Well, sekian lama tak bergelut dengan dunia per-blog-an, 4 tahun ternyata saya tak menulis di blog ini. Sigh! Sudah lama ternyata blog ini teronggok tak tersentuh. Berapa tahun sudah??? saya melihat post terakhir di blog dan terhenyak, 2012! 4 tahun sudah. 4 tahun bukan waktu yang singkat. 4 tahun seharusnya sudah membuat blog ini penuh dengan cerita. Tapi lagi-lagi, apologi rutinitas basi jadi tumbal. Yah, saya terlalu larut sepertinya. Terbuai oleh keadaan.
Read More......Coretan Kecilku
Written about anything...Just check it out! Thanks sudah membaca tulisanku ^^,
Clock
Tuesday, April 19, 2016
Saturday, August 11, 2012
Juventus, Conte, dan Twitter
Wednesday, August 8, 2012
Hari-hari bersama tim volunteer Excellence Teaching di Excellence English Studio.
Tiga hari mengikuti pembekalan volunteer E-Teaching atau Excellence Teaching memberikan pengalaman baru dan menarik bagi saya. Selain teman-teman baru tentu saja, saya juga bertemu dengan para pemateri yang sangat kompeten di bidangnya. Sekilas informasi tentang program volunteer E-Teaching ini, pada bulan September hingga Desember para volunteer akan ditempatkan di SDI Miftahusshalihin Sungai Selamat, Siantan, Pontianak. Sekolah ini merupakan sekolah yang dirintis warga yang sangat peduli pada pendidikan. Perlu diketahui bahwa lingkungan tersebut adalah lingkungan para pemulung, sekolah tersebut juga mayoritas dari anak-anak pemulung.
Berdasarkan informasi dari salah seorang guru yang telah lebih dulu mengajar disana, Kak Dedew teman-teman memanggilnya, kondisi pendidikan di sekolah itu sangat miris. Anak-anak yang duduk di bangku kelas 3 (tiga) saja ada yang belum bisa membaca dan menulis. Namun mereka tetap saja ‘dinaikkan’ kelas mengingat jumlah murid yang sangat sedikit di sekolah tersebut. Selain itu, tantangan yang dihadapi para pengajar disana adalah bahasa, karena para siswa berbicara dengan bahasa ibu mereka yang berasal dari etnis yang sama, yaitu Madura. Sehingga, guru yang tidak bisa memahami bahasa mereka perlu melakukan pendekatan yang sangat maksimal.
Kembali lagi pada program pembekalan volunteer, peserta yang mengikuti kegiatan tersebut hanya sekitar 9 (sembilan) orang karena peserta yang lama terkendala pada waktu. Meskipun hanya segelintir orang yang mengikuti kegiatan itu, saya merasa ada suatu kesamaan dalam diri kami hari itu, yaitu sama-sama ingin memajukan pendidikan untuk anak-anak Indonesia.
Selain itu, di sesi ini juga digambarkan bagaimana caranya memahami tingkah polah anak, memahami bahasanya dan bagaimana cara menyatu dengan dunianya. Dunia anak tetaplah dunia penuh warna yang selalu dilingkupi dengan keceriaan. Terkadang orang dewasa ‘memaksa’ anak-anak masuk ke dunia mereka, padahal seharusnya orang dewasalah yang harus berusaha ‘masuk’ ke dalam dunia anak-anak. Dari pertemuan ini, ada sebuah joke yang dicetuskan seorang peserta, karena seluruh volunteer adalah wanita, maka ia mengatakan bahwa setelah mendapatkan materi tentang anak ini para peserta sudah tidak sabar untuk menikah dan langsung mempraktikkan teori yang telah diberikan Mbak Desni.
Selain materi dari Mbak Desni, ada juga Bang Fakhrul yang mengisi sesi tentang motivasi dan tujuan hidup. Motivasi memang sangat diperlukan di kegiatan volunteer ini. Apalagi kondisi di lapangan sangat miris, sangat disayangkan apabila di tengah perjalanan kegiatan ini ada peserta yang tiba-tiba berhenti. Bang Paul – panggilan akrabnya – dengan lugas memaparkan mengenai motivasi bagi para pekerja sosial, perbedaan antara job dan karir, dan bagaimana mengembalikan motivasi yang tiba-tiba ‘lenyap’ di tengah jalan. Kata-kata bang Paul sendiri sangat mengena di hati saya, terutama pada bagian motivasi. Intinya memang tetap pada satu hal, tujuan hidup di dunia yang bisa dijadikan motivasi hanyalah karena mengharap ridho Allah SWT.
