Clock

Saturday, August 11, 2012

Juventus, Conte, dan Twitter

Beberapa hari ini timeline twitter saya dipenuhi dukungan untuk pelatih Juventus, Antonio Conte, dan tentu saja dukungan untuk Juventus menjelang laga Piala Super Italia kontra Napoli. Dukungan yang diberikan para Juventini terkait dengan kasus yang sedang menimpa sang allenatore dalam Calcioscommesse. Di Italia, pertandingan sepak bola dijadikan ajang perjudian untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya. Jika di Indonesia perjudian dilakukan para Bandar-bandar judi (sepanjang pengetahuan saya kalau salah mohon dikoreksi), lain halnya di Italia. Beberapa ‘orang dalam’ tim terlibat langsung dalam perjudian tersebut. Seperti pada kasus Calciopoli yang menimpa beberapa klub di Serie A Italia, termasuk Juventus. Para ‘orang dalam’ bersepakat untuk mengatur skor demi memenangkan taruhan. Agak miris memang, mengingat pengaturan skor ini mengorbankan banyak hal, terutama perjuangan dan kerja keras para pemain.

Kembali pada kasus Calcioscommesse, Antonio Conte, Angelo
Alessio,  Cristian Stellini (yang kemudian mengundurkan diri dari Juventus), dan beberapa pemain seperti Leonardo Bonucci dan Simone Pepe  diduga terlibat dan akan diberikan sanksi. Namun, berita yang beredar belakangan Bonucci dan Pepe akan terlepas dari tuntutan karena si penuntut tidak bisa memberikan bukti yang cukup untuk menghukum mereka. Tinggallah sang coach, Conte yang terancam skors selama 10 bulan. Padahal kesalahan Conte hanya ‘tahu ada pengaturan permainan tapi tidak melaporkan’, saya juga tidak tahu dari segi ilmu hukum apa sanksi yang tepat untuk ‘kesalahan’ seperti itu mengingat sistem hukum Indonesia berbeda dengan Italia. Padahal awalnya Conte sudah mengajukan Plea Bargain yang diajukan pada sidang FIGC yang kemudian ditolak oleh FIGC. FIGC yang merupakan PSSI-nya Italia juga semudah itu menolak Plea Bargain Conte. Banyak pihak yang menyayangkan sikap FIGC ini dan menyebutnya tidak masuk akal dengan memberikan skors kepada Conte selama 10 bulan. Porsi hukuman yang hanya berbeda beberapa bulan dengan terdakwa sebenarnya.

Sikap FIGC ini juga mendapatkan banyak kecaman dari para
Juventini. Mereka menganggap FIGC sengaja ‘memotong’ langkah Conte. Seperti yang diketahui, Conte berhasil membawa Juventus merebut scudetto ke-30 dengan prestasi Unbeatable yang kemudian digagalkan Napoli di Piala Italia. Cara-cara kotor pun mulai dilakukan untuk melemahkan Juventus. Sebagaimana yang dilakukan para merda (sebutan untuk mereka yang tidak senang dengan keberhasilan Juventus) pada kasus Calciopoli tahun 2006, hingga Juventus harus turun ke Serie B. Tapi para punggawa Juventus tidak pernah kurang semangat perjuangannya. Di tahun inilah para pemain diuji, ketahanan mental, loyalitas dan perjuangan. Setelah turun ke Serie B beberapa pemain memilih hengkang, tinggallah segelintir pemain bintang yang menunjukkan kecintaan mereka pada Juventus sebut saja Alessandro Del Piero, Pavel Nedved, David Trezeguet, Gianluigi Buffon, dan Giorgio Chiellini.

