Clock

Sunday, June 3, 2012

Jalan Cinta Hijau Hitam

She has found her love here, in this organisation. With tender love, without a compulsion. Truly love, ever after.

Alina Kalinda Pratama, mahasiswi Jurusan Tarbiyah konsentrasi Pendidikan Agama Islam semester IV, berjalan menyusuri lorong kosong di gedung Jurusan Syari’ah. Jam berwarna silver yang melingkari tangannya telah menunjukkan pukul 17.10 WIB, di waktu-waktu seperti ini kampus STAIN terlihat sepi karena mahasiswa sudah meninggalkan lokasi kampus sebelum pukul 17.00. Hanya ada segelintir mahasiswa yang masih berkeliaran di lingkungan kampus. Mereka adalah mahasiswa yang menghabiskan banyak waktu di sekretariat-sekretariat organisasi internal yang ada di perguruan tinggi Islam negeri satu-satunya di Kalimantan Barat itu. Perempuan berkulit kuning langsat ini salah satunya. Ia tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) karena ia senang sekali menulis. Mata kuliah Jurnalistik tidak pernah ia dapatkan di bangku kuliah, namun ia bisa mendapatkan pengetahuan tentang itu di organisasi ini.




“Hoi, Alin!” Alin menghentikan langkahnya di depan gazebo dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

“Eh, Lika, belum pulang?” tanya Alin pada Lika, teman satu kelompoknya waktu orientasi mahasiswa. Lika memiliki nama panjang yang indah menurut Alin, Malika Dasha Abdurrahman, artinya bunga melati hadiah dari Tuhan, Abdurrahman tentu saja nama ayahnya. Lika mahasiswi Jurusan Syari’ah program studi Hukum Islam.

“Belum, ini barusan keluar kelas, maklum mata kuliah Ibu Romsah, taulah kalau beliau udah ngomel,” jawab Lika.

“Sekarang kau mau kemana?” “Aku mau pulang lah, bentar lagi adikku jemput, kau sendiri?” “Belum, aku mau ke sekret LPM dulu”

“Masih juga kau eksis di organisasi, LPM lah, HMI lah, entah apalagi nanti. Tak takut kah kuliahmu berantakan?”

“Insyaallah tidak, jangan lah didoakan seperti itu, kalau berantakan, ya aku tinggalkan organisasi itu” “Iya, itu lebih bagus”

“Ah, dasar kau, Lika! Tidak senang liat teman senang”

“Ck, kau ini Alin…ya udah lah, aku pulang dulu ya, udah dijemput tuh, hati-hati”

“Iya, makasih, kau juga hati-hati, Ka” Setelah Lika pergi menjauh, Alin melanjutkan perjalanannya ke sekretariat LPM yang tidak terlalu jauh dari lokasi kelasnya, hanya berjarak 5 meter dari kelas. Malika adalah satu diantara beberapa orang yang tidak senang dengan aktivitas organisasi Alin. Ibunya adalah orang pertama yang menentang keputusan Alin untuk menerjunkan diri di dunia organisasi. Namun Alin tidak pernah menyesal, karena dengan berorganisasi banyak sekali hal yang ia dapatkan. Ilmu pengetahuan, pengalaman, teman-teman, bahkan keluarga.




Pertama kali ia bergabung di organisasi pada tahun pertama ia menjadi mahasiswa. Ia mengikuti perkaderan dasar organisasi ekstra kampus bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bukan tanpa dasar ia mengikuti perkaderan itu. Ia sudah mengenal beberapa senior HMI saat ia aktif di OSIS pada waktu SMA. Selain itu, ia juga senang membaca tulisan-tulisan para tokoh HMI, salah satu tokoh yang paling disukainya adalah Nurcholis Madjid. Karena itu, saat ada pembukaan pendaftaran anggota baru HMI Komisariat Syari’ah , ia langsung mendaftarkan diri. Pada awal-awal menjadi anggota baru HMI, Alin memang kurang aktif mengikuti kegiatan HMI, karena setelah mengikuti LK I ia langsung bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang melaksanakan Pelatihan Jurnalistik Dasar bagi mahasiswa baru yang ingin menjadi anggota LPM. Namun, pada semester dua ia dilibatkan di dalam kepanitiaan LK I yang diadakan oleh Komisariat Tarbiyah. Itulah awal ia mulai aktif menapaki perjuangan di organisasi hijau hitam itu.

