She has found her love here, in this organisation. With tender love, without a compulsion. Truly love, ever after.
Alina Kalinda Pratama, mahasiswi Jurusan Tarbiyah konsentrasi Pendidikan Agama Islam semester IV, berjalan menyusuri lorong kosong di gedung Jurusan Syari’ah. Jam berwarna silver yang melingkari tangannya telah menunjukkan pukul 17.10 WIB, di waktu-waktu seperti ini kampus STAIN terlihat sepi karena mahasiswa sudah meninggalkan lokasi kampus sebelum pukul 17.00. Hanya ada segelintir mahasiswa yang masih berkeliaran di lingkungan kampus. Mereka adalah mahasiswa yang menghabiskan banyak waktu di sekretariat-sekretariat organisasi internal yang ada di perguruan tinggi Islam negeri satu-satunya di Kalimantan Barat itu. Perempuan berkulit kuning langsat ini salah satunya. Ia tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) karena ia senang sekali menulis. Mata kuliah Jurnalistik tidak pernah ia dapatkan di bangku kuliah, namun ia bisa mendapatkan pengetahuan tentang itu di organisasi ini.
“Hoi, Alin!” Alin menghentikan langkahnya di depan gazebo dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
“Eh, Lika, belum pulang?” tanya Alin pada Lika, teman satu kelompoknya waktu orientasi mahasiswa. Lika memiliki nama panjang yang indah menurut Alin, Malika Dasha Abdurrahman, artinya bunga melati hadiah dari Tuhan, Abdurrahman tentu saja nama ayahnya. Lika mahasiswi Jurusan Syari’ah program studi Hukum Islam.
“Belum, ini barusan keluar kelas, maklum mata kuliah Ibu Romsah, taulah kalau beliau udah ngomel,” jawab Lika.
“Sekarang kau mau kemana?” “Aku mau pulang lah, bentar lagi adikku jemput, kau sendiri?” “Belum, aku mau ke sekret LPM dulu”
“Masih juga kau eksis di organisasi, LPM lah, HMI lah, entah apalagi nanti. Tak takut kah kuliahmu berantakan?”
“Insyaallah tidak, jangan lah didoakan seperti itu, kalau berantakan, ya aku tinggalkan organisasi itu” “Iya, itu lebih bagus”
“Ah, dasar kau, Lika! Tidak senang liat teman senang”
“Ck, kau ini Alin…ya udah lah, aku pulang dulu ya, udah dijemput tuh, hati-hati”
“Iya, makasih, kau juga hati-hati, Ka” Setelah Lika pergi menjauh, Alin melanjutkan perjalanannya ke sekretariat LPM yang tidak terlalu jauh dari lokasi kelasnya, hanya berjarak 5 meter dari kelas. Malika adalah satu diantara beberapa orang yang tidak senang dengan aktivitas organisasi Alin. Ibunya adalah orang pertama yang menentang keputusan Alin untuk menerjunkan diri di dunia organisasi. Namun Alin tidak pernah menyesal, karena dengan berorganisasi banyak sekali hal yang ia dapatkan. Ilmu pengetahuan, pengalaman, teman-teman, bahkan keluarga.
Pertama kali ia bergabung di organisasi pada tahun pertama ia menjadi mahasiswa. Ia mengikuti perkaderan dasar organisasi ekstra kampus bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bukan tanpa dasar ia mengikuti perkaderan itu. Ia sudah mengenal beberapa senior HMI saat ia aktif di OSIS pada waktu SMA. Selain itu, ia juga senang membaca tulisan-tulisan para tokoh HMI, salah satu tokoh yang paling disukainya adalah Nurcholis Madjid. Karena itu, saat ada pembukaan pendaftaran anggota baru HMI Komisariat Syari’ah , ia langsung mendaftarkan diri. Pada awal-awal menjadi anggota baru HMI, Alin memang kurang aktif mengikuti kegiatan HMI, karena setelah mengikuti LK I ia langsung bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang melaksanakan Pelatihan Jurnalistik Dasar bagi mahasiswa baru yang ingin menjadi anggota LPM. Namun, pada semester dua ia dilibatkan di dalam kepanitiaan LK I yang diadakan oleh Komisariat Tarbiyah. Itulah awal ia mulai aktif menapaki perjuangan di organisasi hijau hitam itu.
