Clock

Tuesday, April 19, 2016

Teronggok Lama Tak Tersentuh

Well, sekian lama tak bergelut dengan dunia per-blog-an, 4 tahun ternyata saya tak menulis di blog ini. Sigh! Sudah lama ternyata blog ini teronggok tak tersentuh. Berapa tahun sudah??? saya melihat post terakhir di blog dan terhenyak, 2012! 4 tahun sudah. 4 tahun bukan waktu yang singkat. 4 tahun seharusnya sudah membuat blog ini penuh dengan cerita. Tapi lagi-lagi, apologi rutinitas basi jadi tumbal. Yah, saya terlalu larut sepertinya. Terbuai oleh keadaan.

Read More......

Saturday, August 11, 2012

Juventus, Conte, dan Twitter

Beberapa hari ini timeline twitter saya dipenuhi dukungan untuk pelatih Juventus, Antonio Conte, dan tentu saja dukungan untuk Juventus menjelang laga Piala Super Italia kontra Napoli. Dukungan yang diberikan para Juventini terkait dengan kasus yang sedang menimpa sang allenatore dalam Calcioscommesse. Di Italia, pertandingan sepak bola dijadikan ajang perjudian untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya. Jika di Indonesia perjudian dilakukan para Bandar-bandar judi (sepanjang pengetahuan saya kalau salah mohon dikoreksi), lain halnya di Italia. Beberapa ‘orang dalam’ tim terlibat langsung dalam perjudian tersebut. Seperti pada kasus Calciopoli yang menimpa beberapa klub di Serie A Italia, termasuk Juventus. Para ‘orang dalam’ bersepakat untuk mengatur skor demi memenangkan taruhan. Agak miris memang, mengingat pengaturan skor ini mengorbankan banyak hal, terutama perjuangan dan kerja keras para pemain.

Kembali pada kasus Calcioscommesse, Antonio Conte, Angelo
Alessio,  Cristian Stellini (yang kemudian mengundurkan diri dari Juventus), dan beberapa pemain seperti Leonardo Bonucci dan Simone Pepe  diduga terlibat dan akan diberikan sanksi. Namun, berita yang beredar belakangan Bonucci dan Pepe akan terlepas dari tuntutan karena si penuntut tidak bisa memberikan bukti yang cukup untuk menghukum mereka. Tinggallah sang coach, Conte yang terancam skors selama 10 bulan. Padahal kesalahan Conte hanya ‘tahu ada pengaturan permainan tapi tidak melaporkan’, saya juga tidak tahu dari segi ilmu hukum apa sanksi yang tepat untuk ‘kesalahan’ seperti itu mengingat sistem hukum Indonesia berbeda dengan Italia. Padahal awalnya Conte sudah mengajukan Plea Bargain yang diajukan pada sidang FIGC yang kemudian ditolak oleh FIGC. FIGC yang merupakan PSSI-nya Italia juga semudah itu menolak Plea Bargain Conte. Banyak pihak yang menyayangkan sikap FIGC ini dan menyebutnya tidak masuk akal dengan memberikan skors kepada Conte selama 10 bulan. Porsi hukuman yang hanya berbeda beberapa bulan dengan terdakwa sebenarnya.

Sikap FIGC ini juga mendapatkan banyak kecaman dari para
Juventini. Mereka menganggap FIGC sengaja ‘memotong’ langkah Conte. Seperti yang diketahui, Conte berhasil membawa Juventus merebut scudetto ke-30 dengan prestasi Unbeatable yang kemudian digagalkan Napoli di Piala Italia. Cara-cara kotor pun mulai dilakukan untuk melemahkan Juventus. Sebagaimana yang dilakukan para merda (sebutan untuk mereka yang tidak senang dengan keberhasilan Juventus) pada kasus Calciopoli tahun 2006, hingga Juventus harus turun ke Serie B. Tapi para punggawa Juventus tidak pernah kurang semangat perjuangannya. Di tahun inilah para pemain diuji, ketahanan mental, loyalitas dan perjuangan. Setelah turun ke Serie B beberapa pemain memilih hengkang, tinggallah segelintir pemain bintang yang menunjukkan kecintaan mereka pada Juventus sebut saja Alessandro Del Piero, Pavel Nedved, David Trezeguet, Gianluigi Buffon, dan Giorgio Chiellini.

Loyalitas para pemain inilah yang menguatkan langkah tim untuk terus maju, move on, hingga mereka bisa meraih capaian scudetto lagi. Untuk mencapai hasil tersebut pun tak mudah, mereka harus berjuang lagi beberapa musim, tidak bisa berlaga di Liga Champions, menduduki peringkat ke-7, dicemooh para merda, namun sekali lagi semua itu bukannya melemahkan alih-alih menguatkan semanga juang para pemain. Hal-hal inilah yang juga kemudian menguatkan para Juventini. Meskipun tim kesayangan ‘terpeleset’ berkali-kali, para Juventini pun tak henti memberikan dukungan kepada La Vecchia Signora. Akhirnya, semua kesulitan terbayar pada musim 2011-2012 dimana Juventus dapat meraih posisi puncak di Serie A sekaligus membukukan jumlah scudetto menjadi 30 (meskipun tidak diakui oleh beberapa pihak gara-gara kasus Calciopoli).