Hari berikutnya, kami disuguhkan pemateri-pemateri yang tak kalah menarik. Kali ini kami kedatangan 5 (lima) orang pendidik dari Sekolah Guru Ekselensia atau yang sekarang disebut dengan Sekolah Guru Indonesia (SGI). Mereka berasal dari provinsi yang berbeda: Uni Ayu (Padang), Jamil (Makassar), Syaiful Hadi (Bengkulu), Ima (Jakarta), dan Junita (Palembang). SGI ini merupakan program dari Dompet Dhuafa yang concern pada dunia pendidikan. Kelima orang tersebut – bersama dengan 27 orang yang mendaftar di program ini – disebar ke daerah-daerah ‘eksotis’ (meminjam bahasanya Jamil) yang terletak di pedalaman masing-masing provinsi di Indonesia. Lima orang ini ditempatkan di beberapa desa di Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat.
Kelima orang ini merupakan para pejuang pendidikan yang luar biasa, saya rasa. Karena mereka berani ambil resiko keluar dari pekerjaan dan melakukan pekerjaan sosial pendidikan untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia yang membutuhkan kesegaran pendidikan. Meskipun tidak bisa berbuat lebih, minimal kehadiran mereka merupakan angin segar buat anak-anak pedesaan itu, begitu kata salah seorang pendidik muda ini. Selain harus tetap menjaga motivasi mereka untuk terus bergerak, mereka juga harus bisa menumbuhkan semangat belajar bagi anak-anak pedesaan yang mayoritas putus sekolah karena permasalahan ekonomi. Mereka tidak peduli harus tidur di ruang guru, UKS, atau perpustakaan, asalkan tujuan pendidikan bisa tercapai mereka sepertinya sudah senang. Satu kalimat yang terus terngiang di telinga saya adalah kalimat dari Syaiful Hadi, “Dalam kegelapan, lebih baik menyalakan satu lilin daripada terus-menerus mengutuk kegelapan”. Saya dapat menyimpulkan bahwa lebih baik berbuat sesuatu meskipun dalam skala kecil daripada hanya diomongkan tanpa ada tindakan. Kalo dalam bahasa iklan itu Talk Less Do More! Kehadiran kelima orang pejuang pendidikan dalam acara pembekalan volunteer itu memberikan nuansa berbeda bagi saya. Saya jadi berpikir, mengajar di SDI Miftahusshalihin selama 3 bulan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan 1 (satu) tahun pengorbanan mereka hanya untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Ya, seperti yang sudah diungkapkan di atas, meskipun kecil berbuatlah sesuatu daripada hanya bisa bicara tanpa bisa bertindak. Benar-benar berbagi pengalaman yang luar biasa bagi saya.
Selanjutnya, para volunteer dibagi menjadi 3 (tiga) divisi: Science dan Math, Bahasa, dan Seni. Di sesi terakhir kami diberikan pembekalan masing-masing oleh pemateri-pemateri yang berkompeten di bidangnya. Science dan Math dikenalkan tentang Jarimatika oleh bang Hengky, kemudian Bahasa dan Seni dijadikan satu dan dibimbing oleh bu Iva. Saya tergabung di divisi bahasa yang akan mengajarkan baca, tulis, dan dasar bahasa Inggris. Bu Iva menjelaskan sedikit tentang bagaimana menangani anak-anak, lagu-lagu anak, dan beberapa permainan anak. Saya seperti kembali ke dunia Taman Kanak-kanak hari itu, bernyanyi dan bermain permainan anak, membuat saya sedikit mengerti tentang dunia anak.
