Clock

Saturday, July 21, 2012

Pare oh Pare....!

Kampung Inggris, Pare???! Seperti apa tempat yang dinamakan Kampung Inggris itu? Saya selalu menanyakan hal tersebut ketika beberapa dosen dan teman di kampus berbincang mengenai kampung tersebut. Sejak saat itu, ingin sekali rasanya suatu hari nanti saya mengunjungi Pare. Mengapa? Karena saya suka bahasa Inggris, entah mengapa sejak di bangku Sekolah Dasar Bahasa Inggris selalu menjadi pelajaran favorit saya. Karena itu saya selalu berharap saya bisa menuntu ilmu di Pare. Tahun-tahun berlalu dan saya masih belum memiliki kesempatan untuk mewujudkan impian saya itu. Aktivitas yang padat membuat saya mengurungkan niat untuk pergi ke Pare. Bahkan saya tidak mencari informasi sama sekali karena saya pikir tidak punya kesempatan untuk pergi kesana. 

Pucuk di cinta ulam pun tiba, mengutip pepatah orang dolok-dolok (kata orang Melayu), saya akhirnya mendapatkan kesempatan kursus di Pare selama 7 (tujuh) bulan. The dream comes true, finally! Meskipun saya harus meninggalkan aktivitas dan pekerjaan di Pontianak, dengan semangat juang yang tinggi (ingat bahasa tulisan waktu masih mahasiswa :D) saya berangkat ke Pare lewat jalur kereta api dari Jakarta. “I’m leaving on a jet train...” sambil tersenyum dalam hati saya menikmati perjalanan kali kedua menggunakan kereta apai. Namun, kali ini saya harus menempuh waktu 12 jam dari Jakarta menuju Jombang, salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur. 

 Setelah mendapatkan informasi dari seorang teman yang rumahnya tidak jauh dari Pare, saya baru tahu jika Pare adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Posisi Pare juga sangat strategis, berada di tengah-tengah antara Kabupaten dan Kota lainnya seperti Kediri, Jombang, Blitar, Malang, Mojokerto, dan sebagainya (karena saya juga tidak tahu apa lagi sisanya :D) Nah, yang namanya Kampung Inggris ternyata sebuah daerah pedesaan yang kecil dan dipadati dengan puluhan tempat kursus, Desa Pelem Dusun Singgahan namanya. 

 Uniknya lagi, ternyata (banyak fakta yang baru saya ketahui setelah menjejakkan kaki di Pare) setelah saya amati, tidak hanya kursus bahasa Inggris saja yang ada di daerah ini, tapi juga kursus bahasa asing lainnya seperti Jepang, Korea, Arab, Mandarin, dan Perancis. Daerah ini sepertinya cocok dinamai Kampung Bahasa, karena tidak hanya bahasa Inggris saja yang di’kursus’kan disini. Mengapa Kampung Inggris, karena berdasarkan sejarahnya (cerita ini didapat dari bincang-bincang dengan salah satu pemilik tempat kursus di Pare) tempat kursus yang pertama kali berdiri di Singgahan ini adalah Kursus Bahasa Inggris, kalau tidak salah sekitar tahun 1976 atau 1977 (Saya belum lahir bahkan belum ‘direncanakan’ pada tahun tersebut :D). Peminat kursusan di Pare ini tidak sedikit, pelajar, mahasiswa, bahkan umum yang ingin mengikuti kursus di Pare berasal dari seluruh penjuru daerah di Indonesia; Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, bahkan Pulau Jawa juga, beramai-ramai membanjiri daerah yang dipenuhi dengan kebun Jagung ini. 

 Selain membuka peluang untuk pendidikan yang lebih maju di daerah pedesaan (secara belajar bahasa itu pintu untuk kita menuju negara lain), adanya kampung Inggris ini juga membuka kesempatan majunya perekonomian bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya tempat kursus yang banyak, masyarakat sekitar juga berlomba-lomba membuka tempat kos, warung makan, mini market, warung internet, kios pulsa, dan sebagainya. Dari perbincangan dengan beberapa warga di sana, mereka sangat bersyukur dengan hadirnya tempat-tempat kursus di wilayah pedesaan seperti ini. Sehingga mereka tidak kebingungan mencari pekerjaan ataupun harus merantau ke luar daerah, membuka usaha di Dusun Singgahan saja sudah cukup bagi mereka. So, guys, don’t waste your time, just visit and study in Pare! Arrivederci!

No comments:

Post a Comment