Loyalitas para pemain inilah yang menguatkan langkah tim untuk terus maju, move on, hingga mereka bisa meraih capaian scudetto lagi. Untuk mencapai hasil tersebut pun tak mudah, mereka harus berjuang lagi beberapa musim, tidak bisa berlaga di Liga Champions, menduduki peringkat ke-7, dicemooh para merda, namun sekali lagi semua itu bukannya melemahkan alih-alih menguatkan semanga juang para pemain. Hal-hal inilah yang juga kemudian menguatkan para Juventini. Meskipun tim kesayangan ‘terpeleset’ berkali-kali, para Juventini pun tak henti memberikan dukungan kepada La Vecchia Signora. Akhirnya, semua kesulitan terbayar pada musim 2011-2012 dimana Juventus dapat meraih posisi puncak di Serie A sekaligus membukukan jumlah scudetto menjadi 30 (meskipun tidak diakui oleh beberapa pihak gara-gara kasus Calciopoli).

Kali ini pun, para merda itu mencoba melemahkan Juventus pada
kasus Calcioscommesse yang menimpa sang pelatih, Antonio Conte. Karenanya dukungan di timeline Twitter tak pernah habis, terutama menjelang Piala Super Italia. Ada yang mengutuk tindakan FIGC, ada yang dengan penuh semangat menuliskan tweets untuk mendukung Juventus, dan ada juga yang hanya sekedar me-retweet link berita atau tweet lainnya demi mensupport tim kesayangan. Indonesia memang berada jauh bermil-mil dari Italia, namun dukungan tidak pernah dirasa ‘jauh’ untuk Juventus. Memenangkan Piala Super Italia bisa jadi hadiah berharga buat Conte. Meskipun akan diskors tapi itu tidak berpengaruh sedikitpun pada performa Juventus, begitu yang diungkapkan kapten Juventus, Buffon. Juventus sudah melewati banyak rintangan, kesulitan demi kesulitan sudah dihadapi, para pemain lebih matang dan dewasa menyikapi setiap masalah. Dukungan penuh dari manajemen pun semakin kuat seperti yang diungkapkan Marotta bahwa posisi Conte sebagai pelatih tak akan pernah digantikan. Hal ini menjawab isu yang menyebutkan bahwa Conte akan mundur dari jabatannya sebagai pelatih Juventus. Namun, Agnelli dan Marotta menyatakan dukungan mereka 100% kepada sang allenatore. Cara kotor apa lagi yang akan kalian pakai para merda! Juventus sekarang semakin kuat, tim, manajemen, tifosi, semuanya mendukung penuh Juventus. Tak peduli seberapa keras kalian mengguncang Juventus, kami semua tak akan pernah lelah menjadi beton-beton penguat untuk mempertahankan Juventus. Forza Conte! Forza Juventus! Per sempre sara!

Read More......

Wednesday, August 8, 2012

Hari-hari bersama tim volunteer Excellence Teaching di Excellence English Studio.

Tiga hari mengikuti pembekalan volunteer E-Teaching atau Excellence Teaching memberikan pengalaman baru dan menarik bagi saya. Selain teman-teman baru tentu saja, saya juga bertemu dengan para pemateri yang sangat kompeten di bidangnya. Sekilas informasi tentang program volunteer E-Teaching ini, pada bulan September hingga Desember para volunteer akan ditempatkan di SDI Miftahusshalihin Sungai Selamat, Siantan, Pontianak. Sekolah ini merupakan sekolah yang dirintis warga yang sangat peduli pada pendidikan. Perlu diketahui bahwa lingkungan tersebut adalah lingkungan para pemulung, sekolah tersebut juga mayoritas dari anak-anak pemulung.

Berdasarkan informasi dari salah seorang guru yang telah lebih dulu mengajar disana, Kak Dedew teman-teman memanggilnya, kondisi pendidikan di sekolah itu sangat miris. Anak-anak yang duduk di bangku kelas 3 (tiga) saja ada yang belum bisa membaca dan menulis. Namun mereka tetap saja ‘dinaikkan’ kelas mengingat jumlah murid yang sangat sedikit di sekolah tersebut. Selain itu, tantangan yang dihadapi para pengajar disana adalah bahasa, karena para siswa berbicara dengan bahasa ibu mereka yang berasal dari etnis yang sama, yaitu Madura. Sehingga, guru yang tidak bisa memahami bahasa mereka perlu melakukan pendekatan yang sangat maksimal.