***




“Assalamu’alaikum, Alin” sapa seseorang ketika Alin tengah membaca buku di pelataran masjid kampus, menunggu waktu diskusi yang akan diadakan 15 menit lagi.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Alin menengadahkan wajahnya ke arah suara yang menyapanya. Ia tersenyum pada Aca yang bernama lengkap Syarifah Mariasha Al-Qadrie, salah satu dari sedikit teman SMA-nya yang melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi Islam.

“Lagi baca apa tu? Tumben ada di masjid”

“Ni, buku ‘Pergolakan Pemikiran Islam’ catatan harian Ahmad Wahib. Ckck, menghina ya kamu, Ca, mentang-mentang aku jarang ke masjid” ujar Alin sambil melanjutkan bacaannya.

“Mau ada kegiatan ya?” Alin hanya mengangguk.

“Aku boleh gabung tidak?”

“Asal kau betah saja, Ca, kau kan tau hari ini kajian rutin tentang NDP yang pastinya tak ada di kamusmu itu” ungkap Alin menjelaskan. NDP atau Nilai-nilai Dasar Perjuangan memang hanya ada di HMI karena NDP ini diciptakan sebagai pegangan kader-kader HMI dalam berjuang. NDP sendiri dalam sejarahnya diciptakan oleh tokoh idola Alin, Nurcholis Madjid.

“Hati-hati kau, Alin, nanti lama-lama kau bisa menjadi muslim yang liberal, yang menghalalkan apa yang diharamkan”

“Apa hubungannya kajian NDP dengan liberal, Aca? Apa pula kaitannya dengan halal haram?”

“Aku tu udah beberapa kali ikut kajian-kajian organisasimu itu. Aku terkejut, perihal Allah saja kalian bicarakan, itukan hanya Dia saja yang tahu. Belum lagi bekerja sama dengan orang-orang lain yang non-muslim yang tidak akan selamat di akhirat nanti”

“Aca, kita ini berislam karena orangtua kita Islam, kalau orangtua kita nasrani pasti kita juga nasrani kan? Pencarian orang di luar Islam yang mempelajari Islam justru membuat mereka masuk ke dalam Islam, atau setidaknya menghormati ajaran-ajaran kita, ilmu mereka lebih mantap ketimbang kita. Jadi, kalau kita tidak mengenal Tuhan kita, bagaimana kita memahami agama kita? Aku belum pernah membaca kalau Allah mengharamkan kita berteman dengan orang non muslim, darimana bisa menghalalkan yang haram itu”

“Baca saja buku-buku Islam, al-Qur’an, Hadits, dan literatur lain yang membicarakan Islam”

“Iya, itu bisa saja, tapi tanpa bertukar pikiran dengan orang lain maka bacaan atau pengetahuan yang kita pahami hanya segitu saja, tidak seluas saat kita berdiskusi dengan orang lain”

“Kau kan bisa gabung dengan pengajianku, Alin, udah berapa kali kau kuajak”

“Mohon maaf sebelumnya, Ca, tapi aku kurang sreg dengan pengajianmu itu. Sepertinya yang dibahas hanya hubungan vertikal dengan Tuhan saja, jarang sekali membicarakan bagaimana hubungan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Aku bosan, Ca, saat ini kita tidak usah lagi mementingkan kesalehan individu, sudah waktunya kita memikirkan kesalehan sosial, Ca”

“Astaghfirullahal’adziim, pemikiranmu sudah seperti orang liberal, Lin. Hati-hati kau dengan azab Allah. Justru kita harus lebih banyak mendekatkan diri denganNya, Lin, kalau kita mau selamat dunia akhirat”

“Terserah kau sajalah, Ca, aku mau selamat dengan jalan yang aku pilih. Silakan kau gunakan cara yang kau pilih untuk selamat dunia akhirat, omong-omong, makasih udah mengingatkan, Ca, aku bergabung dengan teman-teman dulu ya, sepertinya udah mau dimulai kajiannya, Assalamu’alaikum”

Alin mendengar jawaban salam yang lirih dari mulut sahabat sekolahnya saat ia beranjak pergi. Meskipun berbeda, tapi ia tetap menerima apa yang teman-temannya katakan dengan senang hati, artinya ia masih diperhatikan oleh mereka. Alin sudah bosan mendengarkan pendapat orang-orang tentang kajian yang sering dilakukan HMI. Kajian-kajian di HMI memang bermacam ragam, tidak hanya terpaku pada satu jenis pemikiran saja. Apalagi sekarang ini banyak revolusioner pemikiran Islam yang tersebar di dunia. Pemikiran-pemikiran mereka dapat dinikmati dari buku-buku yang sudah mereka tulis, tinggal dipilih saja pemikiran mana yang masih wajar untuk diikuti selama tidak menyimpang dari al-Qur’an dan Hadits.

***




Alin sibuk sekali belakangan ini. Ia dan teman-temannya yang tergabung dalam kepanitiaan LK I akan mengadakan rapat satu jam lagi. Namun sebelum itu, Alin harus menyerahkan tulisan kepada pimpinan redaksinya di Warta, nama koran kampus yang diterbitkan oleh LPM. Selain menulis berita, Alin juga diamanahkan untuk mengisi kolom Kelad atau Kenal Lebih Dekat, kolom yang menuliskan biografi orang-orang yang ada di dalam kampus STAIN Pontianak ini. Edisi kali ini ia diminta untuk membuat biografi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya. Alhasil, Alin yang juga ditunjuk sebagai sekretaris dalam kepanitiaan basic training harus pandai-pandai membagi waktu. Bahkan ia harus menginap di rumah kos temannya untuk sementara waktu.




Dalam sebulan mungkin hanya tujuh hari ia habiskan di rumah, sisanya di kampus. Situasi inilah yang membuat orang rumahnya mendiamkan bahkan memarahinya. Alin merasa seperti orang lain di rumah sendiri. Meskipun begitu, ia selalu meneguhkan di dalam hatinya bahwa apa yang selama ini ia lakukan untuk ajang pengembangan potensi diri. Ia tidak mau hanya menjadi anak rumahan yang kelak tidak bisa melakukan hal apapun selain pekerjaan rumah. Ia sadar bahwa tantangan zaman semakin menggila, bila ia ingin menjadi perempuan, istri, sekaligus ibu yang ‘super’ buat anak-anaknya maka ia harus melatih diri dari sekarang. Tidak ada kata menyerah dan putus asa, bila berhenti maka roda zaman yang terus berputar akan menggilas kesempatan yang terbentang luas di hadapannya.

***




“Bang Rama, ini tulisanku, aku ijin keluar ya,” ujar Alin pada Bang Rama, pimpinan redaksi Warta. “Mau kemana lagi kau, Lin, hanya nyerahkan tulisan saja kah?” tanya Bang Rama yang memiliki nama lengkap Ramadhan Santoso. Pria berdarah Bugis-Melayu ini salah satu mentor Alin di LPM. Pendiam namun memiliki strategi yang jitu untuk melatih anak-anak baru yang belum mengenal dunia jurnalistik.

“Iya bang, maaf tak bisa lama-lama, aku ada rapat lagi di kelas KPI ”

“Tahan juga fisik kau itu, apa tidak remuk badan? Awas saja kalau aku kasih tugas kau tak sanggup ngerjakannya. Kau harus tau resiko dari aktivitas yang kau pilih,” ujarnya panjang lebar tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor, mengedit tulisan para wartawan.

“Alhamdulillah sampai saat ini masih tahan, Bang. Makasih atas perhatian abang, Insyaallah aku pasti siap buat abang,” jawab Alin sambil terkekeh. Alin kemudian berpamitan dengan Bang Rama dan bergegas menuju kelas KPI di lantai dua. Sesampainya di sana ternyata baru ada segelintir panitia pelaksana yang datang. Alin tersenyum pada mereka dan masuk, mengambil tempat duduk. Ia membuka buku agendanya dan melihat apa-apa saja yang akan dibicarakan hari ini. Sebelumnya ia sudah diarahkan dengan seniornya di kepengurusan komisariat tentang kepanitiaan LK. Saat menetapkan tim panitia pelaksana, pengurus komisariat telah memberikan arah tentang apa-apa saja tugas masing-masing bidang yang terlibat di kepanitiaan. Sebagai sekretaris, Alin bertugas memimpin rapat, membuat surat, membuat jadwal rapat, mencatat semua hasil rapat baik yang berupa masukan atau kritik.




“Kak Alin,” sapa seseorang saat Alin tengah asyik membaca buku agendanya.

“Iya, Lia, ada apa?” tanya Alin pada Elia Lubis, adik tingkatnya yang baru selesai LK sebulan yang lalu.

