Beberapa waktu yang lalu aku berangkat ke Putussibau, kota kabupaten paling ujung di Propinsi Kalimantan Barat, Kapuas Hulu. Ini perjalan kesekian kalinya sejak terakhir pada tahun 2000 aku menghabiskan liburan sekolah di sana. Sebelas tahun berselang, banyak yang bilang tidak sedikit perubahan yang terjadi di Putussibau. Ingatan tentang kota yang terkenal dengan kerupuk basah itu berkelebat sebentar dalam pikiran. Infrastruktur, kondisi alam, dan kehidupan sosialnya yang pasti telah berubah. Tak sabar rasanya melihat perubahan itu setelah terombang-ambing dalam bus selama tujuh belas jam di perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan.
Jalan lintas kabupaten yang dilintasi benar-benar dalam kondisi yang menyedihkan. Beberapa kali aku melambung tinggi dari kursi penumpang saat bus berjalan melewati kabupaten Sanggau hingga Sintang. Aku mendesah dalam hati karena perjalanan masih menyisakan waktu yang lama. Malam hari yang pekat membuat saya tidak bisa melihat pemandangan Bukit Kelam, salah satu situs wisata panorama alam di Kabupaten Sintang. Lintasan yang dilalui antara Sintang dan Kapuas Hulu tidak terlalu sulit karena jalanannya yang mulus. Namun, tantangan selanjutnya adalah melewati jalan perbukitan yang naik turun sehingga membuat perut terasa diaduk-aduk.
Tanpa terasa bus antar kabupaten itu pun memasuki daerah Kapuas Hulu. Udara dingin langsung menyergapku, meski pendingin di dalam bus itu telah kumatikan. Cuaca berkabut membuat jalanan di depan tidak terlalu terlihat sehingga supir memelankan laju busnya. Pepohonan tertata secara alami di kiri kanan jalan, pantas saja udara dingin ini terasa segar. Alamnya benar-benar masih asri, sangat berbeda dengan udara perkotaan di Pontianak yang telah dikontamintasi dengan asap kendaraan bermotor. Aku berharap liburan kali ini akan banyak menghirup udara segar seperti ini.
Pasir-pasir di Sungai Kapuas bertimbulan saat bus melintasi jembatan yang menuju pusat kota Putussibau. Saat ini kemarau tengah melanda kabupaten paling ujung di bagian barat borneo itu. Sungai yang mengering sepertinya menjadi objek wisata baru bagi para pelancong, termasuk aku. Hari berikutnya aku harus melihat itu, janjiku dalam hati.
Hari berikutnya keluargaku disibukkan dengan remeh temeh pernikahan, untungnya pihak mempelai lelaki hanya mengurusi beberapa hal saja. Seperti membungkus barang antaran, menghias bunga telur, dan persiapan arak-arakan. Pernikahan yang dilakukan kali ini sangat sederhana, tidak terlalu meriah seperti yang dilakukan di kota-kota besar lainnya. Adat yang dilakukan juga sangat sederhana. Karena ayah mempelai wanita berasal dari suku jawa, maka sehari sebelum prosesi akad nikah diadakan acara siraman. Acara siramanpun tidak mewah, sekedar mengikuti tradisi adat saja.
Barang antaran atau seserahan, dan bunga telur telah dihias sedemikian rupa. Kemudian disusun berdasarkan urutan, entahlah urutan apakah namanya akupun tak tahu, sepertinya urutan itu didasarkan dari tradisi melayu kapuas hulu. Pagi harinya, setelah pembacaan doa selamat, kami dari pihak lelaki siap mengantarkan calon mempelai lelaki dengan iring-iringan barang antaran dan gendang tar. Panas terik menyinari iringan pengantar calon mempelai lelaki. Untungnya, jarak rumah calon mempelai perempuan tidaklah jauh, hanya berjarak tiga rumah. Akhirnya, prosesi pernikahan pun berjalan lancar hingga akhir.