Kali ini pun, para merda itu mencoba melemahkan Juventus pada
kasus Calcioscommesse yang menimpa sang pelatih, Antonio Conte. Karenanya dukungan di timeline Twitter tak pernah habis, terutama menjelang Piala Super Italia. Ada yang mengutuk tindakan FIGC, ada yang dengan penuh semangat menuliskan tweets untuk mendukung Juventus, dan ada juga yang hanya sekedar me-retweet link berita atau tweet lainnya demi mensupport tim kesayangan. Indonesia memang berada jauh bermil-mil dari Italia, namun dukungan tidak pernah dirasa ‘jauh’ untuk Juventus. Memenangkan Piala Super Italia bisa jadi hadiah berharga buat Conte. Meskipun akan diskors tapi itu tidak berpengaruh sedikitpun pada performa Juventus, begitu yang diungkapkan kapten Juventus, Buffon. Juventus sudah melewati banyak rintangan, kesulitan demi kesulitan sudah dihadapi, para pemain lebih matang dan dewasa menyikapi setiap masalah. Dukungan penuh dari manajemen pun semakin kuat seperti yang diungkapkan Marotta bahwa posisi Conte sebagai pelatih tak akan pernah digantikan. Hal ini menjawab isu yang menyebutkan bahwa Conte akan mundur dari jabatannya sebagai pelatih Juventus. Namun, Agnelli dan Marotta menyatakan dukungan mereka 100% kepada sang allenatore. Cara kotor apa lagi yang akan kalian pakai para merda! Juventus sekarang semakin kuat, tim, manajemen, tifosi, semuanya mendukung penuh Juventus. Tak peduli seberapa keras kalian mengguncang Juventus, kami semua tak akan pernah lelah menjadi beton-beton penguat untuk mempertahankan Juventus. Forza Conte! Forza Juventus! Per sempre sara!

Read More......

Wednesday, August 8, 2012

Hari-hari bersama tim volunteer Excellence Teaching di Excellence English Studio.

Tiga hari mengikuti pembekalan volunteer E-Teaching atau Excellence Teaching memberikan pengalaman baru dan menarik bagi saya. Selain teman-teman baru tentu saja, saya juga bertemu dengan para pemateri yang sangat kompeten di bidangnya. Sekilas informasi tentang program volunteer E-Teaching ini, pada bulan September hingga Desember para volunteer akan ditempatkan di SDI Miftahusshalihin Sungai Selamat, Siantan, Pontianak. Sekolah ini merupakan sekolah yang dirintis warga yang sangat peduli pada pendidikan. Perlu diketahui bahwa lingkungan tersebut adalah lingkungan para pemulung, sekolah tersebut juga mayoritas dari anak-anak pemulung.

Berdasarkan informasi dari salah seorang guru yang telah lebih dulu mengajar disana, Kak Dedew teman-teman memanggilnya, kondisi pendidikan di sekolah itu sangat miris. Anak-anak yang duduk di bangku kelas 3 (tiga) saja ada yang belum bisa membaca dan menulis. Namun mereka tetap saja ‘dinaikkan’ kelas mengingat jumlah murid yang sangat sedikit di sekolah tersebut. Selain itu, tantangan yang dihadapi para pengajar disana adalah bahasa, karena para siswa berbicara dengan bahasa ibu mereka yang berasal dari etnis yang sama, yaitu Madura. Sehingga, guru yang tidak bisa memahami bahasa mereka perlu melakukan pendekatan yang sangat maksimal.

Kembali lagi pada program pembekalan volunteer, peserta yang mengikuti kegiatan tersebut hanya sekitar 9 (sembilan) orang karena peserta yang lama terkendala pada waktu. Meskipun hanya segelintir orang yang mengikuti kegiatan itu, saya merasa ada suatu kesamaan dalam diri kami hari itu, yaitu sama-sama ingin memajukan pendidikan untuk anak-anak Indonesia.


Pada hari pertama, materi yang sangat mengena bagi saya adalah tentang Bermain dan Anak yang disampaikan oleh Mbak Desni Yuniarni, M. Psi. Banyak hal baru yang saya dapatkan dalam materi ini, terutama tentang anak-anak. Mbak Desni menjelaskan bahwa pada usia anak-anak (berkisar antara 0-8 tahun menurut UNESCO) mereka lebih cenderung bermain daripada belajar. Oleh sebab itu, kurikulum di tingkat TK atau PAUD mengedepankan bermain dibanding belajar. Polanya adalah bermain sambil belajar, bagaimana anak-anak itu tanpa sadar sedang mempelajari sesuatu padahal mereka tengah bermain. Mbak Desni juga mengatakan bahwa keliru ketika orang tua terus memaksa anaknya untuk belajar, karena pada usia anak mereka lebih senang bermain. Bermain sambil belajar sebenarnya juga bisa meningkatkan kecerdasan anak-anak, seperti kecerdasan spasial, kecerdasan bahasa, dan kecerdasan logika matematika. Misalnya pada aktivitas mewarnai, menggambar, bercerita atau berdongeng, dan bermain dengan angka.

Selain itu, di sesi ini juga digambarkan bagaimana caranya memahami tingkah polah anak, memahami bahasanya dan bagaimana cara menyatu dengan dunianya. Dunia anak tetaplah dunia penuh warna yang selalu dilingkupi dengan keceriaan. Terkadang orang dewasa ‘memaksa’ anak-anak masuk ke dunia mereka, padahal seharusnya orang dewasalah yang harus berusaha ‘masuk’ ke dalam dunia anak-anak. Dari pertemuan ini, ada sebuah joke yang dicetuskan seorang peserta, karena seluruh volunteer adalah wanita, maka ia mengatakan bahwa setelah mendapatkan materi tentang anak ini para peserta sudah tidak sabar untuk menikah dan langsung mempraktikkan teori yang telah diberikan Mbak Desni.