Kembali lagi pada program pembekalan volunteer, peserta yang mengikuti kegiatan tersebut hanya sekitar 9 (sembilan) orang karena peserta yang lama terkendala pada waktu. Meskipun hanya segelintir orang yang mengikuti kegiatan itu, saya merasa ada suatu kesamaan dalam diri kami hari itu, yaitu sama-sama ingin memajukan pendidikan untuk anak-anak Indonesia.


Pada hari pertama, materi yang sangat mengena bagi saya adalah tentang Bermain dan Anak yang disampaikan oleh Mbak Desni Yuniarni, M. Psi. Banyak hal baru yang saya dapatkan dalam materi ini, terutama tentang anak-anak. Mbak Desni menjelaskan bahwa pada usia anak-anak (berkisar antara 0-8 tahun menurut UNESCO) mereka lebih cenderung bermain daripada belajar. Oleh sebab itu, kurikulum di tingkat TK atau PAUD mengedepankan bermain dibanding belajar. Polanya adalah bermain sambil belajar, bagaimana anak-anak itu tanpa sadar sedang mempelajari sesuatu padahal mereka tengah bermain. Mbak Desni juga mengatakan bahwa keliru ketika orang tua terus memaksa anaknya untuk belajar, karena pada usia anak mereka lebih senang bermain. Bermain sambil belajar sebenarnya juga bisa meningkatkan kecerdasan anak-anak, seperti kecerdasan spasial, kecerdasan bahasa, dan kecerdasan logika matematika. Misalnya pada aktivitas mewarnai, menggambar, bercerita atau berdongeng, dan bermain dengan angka.

Selain itu, di sesi ini juga digambarkan bagaimana caranya memahami tingkah polah anak, memahami bahasanya dan bagaimana cara menyatu dengan dunianya. Dunia anak tetaplah dunia penuh warna yang selalu dilingkupi dengan keceriaan. Terkadang orang dewasa ‘memaksa’ anak-anak masuk ke dunia mereka, padahal seharusnya orang dewasalah yang harus berusaha ‘masuk’ ke dalam dunia anak-anak. Dari pertemuan ini, ada sebuah joke yang dicetuskan seorang peserta, karena seluruh volunteer adalah wanita, maka ia mengatakan bahwa setelah mendapatkan materi tentang anak ini para peserta sudah tidak sabar untuk menikah dan langsung mempraktikkan teori yang telah diberikan Mbak Desni.

Selain materi dari Mbak Desni, ada juga Bang Fakhrul yang mengisi sesi tentang motivasi dan tujuan hidup. Motivasi memang sangat diperlukan di kegiatan volunteer ini. Apalagi kondisi di lapangan sangat miris, sangat disayangkan apabila di tengah perjalanan kegiatan ini ada peserta yang tiba-tiba berhenti. Bang Paul – panggilan akrabnya – dengan lugas memaparkan mengenai motivasi bagi para pekerja sosial, perbedaan antara job dan karir, dan bagaimana mengembalikan motivasi yang tiba-tiba ‘lenyap’ di tengah jalan. Kata-kata bang Paul sendiri sangat mengena di hati saya, terutama pada bagian motivasi. Intinya memang tetap pada satu hal, tujuan hidup di dunia yang bisa dijadikan motivasi hanyalah karena mengharap ridho Allah SWT.

Hari berikutnya, kami disuguhkan pemateri-pemateri yang tak kalah menarik. Kali ini kami kedatangan 5 (lima) orang pendidik dari Sekolah Guru Ekselensia atau yang sekarang disebut dengan Sekolah Guru Indonesia (SGI). Mereka berasal dari provinsi yang berbeda: Uni Ayu (Padang), Jamil (Makassar), Syaiful Hadi (Bengkulu), Ima (Jakarta), dan Junita (Palembang). SGI ini merupakan program dari Dompet Dhuafa yang concern pada dunia pendidikan. Kelima orang tersebut – bersama dengan 27 orang yang mendaftar di program ini – disebar ke daerah-daerah ‘eksotis’ (meminjam bahasanya Jamil) yang terletak di pedalaman masing-masing provinsi di Indonesia. Lima orang ini ditempatkan di beberapa desa di Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat.

Kelima orang ini merupakan para pejuang pendidikan yang luar biasa, saya rasa. Karena mereka berani ambil resiko keluar dari pekerjaan dan melakukan pekerjaan sosial pendidikan untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia yang membutuhkan kesegaran pendidikan. Meskipun tidak bisa berbuat lebih, minimal kehadiran mereka merupakan angin segar buat anak-anak pedesaan itu, begitu kata salah seorang pendidik muda ini. Selain harus tetap menjaga motivasi mereka untuk terus bergerak, mereka juga harus bisa menumbuhkan semangat belajar bagi anak-anak pedesaan yang mayoritas putus sekolah karena permasalahan ekonomi. Mereka tidak peduli harus tidur di ruang guru, UKS, atau perpustakaan, asalkan tujuan pendidikan bisa tercapai mereka sepertinya sudah senang. Satu kalimat yang terus terngiang di telinga saya adalah kalimat dari Syaiful Hadi, “Dalam kegelapan, lebih baik menyalakan satu lilin daripada terus-menerus mengutuk kegelapan”. Saya dapat menyimpulkan bahwa lebih baik berbuat sesuatu meskipun dalam skala kecil daripada hanya diomongkan tanpa ada tindakan. Kalo dalam bahasa iklan itu Talk Less Do More! Kehadiran kelima orang pejuang pendidikan dalam acara pembekalan volunteer itu memberikan nuansa berbeda bagi saya. Saya jadi berpikir, mengajar di SDI Miftahusshalihin selama 3 bulan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan 1 (satu) tahun pengorbanan mereka hanya untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Ya, seperti yang sudah diungkapkan di atas, meskipun kecil berbuatlah sesuatu daripada hanya bisa bicara tanpa bisa bertindak. Benar-benar berbagi pengalaman yang luar biasa bagi saya.

Selanjutnya, para volunteer dibagi menjadi 3 (tiga) divisi: Science dan Math, Bahasa, dan Seni. Di sesi terakhir kami diberikan pembekalan masing-masing oleh pemateri-pemateri yang berkompeten di bidangnya. Science dan Math dikenalkan tentang Jarimatika oleh bang Hengky, kemudian Bahasa dan Seni dijadikan satu dan dibimbing oleh bu Iva. Saya tergabung di divisi bahasa yang akan mengajarkan baca, tulis, dan dasar bahasa Inggris. Bu Iva menjelaskan sedikit tentang bagaimana menangani anak-anak, lagu-lagu anak, dan beberapa permainan anak. Saya seperti kembali ke dunia Taman Kanak-kanak hari itu, bernyanyi dan bermain permainan anak, membuat saya sedikit mengerti tentang dunia anak.

Hari terakhir pembekalan volunteer E-Teaching akhirnya tiba, tidak seperti dua hari sebelumnya yang dimulai dari pagi hari, di hari terakhir ini kami mulai kegiatan sekitar pukul 13.00 siang. Hari ini kami kembali dikenalkan dengan sesuatu yang baru, yaitu Mnemonic. Istilah yang terdengar asing bagi saya, tapi ternyata sudah sering diterapkan dalam kegiatan sehari-hari. Mnemonic adalah teknik mengingat sesuatu. Mnemonic ini sangat beragam jenisnya, dan sering kali kita temukan dalam beberapa metode pengajaran. Jenis-jenis Mnemonic seperti: Akronim, Akrostik atau yang dikenal dengan Jembatan Keledai, Rima dan Lagu, Chunking, Peg System, Loci Method, dan Link Word. Penjelasannya cukup panjang, namun beberapa jenis sudah sering saya pakai untuk menghafal sesuatu seperti Akronim, Akrostik, dan Lagu. Setelah penjelasan dari mbak Puji Lestari, kami membuat media sederhana dan melakukan micro teaching kecil-kecilan sebagai bekal terjun ke lapangan September nanti. Kemudian, panitia mengadakan outbond di depan gedung rektorat Universitas Tanjungpura. Outbond ini cukup menguras tenaga kami karena masing-masing kaki harus diikat dengan lakban dan kami harus berjalan bersama sesuai dengan strategi dan teknik yang cepat namun tepat menuju tempat tujuan yang sudah ditentukan panitia. Benar-benar permainan yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Kegiatan pembekalan tersebut kemudian ditutup dengan buka puasa bersama. Thanks Excellence! What an amazing activity! ^^,

Read More......

Tuesday, August 7, 2012

First Experience with Signora1897

Senin, 6 Agustus 2012, adalah hari pertama saya menulis untuk blog Signora1897. Dan hari berikutnya, Selasa, 7 Agustus 2012, hari pertama tulisan saya dipublikasikan di blog tersebut. Proses penulisannya sih tidak memakan waktu yang lama, namun pencarian informasi dan membaca setiap berita yang ingin saya rangkum di kolom Daily News memerlukan waktu yang lumayan lama. Problemnya cuma satu sebenarnya, bahasa. Untuk situs-situs yang berbahasa Inggris mungkin saya tidak terlalu kewalahan, namun untuk situs yang berbahasa Italia saya mengalami sedikit kendala. Karena saya hanya mengetahui sedikit sekali kosakata dalam bahasa Italia. Ini benar-benar tantangan yang menegangkan buat saya. 

Permasalahan kemudian datang ketika saya membuat akun di site blogging yang berbeda. Agak sedikit bingung karena saya belum pernah menggunakan situs ini. Hingga tulisan yang seharusnya sudah diterbitkan Senin malam menjadi terkendala dan terbit Selasa paginya. Lagi-lagi permasalahan teknis di situs blognya. Admin blog Signora1897 berkali-kali memberikan langkah-langkah untuk dapat mengakses ruang admin di blog yang berisi informasi tentang Juventus itu, namun sayanya yang masih tidak mudeng. Setelah dicoba kembali, akhirnya saya pun bisa masuk ke ruang admin di blog tersebut. Belum lagi pada saat artikel akan di-publish, saya sedang tidak di rumah, jadi saya segera melajukan motor saya untuk mengedit beberapa kalimat sesuai dengan saran dan masukan admin Signora1897. Ternyata, tulisan saya itu sudah dipublikasikan! Hati saya berdegup kencang sekali, karena ini pertama kalinya saya menulis di blog Signora1897

/Antara gugup dan tegang, menantikan bagaimana komentar para juventini setelah membaca tulisan tersebut. Setelah berdiskusi dengan admin, tulisan yang sudah dipublikasikan itu saya edit lagi, menambahkan sedikit detil sebagai penjelas tulisan dan kemudian diterbitkan kembali. Jujur, tulisan yang selalu saya buat biasanya artikel lepas, feature, atau straight news (berita langsung yang didapat dari proses wawancara narasumber). Oleh karenanya, ketika mendapatkan tawaran menulis di blog ini saya merasa sangat tertantang. Apalagi tulisan-tulisan sebelumnya di blog tersebut bagus-bagus dan mendapat banyak komentar. Saya hanya berharap tulisan saya dinikmati oleh para juventini atau pembaca lainnya. Forza Juventus!

Read More......