Hari terakhir pembekalan volunteer E-Teaching akhirnya tiba, tidak seperti dua hari sebelumnya yang dimulai dari pagi hari, di hari terakhir ini kami mulai kegiatan sekitar pukul 13.00 siang. Hari ini kami kembali dikenalkan dengan sesuatu yang baru, yaitu Mnemonic. Istilah yang terdengar asing bagi saya, tapi ternyata sudah sering diterapkan dalam kegiatan sehari-hari. Mnemonic adalah teknik mengingat sesuatu. Mnemonic ini sangat beragam jenisnya, dan sering kali kita temukan dalam beberapa metode pengajaran. Jenis-jenis Mnemonic seperti: Akronim, Akrostik atau yang dikenal dengan Jembatan Keledai, Rima dan Lagu, Chunking, Peg System, Loci Method, dan Link Word. Penjelasannya cukup panjang, namun beberapa jenis sudah sering saya pakai untuk menghafal sesuatu seperti Akronim, Akrostik, dan Lagu. Setelah penjelasan dari mbak Puji Lestari, kami membuat media sederhana dan melakukan micro teaching kecil-kecilan sebagai bekal terjun ke lapangan September nanti. Kemudian, panitia mengadakan outbond di depan gedung rektorat Universitas Tanjungpura. Outbond ini cukup menguras tenaga kami karena masing-masing kaki harus diikat dengan lakban dan kami harus berjalan bersama sesuai dengan strategi dan teknik yang cepat namun tepat menuju tempat tujuan yang sudah ditentukan panitia. Benar-benar permainan yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Kegiatan pembekalan tersebut kemudian ditutup dengan buka puasa bersama. Thanks Excellence! What an amazing activity! ^^, Read More......
Tuesday, August 7, 2012
First Experience with Signora1897
Monday, July 30, 2012
Imunisasi BCG
Lewat tulisan kali ini saya ingin mengajak reader ke dunia “BCG”. The title is not real immunisation. BCG disini adalah kelas-kelas yang saya masuki selama saya belajar di Pare. B untuk Best Class, C untuk Champion, dan G untuk Galaxy.
English Family
First day, I felt trembling when we held the Opening Ceremony. Mr. Hermansyah as a Vice Chairman in Students Division had already come but guests and participants hadn’t come yet. I wished it’s not a bad symptom that this program couldn’t run well. One of the hardest part of this program was all participants must speak in English 24 hours. I knew it would be hard even for me, so we decided to simplify the rule, they may speak Bahasa Indonesia in discussion session. After Opening Ceremony, we introduced ourselves in a very unique way (thanks to our supervisor, Mr. Segu who told us this way). We were supposed to mention our name; real and western name, our hometown, our feelinng, opinion, and motivation. Then, we did some games to help memorizing our friend’s names. Because of Friday, we should finish our activity soon because the man would do Friday Prayer. When Friday prayer, the woman went to Alianyang Center directly and I caught up later. On the way, one of the facilitator phoned Zu because of Alianyang Center was locked. ‘Oh my dear!’ I thought, I hope it’s not another bad thing for us. When I reached Alianyang Center, the participants were sitting on the terrace floor. ‘Poor them!’ My heart said. After waiting for a long time, finally the keeper of the building came and opened it. ‘Okay! Here we go! Time to rock the three days with English!’ I told them. We cleaned up the place which we slept on, tidy up our clothes while waiting for the man come for Friday Prayer, and ready for the first session of this program. I thought the first day ran well. We began the program with Part of Speech discussion, Listening to the song; Hero from Mariah Carey, and did some games like missing lyrics. Then I gave them what I had got from Pare, Tenses song,and did some discussion too. An amazing thing was when we could sit and share together in English while waiting for breaking our fasting because it’s a Ramadhan month. Time to fasting for one month for Moslems. We ate together while making some jokes, discussed something, prayed Maghrib, Isya, and Tarawih. After that, we had a discussion again about Opening Mind by Social and Cultures. This was about the differences between Indonesian and western cultures and how each people treat others. The participants were interested in this discussion and asked many things about the cultures, social life, even education system.
The next day we also had a lot of discussion session with two lecturers from STAIN Pontianak, Mr. Segu and Mr. Maladi. However, before the discussion, we watched movie entitled “The Blind Side” first. The movie told about social and culture too, especially in America between Black and White people there. We paused the movie for a while and stepped to the next discussion about pronounciation and easy tenses. I was sure that the participants got a lot form Mr. Segu, even my friends and I as facilitator. Mr. Segu gave us some interesting videos to watch and learn English. One thing I like from the participants was their willingness to speak English even it still mixed with Bahasa. I just need their intention to study and learn English in this program. Moreover, they also learned how the way of speaking English easily. They got it from Mr. Maladi. I didn’t attend this session because Zu and I should go to find something and the main point was we needed the fresh air much! :D There was a bad condition when the gentlemen came late in one session. Even it was just handled by facilitator, they were late for 45 minutes and it was really an unforgivable condition. Zu and I got angry, but just at the moment and we continued our activity later. The last session for the second day was played “Never Ending Story” games and continued watching movie. Having watched movie, we shared and discussed it, and everybody spoke at that time. They had different idea about the movie, but they had same point of view about reaching dreams, strong intention, good effort, then those could alter the main character of the movie. He came from zero to hero, from no one to be someone. Having Sahur together was also unforgettable moment for us. Because it was really difficult to wake them up after all of the tiring activities.
The last day would be a precious day for the participants and I. We had an outbond, did sport and games while watching sunrise. It was held on the top of Alianyang Center building so we could watch a beautiful sunrise clearly. We did “I have never/ I have never been” game and I was one of the lost participants in this game. Then, we played “Guess Songs” which we should sing a song from one word that would be given. The last we played “One Word” game, it was about mention one word then our friends should mention another word with the last alphabet from the word that already mentioned before. Furthermore, we finished the outbond, cleaned up the building and our stuff, packed all the things and waited the last session of this day that was an introduction from the other English Clubs in Pontianak. They were Khatulistiwa English Community (KEY) and Excellence English Studio. The participants were so impressed by KEY and Excellence because they had a new family in English community. Besides, they learned many new things about managing a community. Finishing this session we had a photo session with all of REC participants and KEY plus Excellence. We had a very good and valuable time with them. We shared and asked many question about language community. They were also happy getting invloved in this program. As like English Community of STAIN Pontianak had found new family and new places to practice English. Finally, we closed REC program with some impression words from participants. We also had three best participants, they were Bagus, Sasa, and Ninda. Keep studying, guys! I hope we all can work together and succeed at last. I found many things from this program. But the important one, I found family here, they were in English Community of STAIN Pontianak. See you on other programs, good luck! Read More......
My Blood is Black and White (Published also in Signora 1897.com)
Berbicara tentang Juventus seperti berbicara tentang perasaan cinta. Sebelumnya, perkenalkan, saya Dian K. Sari, fans Juventus dari Chapter Kalimantan Barat, khususnya Pontianak.
Di usia 10 tahun praktis saya tidak tahu banyak tentang sepak bola, apalagi nama pemain-pemain dunia yang masing-masing membela timnas mereka. Tapi entah mengapa, melihat sosoknya yang kalem dan cakep itu membuat saya mulai beraksi mencari informasi tentang Alex Del Piero ini. Dari hasil pantauan saya beberapa hari kemudian (bahasanya ga nahan! :D), fakta yang saya temukan adalah Del Piero membela sebuah klub yang bermarkas di Turin, berseragam hitam putih, dan dijuluki si Nyona Tua. Sejak saat itu saya selalu mengikuti berita-berita dan pertandingan-pertandingan yang dilakoni skuad Il Bianconero. Pada saat itu saya mengoleksi kartu-kartu yang bergambarkan pemain-pemain sepak bola dunia, poster, dan stiker, yang paling banyak tentu saja pemain dari Italia. Perjuangan menjalani hobi ini sangatlah tidak mudah bagi saya, karena pada waktu itu saya dilarang mati-matian dengan Ibu saya. “Perempuan kok hobinya sepak bola!” kata beliau waktu itu.
Saat duduk di kelas 1 SMP, saya juga kesulitan menonton pertandingan-pertandingan sepak bola, khususnya Juventus, karena pertandingan yang disiarkan biasanya sampai larut malam. Saya harus kucing-kucingan dengan Ibu saya, pura-pura tidur lebih awal, kemudian saat saudara-saudara saya menghidupkan televisi pelan-pelan saya pun keluar kamar. There’s nothing to say except alhamdulillah, Thanks God! Saya bisa menonton hingga akhir pertandingan. Meskipun performa para bintang-bintang Juventus tidak stabil yang membuat kondisi tim jadi tidak stabil pula, saya tidak pernah tertarik untuk pindah ke lain hati dalam hal sepak bola. Ada kalanya Juventus harus terpuruk ketika sang kapten, Del Piero terbekap cedera berkepanjangan, pemain-pemain bintang seperti Zidane, Inzaghi, Cannavaro harus meninggalkan klub. Namun ada juga saat-saat menyenangkan melihat performa Trezeguet, Davids, Nedved, Buffon bermain dengan akselerasi dan determinasi yang mengagumkan sehingga Juventus bisa kembali menikmati masa-masa kejayaannya. Semua itu merupakan dinamika kehidupan yang menantang saya untuk tetap bertahan ‘membela’ klub ini meski hanya sebagai tifosi.
Di masa-masa SMA, saya senang sekali menulis novel, memang tidak pernah diterbitkan karena saya pikir di masa sekarang menerbitkan novel seperti itu (seperti novel yang saya tulis waktu SMA) sepertinya unqualified banget! Di setiap novel yang saya tulis, entah mengapa saya selalu menghadirkan Juventus sebagai klub favorit si tokoh utama. Tokoh imajinasi yang saya buat itu benar-benar ‘diciptakan’ untuk mencintai Juventus; kamar yang dicat hitam dan putih, poster-poster pemain Juventus tertempel di dinding kamar, hingga koleksi jersey Juventus. Those are just my imagination! Karena di dunia nyata, boro-boro mengubah cat kamar, menempel poster saja pasti akan langsung dicopot. Saya benar-benar telah terhipnotis oleh Si Nyonya Tua! Dengan hadirnya kasus Calciopoli, saya sangat sedih karena tidak bisa melihat tim favorit saya berlaga di Seri B. Meskipun saya dicemooh teman-teman karena tim favorit terlibat kasus, saya tetap tak bisa ke lain hati. Berita-berita tentang Juventus saya dapatkan dari internet dan koran-koran olahraga kala itu. Saya makin cinta dengan Juventus dan terutama Del Piero pada kasus Calciopoli itu, Juventus tidak patah semangat dan menunjukkan kualitasnya di Seri B, dan Del Piero, Buffon, Nedved, Chiellini, tetap bertahan di Juventus memainkan laga demi laga di Seri B dengan langkah yang tegap dan mantap. “A true gentleman never leaves his lady” kata-kata yang sangat emosional dari sang kapten dan memberikan semangat yang lebih bagi pemain lainnya. Ketika membaca tulisan tentang Calciopoli di blog Signora1897, saya jadi tergamam dan berpikir apakah ini salah satu strategi politik untuk menjatuhkan Juventus? Karena proses peradilan yang sangat cepat dan keputusan yang singkat dengan mencabut dua gelar scudetto, denda, dan turun ke Seri B, membuat para saingan Juventus di Seri A melenggang mantap di laga-laga itu tanpa Juventus.
Tahun demi tahun berlalu, pelatih dan pemain datang silih berganti di Juventus, tapi Juventini dan Juvedona tetap setia membela tim ini. Halangan dan rintangan menjadikan Juventus, baik manajemen dan pemain, lebih dewasa dan matang. Meski berada di posisi ketujuh dua kali, Juventus tak patah arang untuk berjuang. Hingga scudetto ke 30 diraih musim 2011-2012 lalu. Sepertinya itu harga yang pantas di bayar Juventus setelah semua cobaan dan musibah yang dihadapi. Saat itu saya sedang di luar kota menjalani kursus bahasa di Pare, Jawa Timur. Penggemar sepak bola, khususnya Italia hanya saya saja di kos, jadi menonton laga demi laga pun harus saya lakoni sendirian. Sayangnya channel Indosiar di TV kos tidak terlalu bagus dan terkadang putus-putus, sehingga terkadang saya mengurungkan niat untuk menonton. Pertandingan terakhir musim lalu yang saya tonton adalah saat melawan Atalanta, Lecce, dan Napoli (yang disebut terakhir itu Coppa Italia). Saya sampai tidak bisa menahan air mata saat King Alex mencetak gol, ditarik keluar dan melakukan ‘pesta perpisahan’ dengan mengelilingi lapangan, blunder Buffon, dan yang paling mengharukan saat sang kapten mengangkat trofi scudetto. It couldn’t be expressed just by words or screaming! Benar-benar penantian panjang yang sangat unik ceritanya. Setelah penyerahan piala dan siaran pun habis, handphone dan twitter tetap stand by, air mata terus mengalir sambil membaca tweets dari juventini dan juvedona from all over the world. Raihan scudetto dan air mata kebahagiaan yang terharu ini rasanya ‘sesuatu banget’ daripada saat ditembak lelaki idaman :D Juventus per sempre sara! My blood is always Bianconero. Read More......












