Yuniarni, M. Psi. Banyak hal baru yang saya dapatkan dalam materi ini, terutama tentang anak-anak. Mbak Desni menjelaskan bahwa pada usia anak-anak (berkisar antara 0-8 tahun menurut UNESCO) mereka lebih cenderung bermain daripada belajar. Oleh sebab itu, kurikulum di tingkat TK atau PAUD mengedepankan bermain dibanding belajar. Polanya adalah bermain sambil belajar, bagaimana anak-anak itu tanpa sadar sedang mempelajari sesuatu padahal mereka tengah bermain. Mbak Desni juga mengatakan bahwa keliru ketika orang tua terus memaksa anaknya untuk belajar, karena pada usia anak mereka lebih senang bermain. Bermain sambil belajar sebenarnya juga bisa meningkatkan kecerdasan anak-anak, seperti kecerdasan spasial, kecerdasan bahasa, dan kecerdasan logika matematika. Misalnya pada aktivitas mewarnai, menggambar, bercerita atau berdongeng, dan bermain dengan angka.

Selain itu, di sesi ini juga digambarkan bagaimana caranya memahami tingkah polah anak, memahami bahasanya dan bagaimana cara menyatu dengan dunianya. Dunia anak tetaplah dunia penuh warna yang selalu dilingkupi dengan keceriaan. Terkadang orang dewasa ‘memaksa’ anak-anak masuk ke dunia mereka, padahal seharusnya orang dewasalah yang harus berusaha ‘masuk’ ke dalam dunia anak-anak. Dari pertemuan ini, ada sebuah joke yang dicetuskan seorang peserta, karena seluruh volunteer adalah wanita, maka ia mengatakan bahwa setelah mendapatkan materi tentang anak ini para peserta sudah tidak sabar untuk menikah dan langsung mempraktikkan teori yang telah diberikan Mbak Desni.

Selain materi dari Mbak Desni, ada juga Bang Fakhrul yang mengisi sesi tentang motivasi dan tujuan hidup. Motivasi memang sangat diperlukan di kegiatan volunteer ini. Apalagi kondisi di lapangan sangat miris, sangat disayangkan apabila di tengah perjalanan kegiatan ini ada peserta yang tiba-tiba berhenti. Bang Paul – panggilan akrabnya – dengan lugas memaparkan mengenai motivasi bagi para pekerja sosial, perbedaan antara job dan karir, dan bagaimana mengembalikan motivasi yang tiba-tiba ‘lenyap’ di tengah jalan. Kata-kata bang Paul sendiri sangat mengena di hati saya, terutama pada bagian motivasi. Intinya memang tetap pada satu hal, tujuan hidup di dunia yang bisa dijadikan motivasi hanyalah karena mengharap ridho Allah SWT.

Hari berikutnya, kami disuguhkan pemateri-pemateri yang tak kalah menarik. Kali ini kami kedatangan 5 (lima) orang pendidik dari Sekolah Guru Ekselensia atau yang sekarang disebut dengan Sekolah Guru Indonesia (SGI). Mereka berasal dari provinsi yang berbeda: Uni Ayu (Padang), Jamil (Makassar), Syaiful Hadi (Bengkulu), Ima (Jakarta), dan Junita (Palembang). SGI ini merupakan program dari Dompet Dhuafa yang concern pada dunia pendidikan. Kelima orang tersebut – bersama dengan 27 orang yang mendaftar di program ini – disebar ke daerah-daerah ‘eksotis’ (meminjam bahasanya Jamil) yang terletak di pedalaman masing-masing provinsi di Indonesia. Lima orang ini ditempatkan di beberapa desa di Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat.

Kelima orang ini merupakan para pejuang pendidikan yang luar biasa, saya rasa. Karena mereka berani ambil resiko keluar dari pekerjaan dan melakukan pekerjaan sosial pendidikan untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia yang membutuhkan kesegaran pendidikan. Meskipun tidak bisa berbuat lebih, minimal kehadiran mereka merupakan angin segar buat anak-anak pedesaan itu, begitu kata salah seorang pendidik muda ini. Selain harus tetap menjaga motivasi mereka untuk terus bergerak, mereka juga harus bisa menumbuhkan semangat belajar bagi anak-anak pedesaan yang mayoritas putus sekolah karena permasalahan ekonomi. Mereka tidak peduli harus tidur di ruang guru, UKS, atau perpustakaan, asalkan tujuan pendidikan bisa tercapai mereka sepertinya sudah senang. Satu kalimat yang terus terngiang di telinga saya adalah kalimat dari Syaiful Hadi, “Dalam kegelapan, lebih baik menyalakan satu lilin daripada terus-menerus mengutuk kegelapan”. Saya dapat menyimpulkan bahwa lebih baik berbuat sesuatu meskipun dalam skala kecil daripada hanya diomongkan tanpa ada tindakan. Kalo dalam bahasa iklan itu Talk Less Do More! Kehadiran kelima orang pejuang pendidikan dalam acara pembekalan volunteer itu memberikan nuansa berbeda bagi saya. Saya jadi berpikir, mengajar di SDI Miftahusshalihin selama 3 bulan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan 1 (satu) tahun pengorbanan mereka hanya untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Ya, seperti yang sudah diungkapkan di atas, meskipun kecil berbuatlah sesuatu daripada hanya bisa bicara tanpa bisa bertindak. Benar-benar berbagi pengalaman yang luar biasa bagi saya.

Selanjutnya, para volunteer dibagi menjadi 3 (tiga) divisi: Science dan Math, Bahasa, dan Seni. Di sesi terakhir kami diberikan pembekalan masing-masing oleh pemateri-pemateri yang berkompeten di bidangnya. Science dan Math dikenalkan tentang Jarimatika oleh bang Hengky, kemudian Bahasa dan Seni dijadikan satu dan dibimbing oleh bu Iva. Saya tergabung di divisi bahasa yang akan mengajarkan baca, tulis, dan dasar bahasa Inggris. Bu Iva menjelaskan sedikit tentang bagaimana menangani anak-anak, lagu-lagu anak, dan beberapa permainan anak. Saya seperti kembali ke dunia Taman Kanak-kanak hari itu, bernyanyi dan bermain permainan anak, membuat saya sedikit mengerti tentang dunia anak.

Hari terakhir pembekalan volunteer E-Teaching akhirnya tiba, tidak seperti dua hari sebelumnya yang dimulai dari pagi hari, di hari terakhir ini kami mulai kegiatan sekitar pukul 13.00 siang. Hari ini kami kembali dikenalkan dengan sesuatu yang baru, yaitu Mnemonic. Istilah yang terdengar asing bagi saya, tapi ternyata sudah sering diterapkan dalam kegiatan sehari-hari. Mnemonic adalah teknik mengingat sesuatu. Mnemonic ini sangat beragam jenisnya, dan sering kali kita temukan dalam beberapa metode pengajaran. Jenis-jenis Mnemonic seperti: Akronim, Akrostik atau yang dikenal dengan Jembatan Keledai, Rima dan Lagu, Chunking, Peg System, Loci Method, dan Link Word. Penjelasannya cukup panjang, namun beberapa jenis sudah sering saya pakai untuk menghafal sesuatu seperti Akronim, Akrostik, dan Lagu. Setelah penjelasan dari mbak Puji Lestari, kami membuat media sederhana dan melakukan micro teaching kecil-kecilan sebagai bekal terjun ke lapangan September nanti. Kemudian, panitia mengadakan outbond di depan gedung rektorat Universitas Tanjungpura. Outbond ini cukup menguras tenaga kami karena masing-masing kaki harus diikat dengan lakban dan kami harus berjalan bersama sesuai dengan strategi dan teknik yang cepat namun tepat menuju tempat tujuan yang sudah ditentukan panitia. Benar-benar permainan yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Kegiatan pembekalan tersebut kemudian ditutup dengan buka puasa bersama. Thanks Excellence! What an amazing activity! ^^,

Read More......

Tuesday, August 7, 2012

First Experience with Signora1897

Senin, 6 Agustus 2012, adalah hari pertama saya menulis untuk blog Signora1897. Dan hari berikutnya, Selasa, 7 Agustus 2012, hari pertama tulisan saya dipublikasikan di blog tersebut. Proses penulisannya sih tidak memakan waktu yang lama, namun pencarian informasi dan membaca setiap berita yang ingin saya rangkum di kolom Daily News memerlukan waktu yang lumayan lama. Problemnya cuma satu sebenarnya, bahasa. Untuk situs-situs yang berbahasa Inggris mungkin saya tidak terlalu kewalahan, namun untuk situs yang berbahasa Italia saya mengalami sedikit kendala. Karena saya hanya mengetahui sedikit sekali kosakata dalam bahasa Italia. Ini benar-benar tantangan yang menegangkan buat saya. 

Permasalahan kemudian datang ketika saya membuat akun di site blogging yang berbeda. Agak sedikit bingung karena saya belum pernah menggunakan situs ini. Hingga tulisan yang seharusnya sudah diterbitkan Senin malam menjadi terkendala dan terbit Selasa paginya. Lagi-lagi permasalahan teknis di situs blognya. Admin blog Signora1897 berkali-kali memberikan langkah-langkah untuk dapat mengakses ruang admin di blog yang berisi informasi tentang Juventus itu, namun sayanya yang masih tidak mudeng. Setelah dicoba kembali, akhirnya saya pun bisa masuk ke ruang admin di blog tersebut. Belum lagi pada saat artikel akan di-publish, saya sedang tidak di rumah, jadi saya segera melajukan motor saya untuk mengedit beberapa kalimat sesuai dengan saran dan masukan admin Signora1897. Ternyata, tulisan saya itu sudah dipublikasikan! Hati saya berdegup kencang sekali, karena ini pertama kalinya saya menulis di blog Signora1897

/Antara gugup dan tegang, menantikan bagaimana komentar para juventini setelah membaca tulisan tersebut. Setelah berdiskusi dengan admin, tulisan yang sudah dipublikasikan itu saya edit lagi, menambahkan sedikit detil sebagai penjelas tulisan dan kemudian diterbitkan kembali. Jujur, tulisan yang selalu saya buat biasanya artikel lepas, feature, atau straight news (berita langsung yang didapat dari proses wawancara narasumber). Oleh karenanya, ketika mendapatkan tawaran menulis di blog ini saya merasa sangat tertantang. Apalagi tulisan-tulisan sebelumnya di blog tersebut bagus-bagus dan mendapat banyak komentar. Saya hanya berharap tulisan saya dinikmati oleh para juventini atau pembaca lainnya. Forza Juventus!

Read More......

Monday, July 30, 2012

Imunisasi BCG

Lewat tulisan kali ini saya ingin mengajak reader ke dunia “BCG”. The title is not real immunisation. BCG disini adalah kelas-kelas yang saya masuki selama saya belajar di Pare. B untuk Best Class, C untuk Champion, dan G untuk Galaxy.

Satu bulan pertama di course yang berlevelkan “basic” membuat saya homesick. Namun, saya berpikir tidak ada salahnya belajar kembali dari tingkat dasar sambil mengamati cara guru mengajar, dan materi-materi yang disampaikan. Teman-teman lain yang bernasib sama seperti saya (kembali belajar dari tingkat dasar) juga mungkin berpikiran sama. Maybe it’ll waste my time, but never mind. Tidak ada yang sia-sia di dunia, apalagi di dunia pendidikan, selalu saja ada hal baru yang bisa didapatkan. So, di kelas yang sangat sangat dasar bagi saya ini, saya belajar kembali alphabet, vocabularies, pronounciation, games, dictation, and many more. Oke, jadi dalam waktu sebulan saya harus mempelajari semua materi dasar bersama teman-teman sekelas yang rata-rata baru tamat SMA. Wow, It looks like I’m the old one! :D Saya mencoba belajar dan tidak mengeluh meski ada rasa lelah yang luar biasa karena mempelajari semuanya untuk yang kesekian kalinya. Saya mencoba men-sugesti diri sendiri, “Oke Dian, yang harus kamu lakukan hanya melihat cara guru mengajar dan materi yang diajarkan, sehingga kelak ketika kamu mengajar, cara ini bisa diterapkan kepada anak didikmu”. 

 Satu bulan penuh yang tanpa terasa dilalui dengan beragam momen manis. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika ditunjuk menjadi produser dan sutradara pada pementasan drama, drama ini akan dipentaskan pada saat penutupan program. Kemudian saya pun menerima tantangan ini. Tak dinyana-nyana, selain menjadi produser dan sutradara, saya juga merangkap menjadi penulis skrip dan penata musik! Hahaha, it seems like I have a lot of hands, right? :D Untungnya, semua pihak yang terlibat di drama tersebut membantu saya dengan segenap tenaga dan waktu. Saat tersulit memang ketika mengumpulkan seluruh pemain menjadi satu, kadang latihan harus terlambat, kadang ada yang merajuk, kadang ada yang tidak serius. Come on! Mungkin seperti inilah yang terjadi pada sutradara dan produser di industri perfilman sesungguhnya, pikir saya. Satu bulan pun berlalu dengan tiada diduga.
Memasuki bulan kedua, saya tidak sabar menantikan pelajaran apa yang akan saya terima di kursus paling tua di Pare ini. Hal yang paling membuat saya senang adalah saya dan teman-teman 10 champions berada di kelas yang sama, meski dua orang teman harus terpisah karena perbedaan registrasi di awal. Oya, satu hal yang menarik belum saya ceritakan saat registrasi awal. Karena Basic English Course (BEC) merupakan kursusan tertua di Dusun Singgahan (baca tulisan saya terdahulu), peminat kursus ini juga paling banyak. Saat mendaftar, saya dan 8 (delapan) orang teman (karena 1 orang dari Baubau masih di perjalanan) harus antri dari pukul setengah 5 subuh. Can you imagine that? Hanya untuk mendaftar di sebuah tempat kursus, para peminat ini rela berjubel mengantri. Selain itu, karena sistem di tempat kursus ini agak konvensional, registrasinya juga memakan waktu yang lama, mungkin sekitar 2 (dua) hari karena jumlah peminat yang mencapai ratusan ini. Kembali lagi ke kelas Champion di bulan kedua. Di kelas ini saya merasakan hangatnya persahabatan dan persaudaraan. Selain mendapatkan ilmu yang benar-benar bermanfaat, saya juga mendapatkan banyak teman yang bisa diajak berdiskusi dan bermain. Study hard, play harder! :D Meskipun sebagian dari mereka baru saja menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA, mereka tidak segan untuk bertanya, berbagi, dan ‘menggila’. Rasanya selalu saja ada tawa di kelas ini. Guru-guru pun merasa senang mengajar di kelas kami, dan hal yang terpenting saya bisa menangkap dan menyerap sedikit demi sedikit ilmu maupun teknik mereka mengajar. Karena suatu saat nanti saya juga ingin membuka sebuah kursus bahasa Inggris dan mencerdaskan generasi bangsa di daerah saya. Dengan penghuni kelas ini saya juga sering belajar bersama, melatih diri menjadi seorang guru, ceritanya. Belajar sambil bermain dan bercanda, serius tapi santai. Yah, ada kebahagiaan tersendiri ketika seseorang mengerti dengan satu materi pelajaran yang saya sampaikan. 

Bulan ketiga dan keempat juga berjalan dengan cepat seiring dengan bibit persahabatan yang sudah menjadi bunga persaudaraan dan buah kekeluargaan. Materi demi materi pelajaran disampaikan dengan sangat cermat oleh guru-guru. Teman-teman di kelas Champion juga bertumbangan satu demi satu dan meninggalkan segelintir orang di dalam kelas. Namun itu tidak menjadikan Champion patah arang. Satu hal yang sering guru kami, Mr. Hadi, berikan sebelum memulai pelajaran, Keys to get success: Strong Intention, Struggle hard, and Worship unto our God. Tiga kunci itu yang menjadi semangat di kala kami terutama saya sendiri, merasa kehilangan semangat untuk belajar. Di bulan ketiga dan keempat, selain belajar di dalam kelas, saya juga terpilih menjadi ketua Weekly Meeting. Meeting ini adalah kegiatan yang dilaksanakan seminggu sekali dan mengharuskan seluruh siswa untuk berpidato (dalam bahasa Inggris tentunya). Menjadi ketua ini merupakan saat-saat tersulit bagi saya, karena selain harus fokus pada pelajaran, saya juga harus fokus pada target utama saya ke Pare yaitu peningkatan TOEFL score (yang pada akhirnya tidak terlalu penting bagi saya). Memang menjadi ketua tidaklah berat pekerjaannya, tapi saya merasakan tanggung jawab yang sangat besar, karena selain kelas Champion di meeting ini juga saya mengetuai kelas Evolution. Saya dan partner kerja mencoba untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk bisa berpidato, karena permasalahan waktu beberapa meeting yang lain tidak bisa memberi kesempatan kepada semua anggotanya untuk berpidato. Di akhir program, para ketua Weekly Meeting diharuskan memberikan pidato pada acara Closing Meeting. Saya tidak pernah membayangkan akan berdiri di depan ratusan siswa dan guru-guru untuk berpidato.