“Aku masih belum ngerti tentang Seksi Acara, tugasnya hanya pas acara aja ya, Kak?”

“Hmm, sepengetahuan aku sih Seksi Acara itu yang mengatur jalannya acara latihan kita ini, Lia. Tidak hanya fokus pada acara seremonial pembukaan dan penutupan aja. Seksi Acara berkoordinasi dengan bidang-bidang lain di kepanitiaan untuk mengemas acara LK dari awal sampe akhir. Nanti juga diarahkan dengan SC Teknis,” Alin menjelaskan panjang lebar.




Selain pengurus komisariat, panitia pelaksana atau yang sering disebut OC (Organizing Committee) akan diarahkan oleh panitia SC (Steering Committee). Bila panitia OC terdiri dari anggota-anggota yang baru LK dan beberapa pengurus komisariat, panitia SC tidak bisa dipilih sembarangan. Selain berpengalaman, jenjang perkaderannya juga harus jelas, misalnya sudah pernah menjadi SC sebelumnya dan telah lulus LK II. Selanjutnya, yang mengarahkan seluruh panitia OC, SC, dan kegiatan LK adalah Master of Training atau yang biasa disebut MOT. MOT memiliki kekuasaan penuh pada saat pelaksanaan LK, baik itu atas peserta, panitia OC maupun panitia SC.




“Oh, gitu ya, makasih ya, Kak. Abisnya kemarin waktu dijelaskan bang Ewan agak tak paham” kata Elia. Bang Ewan adalah Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Pemberdayaan Anggota (P3A) Komisariat Tarbiyah. Ia adalah penanggung jawab kegiatan LK ini. Beberapa menit kemudian, Ketua Panitia LK, Kak Ishana atau yang biasa dipanggil Kak Ana, datang dengan beberapa panitia OC lainnya. Pengurus inti komisariat pun datang tak lama setelahnya, tak mau ketinggalan menyiapkan kegiatan LK yang akan dilaksanakan satu minggu lagi. Setelah melalui kompromi, perdebatan panjang yang dicampur dengan guyonan, rapat pun selesai. Kegiatan Basic Training akan dilaksanakan seminggu lagi, panitia semakin intens melakukan rapat koordinasi, pengurus dan juga kader sibuk mendekati calon anggota yang sudah mendaftar agar tidak ‘lepas’.

***




Akhirnya, hari pelaksanaan LK I pun dimulai, peserta yang akan ikut kegiatan itu sebanyak 27 orang, gabungan dari beberapa komisariat yang ada di cabang Pontianak. Kemarin sudah dilaksanakan screening untuk menilai sejauh mana wawasan calon peserta seputar keilmuan, keislaman, dan keorganisasian. Alin sebagai sekretaris yang paling sibuk menyiapkan surat-menyurat, absen, dan keperluan administrasi lainnya. Di sela-sela kesibukannya, ia juga mempersiapkan tulisan yang akan disetorkan ke Bang Rama.




“Alin, bentar lagi mau pembukaan ni, semua berkas yang mau diserahkan ke MOT udah disiapkan?” tanya Kak Ana.

“Iya kak, udah sama bang Ewan, ini lagi nyiapkan absen buat peserta, Kanda Adal yang minta tadi” Muhammad Adal Putra yang akan menjadi MOT pada LK I kali ini. Alin biasa memanggilnya Kanda Adal. Ia sudah mengenal bang Adal setahun yang lalu, ketika bang Adal menjadi mentornya di HMI. Bang Adal sekarang duduk di semester 9 Jurusan Dakwah, sebentar lagi ia akan menyelesaikan studinya di STAIN.

“Alin, abis pembukaan segera siapkan absen, formulir peserta, dan CV pemateri ya, thanks” Alin tersentak dari lamunannya saat tiba-tiba Bang Adal duduk di sebelahnya.

“Masyaallah, abang bikin Alin kaget saja, siap bos! Segera Alin siapkan semuanya” “Nah, gitu dong, ini baru adik mentor abang,” Alin kembali terkaget-kaget saat Bang Adal menyentuh kepalanya yang ditutupi jilbab cokelat itu. Deg! Tiba-tiba Alin merasa hatinya menghangat dan wajahnya memerah.

“Apa sih, Kanda ni, biasa aja lagi,” ujar Alin sambil mengambil berkas-berkas yang tadi diminta bang Adal untuk disiapkan. Acara pembukaan Basic Training pun berjalan lancar, dan syukurnya hingga akhir pelaksanaan semuanya berjalan sesuai dengan apa yang ditargetkan panitia. Alin dan panitia lainnya merasa kelelahan dengan segala proses pelatihan tersebut. Namun, dalam hati mereka terbersit rasa senang karena telah menemukan kader-kader baru untuk proses kaderisasi selanjutnya.

***




Hari-hari berlalu sangat cepat, berlari tanpa henti tanpa peduli dengan manusia-manusia yang tak pernah bisa menaklukkan waktu. Begitu juga hari-hari yang dilalui Alin. Setelah LK I itu, ia dan teman-teman pengurus komisariat dan beberapa SC LK I serta MOT tidak sepenuhnya lepas ‘bertugas’. Karena setelah itu, mereka harus melaksanakan follow up sebagai proses pematangan materi-materi yang sudah peserta LK I dapatkan selama empat hari di lokasi training. Selain berkutat dengan urusan perkaderan, Alin juga sibuk mempersiapkan dirinya untuk mengikuti jenjang perkaderan formal selanjutnya atau yang biasa disebut LK II. Belum lagi dengan perkuliahan yang mendekati masa ujian, berita-berita yang sudah hampir deadline, dan urusan lainnya yang membuat Alin harus terus berpikiran dingin. Karena dengan segala permasalahan yang ada itu, Alin merasa kedewasaan dan kematangan berpikir sangatlah diperlukan. Ia tidak mau menyerah begitu saja ketika dihadapkan dengan aktivitas yang padat dan permasalahan yang bertubi-tubi. Ia juga harus pandai-pandai memilah waktu, toh semua manusia memiliki waktu yang sama, 24 jam sehari. Jadi, ia pasti bisa seperti Al-Ghazali yang hanya tidur selama 2-3 jam semalam dan dapat menciptakan karya yang bermanfaat, atau seperti Thomas Alfa Edison yang tak pernah menyerah meski pada percobaan ke-1000 baru berhasil menemukan unsur-unsur apa saja yang dapat membentuk lampu. Alin yakin pasti usahanya saat ini tidak akan sia-sia kelak.

***




“Alin, apa kabar? Sibuk kali nampaknya sampai tak pernah ke Cabang lagi?” tanya bang Adal saat Alin tengah duduk di ruang tamu sekretariat HMI Cabang Pontianak yang didominasi warna hijau dan putih.

“Ah, biasa aja kali bang, sibuk kuliah, nyari berita, follow up, tak ada yang spesial,” jawab Alin.

“Nanti malam jangan lupa ya diskusi kontinyu tentang NDP di Taman Alun-alun Kapuas,” ungkap bang Adal.

“Oh, nanti malam ya bang?! Waduh, thanks deh udah ngingatkan, hampir saja aku lupa,” seru Alin sambil mengalihkan matanya dari koran lokal yang dibacanya.

“Ckckck, segitu sibuknya ya, sampai tak ingat jadwal diskusi rutinku,” Alin tersenyum tak nyaman menanggapi kata-kata bang Adal. Diskusi rutin itu termasuk program kerja bang Adal yang menjabat sebagai Ketua Bidang Pembinaan Anggota (PA) di HMI Cabang Pontianak.

“Maaf lah bang, harusnya aku sebagai pengurus komisariat mengingat agenda-agenda penting seperti itu,” ujar Alin.

“Manusiawi itu namanya, Alin,” kata bang Adal sambil tersenyum, senyum yang membuat hati Alin menghangat dan entah kenapa selalu menenangkan. Alin tak bisa mencegah hatinya berdegup kencang saat ia berduaan dengan bang Adal seperti saat ini. Senyum, perhatian, semangat dan motivasinya seperti menular dalam diri Alin. Entahlah, Alin tak pernah tahu apa arti dari kegalauan hatinya itu. Tuk! Alin terkejut saat segumpal kertas mengenainya. Ah, ternyata ia melamun tadi. Wajahnya memerah saat dilihatnya bang Adal tengah memperhatikannya.

“Melamun apa, Lin? Aku kan sudah bilang jangan terlalu dipikirkan kata-kataku tadi, hanya bergurau saja,” Alin tersenyum malu mendengar pernyataan bang Adal. “Ah, tidak bang, jadi malu aku ketahuan melamun,” jelas Alin sambil tersenyum, menampakkan ceruk kecil di pipi sebelah kanannya.