***
“Assalamu’alaikum, Alin” sapa seseorang ketika Alin tengah membaca buku di pelataran masjid kampus, menunggu waktu diskusi yang akan diadakan 15 menit lagi.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Alin menengadahkan wajahnya ke arah suara yang menyapanya. Ia tersenyum pada Aca yang bernama lengkap Syarifah Mariasha Al-Qadrie, salah satu dari sedikit teman SMA-nya yang melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi Islam.
“Lagi baca apa tu? Tumben ada di masjid”
“Ni, buku ‘Pergolakan Pemikiran Islam’ catatan harian Ahmad Wahib. Ckck, menghina ya kamu, Ca, mentang-mentang aku jarang ke masjid” ujar Alin sambil melanjutkan bacaannya.
“Mau ada kegiatan ya?” Alin hanya mengangguk.
“Aku boleh gabung tidak?”
“Asal kau betah saja, Ca, kau kan tau hari ini kajian rutin tentang NDP yang pastinya tak ada di kamusmu itu” ungkap Alin menjelaskan. NDP atau Nilai-nilai Dasar Perjuangan memang hanya ada di HMI karena NDP ini diciptakan sebagai pegangan kader-kader HMI dalam berjuang. NDP sendiri dalam sejarahnya diciptakan oleh tokoh idola Alin, Nurcholis Madjid.
“Hati-hati kau, Alin, nanti lama-lama kau bisa menjadi muslim yang liberal, yang menghalalkan apa yang diharamkan”
“Apa hubungannya kajian NDP dengan liberal, Aca? Apa pula kaitannya dengan halal haram?”
“Aku tu udah beberapa kali ikut kajian-kajian organisasimu itu. Aku terkejut, perihal Allah saja kalian bicarakan, itukan hanya Dia saja yang tahu. Belum lagi bekerja sama dengan orang-orang lain yang non-muslim yang tidak akan selamat di akhirat nanti”
“Aca, kita ini berislam karena orangtua kita Islam, kalau orangtua kita nasrani pasti kita juga nasrani kan? Pencarian orang di luar Islam yang mempelajari Islam justru membuat mereka masuk ke dalam Islam, atau setidaknya menghormati ajaran-ajaran kita, ilmu mereka lebih mantap ketimbang kita. Jadi, kalau kita tidak mengenal Tuhan kita, bagaimana kita memahami agama kita? Aku belum pernah membaca kalau Allah mengharamkan kita berteman dengan orang non muslim, darimana bisa menghalalkan yang haram itu”
“Baca saja buku-buku Islam, al-Qur’an, Hadits, dan literatur lain yang membicarakan Islam”
“Iya, itu bisa saja, tapi tanpa bertukar pikiran dengan orang lain maka bacaan atau pengetahuan yang kita pahami hanya segitu saja, tidak seluas saat kita berdiskusi dengan orang lain”
“Kau kan bisa gabung dengan pengajianku, Alin, udah berapa kali kau kuajak”
“Mohon maaf sebelumnya, Ca, tapi aku kurang sreg dengan pengajianmu itu. Sepertinya yang dibahas hanya hubungan vertikal dengan Tuhan saja, jarang sekali membicarakan bagaimana hubungan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Aku bosan, Ca, saat ini kita tidak usah lagi mementingkan kesalehan individu, sudah waktunya kita memikirkan kesalehan sosial, Ca”
“Astaghfirullahal’adziim, pemikiranmu sudah seperti orang liberal, Lin. Hati-hati kau dengan azab Allah. Justru kita harus lebih banyak mendekatkan diri denganNya, Lin, kalau kita mau selamat dunia akhirat”
“Terserah kau sajalah, Ca, aku mau selamat dengan jalan yang aku pilih. Silakan kau gunakan cara yang kau pilih untuk selamat dunia akhirat, omong-omong, makasih udah mengingatkan, Ca, aku bergabung dengan teman-teman dulu ya, sepertinya udah mau dimulai kajiannya, Assalamu’alaikum”
Alin mendengar jawaban salam yang lirih dari mulut sahabat sekolahnya saat ia beranjak pergi. Meskipun berbeda, tapi ia tetap menerima apa yang teman-temannya katakan dengan senang hati, artinya ia masih diperhatikan oleh mereka. Alin sudah bosan mendengarkan pendapat orang-orang tentang kajian yang sering dilakukan HMI. Kajian-kajian di HMI memang bermacam ragam, tidak hanya terpaku pada satu jenis pemikiran saja. Apalagi sekarang ini banyak revolusioner pemikiran Islam yang tersebar di dunia. Pemikiran-pemikiran mereka dapat dinikmati dari buku-buku yang sudah mereka tulis, tinggal dipilih saja pemikiran mana yang masih wajar untuk diikuti selama tidak menyimpang dari al-Qur’an dan Hadits.