Memasuki bulan kelima hingga ketujuh, saya masuk ke dalam kelas Galaxy dan kembali bertemu dengan wajah-wajah baru (tidak terlalu asing juga menurut saya karena beberapa orang pernah saya temui di bulan-bulan sebelumnya). Dan untungnya, saya juga berada di kelas yang sama dengan salah seorang teman dari 10 Champions, lucky me! Memasuki permulaan belajar di level paling tinggi kursusan ini, saya sedikit mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dan beradaptasi. Karena rasa kekeluargaan yang tinggi pada kelas-kelas sebelumnya, beberapa orang dari kami lebih senang untuk bergabung dengan ‘mantan’ teman sekelasnya dulu, begitu juga setelah kelas bubar. Dan saya bisa merasakan akan ada sedikit jurang pemisah diantara penghuni kelas Galaxy ini. Namun saya tidak terlalu ambil pusing dan terus mencoba berinteraksi dengan mereka. Mulai dari ikut makan bersama, pergi ke sawah di Daffodils bersama, belajar bersama, hingga yang paling ekstrem menurut saya adalah ikut latihan yell yell untuk yell competition. “Should I join this???” pikir saya waktu itu. Pernah membayangkan saja tidak, apalagi melakukannya! Namun semua aktivitas tetap saya jalani dengan ikhlas karena saya yakin semua kebaikan yang saya lakukan pasti ada hikmahnya untuk kehidupan saya kedepan. 

Dua hal tentang kursusan ini yang tidak bisa saya lupakan adalah ketatnya peraturan yang ada dan loyalitas para guru pada kursusan ini. Peraturan merupakan suatu hal yang tidak tertulis dan harus selalu diingat oleh para siswa. Disiplin adalah kunci untuk lulus dari tempat kursus ini. Tiga bulan terakhir merupakan program yang paling tinggi sekaligus berat karena kami harus berbicara bahasa Inggris setiap hari selama 24 jam. Siapa saja yang dengan sengaja melanggar akan langsung dikeluarkan! Kejam memang, tapi itulah kedisiplinan yang mereka pegang teguh bertahun-tahun lamanya. Di tingkat ini pula, kami harus membuktikan bahwa kami layak lulus dengan berkomunikasi langsung kepada turis asing di Candi Borobudur. Inilah satu hal yang saya tunggu-tunggu karena saya sudah tidak sabar mengunjungi situs budaya termegah di Indonesia dan pernah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Selain peraturan, guru merupakan faktor penting berhasilnya kursusan ini menciptakan lulusan berkualitas. Mereka adalah guru-guru yang berdedikasi dan berpengalaman. Mereka telah mengajari di BEC selama kurang lebih 10 hingga 13 tahun, meski ada beberapa yang baru menginjak tahun kedua. Saya hanya bisa berdecak kagum dan mengucapkan subhanallah, mereka mengajar hanya dengan modal semangat dan ikhlas. Dari 15 orang guru mungkin hanya 6 atau 7 orang yang pernah menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Yang paling saya salut, mereka tidak pernah lelah mengajar meski hanya di tempat kursus dan di sebuah dusun yang kecil, jauh dari perkotaan. Tidak berharap menjadi pegawai negeri ataupun duduk di pemerintahan. Mereka hanya ingin memajukan dusun kecil itu, Singgahan, yang ada di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Saya akan selalu merindukan semua itu, BEC, Pare, Mr. Kalend, dan semua guru-guru. Ciao! :D

Read More......

English Family

English Community of STAIN pontianak held a program named Ramadhan English Camp (REC) 2012. It was begun on 27th-29th July 2012 in ex Alianyang Center building. As a coordinator of EC STAIN Pontianak, my friends and I prepared this program for about one month. They were Zuraida, Eni Desiyani, and Titah Saputri. Besides, there were some people who helped us like Eko, Azmi, Suci, Yanto, Adi, and Bagus. At the first time we were really confused about what activities we should arrange to attract the participants. Long by long, we found some activities that perhaps beneficial for them. Because of holiday season, we just got four participants outside of club and two participants who are the members of EC. Furthermore, some of the organizing committee has never attended a program like this, so they became the participants too. 


First day, I felt trembling when we held the Opening Ceremony. Mr. Hermansyah as a Vice Chairman in Students Division had already come but guests and participants hadn’t come yet. I wished it’s not a bad symptom that this program couldn’t run well. One of the hardest part of this program was all participants must speak in English 24 hours. I knew it would be hard even for me, so we decided to simplify the rule, they may speak Bahasa Indonesia in discussion session. After Opening Ceremony, we introduced ourselves in a very unique way (thanks to our supervisor, Mr. Segu who told us this way). We were supposed to mention our name; real and western name, our hometown, our feelinng, opinion, and motivation. Then, we did some games to help memorizing our friend’s names. Because of Friday, we should finish our activity soon because the man would do Friday Prayer. When Friday prayer, the woman went to Alianyang Center directly and I caught up later. On the way, one of the facilitator phoned Zu because of Alianyang Center was locked. ‘Oh my dear!’ I thought, I hope it’s not another bad thing for us. When I reached Alianyang Center, the participants were sitting on the terrace floor. ‘Poor them!’ My heart said. After waiting for a long time, finally the keeper of the building came and opened it. ‘Okay! Here we go! Time to rock the three days with English!’ I told them. We cleaned up the place which we slept on, tidy up our clothes while waiting for the man come for Friday Prayer, and ready for the first session of this program. I thought the first day ran well. We began the program with Part of Speech discussion, Listening to the song; Hero from Mariah Carey, and did some games like missing lyrics. Then I gave them what I had got from Pare, Tenses song,and did some discussion too. An amazing thing was when we could sit and share together in English while waiting for breaking our fasting because it’s a Ramadhan month. Time to fasting for one month for Moslems. We ate together while making some jokes, discussed something, prayed Maghrib, Isya, and Tarawih. After that, we had a discussion again about Opening Mind by Social and Cultures. This was about the differences between Indonesian and western cultures and how each people treat others. The participants were interested in this discussion and asked many things about the cultures, social life, even education system.


The next day we also had a lot of discussion session with two lecturers from STAIN Pontianak, Mr. Segu and Mr. Maladi. However, before the discussion, we watched movie entitled “The Blind Side” first. The movie told about social and culture too, especially in America between Black and White people there. We paused the movie for a while and stepped to the next discussion about pronounciation and easy tenses. I was sure that the participants got a lot form Mr. Segu, even my friends and I as facilitator. Mr. Segu gave us some interesting videos to watch and learn English. One thing I like from the participants was their willingness to speak English even it still mixed with Bahasa. I just need their intention to study and learn English in this program. Moreover, they also learned how the way of speaking English easily. They got it from Mr. Maladi. I didn’t attend this session because Zu and I should go to find something and the main point was we needed the fresh air much! :D There was a bad condition when the gentlemen came late in one session. Even it was just handled by facilitator, they were late for 45 minutes and it was really an unforgivable condition. Zu and I got angry, but just at the moment and we continued our activity later. The last session for the second day was played “Never Ending Story” games and continued watching movie. Having watched movie, we shared and discussed it, and everybody spoke at that time. They had different idea about the movie, but they had same point of view about reaching dreams, strong intention, good effort, then those could alter the main character of the movie. He came from zero to hero, from no one to be someone. Having Sahur together was also unforgettable moment for us. Because it was really difficult to wake them up after all of the tiring activities.


The last day would be a precious day for the participants and I. We had an outbond, did sport and games while watching sunrise. It was held on the top of Alianyang Center building so we could watch a beautiful sunrise clearly. We did “I have never/ I have never been” game and I was one of the lost participants in this game. Then, we played “Guess Songs” which we should sing a song from one word that would be given. The last we played “One Word” game, it was about mention one word then our friends should mention another word with the last alphabet from the word that already mentioned before. Furthermore, we finished the outbond, cleaned up the building and our stuff, packed all the things and waited the last session of this day that was an introduction from the other English Clubs in Pontianak. They were Khatulistiwa English Community (KEY) and Excellence English Studio. The participants were so impressed by KEY and Excellence because they had a new family in English community. Besides, they learned many new things about managing a community. Finishing this session we had a photo session with all of REC participants and KEY plus Excellence. We had a very good and valuable time with them. We shared and asked many question about language community. They were also happy getting invloved in this program. As like English Community of STAIN Pontianak had found new family and new places to practice English. Finally, we closed REC program with some impression words from participants. We also had three best participants, they were Bagus, Sasa, and Ninda. Keep studying, guys! I hope we all can work together and succeed at last. I found many things from this program. But the important one, I found family here, they were in English Community of STAIN Pontianak. See you on other programs, good luck!

Read More......

My Blood is Black and White (Published also in Signora 1897.com)

Berbicara tentang Juventus seperti berbicara tentang perasaan cinta. Sebelumnya, perkenalkan, saya Dian K. Sari, fans Juventus dari Chapter Kalimantan Barat, khususnya Pontianak. 

Emang banyak yang bilang bicara tentang Juventus pasti tidak bisa lepas dari yang namanya Alessandro Del Piero, begitu pula saya. Pertama kali mengenal sepak bola waktu nonton pertandingan Piala Dunia 1998. Maklum, tiga orang saudara saya para pejantan tangguh, jadi pada saat musim-musim pertandingan Piala Dunia 1998 itu mereka tidak pernah mengubah channel televisi selain channel yang menyiarkan Piala Dunia 1998. Dari beberapa pertandingan yang saya tonton (pada waktu itu tidak semua pertandingan bisa saya tonton karena saya masih kelas 6 SD dan harus belajar buat ujian akhir), ada satu sosok yang membuat saya terpesona yaitu King Alex “Alessandro Del Piero”. 


Di usia 10 tahun praktis saya tidak tahu banyak tentang sepak bola, apalagi nama pemain-pemain dunia yang masing-masing membela timnas mereka. Tapi entah mengapa, melihat sosoknya yang kalem dan cakep itu membuat saya mulai beraksi mencari informasi tentang Alex Del Piero ini. Dari hasil pantauan saya beberapa hari kemudian (bahasanya ga nahan! :D), fakta yang saya temukan adalah Del Piero membela sebuah klub yang bermarkas di Turin, berseragam hitam putih, dan dijuluki si Nyona Tua. Sejak saat itu saya selalu mengikuti berita-berita dan pertandingan-pertandingan yang dilakoni skuad Il Bianconero. Pada saat itu saya mengoleksi kartu-kartu yang bergambarkan pemain-pemain sepak bola dunia, poster, dan stiker, yang paling banyak tentu saja pemain dari Italia. Perjuangan menjalani hobi ini sangatlah tidak mudah bagi saya, karena pada waktu itu saya dilarang mati-matian dengan Ibu saya. “Perempuan kok hobinya sepak bola!” kata beliau waktu itu. 


Saat duduk di kelas 1 SMP, saya juga kesulitan menonton pertandingan-pertandingan sepak bola, khususnya Juventus, karena pertandingan yang disiarkan biasanya sampai larut malam. Saya harus kucing-kucingan dengan Ibu saya, pura-pura tidur lebih awal, kemudian saat saudara-saudara saya menghidupkan televisi pelan-pelan saya pun keluar kamar. There’s nothing to say except alhamdulillah, Thanks God! Saya bisa menonton hingga akhir pertandingan. Meskipun performa para bintang-bintang Juventus tidak stabil yang membuat kondisi tim jadi tidak stabil pula, saya tidak pernah tertarik untuk pindah ke lain hati dalam hal sepak bola. Ada kalanya Juventus harus terpuruk ketika sang kapten, Del Piero terbekap cedera berkepanjangan, pemain-pemain bintang seperti Zidane, Inzaghi, Cannavaro harus meninggalkan klub. Namun ada juga saat-saat menyenangkan melihat performa Trezeguet, Davids, Nedved, Buffon bermain dengan akselerasi dan determinasi yang mengagumkan sehingga Juventus bisa kembali menikmati masa-masa kejayaannya. Semua itu merupakan dinamika kehidupan yang menantang saya untuk tetap bertahan ‘membela’ klub ini meski hanya sebagai tifosi. 


Di masa-masa SMA, saya senang sekali menulis novel, memang tidak pernah diterbitkan karena saya pikir di masa sekarang menerbitkan novel seperti itu (seperti novel yang saya tulis waktu SMA) sepertinya unqualified banget! Di setiap novel yang saya tulis, entah mengapa saya selalu menghadirkan Juventus sebagai klub favorit si tokoh utama. Tokoh imajinasi yang saya buat itu benar-benar ‘diciptakan’ untuk mencintai Juventus; kamar yang dicat hitam dan putih, poster-poster pemain Juventus tertempel di dinding kamar, hingga koleksi jersey Juventus. Those are just my imagination! Karena di dunia nyata, boro-boro mengubah cat kamar, menempel poster saja pasti akan langsung dicopot. Saya benar-benar telah terhipnotis oleh Si Nyonya Tua! Dengan hadirnya kasus Calciopoli, saya sangat sedih karena tidak bisa melihat tim favorit saya berlaga di Seri B. Meskipun saya dicemooh teman-teman karena tim favorit terlibat kasus, saya tetap tak bisa ke lain hati. Berita-berita tentang Juventus saya dapatkan dari internet dan koran-koran olahraga kala itu. Saya makin cinta dengan Juventus dan terutama Del Piero pada kasus Calciopoli itu, Juventus tidak patah semangat dan menunjukkan kualitasnya di Seri B, dan Del Piero, Buffon, Nedved, Chiellini, tetap bertahan di Juventus memainkan laga demi laga di Seri B dengan langkah yang tegap dan mantap. “A true gentleman never leaves his lady” kata-kata yang sangat emosional dari sang kapten dan memberikan semangat yang lebih bagi pemain lainnya. Ketika membaca tulisan tentang Calciopoli di blog Signora1897, saya jadi tergamam dan berpikir apakah ini salah satu strategi politik untuk menjatuhkan Juventus? Karena proses peradilan yang sangat cepat dan keputusan yang singkat dengan mencabut dua gelar scudetto, denda, dan turun ke Seri B, membuat para saingan Juventus di Seri A melenggang mantap di laga-laga itu tanpa Juventus. 


Tahun demi tahun berlalu, pelatih dan pemain datang silih berganti di Juventus, tapi Juventini dan Juvedona tetap setia membela tim ini. Halangan dan rintangan menjadikan Juventus, baik manajemen dan pemain, lebih dewasa dan matang. Meski berada di posisi ketujuh dua kali, Juventus tak patah arang untuk berjuang. Hingga scudetto ke 30 diraih musim 2011-2012 lalu. Sepertinya itu harga yang pantas di bayar Juventus setelah semua cobaan dan musibah yang dihadapi. Saat itu saya sedang di luar kota menjalani kursus bahasa di Pare, Jawa Timur. Penggemar sepak bola, khususnya Italia hanya saya saja di kos, jadi menonton laga demi laga pun harus saya lakoni sendirian. Sayangnya channel Indosiar di TV kos tidak terlalu bagus dan terkadang putus-putus, sehingga terkadang saya mengurungkan niat untuk menonton. Pertandingan terakhir musim lalu yang saya tonton adalah saat melawan Atalanta, Lecce, dan Napoli (yang disebut terakhir itu Coppa Italia). Saya sampai tidak bisa menahan air mata saat King Alex mencetak gol, ditarik keluar dan melakukan ‘pesta perpisahan’ dengan mengelilingi lapangan, blunder Buffon, dan yang paling mengharukan saat sang kapten mengangkat trofi scudetto. It couldn’t be expressed just by words or screaming! Benar-benar penantian panjang yang sangat unik ceritanya. Setelah penyerahan piala dan siaran pun habis, handphone dan twitter tetap stand by, air mata terus mengalir sambil membaca tweets dari juventini dan juvedona from all over the world. Raihan scudetto dan air mata kebahagiaan yang terharu ini rasanya ‘sesuatu banget’ daripada saat ditembak lelaki idaman :D Juventus per sempre sara! My blood is always Bianconero.

Read More......

Saturday, July 21, 2012

Pare oh Pare....!

Kampung Inggris, Pare???! Seperti apa tempat yang dinamakan Kampung Inggris itu? Saya selalu menanyakan hal tersebut ketika beberapa dosen dan teman di kampus berbincang mengenai kampung tersebut. Sejak saat itu, ingin sekali rasanya suatu hari nanti saya mengunjungi Pare. Mengapa? Karena saya suka bahasa Inggris, entah mengapa sejak di bangku Sekolah Dasar Bahasa Inggris selalu menjadi pelajaran favorit saya. Karena itu saya selalu berharap saya bisa menuntu ilmu di Pare. Tahun-tahun berlalu dan saya masih belum memiliki kesempatan untuk mewujudkan impian saya itu. Aktivitas yang padat membuat saya mengurungkan niat untuk pergi ke Pare. Bahkan saya tidak mencari informasi sama sekali karena saya pikir tidak punya kesempatan untuk pergi kesana. 

Pucuk di cinta ulam pun tiba, mengutip pepatah orang dolok-dolok (kata orang Melayu), saya akhirnya mendapatkan kesempatan kursus di Pare selama 7 (tujuh) bulan. The dream comes true, finally! Meskipun saya harus meninggalkan aktivitas dan pekerjaan di Pontianak, dengan semangat juang yang tinggi (ingat bahasa tulisan waktu masih mahasiswa :D) saya berangkat ke Pare lewat jalur kereta api dari Jakarta. “I’m leaving on a jet train...” sambil tersenyum dalam hati saya menikmati perjalanan kali kedua menggunakan kereta apai. Namun, kali ini saya harus menempuh waktu 12 jam dari Jakarta menuju Jombang, salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur. 

