Tiga hari mengikuti pembekalan volunteer E-Teaching atau Excellence Teaching memberikan pengalaman baru dan menarik bagi saya. Selain teman-teman baru tentu saja, saya juga bertemu dengan para pemateri yang sangat kompeten di bidangnya. Sekilas informasi tentang program volunteer E-Teaching ini, pada bulan September hingga Desember para volunteer akan ditempatkan di SDI Miftahusshalihin Sungai Selamat, Siantan, Pontianak. Sekolah ini merupakan sekolah yang dirintis warga yang sangat peduli pada pendidikan. Perlu diketahui bahwa lingkungan tersebut adalah lingkungan para pemulung, sekolah tersebut juga mayoritas dari anak-anak pemulung.
Berdasarkan informasi dari salah seorang guru yang telah lebih dulu mengajar disana, Kak Dedew teman-teman memanggilnya, kondisi pendidikan di sekolah itu sangat miris. Anak-anak yang duduk di bangku kelas 3 (tiga) saja ada yang belum bisa membaca dan menulis. Namun mereka tetap saja ‘dinaikkan’ kelas mengingat jumlah murid yang sangat sedikit di sekolah tersebut. Selain itu, tantangan yang dihadapi para pengajar disana adalah bahasa, karena para siswa berbicara dengan bahasa ibu mereka yang berasal dari etnis yang sama, yaitu Madura. Sehingga, guru yang tidak bisa memahami bahasa mereka perlu melakukan pendekatan yang sangat maksimal.
Kembali lagi pada program pembekalan volunteer, peserta yang mengikuti kegiatan tersebut hanya sekitar 9 (sembilan) orang karena peserta yang lama terkendala pada waktu. Meskipun hanya segelintir orang yang mengikuti kegiatan itu, saya merasa ada suatu kesamaan dalam diri kami hari itu, yaitu sama-sama ingin memajukan pendidikan untuk anak-anak Indonesia.
Selain itu, di sesi ini juga digambarkan bagaimana caranya memahami tingkah polah anak, memahami bahasanya dan bagaimana cara menyatu dengan dunianya. Dunia anak tetaplah dunia penuh warna yang selalu dilingkupi dengan keceriaan. Terkadang orang dewasa ‘memaksa’ anak-anak masuk ke dunia mereka, padahal seharusnya orang dewasalah yang harus berusaha ‘masuk’ ke dalam dunia anak-anak. Dari pertemuan ini, ada sebuah joke yang dicetuskan seorang peserta, karena seluruh volunteer adalah wanita, maka ia mengatakan bahwa setelah mendapatkan materi tentang anak ini para peserta sudah tidak sabar untuk menikah dan langsung mempraktikkan teori yang telah diberikan Mbak Desni.
Selain materi dari Mbak Desni, ada juga Bang Fakhrul yang mengisi sesi tentang motivasi dan tujuan hidup. Motivasi memang sangat diperlukan di kegiatan volunteer ini. Apalagi kondisi di lapangan sangat miris, sangat disayangkan apabila di tengah perjalanan kegiatan ini ada peserta yang tiba-tiba berhenti. Bang Paul – panggilan akrabnya – dengan lugas memaparkan mengenai motivasi bagi para pekerja sosial, perbedaan antara job dan karir, dan bagaimana mengembalikan motivasi yang tiba-tiba ‘lenyap’ di tengah jalan. Kata-kata bang Paul sendiri sangat mengena di hati saya, terutama pada bagian motivasi. Intinya memang tetap pada satu hal, tujuan hidup di dunia yang bisa dijadikan motivasi hanyalah karena mengharap ridho Allah SWT.
Hari berikutnya, kami disuguhkan pemateri-pemateri yang tak kalah menarik. Kali ini kami kedatangan 5 (lima) orang pendidik dari Sekolah Guru Ekselensia atau yang sekarang disebut dengan Sekolah Guru Indonesia (SGI). Mereka berasal dari provinsi yang berbeda: Uni Ayu (Padang), Jamil (Makassar), Syaiful Hadi (Bengkulu), Ima (Jakarta), dan Junita (Palembang). SGI ini merupakan program dari Dompet Dhuafa yang concern pada dunia pendidikan. Kelima orang tersebut – bersama dengan 27 orang yang mendaftar di program ini – disebar ke daerah-daerah ‘eksotis’ (meminjam bahasanya Jamil) yang terletak di pedalaman masing-masing provinsi di Indonesia. Lima orang ini ditempatkan di beberapa desa di Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat.
Kelima orang ini merupakan para pejuang pendidikan yang luar biasa, saya rasa. Karena mereka berani ambil resiko keluar dari pekerjaan dan melakukan pekerjaan sosial pendidikan untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia yang membutuhkan kesegaran pendidikan. Meskipun tidak bisa berbuat lebih, minimal kehadiran mereka merupakan angin segar buat anak-anak pedesaan itu, begitu kata salah seorang pendidik muda ini. Selain harus tetap menjaga motivasi mereka untuk terus bergerak, mereka juga harus bisa menumbuhkan semangat belajar bagi anak-anak pedesaan yang mayoritas putus sekolah karena permasalahan ekonomi. Mereka tidak peduli harus tidur di ruang guru, UKS, atau perpustakaan, asalkan tujuan pendidikan bisa tercapai mereka sepertinya sudah senang. Satu kalimat yang terus terngiang di telinga saya adalah kalimat dari Syaiful Hadi, “Dalam kegelapan, lebih baik menyalakan satu lilin daripada terus-menerus mengutuk kegelapan”. Saya dapat menyimpulkan bahwa lebih baik berbuat sesuatu meskipun dalam skala kecil daripada hanya diomongkan tanpa ada tindakan. Kalo dalam bahasa iklan itu Talk Less Do More! Kehadiran kelima orang pejuang pendidikan dalam acara pembekalan volunteer itu memberikan nuansa berbeda bagi saya. Saya jadi berpikir, mengajar di SDI Miftahusshalihin selama 3 bulan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan 1 (satu) tahun pengorbanan mereka hanya untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Ya, seperti yang sudah diungkapkan di atas, meskipun kecil berbuatlah sesuatu daripada hanya bisa bicara tanpa bisa bertindak. Benar-benar berbagi pengalaman yang luar biasa bagi saya.
Selanjutnya, para volunteer dibagi menjadi 3 (tiga) divisi: Science dan Math, Bahasa, dan Seni. Di sesi terakhir kami diberikan pembekalan masing-masing oleh pemateri-pemateri yang berkompeten di bidangnya. Science dan Math dikenalkan tentang Jarimatika oleh bang Hengky, kemudian Bahasa dan Seni dijadikan satu dan dibimbing oleh bu Iva. Saya tergabung di divisi bahasa yang akan mengajarkan baca, tulis, dan dasar bahasa Inggris. Bu Iva menjelaskan sedikit tentang bagaimana menangani anak-anak, lagu-lagu anak, dan beberapa permainan anak. Saya seperti kembali ke dunia Taman Kanak-kanak hari itu, bernyanyi dan bermain permainan anak, membuat saya sedikit mengerti tentang dunia anak.
Hari terakhir pembekalan volunteer E-Teaching akhirnya tiba, tidak seperti dua hari sebelumnya yang dimulai dari pagi hari, di hari terakhir ini kami mulai kegiatan sekitar pukul 13.00 siang. Hari ini kami kembali dikenalkan dengan sesuatu yang baru, yaitu Mnemonic. Istilah yang terdengar asing bagi saya, tapi ternyata sudah sering diterapkan dalam kegiatan sehari-hari. Mnemonic adalah teknik mengingat sesuatu. Mnemonic ini sangat beragam jenisnya, dan sering kali kita temukan dalam beberapa metode pengajaran. Jenis-jenis Mnemonic seperti: Akronim, Akrostik atau yang dikenal dengan Jembatan Keledai, Rima dan Lagu, Chunking, Peg System, Loci Method, dan Link Word. Penjelasannya cukup panjang, namun beberapa jenis sudah sering saya pakai untuk menghafal sesuatu seperti Akronim, Akrostik, dan Lagu. Setelah penjelasan dari mbak Puji Lestari, kami membuat media sederhana dan melakukan micro teaching kecil-kecilan sebagai bekal terjun ke lapangan September nanti. Kemudian, panitia mengadakan outbond di depan gedung rektorat Universitas Tanjungpura. Outbond ini cukup menguras tenaga kami karena masing-masing kaki harus diikat dengan lakban dan kami harus berjalan bersama sesuai dengan strategi dan teknik yang cepat namun tepat menuju tempat tujuan yang sudah ditentukan panitia. Benar-benar permainan yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Kegiatan pembekalan tersebut kemudian ditutup dengan buka puasa bersama. Thanks Excellence! What an amazing activity! ^^,



No comments:
Post a Comment