***
Alin sibuk sekali belakangan ini. Ia dan teman-temannya yang tergabung dalam kepanitiaan LK I akan mengadakan rapat satu jam lagi. Namun sebelum itu, Alin harus menyerahkan tulisan kepada pimpinan redaksinya di Warta, nama koran kampus yang diterbitkan oleh LPM. Selain menulis berita, Alin juga diamanahkan untuk mengisi kolom Kelad atau Kenal Lebih Dekat, kolom yang menuliskan biografi orang-orang yang ada di dalam kampus STAIN Pontianak ini. Edisi kali ini ia diminta untuk membuat biografi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya. Alhasil, Alin yang juga ditunjuk sebagai sekretaris dalam kepanitiaan basic training harus pandai-pandai membagi waktu. Bahkan ia harus menginap di rumah kos temannya untuk sementara waktu.
Dalam sebulan mungkin hanya tujuh hari ia habiskan di rumah, sisanya di kampus. Situasi inilah yang membuat orang rumahnya mendiamkan bahkan memarahinya. Alin merasa seperti orang lain di rumah sendiri. Meskipun begitu, ia selalu meneguhkan di dalam hatinya bahwa apa yang selama ini ia lakukan untuk ajang pengembangan potensi diri. Ia tidak mau hanya menjadi anak rumahan yang kelak tidak bisa melakukan hal apapun selain pekerjaan rumah. Ia sadar bahwa tantangan zaman semakin menggila, bila ia ingin menjadi perempuan, istri, sekaligus ibu yang ‘super’ buat anak-anaknya maka ia harus melatih diri dari sekarang. Tidak ada kata menyerah dan putus asa, bila berhenti maka roda zaman yang terus berputar akan menggilas kesempatan yang terbentang luas di hadapannya.
***
“Bang Rama, ini tulisanku, aku ijin keluar ya,” ujar Alin pada Bang Rama, pimpinan redaksi Warta. “Mau kemana lagi kau, Lin, hanya nyerahkan tulisan saja kah?” tanya Bang Rama yang memiliki nama lengkap Ramadhan Santoso. Pria berdarah Bugis-Melayu ini salah satu mentor Alin di LPM. Pendiam namun memiliki strategi yang jitu untuk melatih anak-anak baru yang belum mengenal dunia jurnalistik.
“Iya bang, maaf tak bisa lama-lama, aku ada rapat lagi di kelas KPI ”
“Tahan juga fisik kau itu, apa tidak remuk badan? Awas saja kalau aku kasih tugas kau tak sanggup ngerjakannya. Kau harus tau resiko dari aktivitas yang kau pilih,” ujarnya panjang lebar tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor, mengedit tulisan para wartawan.
“Alhamdulillah sampai saat ini masih tahan, Bang. Makasih atas perhatian abang, Insyaallah aku pasti siap buat abang,” jawab Alin sambil terkekeh. Alin kemudian berpamitan dengan Bang Rama dan bergegas menuju kelas KPI di lantai dua. Sesampainya di sana ternyata baru ada segelintir panitia pelaksana yang datang. Alin tersenyum pada mereka dan masuk, mengambil tempat duduk. Ia membuka buku agendanya dan melihat apa-apa saja yang akan dibicarakan hari ini. Sebelumnya ia sudah diarahkan dengan seniornya di kepengurusan komisariat tentang kepanitiaan LK. Saat menetapkan tim panitia pelaksana, pengurus komisariat telah memberikan arah tentang apa-apa saja tugas masing-masing bidang yang terlibat di kepanitiaan. Sebagai sekretaris, Alin bertugas memimpin rapat, membuat surat, membuat jadwal rapat, mencatat semua hasil rapat baik yang berupa masukan atau kritik.
“Kak Alin,” sapa seseorang saat Alin tengah asyik membaca buku agendanya.
“Iya, Lia, ada apa?” tanya Alin pada Elia Lubis, adik tingkatnya yang baru selesai LK sebulan yang lalu.
“Aku masih belum ngerti tentang Seksi Acara, tugasnya hanya pas acara aja ya, Kak?”
“Hmm, sepengetahuan aku sih Seksi Acara itu yang mengatur jalannya acara latihan kita ini, Lia. Tidak hanya fokus pada acara seremonial pembukaan dan penutupan aja. Seksi Acara berkoordinasi dengan bidang-bidang lain di kepanitiaan untuk mengemas acara LK dari awal sampe akhir. Nanti juga diarahkan dengan SC Teknis,” Alin menjelaskan panjang lebar.
Selain pengurus komisariat, panitia pelaksana atau yang sering disebut OC (Organizing Committee) akan diarahkan oleh panitia SC (Steering Committee). Bila panitia OC terdiri dari anggota-anggota yang baru LK dan beberapa pengurus komisariat, panitia SC tidak bisa dipilih sembarangan. Selain berpengalaman, jenjang perkaderannya juga harus jelas, misalnya sudah pernah menjadi SC sebelumnya dan telah lulus LK II. Selanjutnya, yang mengarahkan seluruh panitia OC, SC, dan kegiatan LK adalah Master of Training atau yang biasa disebut MOT. MOT memiliki kekuasaan penuh pada saat pelaksanaan LK, baik itu atas peserta, panitia OC maupun panitia SC.
“Oh, gitu ya, makasih ya, Kak. Abisnya kemarin waktu dijelaskan bang Ewan agak tak paham” kata Elia. Bang Ewan adalah Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Pemberdayaan Anggota (P3A) Komisariat Tarbiyah. Ia adalah penanggung jawab kegiatan LK ini. Beberapa menit kemudian, Ketua Panitia LK, Kak Ishana atau yang biasa dipanggil Kak Ana, datang dengan beberapa panitia OC lainnya. Pengurus inti komisariat pun datang tak lama setelahnya, tak mau ketinggalan menyiapkan kegiatan LK yang akan dilaksanakan satu minggu lagi. Setelah melalui kompromi, perdebatan panjang yang dicampur dengan guyonan, rapat pun selesai. Kegiatan Basic Training akan dilaksanakan seminggu lagi, panitia semakin intens melakukan rapat koordinasi, pengurus dan juga kader sibuk mendekati calon anggota yang sudah mendaftar agar tidak ‘lepas’.
***
Akhirnya, hari pelaksanaan LK I pun dimulai, peserta yang akan ikut kegiatan itu sebanyak 27 orang, gabungan dari beberapa komisariat yang ada di cabang Pontianak. Kemarin sudah dilaksanakan screening untuk menilai sejauh mana wawasan calon peserta seputar keilmuan, keislaman, dan keorganisasian. Alin sebagai sekretaris yang paling sibuk menyiapkan surat-menyurat, absen, dan keperluan administrasi lainnya. Di sela-sela kesibukannya, ia juga mempersiapkan tulisan yang akan disetorkan ke Bang Rama.
“Alin, bentar lagi mau pembukaan ni, semua berkas yang mau diserahkan ke MOT udah disiapkan?” tanya Kak Ana.
“Iya kak, udah sama bang Ewan, ini lagi nyiapkan absen buat peserta, Kanda Adal yang minta tadi” Muhammad Adal Putra yang akan menjadi MOT pada LK I kali ini. Alin biasa memanggilnya Kanda Adal. Ia sudah mengenal bang Adal setahun yang lalu, ketika bang Adal menjadi mentornya di HMI. Bang Adal sekarang duduk di semester 9 Jurusan Dakwah, sebentar lagi ia akan menyelesaikan studinya di STAIN.
“Alin, abis pembukaan segera siapkan absen, formulir peserta, dan CV pemateri ya, thanks” Alin tersentak dari lamunannya saat tiba-tiba Bang Adal duduk di sebelahnya.
“Masyaallah, abang bikin Alin kaget saja, siap bos! Segera Alin siapkan semuanya” “Nah, gitu dong, ini baru adik mentor abang,” Alin kembali terkaget-kaget saat Bang Adal menyentuh kepalanya yang ditutupi jilbab cokelat itu. Deg! Tiba-tiba Alin merasa hatinya menghangat dan wajahnya memerah.
“Apa sih, Kanda ni, biasa aja lagi,” ujar Alin sambil mengambil berkas-berkas yang tadi diminta bang Adal untuk disiapkan. Acara pembukaan Basic Training pun berjalan lancar, dan syukurnya hingga akhir pelaksanaan semuanya berjalan sesuai dengan apa yang ditargetkan panitia. Alin dan panitia lainnya merasa kelelahan dengan segala proses pelatihan tersebut. Namun, dalam hati mereka terbersit rasa senang karena telah menemukan kader-kader baru untuk proses kaderisasi selanjutnya.
***
Hari-hari berlalu sangat cepat, berlari tanpa henti tanpa peduli dengan manusia-manusia yang tak pernah bisa menaklukkan waktu. Begitu juga hari-hari yang dilalui Alin. Setelah LK I itu, ia dan teman-teman pengurus komisariat dan beberapa SC LK I serta MOT tidak sepenuhnya lepas ‘bertugas’. Karena setelah itu, mereka harus melaksanakan follow up sebagai proses pematangan materi-materi yang sudah peserta LK I dapatkan selama empat hari di lokasi training. Selain berkutat dengan urusan perkaderan, Alin juga sibuk mempersiapkan dirinya untuk mengikuti jenjang perkaderan formal selanjutnya atau yang biasa disebut LK II. Belum lagi dengan perkuliahan yang mendekati masa ujian, berita-berita yang sudah hampir deadline, dan urusan lainnya yang membuat Alin harus terus berpikiran dingin. Karena dengan segala permasalahan yang ada itu, Alin merasa kedewasaan dan kematangan berpikir sangatlah diperlukan. Ia tidak mau menyerah begitu saja ketika dihadapkan dengan aktivitas yang padat dan permasalahan yang bertubi-tubi. Ia juga harus pandai-pandai memilah waktu, toh semua manusia memiliki waktu yang sama, 24 jam sehari. Jadi, ia pasti bisa seperti Al-Ghazali yang hanya tidur selama 2-3 jam semalam dan dapat menciptakan karya yang bermanfaat, atau seperti Thomas Alfa Edison yang tak pernah menyerah meski pada percobaan ke-1000 baru berhasil menemukan unsur-unsur apa saja yang dapat membentuk lampu. Alin yakin pasti usahanya saat ini tidak akan sia-sia kelak.
***
“Alin, apa kabar? Sibuk kali nampaknya sampai tak pernah ke Cabang lagi?” tanya bang Adal saat Alin tengah duduk di ruang tamu sekretariat HMI Cabang Pontianak yang didominasi warna hijau dan putih.
“Ah, biasa aja kali bang, sibuk kuliah, nyari berita, follow up, tak ada yang spesial,” jawab Alin.
“Nanti malam jangan lupa ya diskusi kontinyu tentang NDP di Taman Alun-alun Kapuas,” ungkap bang Adal.
“Oh, nanti malam ya bang?! Waduh, thanks deh udah ngingatkan, hampir saja aku lupa,” seru Alin sambil mengalihkan matanya dari koran lokal yang dibacanya.
“Ckckck, segitu sibuknya ya, sampai tak ingat jadwal diskusi rutinku,” Alin tersenyum tak nyaman menanggapi kata-kata bang Adal. Diskusi rutin itu termasuk program kerja bang Adal yang menjabat sebagai Ketua Bidang Pembinaan Anggota (PA) di HMI Cabang Pontianak.
“Maaf lah bang, harusnya aku sebagai pengurus komisariat mengingat agenda-agenda penting seperti itu,” ujar Alin.
“Manusiawi itu namanya, Alin,” kata bang Adal sambil tersenyum, senyum yang membuat hati Alin menghangat dan entah kenapa selalu menenangkan. Alin tak bisa mencegah hatinya berdegup kencang saat ia berduaan dengan bang Adal seperti saat ini. Senyum, perhatian, semangat dan motivasinya seperti menular dalam diri Alin. Entahlah, Alin tak pernah tahu apa arti dari kegalauan hatinya itu. Tuk! Alin terkejut saat segumpal kertas mengenainya. Ah, ternyata ia melamun tadi. Wajahnya memerah saat dilihatnya bang Adal tengah memperhatikannya.
“Melamun apa, Lin? Aku kan sudah bilang jangan terlalu dipikirkan kata-kataku tadi, hanya bergurau saja,” Alin tersenyum malu mendengar pernyataan bang Adal. “Ah, tidak bang, jadi malu aku ketahuan melamun,” jelas Alin sambil tersenyum, menampakkan ceruk kecil di pipi sebelah kanannya.
“Abang keluar dulu ya, Lin, udah dijemput bang Teguh tuh,” kata bang Adal sambil menunjuk ke teras. Bang Teguh yang merupakan sahabat karib bang Adal dan sekaligus Sekretaris Umum HMI Cabang Pontianak terlihat memasuki halaman cabang.
“Okelah bang, hati-hati ya, salam buat bang Teguh,” Alin menyudahi obrolan ringan itu seiring dengan kepergian bang Adal.
***
Alin, nti mlm abg nebeng ya,tk bw mtr. Alin terkejut saat mendapat SMS dari bang Adal yang mengajaknya pergi bersama-sama pada kegiatan diskusi malam ini. Dengan segera ia meng-iya-kan pesan bang Adal itu. Sore itu, setelah menyelesaikan tugas di kampus, Alin langsung pulang ke rumah, suatu hal diluar kebiasaannya. Di rumah pun ia langsung masuk ke kamar, mandi, dan membereskan beberapa pekerjaan rumah. Begitulah, di rumah ia serasa menjadi orang asing, meskipun ada orang di rumah namun ia tak pernah dilibatkan pada setiap pembicaraan. Alin sadar itulah konsekuensinya ia kuliah sambil berorganisasi. Ia tak pernah menyerah mengambil hati keluarganya, terutama ibunya. Suatu saat ia akan membuktikan pada mereka bahwa ia bisa menjadi orang yang berhasil dan bisa membanggakan keluarga. Setelah sholat maghrib, Alin berpamitan sekedarnya pada Ibu tanpa harus memberitahu kemana tujuannya karena Ibunya pun tak pernah bertanya. Ia segera melajukan motornya ke sekretariat HMI Cabang Pontianak. Sesampainya disana ia melihat banyak sekali motor di halaman, nampaknya diskusi malam ini ramai peminat.
“Assalamu’alaikum, kak Alin,” sapa seorang pria yang dikenalnya sebagai Aditya, adik tingkatnya di HMI.
“Wa’alaikumsalam, Adit, datang juga kau?”
“Iya lah kak, kan kata kakak kita harus terus berkader setelah LK I itu, saya sangat tertarik sekali pengen tau tentang HMI, Kak! Sapa tau bisa kayak kakak,” ujarnya.
“Kau harus menjadi diri sendiri, Aditya. You’re special because you’re you, bukan aku atau siapapun,” kata Alin sambil tersenyum pada Aditya.
“Ah, kak Alin ini emang paling te o pe be ge te dah….” serunya sambil tertawa. Alin pun ikut tertawa bersama Aditya yang memiliki nama lengkap Caesar Aditya Ramadhan. Mereka masuk ke dalam cabang bersama sambil membicarakan beberapa hal tentang perkaderan di komisariat. Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah memandangi keakraban mereka.
“Alin, ayo pergi sekarang,” ajak Bang Adal saat ia berpisah arah dengan Adit.
“Oh, yang lainnya udah mau pergi juga ya, Bang? Maaf agak telat tadi”
“Abang mau bereskan beberapa hal disana dulu, tak apa kan kalau kita perginya awal”
“Iyalah tak apa-apa, ni kuncinya, Bang” Alin menyerahkan kunci motornya kepada bang Adal.
Mereka pun meluncur ke arah pusat kota Pontianak, Taman Alun-alun Kapuas. Alin merapatkan jaketnya, malam ini Pontianak agak berangin dan dingin. Meskipun tak pernah bisa diprediksi kapan musim penghujan dan kapan musim kemarau di tengah climate change yang melanda dunia ini. Kota Pontianak terlihat sangat berkilauan di waktu malam. Taman Alun-alun yang terletak di tepian sungai Kapuas membuatnya semakin indah. Air mancur, jagung bakar, wahana-wahana permainan, dan orang-orang yang bersantai menjadi pemandangan yang menarik di malam hari. Belum lagi kapal galaherang yang berwarna kuning yang melintas di sepanjang sungai, menarik perhatian turis bahkan warga Pontianak yang tak pernah bosan dengan keindahan sungai di waktu malam. Namun, sesuatu terasa seperti anomali saat mentari menerbitkan sinarnya ke dunia. Sisa keindahan malam itu sepertinya telah mengancam alam kota berbeda. Keindahan berganti dengan ketidakteraturan, kekumuhan, dan kekotoran karena sampah yang selalu berserakan.
“Serius kali nampaknya, Lin,” Alin terperanjat saat didengarnya suara bang Adal yang sudah berdiri di sebelahnya.
“Ah, tidak juga, terkesima dengan keindahan malam yang menutupi kekacauan pada siang hari”
“Haha…puitis kali kata-katamu itu,” Alin tersenyum mendengar komentar bang Adal.
“Oya, sepertinya kau akrab sekali ya dengan Aditya, tadi aku lihat sepertinya kau senang sekali ngobrol dengan dia”
“Iyalah bang, Adit itu kan salah satu adik tingkatku, udah kuanggap kayak adik sendiri, sebelum dia ikut LK I memang udah akrab” ujar Alin.
“Oh, kau senang sekali berorganisasi ya, aku lihat kau yang paling bersemangat di angkatanmu”
“Ah, biasa saja, Bang, sama kayak yang lainnya lah. Tapi emang menantang sekali mengorganisir sesuatu itu, ada kepuasan tersendiri” kata Alin sambil sesekali memalingkan wajahnya untuk melihat reaksi bang Adal. Dilihatnya bang Adal tersenyum, entah karena perkataannya atau karena kapal galaherang yang melintas di depan mereka. Alin tergagap saat tiba-tiba bang Adal balas memandangnya, wajahnya seketika merona karena tertangkap basah sedang memandangi bang Adal. Ia segera menatap ke sungai lagi dengan gemuruh di dadanya.
“Alin,” panggil bang Adal, “mau bantu abang?” tanyanya lagi. Alin memberanikan diri untuk melihat ke arah bang Adal. Tatapan bang Adal sulit diartikan, tak seperti biasanya, seperti ada gejolak emosi yang berkilat dari matanya.
“Selama Alin bisa, Alin pasti bantu abang” jawab Alin.
“Abang ingin mendirikan sebuah organisasi, kecil saja,” Alin mengangkat alisnya sambil menunggu kata-kata bang Adal selanjutnya.
“Abang ingin Alin membantu abang, karena sepertinya hanya Alin yang bisa”
“Emp, organisasi apaan emangnya, Bang? Mau menandingi HMI?” Bang Adal terkekeh mendengar perkataan Alin.
“Ini lebih hebat lagi dari itu” Alin kembali harus penasaran lagi dengan permainan kata-kata bang Adal.
“Hmm, mencurigakan nih, emangnya organisasi apa sih, Bang?” Mereka saling menatap sebentar, sepertinya gemuruh di hati Alin semakin menjadi, suaranya seperti debur ombak di lautan lepas. Mata bang Adal melembut saat melihat Alin tersenyum.
“Err, aku tak tahu apakah kau bersedia membantuku atau tidak,” Alin kembali menunggu, “organisasi ini bernama keluarga, Alin, aku ingin kau membantuku mengorganisir organisasi ini, membangun sebuah rumah tangga yang bahagia, dan insyaallah sukses nantinya, bagaimana?” Wajah Alin semakin merah padam, debar di hatinya semakin tak menentu, apa artinya itu? Apa bang Adal baru saja melamarnya?
“Aku tidak berani menjanjikan apa-apa, Alin, aku takut suatu saat kita akan kecewa karena tidak bisa menepati janji itu, alih-alih mengingkarinya. Kalau kau mau membantuku, kita akan mulai menyusun rencana kerja kita kedepan guna suksesnya organisasi ini. Kita akan sama-sama berjuang dari titik terendah untuk menggapai kebahagiaan bersama dan kesuksesan organisasi kita” bang Adal terlihat gelisah karena Alin masih tampak berpikir.
“Alin tak tau harus bicara apa, Bang,” ujar Alin sambil kembali menatap mata bang Adal, “tapi kalau abang siap menjadi ketua organisasi ini, sekaligus imam buat Alin, Alin siap menjadi sekretaris sekaligus bendahara dalam organisasi ini, Bang, untuk kebahagiaan dan kesuksesan bersama” kata Alin sambil tersenyum manis pada bang Adal.
Selanjutnya tak ada kata terucap, rasanya kebahagiaan yang tertahan di dada Alin ingin membuncah keluar. Semilir angin di pesisir sungai kapuas menjadi saksi bisu keheningan dua anak manusia yang tengah belajar menata hati dan pikiran untuk bersama. Membangun sebuah organisasi kecil untuk mencapai kesuksesan terbesar dalam hidup mereka, untuk selamanya.

No comments:
Post a Comment