 Setelah mendapatkan informasi dari seorang teman yang rumahnya tidak jauh dari Pare, saya baru tahu jika Pare adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Posisi Pare juga sangat strategis, berada di tengah-tengah antara Kabupaten dan Kota lainnya seperti Kediri, Jombang, Blitar, Malang, Mojokerto, dan sebagainya (karena saya juga tidak tahu apa lagi sisanya :D) Nah, yang namanya Kampung Inggris ternyata sebuah daerah pedesaan yang kecil dan dipadati dengan puluhan tempat kursus, Desa Pelem Dusun Singgahan namanya. 

 Uniknya lagi, ternyata (banyak fakta yang baru saya ketahui setelah menjejakkan kaki di Pare) setelah saya amati, tidak hanya kursus bahasa Inggris saja yang ada di daerah ini, tapi juga kursus bahasa asing lainnya seperti Jepang, Korea, Arab, Mandarin, dan Perancis. Daerah ini sepertinya cocok dinamai Kampung Bahasa, karena tidak hanya bahasa Inggris saja yang di’kursus’kan disini. Mengapa Kampung Inggris, karena berdasarkan sejarahnya (cerita ini didapat dari bincang-bincang dengan salah satu pemilik tempat kursus di Pare) tempat kursus yang pertama kali berdiri di Singgahan ini adalah Kursus Bahasa Inggris, kalau tidak salah sekitar tahun 1976 atau 1977 (Saya belum lahir bahkan belum ‘direncanakan’ pada tahun tersebut :D). Peminat kursusan di Pare ini tidak sedikit, pelajar, mahasiswa, bahkan umum yang ingin mengikuti kursus di Pare berasal dari seluruh penjuru daerah di Indonesia; Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, bahkan Pulau Jawa juga, beramai-ramai membanjiri daerah yang dipenuhi dengan kebun Jagung ini. 

 Selain membuka peluang untuk pendidikan yang lebih maju di daerah pedesaan (secara belajar bahasa itu pintu untuk kita menuju negara lain), adanya kampung Inggris ini juga membuka kesempatan majunya perekonomian bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya tempat kursus yang banyak, masyarakat sekitar juga berlomba-lomba membuka tempat kos, warung makan, mini market, warung internet, kios pulsa, dan sebagainya. Dari perbincangan dengan beberapa warga di sana, mereka sangat bersyukur dengan hadirnya tempat-tempat kursus di wilayah pedesaan seperti ini. Sehingga mereka tidak kebingungan mencari pekerjaan ataupun harus merantau ke luar daerah, membuka usaha di Dusun Singgahan saja sudah cukup bagi mereka. So, guys, don’t waste your time, just visit and study in Pare! Arrivederci!

Read More......

Sunday, June 3, 2012

Jalan Cinta Hijau Hitam

She has found her love here, in this organisation. With tender love, without a compulsion. Truly love, ever after.

Alina Kalinda Pratama, mahasiswi Jurusan Tarbiyah konsentrasi Pendidikan Agama Islam semester IV, berjalan menyusuri lorong kosong di gedung Jurusan Syari’ah. Jam berwarna silver yang melingkari tangannya telah menunjukkan pukul 17.10 WIB, di waktu-waktu seperti ini kampus STAIN terlihat sepi karena mahasiswa sudah meninggalkan lokasi kampus sebelum pukul 17.00. Hanya ada segelintir mahasiswa yang masih berkeliaran di lingkungan kampus. Mereka adalah mahasiswa yang menghabiskan banyak waktu di sekretariat-sekretariat organisasi internal yang ada di perguruan tinggi Islam negeri satu-satunya di Kalimantan Barat itu. Perempuan berkulit kuning langsat ini salah satunya. Ia tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) karena ia senang sekali menulis. Mata kuliah Jurnalistik tidak pernah ia dapatkan di bangku kuliah, namun ia bisa mendapatkan pengetahuan tentang itu di organisasi ini.




“Hoi, Alin!” Alin menghentikan langkahnya di depan gazebo dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

“Eh, Lika, belum pulang?” tanya Alin pada Lika, teman satu kelompoknya waktu orientasi mahasiswa. Lika memiliki nama panjang yang indah menurut Alin, Malika Dasha Abdurrahman, artinya bunga melati hadiah dari Tuhan, Abdurrahman tentu saja nama ayahnya. Lika mahasiswi Jurusan Syari’ah program studi Hukum Islam.

“Belum, ini barusan keluar kelas, maklum mata kuliah Ibu Romsah, taulah kalau beliau udah ngomel,” jawab Lika.

“Sekarang kau mau kemana?” “Aku mau pulang lah, bentar lagi adikku jemput, kau sendiri?” “Belum, aku mau ke sekret LPM dulu”

“Masih juga kau eksis di organisasi, LPM lah, HMI lah, entah apalagi nanti. Tak takut kah kuliahmu berantakan?”

“Insyaallah tidak, jangan lah didoakan seperti itu, kalau berantakan, ya aku tinggalkan organisasi itu” “Iya, itu lebih bagus”

“Ah, dasar kau, Lika! Tidak senang liat teman senang”

“Ck, kau ini Alin…ya udah lah, aku pulang dulu ya, udah dijemput tuh, hati-hati”

“Iya, makasih, kau juga hati-hati, Ka” Setelah Lika pergi menjauh, Alin melanjutkan perjalanannya ke sekretariat LPM yang tidak terlalu jauh dari lokasi kelasnya, hanya berjarak 5 meter dari kelas. Malika adalah satu diantara beberapa orang yang tidak senang dengan aktivitas organisasi Alin. Ibunya adalah orang pertama yang menentang keputusan Alin untuk menerjunkan diri di dunia organisasi. Namun Alin tidak pernah menyesal, karena dengan berorganisasi banyak sekali hal yang ia dapatkan. Ilmu pengetahuan, pengalaman, teman-teman, bahkan keluarga.




Pertama kali ia bergabung di organisasi pada tahun pertama ia menjadi mahasiswa. Ia mengikuti perkaderan dasar organisasi ekstra kampus bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bukan tanpa dasar ia mengikuti perkaderan itu. Ia sudah mengenal beberapa senior HMI saat ia aktif di OSIS pada waktu SMA. Selain itu, ia juga senang membaca tulisan-tulisan para tokoh HMI, salah satu tokoh yang paling disukainya adalah Nurcholis Madjid. Karena itu, saat ada pembukaan pendaftaran anggota baru HMI Komisariat Syari’ah , ia langsung mendaftarkan diri. Pada awal-awal menjadi anggota baru HMI, Alin memang kurang aktif mengikuti kegiatan HMI, karena setelah mengikuti LK I ia langsung bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang melaksanakan Pelatihan Jurnalistik Dasar bagi mahasiswa baru yang ingin menjadi anggota LPM. Namun, pada semester dua ia dilibatkan di dalam kepanitiaan LK I yang diadakan oleh Komisariat Tarbiyah. Itulah awal ia mulai aktif menapaki perjuangan di organisasi hijau hitam itu.

***




“Assalamu’alaikum, Alin” sapa seseorang ketika Alin tengah membaca buku di pelataran masjid kampus, menunggu waktu diskusi yang akan diadakan 15 menit lagi.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Alin menengadahkan wajahnya ke arah suara yang menyapanya. Ia tersenyum pada Aca yang bernama lengkap Syarifah Mariasha Al-Qadrie, salah satu dari sedikit teman SMA-nya yang melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi Islam.

“Lagi baca apa tu? Tumben ada di masjid”

“Ni, buku ‘Pergolakan Pemikiran Islam’ catatan harian Ahmad Wahib. Ckck, menghina ya kamu, Ca, mentang-mentang aku jarang ke masjid” ujar Alin sambil melanjutkan bacaannya.

“Mau ada kegiatan ya?” Alin hanya mengangguk.

“Aku boleh gabung tidak?”

“Asal kau betah saja, Ca, kau kan tau hari ini kajian rutin tentang NDP yang pastinya tak ada di kamusmu itu” ungkap Alin menjelaskan. NDP atau Nilai-nilai Dasar Perjuangan memang hanya ada di HMI karena NDP ini diciptakan sebagai pegangan kader-kader HMI dalam berjuang. NDP sendiri dalam sejarahnya diciptakan oleh tokoh idola Alin, Nurcholis Madjid.

“Hati-hati kau, Alin, nanti lama-lama kau bisa menjadi muslim yang liberal, yang menghalalkan apa yang diharamkan”

“Apa hubungannya kajian NDP dengan liberal, Aca? Apa pula kaitannya dengan halal haram?”