Selain materi dari Mbak Desni, ada juga Bang Fakhrul yang mengisi sesi tentang motivasi dan tujuan hidup. Motivasi memang sangat diperlukan di kegiatan volunteer ini. Apalagi kondisi di lapangan sangat miris, sangat disayangkan apabila di tengah perjalanan kegiatan ini ada peserta yang tiba-tiba berhenti. Bang Paul – panggilan akrabnya – dengan lugas memaparkan mengenai motivasi bagi para pekerja sosial, perbedaan antara job dan karir, dan bagaimana mengembalikan motivasi yang tiba-tiba ‘lenyap’ di tengah jalan. Kata-kata bang Paul sendiri sangat mengena di hati saya, terutama pada bagian motivasi. Intinya memang tetap pada satu hal, tujuan hidup di dunia yang bisa dijadikan motivasi hanyalah karena mengharap ridho Allah SWT.

Hari berikutnya, kami disuguhkan pemateri-pemateri yang tak kalah menarik. Kali ini kami kedatangan 5 (lima) orang pendidik dari Sekolah Guru Ekselensia atau yang sekarang disebut dengan Sekolah Guru Indonesia (SGI). Mereka berasal dari provinsi yang berbeda: Uni Ayu (Padang), Jamil (Makassar), Syaiful Hadi (Bengkulu), Ima (Jakarta), dan Junita (Palembang). SGI ini merupakan program dari Dompet Dhuafa yang concern pada dunia pendidikan. Kelima orang tersebut – bersama dengan 27 orang yang mendaftar di program ini – disebar ke daerah-daerah ‘eksotis’ (meminjam bahasanya Jamil) yang terletak di pedalaman masing-masing provinsi di Indonesia. Lima orang ini ditempatkan di beberapa desa di Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat.

Kelima orang ini merupakan para pejuang pendidikan yang luar biasa, saya rasa. Karena mereka berani ambil resiko keluar dari pekerjaan dan melakukan pekerjaan sosial pendidikan untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia yang membutuhkan kesegaran pendidikan. Meskipun tidak bisa berbuat lebih, minimal kehadiran mereka merupakan angin segar buat anak-anak pedesaan itu, begitu kata salah seorang pendidik muda ini. Selain harus tetap menjaga motivasi mereka untuk terus bergerak, mereka juga harus bisa menumbuhkan semangat belajar bagi anak-anak pedesaan yang mayoritas putus sekolah karena permasalahan ekonomi. Mereka tidak peduli harus tidur di ruang guru, UKS, atau perpustakaan, asalkan tujuan pendidikan bisa tercapai mereka sepertinya sudah senang. Satu kalimat yang terus terngiang di telinga saya adalah kalimat dari Syaiful Hadi, “Dalam kegelapan, lebih baik menyalakan satu lilin daripada terus-menerus mengutuk kegelapan”. Saya dapat menyimpulkan bahwa lebih baik berbuat sesuatu meskipun dalam skala kecil daripada hanya diomongkan tanpa ada tindakan. Kalo dalam bahasa iklan itu Talk Less Do More! Kehadiran kelima orang pejuang pendidikan dalam acara pembekalan volunteer itu memberikan nuansa berbeda bagi saya. Saya jadi berpikir, mengajar di SDI Miftahusshalihin selama 3 bulan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan 1 (satu) tahun pengorbanan mereka hanya untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Ya, seperti yang sudah diungkapkan di atas, meskipun kecil berbuatlah sesuatu daripada hanya bisa bicara tanpa bisa bertindak. Benar-benar berbagi pengalaman yang luar biasa bagi saya.

Selanjutnya, para volunteer dibagi menjadi 3 (tiga) divisi: Science dan Math, Bahasa, dan Seni. Di sesi terakhir kami diberikan pembekalan masing-masing oleh pemateri-pemateri yang berkompeten di bidangnya. Science dan Math dikenalkan tentang Jarimatika oleh bang Hengky, kemudian Bahasa dan Seni dijadikan satu dan dibimbing oleh bu Iva. Saya tergabung di divisi bahasa yang akan mengajarkan baca, tulis, dan dasar bahasa Inggris. Bu Iva menjelaskan sedikit tentang bagaimana menangani anak-anak, lagu-lagu anak, dan beberapa permainan anak. Saya seperti kembali ke dunia Taman Kanak-kanak hari itu, bernyanyi dan bermain permainan anak, membuat saya sedikit mengerti tentang dunia anak.