Sepertinya Tuhan bermurah hati pada masyarakat Kapuas Hulu. Setelah panas yang sangat menyengat di musim kemarau, esok harinya hujan mengguyur kota Putussibau seharian. Tak ada yang bisa kulakukan selain membaca novel dan berbincang-bincang dengan keluarga. Sore harinya sepupuku mengajak pergi melihat-lihat beberapa tempat di Putussibau. Tidak banyak yang dapat dilihat setelah hujan ini. Kami hanya berjalan-jalan ke Rumah Adat Melayu, simbol kota yang berhiaskan ikan arwana, dan melihat pasir timbul di sungai kapuas dari atas jembatan.
Sama seperti simbol-simbol yang ada di kota lainnya, sudah semestinya masyarakat yang baik akan menjaga keindahannya. Namun sayang, di simbol kota yang berhiaskan ikan arwana itu tertulis kata-kata kotor yang mestinya tidak ada. Ironisnya, monumen itu terletak tepat di depan rumah Bupati Kapuas Hulu. Ikan arwana atau yang lebih dikenal dengan Ikan Silok menjadi simbol daerah karena Kapuas Hulu adalah habitat alami Ikan Arwanai. Ikan ini sangat terkenal hingga mancanegara, dan harganya sangatlah mahal, anaknya saja dibandrol sekitar Rp. 3juta. Dengan aset daerah yang sangat besar, tentunya tidak sulit untuk melakukan pembangunan ke arah yang lebih baik. Hal ini mestinya didukung oleh semua pihak; pemerintah, masyarakat, dan swasta. Sehingga, daerah ini menjadi the most wanted place to visit in West Kalimantan.
Hal yang paling kutunggu-tunggu adalah pergi ke kebun karet dan menjelajahinya. Meskipun mengendarai sepeda motor, aku sangat antusias sekali ingin mengunjungi kebun itu. Tempatnya lumayan jauh dari kota putussibau, diperlukan waktu sekitar 20 menit untuk mencapai kebun. Ada dua buah pondok di kebun itu, yang satu untuk tempat tinggal penjaga kebun, dan satunya lagi untuk paman dan bibiku beristirahat sehabis mereka noreh atau mengambil cairan getah dari Pohon Karet. Selain Pohon Karet, ada juga Pohon Pisang, Gaharu, dan Jati. Yang membuatku tertarik saat bibi menunjukkan tanaman yang bernama Sengkubak, tanaman ini bisa menggantikan penyedap rasa untuk masakan. Cukup masak daunnya bersama sayuran lain dan tambahkan sedikit garam, maka rasa sayuran itu seperti telah diberi penyedap rasa. Andai saja bibitnya bisa kubawa ke Pontianak, pikirku.
Kulihat paman-pamanku telah selesai memasak untuk makan hari ini, unik rasanya melihat lelaki memasak. Para wanitanya hanya menyiapkan perlengkapan makan dan sambalnya di dalam pondok. Semuanya dimasak dengan kayu bakar. Nasi, Ikan, dan sayur terlihat lebih menggiurkan, tanpa sadar aku menelan ludah. Ikan-ikan yang dibakarpun sangat segar karena baru saja ditangkap dari sungai; ada ikan Toman, Tembiring, dan Lais, dibakar begitu saja tanpa bumbu hanya sambal kecap yang dicampur cabe rawit sebagai pelengkapnya. Sayurannya juga sederhana, jantung pisang dicampur dengan dedaunan yang ada di sekitar kebun, tak lupa daun Sengkubak yang membuat rasa sayur semakin gurih. Sepertinya yang tak lapar sekalipun akan menjadi lapar melihat menu makan seperti ini. Ah, di Pontianak aku tak akan pernah menikmati makanan seperti ini. What a beautiful life! ^^,
Clock
Wednesday, July 20, 2011
Liburan di Tanah Uncak Kapuas
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment