Beberapa hari ini timeline twitter saya dipenuhi dukungan untuk pelatih Juventus, Antonio Conte, dan tentu saja dukungan untuk Juventus menjelang laga Piala Super Italia kontra Napoli. Dukungan yang diberikan para Juventini terkait dengan kasus yang sedang menimpa sang allenatore dalam Calcioscommesse. Di Italia, pertandingan sepak bola dijadikan ajang perjudian untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya. Jika di Indonesia perjudian dilakukan para Bandar-bandar judi (sepanjang pengetahuan saya kalau salah mohon dikoreksi), lain halnya di Italia. Beberapa ‘orang dalam’ tim terlibat langsung dalam perjudian tersebut. Seperti pada kasus Calciopoli yang menimpa beberapa klub di Serie A Italia, termasuk Juventus. Para ‘orang dalam’ bersepakat untuk mengatur skor demi memenangkan taruhan. Agak miris memang, mengingat pengaturan skor ini mengorbankan banyak hal, terutama perjuangan dan kerja keras para pemain.
Kembali pada kasus Calcioscommesse, Antonio Conte, Angelo
Alessio, Cristian Stellini (yang kemudian mengundurkan diri dari Juventus), dan beberapa pemain seperti Leonardo Bonucci dan Simone Pepe diduga terlibat dan akan diberikan sanksi. Namun, berita yang beredar belakangan Bonucci dan Pepe akan terlepas dari tuntutan karena si penuntut tidak bisa memberikan bukti yang cukup untuk menghukum mereka. Tinggallah sang coach, Conte yang terancam skors selama 10 bulan. Padahal kesalahan Conte hanya ‘tahu ada pengaturan permainan tapi tidak melaporkan’, saya juga tidak tahu dari segi ilmu hukum apa sanksi yang tepat untuk ‘kesalahan’ seperti itu mengingat sistem hukum Indonesia berbeda dengan Italia. Padahal awalnya Conte sudah mengajukan Plea Bargain yang diajukan pada sidang FIGC yang kemudian ditolak oleh FIGC. FIGC yang merupakan PSSI-nya Italia juga semudah itu menolak Plea Bargain Conte. Banyak pihak yang menyayangkan sikap FIGC ini dan menyebutnya tidak masuk akal dengan memberikan skors kepada Conte selama 10 bulan. Porsi hukuman yang hanya berbeda beberapa bulan dengan terdakwa sebenarnya.
Sikap FIGC ini juga mendapatkan banyak kecaman dari para
Juventini. Mereka menganggap FIGC sengaja ‘memotong’ langkah Conte. Seperti yang diketahui, Conte berhasil membawa Juventus merebut scudetto ke-30 dengan prestasi Unbeatable yang kemudian digagalkan Napoli di Piala Italia. Cara-cara kotor pun mulai dilakukan untuk melemahkan Juventus. Sebagaimana yang dilakukan para merda (sebutan untuk mereka yang tidak senang dengan keberhasilan Juventus) pada kasus Calciopoli tahun 2006, hingga Juventus harus turun ke Serie B. Tapi para punggawa Juventus tidak pernah kurang semangat perjuangannya. Di tahun inilah para pemain diuji, ketahanan mental, loyalitas dan perjuangan. Setelah turun ke Serie B beberapa pemain memilih hengkang, tinggallah segelintir pemain bintang yang menunjukkan kecintaan mereka pada Juventus sebut saja Alessandro Del Piero, Pavel Nedved, David Trezeguet, Gianluigi Buffon, dan Giorgio Chiellini.
Loyalitas para pemain inilah yang menguatkan langkah tim untuk terus maju, move on, hingga mereka bisa meraih capaian scudetto lagi. Untuk mencapai hasil tersebut pun tak mudah, mereka harus berjuang lagi beberapa musim, tidak bisa berlaga di Liga Champions, menduduki peringkat ke-7, dicemooh para merda, namun sekali lagi semua itu bukannya melemahkan alih-alih menguatkan semanga juang para pemain. Hal-hal inilah yang juga kemudian menguatkan para Juventini. Meskipun tim kesayangan ‘terpeleset’ berkali-kali, para Juventini pun tak henti memberikan dukungan kepada La Vecchia Signora. Akhirnya, semua kesulitan terbayar pada musim 2011-2012 dimana Juventus dapat meraih posisi puncak di Serie A sekaligus membukukan jumlah scudetto menjadi 30 (meskipun tidak diakui oleh beberapa pihak gara-gara kasus Calciopoli).
Kali ini pun, para merda itu mencoba melemahkan Juventus pada
kasus Calcioscommesse yang menimpa sang pelatih, Antonio Conte. Karenanya dukungan di timeline Twitter tak pernah habis, terutama menjelang Piala Super Italia. Ada yang mengutuk tindakan FIGC, ada yang dengan penuh semangat menuliskan tweets untuk mendukung Juventus, dan ada juga yang hanya sekedar me-retweet link berita atau tweet lainnya demi mensupport tim kesayangan. Indonesia memang berada jauh bermil-mil dari Italia, namun dukungan tidak pernah dirasa ‘jauh’ untuk Juventus. Memenangkan Piala Super Italia bisa jadi hadiah berharga buat Conte. Meskipun akan diskors tapi itu tidak berpengaruh sedikitpun pada performa Juventus, begitu yang diungkapkan kapten Juventus, Buffon. Juventus sudah melewati banyak rintangan, kesulitan demi kesulitan sudah dihadapi, para pemain lebih matang dan dewasa menyikapi setiap masalah. Dukungan penuh dari manajemen pun semakin kuat seperti yang diungkapkan Marotta bahwa posisi Conte sebagai pelatih tak akan pernah digantikan. Hal ini menjawab isu yang menyebutkan bahwa Conte akan mundur dari jabatannya sebagai pelatih Juventus. Namun, Agnelli dan Marotta menyatakan dukungan mereka 100% kepada sang allenatore.
Cara kotor apa lagi yang akan kalian pakai para merda! Juventus sekarang semakin kuat, tim, manajemen, tifosi, semuanya mendukung penuh Juventus. Tak peduli seberapa keras kalian mengguncang Juventus, kami semua tak akan pernah lelah menjadi beton-beton penguat untuk mempertahankan Juventus. Forza Conte! Forza Juventus! Per sempre sara!




Saya pernah baca dari salah satu artikel, lupa dimana.
ReplyDeleteSebenarnya Conte tidak mengajukan Plea Bargain. Tapi Conte ditawarin untuk melakukan Plea Bargain.
Plea Bargain sendiri artinya : "Mekanisme pengakuan kesalahan yang dituduhkan untuk mendapatkan keringanan hukuman".
Jika Conte menerima Plea Bargain dan mengajukannya ke pengadilan, maka hukuman Conte akan diringankan 3 bulan.
Tapi Conte tidak menerima opsi Plea Bargain itu, dia memilih untuk mengajukan banding pengakuan Tidak Bersalah ke pengadilan dengan resiko bandingnya tersebut ditolak dan tetap dihukum 10 bulan.
Kenapa? Karena jika Conte melakukan Plea Bargain, maka berarti dia mengakui kesalahannya seperti yg dituduhkan Carobbio dan Jaksa Penuntut.
Dan berarti pihak Merda penuntut itu menang, karena namanya akan tercoreng dengan adanya pengakuan bersalahnya itu.
Sedangkan pada kenyataanya Conte sendiri mati2an bilang bahwa dia sama sekali TIDAK MENGETAHUI dan TIDAK TERLIBAT Calcioscommesse. Kesaksian yg sama dengan yg dikatakan 13 pemain Siena lain.
Dan disinilah anehnya, tuduhan Jaksa Penuntut dilancarkan hanya berdasarkan pengakuan 1 Pemain Siena, yaitu Carobbio.
Hukum di FIGC dan pengadilan olahraga di Italia sedemikian rupa sehingga hanya dengan kesaksian SATU orang saja sudah dapat menjerat seseorang ke dalam hukum, tanpa memperdulikan kesaksian 13 pemain Siena lainnya.
Juventus benar-benar ditekan dari segala penjuru.
Yup, Plea Bargain itu ditawarkan pengacara Conte yang lama dan sekarang pengacara Conte sudah ganti kalo ga salah. Sekarang mereka mencoba banding ke CONI kayak Komite Olahraga Nasional Indonesia. CONI ini supervisornya FIGC. Luciano Moggi pernah mengajukan banding juga ke CONI ini tapi ditolak waktu kasus Calciopoli. Semoga kasus Conte ini bisa diterima CONI jadi hukumannya bisa diringankan.
ReplyDelete