Hari terakhir pembekalan volunteer E-Teaching akhirnya tiba, tidak seperti dua hari sebelumnya yang dimulai dari pagi hari, di hari terakhir ini kami mulai kegiatan sekitar pukul 13.00 siang. Hari ini kami kembali dikenalkan dengan sesuatu yang baru, yaitu Mnemonic. Istilah yang terdengar asing bagi saya, tapi ternyata sudah sering diterapkan dalam kegiatan sehari-hari. Mnemonic adalah teknik mengingat sesuatu. Mnemonic ini sangat beragam jenisnya, dan sering kali kita temukan dalam beberapa metode pengajaran. Jenis-jenis Mnemonic seperti: Akronim, Akrostik atau yang dikenal dengan Jembatan Keledai, Rima dan Lagu, Chunking, Peg System, Loci Method, dan Link Word. Penjelasannya cukup panjang, namun beberapa jenis sudah sering saya pakai untuk menghafal sesuatu seperti Akronim, Akrostik, dan Lagu. Setelah penjelasan dari mbak Puji Lestari, kami membuat media sederhana dan melakukan micro teaching kecil-kecilan sebagai bekal terjun ke lapangan September nanti. Kemudian, panitia mengadakan outbond di depan gedung rektorat Universitas Tanjungpura. Outbond ini cukup menguras tenaga kami karena masing-masing kaki harus diikat dengan lakban dan kami harus berjalan bersama sesuai dengan strategi dan teknik yang cepat namun tepat menuju tempat tujuan yang sudah ditentukan panitia. Benar-benar permainan yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Kegiatan pembekalan tersebut kemudian ditutup dengan buka puasa bersama. Thanks Excellence! What an amazing activity! ^^,

Read More......

Tuesday, August 7, 2012

First Experience with Signora1897

Senin, 6 Agustus 2012, adalah hari pertama saya menulis untuk blog Signora1897. Dan hari berikutnya, Selasa, 7 Agustus 2012, hari pertama tulisan saya dipublikasikan di blog tersebut. Proses penulisannya sih tidak memakan waktu yang lama, namun pencarian informasi dan membaca setiap berita yang ingin saya rangkum di kolom Daily News memerlukan waktu yang lumayan lama. Problemnya cuma satu sebenarnya, bahasa. Untuk situs-situs yang berbahasa Inggris mungkin saya tidak terlalu kewalahan, namun untuk situs yang berbahasa Italia saya mengalami sedikit kendala. Karena saya hanya mengetahui sedikit sekali kosakata dalam bahasa Italia. Ini benar-benar tantangan yang menegangkan buat saya. 

Permasalahan kemudian datang ketika saya membuat akun di site blogging yang berbeda. Agak sedikit bingung karena saya belum pernah menggunakan situs ini. Hingga tulisan yang seharusnya sudah diterbitkan Senin malam menjadi terkendala dan terbit Selasa paginya. Lagi-lagi permasalahan teknis di situs blognya. Admin blog Signora1897 berkali-kali memberikan langkah-langkah untuk dapat mengakses ruang admin di blog yang berisi informasi tentang Juventus itu, namun sayanya yang masih tidak mudeng. Setelah dicoba kembali, akhirnya saya pun bisa masuk ke ruang admin di blog tersebut. Belum lagi pada saat artikel akan di-publish, saya sedang tidak di rumah, jadi saya segera melajukan motor saya untuk mengedit beberapa kalimat sesuai dengan saran dan masukan admin Signora1897. Ternyata, tulisan saya itu sudah dipublikasikan! Hati saya berdegup kencang sekali, karena ini pertama kalinya saya menulis di blog Signora1897

/Antara gugup dan tegang, menantikan bagaimana komentar para juventini setelah membaca tulisan tersebut. Setelah berdiskusi dengan admin, tulisan yang sudah dipublikasikan itu saya edit lagi, menambahkan sedikit detil sebagai penjelas tulisan dan kemudian diterbitkan kembali. Jujur, tulisan yang selalu saya buat biasanya artikel lepas, feature, atau straight news (berita langsung yang didapat dari proses wawancara narasumber). Oleh karenanya, ketika mendapatkan tawaran menulis di blog ini saya merasa sangat tertantang. Apalagi tulisan-tulisan sebelumnya di blog tersebut bagus-bagus dan mendapat banyak komentar. Saya hanya berharap tulisan saya dinikmati oleh para juventini atau pembaca lainnya. Forza Juventus!

Read More......

Monday, July 30, 2012

Imunisasi BCG

Lewat tulisan kali ini saya ingin mengajak reader ke dunia “BCG”. The title is not real immunisation. BCG disini adalah kelas-kelas yang saya masuki selama saya belajar di Pare. B untuk Best Class, C untuk Champion, dan G untuk Galaxy.

Satu bulan pertama di course yang berlevelkan “basic” membuat saya homesick. Namun, saya berpikir tidak ada salahnya belajar kembali dari tingkat dasar sambil mengamati cara guru mengajar, dan materi-materi yang disampaikan. Teman-teman lain yang bernasib sama seperti saya (kembali belajar dari tingkat dasar) juga mungkin berpikiran sama. Maybe it’ll waste my time, but never mind. Tidak ada yang sia-sia di dunia, apalagi di dunia pendidikan, selalu saja ada hal baru yang bisa didapatkan. So, di kelas yang sangat sangat dasar bagi saya ini, saya belajar kembali alphabet, vocabularies, pronounciation, games, dictation, and many more. Oke, jadi dalam waktu sebulan saya harus mempelajari semua materi dasar bersama teman-teman sekelas yang rata-rata baru tamat SMA. Wow, It looks like I’m the old one! :D Saya mencoba belajar dan tidak mengeluh meski ada rasa lelah yang luar biasa karena mempelajari semuanya untuk yang kesekian kalinya. Saya mencoba men-sugesti diri sendiri, “Oke Dian, yang harus kamu lakukan hanya melihat cara guru mengajar dan materi yang diajarkan, sehingga kelak ketika kamu mengajar, cara ini bisa diterapkan kepada anak didikmu”. 