“Aku tu udah beberapa kali ikut kajian-kajian organisasimu itu. Aku terkejut, perihal Allah saja kalian bicarakan, itukan hanya Dia saja yang tahu. Belum lagi bekerja sama dengan orang-orang lain yang non-muslim yang tidak akan selamat di akhirat nanti”

“Aca, kita ini berislam karena orangtua kita Islam, kalau orangtua kita nasrani pasti kita juga nasrani kan? Pencarian orang di luar Islam yang mempelajari Islam justru membuat mereka masuk ke dalam Islam, atau setidaknya menghormati ajaran-ajaran kita, ilmu mereka lebih mantap ketimbang kita. Jadi, kalau kita tidak mengenal Tuhan kita, bagaimana kita memahami agama kita? Aku belum pernah membaca kalau Allah mengharamkan kita berteman dengan orang non muslim, darimana bisa menghalalkan yang haram itu”

“Baca saja buku-buku Islam, al-Qur’an, Hadits, dan literatur lain yang membicarakan Islam”

“Iya, itu bisa saja, tapi tanpa bertukar pikiran dengan orang lain maka bacaan atau pengetahuan yang kita pahami hanya segitu saja, tidak seluas saat kita berdiskusi dengan orang lain”

“Kau kan bisa gabung dengan pengajianku, Alin, udah berapa kali kau kuajak”

“Mohon maaf sebelumnya, Ca, tapi aku kurang sreg dengan pengajianmu itu. Sepertinya yang dibahas hanya hubungan vertikal dengan Tuhan saja, jarang sekali membicarakan bagaimana hubungan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Aku bosan, Ca, saat ini kita tidak usah lagi mementingkan kesalehan individu, sudah waktunya kita memikirkan kesalehan sosial, Ca”

“Astaghfirullahal’adziim, pemikiranmu sudah seperti orang liberal, Lin. Hati-hati kau dengan azab Allah. Justru kita harus lebih banyak mendekatkan diri denganNya, Lin, kalau kita mau selamat dunia akhirat”

“Terserah kau sajalah, Ca, aku mau selamat dengan jalan yang aku pilih. Silakan kau gunakan cara yang kau pilih untuk selamat dunia akhirat, omong-omong, makasih udah mengingatkan, Ca, aku bergabung dengan teman-teman dulu ya, sepertinya udah mau dimulai kajiannya, Assalamu’alaikum”

Alin mendengar jawaban salam yang lirih dari mulut sahabat sekolahnya saat ia beranjak pergi. Meskipun berbeda, tapi ia tetap menerima apa yang teman-temannya katakan dengan senang hati, artinya ia masih diperhatikan oleh mereka. Alin sudah bosan mendengarkan pendapat orang-orang tentang kajian yang sering dilakukan HMI. Kajian-kajian di HMI memang bermacam ragam, tidak hanya terpaku pada satu jenis pemikiran saja. Apalagi sekarang ini banyak revolusioner pemikiran Islam yang tersebar di dunia. Pemikiran-pemikiran mereka dapat dinikmati dari buku-buku yang sudah mereka tulis, tinggal dipilih saja pemikiran mana yang masih wajar untuk diikuti selama tidak menyimpang dari al-Qur’an dan Hadits.

***




Alin sibuk sekali belakangan ini. Ia dan teman-temannya yang tergabung dalam kepanitiaan LK I akan mengadakan rapat satu jam lagi. Namun sebelum itu, Alin harus menyerahkan tulisan kepada pimpinan redaksinya di Warta, nama koran kampus yang diterbitkan oleh LPM. Selain menulis berita, Alin juga diamanahkan untuk mengisi kolom Kelad atau Kenal Lebih Dekat, kolom yang menuliskan biografi orang-orang yang ada di dalam kampus STAIN Pontianak ini. Edisi kali ini ia diminta untuk membuat biografi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya. Alhasil, Alin yang juga ditunjuk sebagai sekretaris dalam kepanitiaan basic training harus pandai-pandai membagi waktu. Bahkan ia harus menginap di rumah kos temannya untuk sementara waktu.




Dalam sebulan mungkin hanya tujuh hari ia habiskan di rumah, sisanya di kampus. Situasi inilah yang membuat orang rumahnya mendiamkan bahkan memarahinya. Alin merasa seperti orang lain di rumah sendiri. Meskipun begitu, ia selalu meneguhkan di dalam hatinya bahwa apa yang selama ini ia lakukan untuk ajang pengembangan potensi diri. Ia tidak mau hanya menjadi anak rumahan yang kelak tidak bisa melakukan hal apapun selain pekerjaan rumah. Ia sadar bahwa tantangan zaman semakin menggila, bila ia ingin menjadi perempuan, istri, sekaligus ibu yang ‘super’ buat anak-anaknya maka ia harus melatih diri dari sekarang. Tidak ada kata menyerah dan putus asa, bila berhenti maka roda zaman yang terus berputar akan menggilas kesempatan yang terbentang luas di hadapannya.

***




“Bang Rama, ini tulisanku, aku ijin keluar ya,” ujar Alin pada Bang Rama, pimpinan redaksi Warta. “Mau kemana lagi kau, Lin, hanya nyerahkan tulisan saja kah?” tanya Bang Rama yang memiliki nama lengkap Ramadhan Santoso. Pria berdarah Bugis-Melayu ini salah satu mentor Alin di LPM. Pendiam namun memiliki strategi yang jitu untuk melatih anak-anak baru yang belum mengenal dunia jurnalistik.

“Iya bang, maaf tak bisa lama-lama, aku ada rapat lagi di kelas KPI ”

“Tahan juga fisik kau itu, apa tidak remuk badan? Awas saja kalau aku kasih tugas kau tak sanggup ngerjakannya. Kau harus tau resiko dari aktivitas yang kau pilih,” ujarnya panjang lebar tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor, mengedit tulisan para wartawan.

“Alhamdulillah sampai saat ini masih tahan, Bang. Makasih atas perhatian abang, Insyaallah aku pasti siap buat abang,” jawab Alin sambil terkekeh. Alin kemudian berpamitan dengan Bang Rama dan bergegas menuju kelas KPI di lantai dua. Sesampainya di sana ternyata baru ada segelintir panitia pelaksana yang datang. Alin tersenyum pada mereka dan masuk, mengambil tempat duduk. Ia membuka buku agendanya dan melihat apa-apa saja yang akan dibicarakan hari ini. Sebelumnya ia sudah diarahkan dengan seniornya di kepengurusan komisariat tentang kepanitiaan LK. Saat menetapkan tim panitia pelaksana, pengurus komisariat telah memberikan arah tentang apa-apa saja tugas masing-masing bidang yang terlibat di kepanitiaan. Sebagai sekretaris, Alin bertugas memimpin rapat, membuat surat, membuat jadwal rapat, mencatat semua hasil rapat baik yang berupa masukan atau kritik.




“Kak Alin,” sapa seseorang saat Alin tengah asyik membaca buku agendanya.

“Iya, Lia, ada apa?” tanya Alin pada Elia Lubis, adik tingkatnya yang baru selesai LK sebulan yang lalu.

“Aku masih belum ngerti tentang Seksi Acara, tugasnya hanya pas acara aja ya, Kak?”

“Hmm, sepengetahuan aku sih Seksi Acara itu yang mengatur jalannya acara latihan kita ini, Lia. Tidak hanya fokus pada acara seremonial pembukaan dan penutupan aja. Seksi Acara berkoordinasi dengan bidang-bidang lain di kepanitiaan untuk mengemas acara LK dari awal sampe akhir. Nanti juga diarahkan dengan SC Teknis,” Alin menjelaskan panjang lebar.




Selain pengurus komisariat, panitia pelaksana atau yang sering disebut OC (Organizing Committee) akan diarahkan oleh panitia SC (Steering Committee). Bila panitia OC terdiri dari anggota-anggota yang baru LK dan beberapa pengurus komisariat, panitia SC tidak bisa dipilih sembarangan. Selain berpengalaman, jenjang perkaderannya juga harus jelas, misalnya sudah pernah menjadi SC sebelumnya dan telah lulus LK II. Selanjutnya, yang mengarahkan seluruh panitia OC, SC, dan kegiatan LK adalah Master of Training atau yang biasa disebut MOT. MOT memiliki kekuasaan penuh pada saat pelaksanaan LK, baik itu atas peserta, panitia OC maupun panitia SC.




“Oh, gitu ya, makasih ya, Kak. Abisnya kemarin waktu dijelaskan bang Ewan agak tak paham” kata Elia. Bang Ewan adalah Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Pemberdayaan Anggota (P3A) Komisariat Tarbiyah. Ia adalah penanggung jawab kegiatan LK ini. Beberapa menit kemudian, Ketua Panitia LK, Kak Ishana atau yang biasa dipanggil Kak Ana, datang dengan beberapa panitia OC lainnya. Pengurus inti komisariat pun datang tak lama setelahnya, tak mau ketinggalan menyiapkan kegiatan LK yang akan dilaksanakan satu minggu lagi. Setelah melalui kompromi, perdebatan panjang yang dicampur dengan guyonan, rapat pun selesai. Kegiatan Basic Training akan dilaksanakan seminggu lagi, panitia semakin intens melakukan rapat koordinasi, pengurus dan juga kader sibuk mendekati calon anggota yang sudah mendaftar agar tidak ‘lepas’.

***




Akhirnya, hari pelaksanaan LK I pun dimulai, peserta yang akan ikut kegiatan itu sebanyak 27 orang, gabungan dari beberapa komisariat yang ada di cabang Pontianak. Kemarin sudah dilaksanakan screening untuk menilai sejauh mana wawasan calon peserta seputar keilmuan, keislaman, dan keorganisasian. Alin sebagai sekretaris yang paling sibuk menyiapkan surat-menyurat, absen, dan keperluan administrasi lainnya. Di sela-sela kesibukannya, ia juga mempersiapkan tulisan yang akan disetorkan ke Bang Rama.




“Alin, bentar lagi mau pembukaan ni, semua berkas yang mau diserahkan ke MOT udah disiapkan?” tanya Kak Ana.

“Iya kak, udah sama bang Ewan, ini lagi nyiapkan absen buat peserta, Kanda Adal yang minta tadi” Muhammad Adal Putra yang akan menjadi MOT pada LK I kali ini. Alin biasa memanggilnya Kanda Adal. Ia sudah mengenal bang Adal setahun yang lalu, ketika bang Adal menjadi mentornya di HMI. Bang Adal sekarang duduk di semester 9 Jurusan Dakwah, sebentar lagi ia akan menyelesaikan studinya di STAIN.

“Alin, abis pembukaan segera siapkan absen, formulir peserta, dan CV pemateri ya, thanks” Alin tersentak dari lamunannya saat tiba-tiba Bang Adal duduk di sebelahnya.

“Masyaallah, abang bikin Alin kaget saja, siap bos! Segera Alin siapkan semuanya” “Nah, gitu dong, ini baru adik mentor abang,” Alin kembali terkaget-kaget saat Bang Adal menyentuh kepalanya yang ditutupi jilbab cokelat itu. Deg! Tiba-tiba Alin merasa hatinya menghangat dan wajahnya memerah.

“Apa sih, Kanda ni, biasa aja lagi,” ujar Alin sambil mengambil berkas-berkas yang tadi diminta bang Adal untuk disiapkan. Acara pembukaan Basic Training pun berjalan lancar, dan syukurnya hingga akhir pelaksanaan semuanya berjalan sesuai dengan apa yang ditargetkan panitia. Alin dan panitia lainnya merasa kelelahan dengan segala proses pelatihan tersebut. Namun, dalam hati mereka terbersit rasa senang karena telah menemukan kader-kader baru untuk proses kaderisasi selanjutnya.

***




Hari-hari berlalu sangat cepat, berlari tanpa henti tanpa peduli dengan manusia-manusia yang tak pernah bisa menaklukkan waktu. Begitu juga hari-hari yang dilalui Alin. Setelah LK I itu, ia dan teman-teman pengurus komisariat dan beberapa SC LK I serta MOT tidak sepenuhnya lepas ‘bertugas’. Karena setelah itu, mereka harus melaksanakan follow up sebagai proses pematangan materi-materi yang sudah peserta LK I dapatkan selama empat hari di lokasi training. Selain berkutat dengan urusan perkaderan, Alin juga sibuk mempersiapkan dirinya untuk mengikuti jenjang perkaderan formal selanjutnya atau yang biasa disebut LK II. Belum lagi dengan perkuliahan yang mendekati masa ujian, berita-berita yang sudah hampir deadline, dan urusan lainnya yang membuat Alin harus terus berpikiran dingin. Karena dengan segala permasalahan yang ada itu, Alin merasa kedewasaan dan kematangan berpikir sangatlah diperlukan. Ia tidak mau menyerah begitu saja ketika dihadapkan dengan aktivitas yang padat dan permasalahan yang bertubi-tubi. Ia juga harus pandai-pandai memilah waktu, toh semua manusia memiliki waktu yang sama, 24 jam sehari. Jadi, ia pasti bisa seperti Al-Ghazali yang hanya tidur selama 2-3 jam semalam dan dapat menciptakan karya yang bermanfaat, atau seperti Thomas Alfa Edison yang tak pernah menyerah meski pada percobaan ke-1000 baru berhasil menemukan unsur-unsur apa saja yang dapat membentuk lampu. Alin yakin pasti usahanya saat ini tidak akan sia-sia kelak.

***




“Alin, apa kabar? Sibuk kali nampaknya sampai tak pernah ke Cabang lagi?” tanya bang Adal saat Alin tengah duduk di ruang tamu sekretariat HMI Cabang Pontianak yang didominasi warna hijau dan putih.

“Ah, biasa aja kali bang, sibuk kuliah, nyari berita, follow up, tak ada yang spesial,” jawab Alin.

“Nanti malam jangan lupa ya diskusi kontinyu tentang NDP di Taman Alun-alun Kapuas,” ungkap bang Adal.

“Oh, nanti malam ya bang?! Waduh, thanks deh udah ngingatkan, hampir saja aku lupa,” seru Alin sambil mengalihkan matanya dari koran lokal yang dibacanya.

“Ckckck, segitu sibuknya ya, sampai tak ingat jadwal diskusi rutinku,” Alin tersenyum tak nyaman menanggapi kata-kata bang Adal. Diskusi rutin itu termasuk program kerja bang Adal yang menjabat sebagai Ketua Bidang Pembinaan Anggota (PA) di HMI Cabang Pontianak.

“Maaf lah bang, harusnya aku sebagai pengurus komisariat mengingat agenda-agenda penting seperti itu,” ujar Alin.

“Manusiawi itu namanya, Alin,” kata bang Adal sambil tersenyum, senyum yang membuat hati Alin menghangat dan entah kenapa selalu menenangkan. Alin tak bisa mencegah hatinya berdegup kencang saat ia berduaan dengan bang Adal seperti saat ini. Senyum, perhatian, semangat dan motivasinya seperti menular dalam diri Alin. Entahlah, Alin tak pernah tahu apa arti dari kegalauan hatinya itu. Tuk! Alin terkejut saat segumpal kertas mengenainya. Ah, ternyata ia melamun tadi. Wajahnya memerah saat dilihatnya bang Adal tengah memperhatikannya.

“Melamun apa, Lin? Aku kan sudah bilang jangan terlalu dipikirkan kata-kataku tadi, hanya bergurau saja,” Alin tersenyum malu mendengar pernyataan bang Adal. “Ah, tidak bang, jadi malu aku ketahuan melamun,” jelas Alin sambil tersenyum, menampakkan ceruk kecil di pipi sebelah kanannya.

“Abang keluar dulu ya, Lin, udah dijemput bang Teguh tuh,” kata bang Adal sambil menunjuk ke teras. Bang Teguh yang merupakan sahabat karib bang Adal dan sekaligus Sekretaris Umum HMI Cabang Pontianak terlihat memasuki halaman cabang.

“Okelah bang, hati-hati ya, salam buat bang Teguh,” Alin menyudahi obrolan ringan itu seiring dengan kepergian bang Adal.

***




Alin, nti mlm abg nebeng ya,tk bw mtr. Alin terkejut saat mendapat SMS dari bang Adal yang mengajaknya pergi bersama-sama pada kegiatan diskusi malam ini. Dengan segera ia meng-iya-kan pesan bang Adal itu. Sore itu, setelah menyelesaikan tugas di kampus, Alin langsung pulang ke rumah, suatu hal diluar kebiasaannya. Di rumah pun ia langsung masuk ke kamar, mandi, dan membereskan beberapa pekerjaan rumah. Begitulah, di rumah ia serasa menjadi orang asing, meskipun ada orang di rumah namun ia tak pernah dilibatkan pada setiap pembicaraan. Alin sadar itulah konsekuensinya ia kuliah sambil berorganisasi. Ia tak pernah menyerah mengambil hati keluarganya, terutama ibunya. Suatu saat ia akan membuktikan pada mereka bahwa ia bisa menjadi orang yang berhasil dan bisa membanggakan keluarga. Setelah sholat maghrib, Alin berpamitan sekedarnya pada Ibu tanpa harus memberitahu kemana tujuannya karena Ibunya pun tak pernah bertanya. Ia segera melajukan motornya ke sekretariat HMI Cabang Pontianak. Sesampainya disana ia melihat banyak sekali motor di halaman, nampaknya diskusi malam ini ramai peminat.




“Assalamu’alaikum, kak Alin,” sapa seorang pria yang dikenalnya sebagai Aditya, adik tingkatnya di HMI.

“Wa’alaikumsalam, Adit, datang juga kau?”

“Iya lah kak, kan kata kakak kita harus terus berkader setelah LK I itu, saya sangat tertarik sekali pengen tau tentang HMI, Kak! Sapa tau bisa kayak kakak,” ujarnya.

“Kau harus menjadi diri sendiri, Aditya. You’re special because you’re you, bukan aku atau siapapun,” kata Alin sambil tersenyum pada Aditya.

“Ah, kak Alin ini emang paling te o pe be ge te dah….” serunya sambil tertawa. Alin pun ikut tertawa bersama Aditya yang memiliki nama lengkap Caesar Aditya Ramadhan. Mereka masuk ke dalam cabang bersama sambil membicarakan beberapa hal tentang perkaderan di komisariat. Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah memandangi keakraban mereka.

“Alin, ayo pergi sekarang,” ajak Bang Adal saat ia berpisah arah dengan Adit.

“Oh, yang lainnya udah mau pergi juga ya, Bang? Maaf agak telat tadi”

“Abang mau bereskan beberapa hal disana dulu, tak apa kan kalau kita perginya awal”

“Iyalah tak apa-apa, ni kuncinya, Bang” Alin menyerahkan kunci motornya kepada bang Adal.




Mereka pun meluncur ke arah pusat kota Pontianak, Taman Alun-alun Kapuas. Alin merapatkan jaketnya, malam ini Pontianak agak berangin dan dingin. Meskipun tak pernah bisa diprediksi kapan musim penghujan dan kapan musim kemarau di tengah climate change yang melanda dunia ini. Kota Pontianak terlihat sangat berkilauan di waktu malam. Taman Alun-alun yang terletak di tepian sungai Kapuas membuatnya semakin indah. Air mancur, jagung bakar, wahana-wahana permainan, dan orang-orang yang bersantai menjadi pemandangan yang menarik di malam hari. Belum lagi kapal galaherang yang berwarna kuning yang melintas di sepanjang sungai, menarik perhatian turis bahkan warga Pontianak yang tak pernah bosan dengan keindahan sungai di waktu malam. Namun, sesuatu terasa seperti anomali saat mentari menerbitkan sinarnya ke dunia. Sisa keindahan malam itu sepertinya telah mengancam alam kota berbeda. Keindahan berganti dengan ketidakteraturan, kekumuhan, dan kekotoran karena sampah yang selalu berserakan.




“Serius kali nampaknya, Lin,” Alin terperanjat saat didengarnya suara bang Adal yang sudah berdiri di sebelahnya.

“Ah, tidak juga, terkesima dengan keindahan malam yang menutupi kekacauan pada siang hari”

“Haha…puitis kali kata-katamu itu,” Alin tersenyum mendengar komentar bang Adal.

“Oya, sepertinya kau akrab sekali ya dengan Aditya, tadi aku lihat sepertinya kau senang sekali ngobrol dengan dia”

“Iyalah bang, Adit itu kan salah satu adik tingkatku, udah kuanggap kayak adik sendiri, sebelum dia ikut LK I memang udah akrab” ujar Alin.

“Oh, kau senang sekali berorganisasi ya, aku lihat kau yang paling bersemangat di angkatanmu”

“Ah, biasa saja, Bang, sama kayak yang lainnya lah. Tapi emang menantang sekali mengorganisir sesuatu itu, ada kepuasan tersendiri” kata Alin sambil sesekali memalingkan wajahnya untuk melihat reaksi bang Adal. Dilihatnya bang Adal tersenyum, entah karena perkataannya atau karena kapal galaherang yang melintas di depan mereka. Alin tergagap saat tiba-tiba bang Adal balas memandangnya, wajahnya seketika merona karena tertangkap basah sedang memandangi bang Adal. Ia segera menatap ke sungai lagi dengan gemuruh di dadanya.

“Alin,” panggil bang Adal, “mau bantu abang?” tanyanya lagi. Alin memberanikan diri untuk melihat ke arah bang Adal. Tatapan bang Adal sulit diartikan, tak seperti biasanya, seperti ada gejolak emosi yang berkilat dari matanya.

“Selama Alin bisa, Alin pasti bantu abang” jawab Alin.

“Abang ingin mendirikan sebuah organisasi, kecil saja,” Alin mengangkat alisnya sambil menunggu kata-kata bang Adal selanjutnya.

“Abang ingin Alin membantu abang, karena sepertinya hanya Alin yang bisa”

“Emp, organisasi apaan emangnya, Bang? Mau menandingi HMI?” Bang Adal terkekeh mendengar perkataan Alin.

“Ini lebih hebat lagi dari itu” Alin kembali harus penasaran lagi dengan permainan kata-kata bang Adal.

“Hmm, mencurigakan nih, emangnya organisasi apa sih, Bang?” Mereka saling menatap sebentar, sepertinya gemuruh di hati Alin semakin menjadi, suaranya seperti debur ombak di lautan lepas. Mata bang Adal melembut saat melihat Alin tersenyum.

“Err, aku tak tahu apakah kau bersedia membantuku atau tidak,” Alin kembali menunggu, “organisasi ini bernama keluarga, Alin, aku ingin kau membantuku mengorganisir organisasi ini, membangun sebuah rumah tangga yang bahagia, dan insyaallah sukses nantinya, bagaimana?” Wajah Alin semakin merah padam, debar di hatinya semakin tak menentu, apa artinya itu? Apa bang Adal baru saja melamarnya?

“Aku tidak berani menjanjikan apa-apa, Alin, aku takut suatu saat kita akan kecewa karena tidak bisa menepati janji itu, alih-alih mengingkarinya. Kalau kau mau membantuku, kita akan mulai menyusun rencana kerja kita kedepan guna suksesnya organisasi ini. Kita akan sama-sama berjuang dari titik terendah untuk menggapai kebahagiaan bersama dan kesuksesan organisasi kita” bang Adal terlihat gelisah karena Alin masih tampak berpikir.

“Alin tak tau harus bicara apa, Bang,” ujar Alin sambil kembali menatap mata bang Adal, “tapi kalau abang siap menjadi ketua organisasi ini, sekaligus imam buat Alin, Alin siap menjadi sekretaris sekaligus bendahara dalam organisasi ini, Bang, untuk kebahagiaan dan kesuksesan bersama” kata Alin sambil tersenyum manis pada bang Adal.

Selanjutnya tak ada kata terucap, rasanya kebahagiaan yang tertahan di dada Alin ingin membuncah keluar. Semilir angin di pesisir sungai kapuas menjadi saksi bisu keheningan dua anak manusia yang tengah belajar menata hati dan pikiran untuk bersama. Membangun sebuah organisasi kecil untuk mencapai kesuksesan terbesar dalam hidup mereka, untuk selamanya.

Read More......

Communication is Needed by People

Communication is needed by people all over the world. Without communication, people cannot understand each other. Because, communication is a way to make an understanding among people. The term of “communication” comes from Latin, they are “communicare” that means “a same understanding”. Actually, people communicate each other since the first man in the world even our God also made a communication with Jibril, however, communication become a science since. At that time, there was a demonstration of workers in. Then, there was someone who tried to make an understanding between workers and their boss. We can call it a public relation officer. Day by day, they found that activity could be developed to be a science and now it known as communication science.

Nowadays, Communication becomes the popular science because of its subjects which can be related by other sciences. Such as, political communication, cross culture communication, cross religion communication, interpersonal communication, and so on. I would like to talk more about the aspects of communication. There are five aspects of communication; those are communicator, communicant, message, channel, and effect. Communicator is someone who communicates some messages to the others. Every man is a communicator, not only a man with physical perfectly, but also a man with disorder problem. They are called verbal and non-verbal communication later. Furthermore, the communicators have to know their object; the social life, the background, and so on. So, they can communicate each other comfortably. The object of speaking or known as a communicant also has an important part in communication. If the communicant cannot understand what the communicator talks about, it is possible the message of the communicator cannot be sent to the communicant. Or, on the simple way, the communicator and the communicant cannot understand each other that can cause misunderstanding. For example, now we study English, just imagine we have no understanding in English so far. When we meet with the foreigner we cannot understand her/ him. Why? Because, we do not have any understanding in English anymore. It can be an obstacle for us to make a communication with other people. 

Why should English? Or maybe, why should language? Because, language is a tool to make a same understanding in spoken. Why should English? Because as we know, English is a universal language. Learning English is a way to make an understanding with people all over the world. Just imagine, with English maybe 5 years later we can meet in different opportunity and in different country. So, let’s study language hard and seriously in order to get success in our life. But remember that language is only a tool. We also have to study something that worth on us like engineering, education, politics, economics, etc. If we combine our study, maybe it can be our weapon to struggle in this world.

Read More......

So Long Time!

Wow wow wow....it's been so long time no write on this blog. Sorry for reading my old writing, I didn't have enough time to write something and it's really terrible. I just came from my short-enough course, it was around seven months. I think it's short enough. Please enjoy my new posts, guys! Thanks a bunch!

Read More......