 Satu bulan penuh yang tanpa terasa dilalui dengan beragam momen manis. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika ditunjuk menjadi produser dan sutradara pada pementasan drama, drama ini akan dipentaskan pada saat penutupan program. Kemudian saya pun menerima tantangan ini. Tak dinyana-nyana, selain menjadi produser dan sutradara, saya juga merangkap menjadi penulis skrip dan penata musik! Hahaha, it seems like I have a lot of hands, right? :D Untungnya, semua pihak yang terlibat di drama tersebut membantu saya dengan segenap tenaga dan waktu. Saat tersulit memang ketika mengumpulkan seluruh pemain menjadi satu, kadang latihan harus terlambat, kadang ada yang merajuk, kadang ada yang tidak serius. Come on! Mungkin seperti inilah yang terjadi pada sutradara dan produser di industri perfilman sesungguhnya, pikir saya. Satu bulan pun berlalu dengan tiada diduga.
Memasuki bulan kedua, saya tidak sabar menantikan pelajaran apa yang akan saya terima di kursus paling tua di Pare ini. Hal yang paling membuat saya senang adalah saya dan teman-teman 10 champions berada di kelas yang sama, meski dua orang teman harus terpisah karena perbedaan registrasi di awal. Oya, satu hal yang menarik belum saya ceritakan saat registrasi awal. Karena Basic English Course (BEC) merupakan kursusan tertua di Dusun Singgahan (baca tulisan saya terdahulu), peminat kursus ini juga paling banyak. Saat mendaftar, saya dan 8 (delapan) orang teman (karena 1 orang dari Baubau masih di perjalanan) harus antri dari pukul setengah 5 subuh. Can you imagine that? Hanya untuk mendaftar di sebuah tempat kursus, para peminat ini rela berjubel mengantri. Selain itu, karena sistem di tempat kursus ini agak konvensional, registrasinya juga memakan waktu yang lama, mungkin sekitar 2 (dua) hari karena jumlah peminat yang mencapai ratusan ini. Kembali lagi ke kelas Champion di bulan kedua. Di kelas ini saya merasakan hangatnya persahabatan dan persaudaraan. Selain mendapatkan ilmu yang benar-benar bermanfaat, saya juga mendapatkan banyak teman yang bisa diajak berdiskusi dan bermain. Study hard, play harder! :D Meskipun sebagian dari mereka baru saja menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA, mereka tidak segan untuk bertanya, berbagi, dan ‘menggila’. Rasanya selalu saja ada tawa di kelas ini. Guru-guru pun merasa senang mengajar di kelas kami, dan hal yang terpenting saya bisa menangkap dan menyerap sedikit demi sedikit ilmu maupun teknik mereka mengajar. Karena suatu saat nanti saya juga ingin membuka sebuah kursus bahasa Inggris dan mencerdaskan generasi bangsa di daerah saya. Dengan penghuni kelas ini saya juga sering belajar bersama, melatih diri menjadi seorang guru, ceritanya. Belajar sambil bermain dan bercanda, serius tapi santai. Yah, ada kebahagiaan tersendiri ketika seseorang mengerti dengan satu materi pelajaran yang saya sampaikan. 

Bulan ketiga dan keempat juga berjalan dengan cepat seiring dengan bibit persahabatan yang sudah menjadi bunga persaudaraan dan buah kekeluargaan. Materi demi materi pelajaran disampaikan dengan sangat cermat oleh guru-guru. Teman-teman di kelas Champion juga bertumbangan satu demi satu dan meninggalkan segelintir orang di dalam kelas. Namun itu tidak menjadikan Champion patah arang. Satu hal yang sering guru kami, Mr. Hadi, berikan sebelum memulai pelajaran, Keys to get success: Strong Intention, Struggle hard, and Worship unto our God. Tiga kunci itu yang menjadi semangat di kala kami terutama saya sendiri, merasa kehilangan semangat untuk belajar. Di bulan ketiga dan keempat, selain belajar di dalam kelas, saya juga terpilih menjadi ketua Weekly Meeting. Meeting ini adalah kegiatan yang dilaksanakan seminggu sekali dan mengharuskan seluruh siswa untuk berpidato (dalam bahasa Inggris tentunya). Menjadi ketua ini merupakan saat-saat tersulit bagi saya, karena selain harus fokus pada pelajaran, saya juga harus fokus pada target utama saya ke Pare yaitu peningkatan TOEFL score (yang pada akhirnya tidak terlalu penting bagi saya). Memang menjadi ketua tidaklah berat pekerjaannya, tapi saya merasakan tanggung jawab yang sangat besar, karena selain kelas Champion di meeting ini juga saya mengetuai kelas Evolution. Saya dan partner kerja mencoba untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk bisa berpidato, karena permasalahan waktu beberapa meeting yang lain tidak bisa memberi kesempatan kepada semua anggotanya untuk berpidato. Di akhir program, para ketua Weekly Meeting diharuskan memberikan pidato pada acara Closing Meeting. Saya tidak pernah membayangkan akan berdiri di depan ratusan siswa dan guru-guru untuk berpidato.

Memasuki bulan kelima hingga ketujuh, saya masuk ke dalam kelas Galaxy dan kembali bertemu dengan wajah-wajah baru (tidak terlalu asing juga menurut saya karena beberapa orang pernah saya temui di bulan-bulan sebelumnya). Dan untungnya, saya juga berada di kelas yang sama dengan salah seorang teman dari 10 Champions, lucky me! Memasuki permulaan belajar di level paling tinggi kursusan ini, saya sedikit mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dan beradaptasi. Karena rasa kekeluargaan yang tinggi pada kelas-kelas sebelumnya, beberapa orang dari kami lebih senang untuk bergabung dengan ‘mantan’ teman sekelasnya dulu, begitu juga setelah kelas bubar. Dan saya bisa merasakan akan ada sedikit jurang pemisah diantara penghuni kelas Galaxy ini. Namun saya tidak terlalu ambil pusing dan terus mencoba berinteraksi dengan mereka. Mulai dari ikut makan bersama, pergi ke sawah di Daffodils bersama, belajar bersama, hingga yang paling ekstrem menurut saya adalah ikut latihan yell yell untuk yell competition. “Should I join this???” pikir saya waktu itu. Pernah membayangkan saja tidak, apalagi melakukannya! Namun semua aktivitas tetap saya jalani dengan ikhlas karena saya yakin semua kebaikan yang saya lakukan pasti ada hikmahnya untuk kehidupan saya kedepan. 

Dua hal tentang kursusan ini yang tidak bisa saya lupakan adalah ketatnya peraturan yang ada dan loyalitas para guru pada kursusan ini. Peraturan merupakan suatu hal yang tidak tertulis dan harus selalu diingat oleh para siswa. Disiplin adalah kunci untuk lulus dari tempat kursus ini. Tiga bulan terakhir merupakan program yang paling tinggi sekaligus berat karena kami harus berbicara bahasa Inggris setiap hari selama 24 jam. Siapa saja yang dengan sengaja melanggar akan langsung dikeluarkan! Kejam memang, tapi itulah kedisiplinan yang mereka pegang teguh bertahun-tahun lamanya. Di tingkat ini pula, kami harus membuktikan bahwa kami layak lulus dengan berkomunikasi langsung kepada turis asing di Candi Borobudur. Inilah satu hal yang saya tunggu-tunggu karena saya sudah tidak sabar mengunjungi situs budaya termegah di Indonesia dan pernah menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Selain peraturan, guru merupakan faktor penting berhasilnya kursusan ini menciptakan lulusan berkualitas. Mereka adalah guru-guru yang berdedikasi dan berpengalaman. Mereka telah mengajari di BEC selama kurang lebih 10 hingga 13 tahun, meski ada beberapa yang baru menginjak tahun kedua. Saya hanya bisa berdecak kagum dan mengucapkan subhanallah, mereka mengajar hanya dengan modal semangat dan ikhlas. Dari 15 orang guru mungkin hanya 6 atau 7 orang yang pernah menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Yang paling saya salut, mereka tidak pernah lelah mengajar meski hanya di tempat kursus dan di sebuah dusun yang kecil, jauh dari perkotaan. Tidak berharap menjadi pegawai negeri ataupun duduk di pemerintahan. Mereka hanya ingin memajukan dusun kecil itu, Singgahan, yang ada di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Saya akan selalu merindukan semua itu, BEC, Pare, Mr. Kalend, dan semua guru-guru. Ciao! :D

Read More......

English Family

English Community of STAIN pontianak held a program named Ramadhan English Camp (REC) 2012. It was begun on 27th-29th July 2012 in ex Alianyang Center building. As a coordinator of EC STAIN Pontianak, my friends and I prepared this program for about one month. They were Zuraida, Eni Desiyani, and Titah Saputri. Besides, there were some people who helped us like Eko, Azmi, Suci, Yanto, Adi, and Bagus. At the first time we were really confused about what activities we should arrange to attract the participants. Long by long, we found some activities that perhaps beneficial for them. Because of holiday season, we just got four participants outside of club and two participants who are the members of EC. Furthermore, some of the organizing committee has never attended a program like this, so they became the participants too. 


First day, I felt trembling when we held the Opening Ceremony. Mr. Hermansyah as a Vice Chairman in Students Division had already come but guests and participants hadn’t come yet. I wished it’s not a bad symptom that this program couldn’t run well. One of the hardest part of this program was all participants must speak in English 24 hours. I knew it would be hard even for me, so we decided to simplify the rule, they may speak Bahasa Indonesia in discussion session. After Opening Ceremony, we introduced ourselves in a very unique way (thanks to our supervisor, Mr. Segu who told us this way). We were supposed to mention our name; real and western name, our hometown, our feelinng, opinion, and motivation. Then, we did some games to help memorizing our friend’s names. Because of Friday, we should finish our activity soon because the man would do Friday Prayer. When Friday prayer, the woman went to Alianyang Center directly and I caught up later. On the way, one of the facilitator phoned Zu because of Alianyang Center was locked. ‘Oh my dear!’ I thought, I hope it’s not another bad thing for us. When I reached Alianyang Center, the participants were sitting on the terrace floor. ‘Poor them!’ My heart said. After waiting for a long time, finally the keeper of the building came and opened it. ‘Okay! Here we go! Time to rock the three days with English!’ I told them. We cleaned up the place which we slept on, tidy up our clothes while waiting for the man come for Friday Prayer, and ready for the first session of this program. I thought the first day ran well. We began the program with Part of Speech discussion, Listening to the song; Hero from Mariah Carey, and did some games like missing lyrics. Then I gave them what I had got from Pare, Tenses song,and did some discussion too. An amazing thing was when we could sit and share together in English while waiting for breaking our fasting because it’s a Ramadhan month. Time to fasting for one month for Moslems. We ate together while making some jokes, discussed something, prayed Maghrib, Isya, and Tarawih. After that, we had a discussion again about Opening Mind by Social and Cultures. This was about the differences between Indonesian and western cultures and how each people treat others. The participants were interested in this discussion and asked many things about the cultures, social life, even education system.


The next day we also had a lot of discussion session with two lecturers from STAIN Pontianak, Mr. Segu and Mr. Maladi. However, before the discussion, we watched movie entitled “The Blind Side” first. The movie told about social and culture too, especially in America between Black and White people there. We paused the movie for a while and stepped to the next discussion about pronounciation and easy tenses. I was sure that the participants got a lot form Mr. Segu, even my friends and I as facilitator. Mr. Segu gave us some interesting videos to watch and learn English. One thing I like from the participants was their willingness to speak English even it still mixed with Bahasa. I just need their intention to study and learn English in this program. Moreover, they also learned how the way of speaking English easily. They got it from Mr. Maladi. I didn’t attend this session because Zu and I should go to find something and the main point was we needed the fresh air much! :D There was a bad condition when the gentlemen came late in one session. Even it was just handled by facilitator, they were late for 45 minutes and it was really an unforgivable condition. Zu and I got angry, but just at the moment and we continued our activity later. The last session for the second day was played “Never Ending Story” games and continued watching movie. Having watched movie, we shared and discussed it, and everybody spoke at that time. They had different idea about the movie, but they had same point of view about reaching dreams, strong intention, good effort, then those could alter the main character of the movie. He came from zero to hero, from no one to be someone. Having Sahur together was also unforgettable moment for us. Because it was really difficult to wake them up after all of the tiring activities.


The last day would be a precious day for the participants and I. We had an outbond, did sport and games while watching sunrise. It was held on the top of Alianyang Center building so we could watch a beautiful sunrise clearly. We did “I have never/ I have never been” game and I was one of the lost participants in this game. Then, we played “Guess Songs” which we should sing a song from one word that would be given. The last we played “One Word” game, it was about mention one word then our friends should mention another word with the last alphabet from the word that already mentioned before. Furthermore, we finished the outbond, cleaned up the building and our stuff, packed all the things and waited the last session of this day that was an introduction from the other English Clubs in Pontianak. They were Khatulistiwa English Community (KEY) and Excellence English Studio. The participants were so impressed by KEY and Excellence because they had a new family in English community. Besides, they learned many new things about managing a community. Finishing this session we had a photo session with all of REC participants and KEY plus Excellence. We had a very good and valuable time with them. We shared and asked many question about language community. They were also happy getting invloved in this program. As like English Community of STAIN Pontianak had found new family and new places to practice English. Finally, we closed REC program with some impression words from participants. We also had three best participants, they were Bagus, Sasa, and Ninda. Keep studying, guys! I hope we all can work together and succeed at last. I found many things from this program. But the important one, I found family here, they were in English Community of STAIN Pontianak. See you on other programs, good luck!

Read More......

My Blood is Black and White (Published also in Signora 1897.com)

Berbicara tentang Juventus seperti berbicara tentang perasaan cinta. Sebelumnya, perkenalkan, saya Dian K. Sari, fans Juventus dari Chapter Kalimantan Barat, khususnya Pontianak. 

Emang banyak yang bilang bicara tentang Juventus pasti tidak bisa lepas dari yang namanya Alessandro Del Piero, begitu pula saya. Pertama kali mengenal sepak bola waktu nonton pertandingan Piala Dunia 1998. Maklum, tiga orang saudara saya para pejantan tangguh, jadi pada saat musim-musim pertandingan Piala Dunia 1998 itu mereka tidak pernah mengubah channel televisi selain channel yang menyiarkan Piala Dunia 1998. Dari beberapa pertandingan yang saya tonton (pada waktu itu tidak semua pertandingan bisa saya tonton karena saya masih kelas 6 SD dan harus belajar buat ujian akhir), ada satu sosok yang membuat saya terpesona yaitu King Alex “Alessandro Del Piero”. 


Di usia 10 tahun praktis saya tidak tahu banyak tentang sepak bola, apalagi nama pemain-pemain dunia yang masing-masing membela timnas mereka. Tapi entah mengapa, melihat sosoknya yang kalem dan cakep itu membuat saya mulai beraksi mencari informasi tentang Alex Del Piero ini. Dari hasil pantauan saya beberapa hari kemudian (bahasanya ga nahan! :D), fakta yang saya temukan adalah Del Piero membela sebuah klub yang bermarkas di Turin, berseragam hitam putih, dan dijuluki si Nyona Tua. Sejak saat itu saya selalu mengikuti berita-berita dan pertandingan-pertandingan yang dilakoni skuad Il Bianconero. Pada saat itu saya mengoleksi kartu-kartu yang bergambarkan pemain-pemain sepak bola dunia, poster, dan stiker, yang paling banyak tentu saja pemain dari Italia. Perjuangan menjalani hobi ini sangatlah tidak mudah bagi saya, karena pada waktu itu saya dilarang mati-matian dengan Ibu saya. “Perempuan kok hobinya sepak bola!” kata beliau waktu itu. 


Saat duduk di kelas 1 SMP, saya juga kesulitan menonton pertandingan-pertandingan sepak bola, khususnya Juventus, karena pertandingan yang disiarkan biasanya sampai larut malam. Saya harus kucing-kucingan dengan Ibu saya, pura-pura tidur lebih awal, kemudian saat saudara-saudara saya menghidupkan televisi pelan-pelan saya pun keluar kamar. There’s nothing to say except alhamdulillah, Thanks God! Saya bisa menonton hingga akhir pertandingan. Meskipun performa para bintang-bintang Juventus tidak stabil yang membuat kondisi tim jadi tidak stabil pula, saya tidak pernah tertarik untuk pindah ke lain hati dalam hal sepak bola. Ada kalanya Juventus harus terpuruk ketika sang kapten, Del Piero terbekap cedera berkepanjangan, pemain-pemain bintang seperti Zidane, Inzaghi, Cannavaro harus meninggalkan klub. Namun ada juga saat-saat menyenangkan melihat performa Trezeguet, Davids, Nedved, Buffon bermain dengan akselerasi dan determinasi yang mengagumkan sehingga Juventus bisa kembali menikmati masa-masa kejayaannya. Semua itu merupakan dinamika kehidupan yang menantang saya untuk tetap bertahan ‘membela’ klub ini meski hanya sebagai tifosi. 


Di masa-masa SMA, saya senang sekali menulis novel, memang tidak pernah diterbitkan karena saya pikir di masa sekarang menerbitkan novel seperti itu (seperti novel yang saya tulis waktu SMA) sepertinya unqualified banget! Di setiap novel yang saya tulis, entah mengapa saya selalu menghadirkan Juventus sebagai klub favorit si tokoh utama. Tokoh imajinasi yang saya buat itu benar-benar ‘diciptakan’ untuk mencintai Juventus; kamar yang dicat hitam dan putih, poster-poster pemain Juventus tertempel di dinding kamar, hingga koleksi jersey Juventus. Those are just my imagination! Karena di dunia nyata, boro-boro mengubah cat kamar, menempel poster saja pasti akan langsung dicopot. Saya benar-benar telah terhipnotis oleh Si Nyonya Tua! Dengan hadirnya kasus Calciopoli, saya sangat sedih karena tidak bisa melihat tim favorit saya berlaga di Seri B. Meskipun saya dicemooh teman-teman karena tim favorit terlibat kasus, saya tetap tak bisa ke lain hati. Berita-berita tentang Juventus saya dapatkan dari internet dan koran-koran olahraga kala itu. Saya makin cinta dengan Juventus dan terutama Del Piero pada kasus Calciopoli itu, Juventus tidak patah semangat dan menunjukkan kualitasnya di Seri B, dan Del Piero, Buffon, Nedved, Chiellini, tetap bertahan di Juventus memainkan laga demi laga di Seri B dengan langkah yang tegap dan mantap. “A true gentleman never leaves his lady” kata-kata yang sangat emosional dari sang kapten dan memberikan semangat yang lebih bagi pemain lainnya. Ketika membaca tulisan tentang Calciopoli di blog Signora1897, saya jadi tergamam dan berpikir apakah ini salah satu strategi politik untuk menjatuhkan Juventus? Karena proses peradilan yang sangat cepat dan keputusan yang singkat dengan mencabut dua gelar scudetto, denda, dan turun ke Seri B, membuat para saingan Juventus di Seri A melenggang mantap di laga-laga itu tanpa Juventus. 


Tahun demi tahun berlalu, pelatih dan pemain datang silih berganti di Juventus, tapi Juventini dan Juvedona tetap setia membela tim ini. Halangan dan rintangan menjadikan Juventus, baik manajemen dan pemain, lebih dewasa dan matang. Meski berada di posisi ketujuh dua kali, Juventus tak patah arang untuk berjuang. Hingga scudetto ke 30 diraih musim 2011-2012 lalu. Sepertinya itu harga yang pantas di bayar Juventus setelah semua cobaan dan musibah yang dihadapi. Saat itu saya sedang di luar kota menjalani kursus bahasa di Pare, Jawa Timur. Penggemar sepak bola, khususnya Italia hanya saya saja di kos, jadi menonton laga demi laga pun harus saya lakoni sendirian. Sayangnya channel Indosiar di TV kos tidak terlalu bagus dan terkadang putus-putus, sehingga terkadang saya mengurungkan niat untuk menonton. Pertandingan terakhir musim lalu yang saya tonton adalah saat melawan Atalanta, Lecce, dan Napoli (yang disebut terakhir itu Coppa Italia). Saya sampai tidak bisa menahan air mata saat King Alex mencetak gol, ditarik keluar dan melakukan ‘pesta perpisahan’ dengan mengelilingi lapangan, blunder Buffon, dan yang paling mengharukan saat sang kapten mengangkat trofi scudetto. It couldn’t be expressed just by words or screaming! Benar-benar penantian panjang yang sangat unik ceritanya. Setelah penyerahan piala dan siaran pun habis, handphone dan twitter tetap stand by, air mata terus mengalir sambil membaca tweets dari juventini dan juvedona from all over the world. Raihan scudetto dan air mata kebahagiaan yang terharu ini rasanya ‘sesuatu banget’ daripada saat ditembak lelaki idaman :D Juventus per sempre sara! My blood is always Bianconero.

Read More......