“Abang keluar dulu ya, Lin, udah dijemput bang Teguh tuh,” kata bang Adal sambil menunjuk ke teras. Bang Teguh yang merupakan sahabat karib bang Adal dan sekaligus Sekretaris Umum HMI Cabang Pontianak terlihat memasuki halaman cabang.

“Okelah bang, hati-hati ya, salam buat bang Teguh,” Alin menyudahi obrolan ringan itu seiring dengan kepergian bang Adal.

***




Alin, nti mlm abg nebeng ya,tk bw mtr. Alin terkejut saat mendapat SMS dari bang Adal yang mengajaknya pergi bersama-sama pada kegiatan diskusi malam ini. Dengan segera ia meng-iya-kan pesan bang Adal itu. Sore itu, setelah menyelesaikan tugas di kampus, Alin langsung pulang ke rumah, suatu hal diluar kebiasaannya. Di rumah pun ia langsung masuk ke kamar, mandi, dan membereskan beberapa pekerjaan rumah. Begitulah, di rumah ia serasa menjadi orang asing, meskipun ada orang di rumah namun ia tak pernah dilibatkan pada setiap pembicaraan. Alin sadar itulah konsekuensinya ia kuliah sambil berorganisasi. Ia tak pernah menyerah mengambil hati keluarganya, terutama ibunya. Suatu saat ia akan membuktikan pada mereka bahwa ia bisa menjadi orang yang berhasil dan bisa membanggakan keluarga. Setelah sholat maghrib, Alin berpamitan sekedarnya pada Ibu tanpa harus memberitahu kemana tujuannya karena Ibunya pun tak pernah bertanya. Ia segera melajukan motornya ke sekretariat HMI Cabang Pontianak. Sesampainya disana ia melihat banyak sekali motor di halaman, nampaknya diskusi malam ini ramai peminat.




“Assalamu’alaikum, kak Alin,” sapa seorang pria yang dikenalnya sebagai Aditya, adik tingkatnya di HMI.

“Wa’alaikumsalam, Adit, datang juga kau?”

“Iya lah kak, kan kata kakak kita harus terus berkader setelah LK I itu, saya sangat tertarik sekali pengen tau tentang HMI, Kak! Sapa tau bisa kayak kakak,” ujarnya.

“Kau harus menjadi diri sendiri, Aditya. You’re special because you’re you, bukan aku atau siapapun,” kata Alin sambil tersenyum pada Aditya.

“Ah, kak Alin ini emang paling te o pe be ge te dah….” serunya sambil tertawa. Alin pun ikut tertawa bersama Aditya yang memiliki nama lengkap Caesar Aditya Ramadhan. Mereka masuk ke dalam cabang bersama sambil membicarakan beberapa hal tentang perkaderan di komisariat. Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah memandangi keakraban mereka.

“Alin, ayo pergi sekarang,” ajak Bang Adal saat ia berpisah arah dengan Adit.

“Oh, yang lainnya udah mau pergi juga ya, Bang? Maaf agak telat tadi”

“Abang mau bereskan beberapa hal disana dulu, tak apa kan kalau kita perginya awal”

“Iyalah tak apa-apa, ni kuncinya, Bang” Alin menyerahkan kunci motornya kepada bang Adal.




Mereka pun meluncur ke arah pusat kota Pontianak, Taman Alun-alun Kapuas. Alin merapatkan jaketnya, malam ini Pontianak agak berangin dan dingin. Meskipun tak pernah bisa diprediksi kapan musim penghujan dan kapan musim kemarau di tengah climate change yang melanda dunia ini. Kota Pontianak terlihat sangat berkilauan di waktu malam. Taman Alun-alun yang terletak di tepian sungai Kapuas membuatnya semakin indah. Air mancur, jagung bakar, wahana-wahana permainan, dan orang-orang yang bersantai menjadi pemandangan yang menarik di malam hari. Belum lagi kapal galaherang yang berwarna kuning yang melintas di sepanjang sungai, menarik perhatian turis bahkan warga Pontianak yang tak pernah bosan dengan keindahan sungai di waktu malam. Namun, sesuatu terasa seperti anomali saat mentari menerbitkan sinarnya ke dunia. Sisa keindahan malam itu sepertinya telah mengancam alam kota berbeda. Keindahan berganti dengan ketidakteraturan, kekumuhan, dan kekotoran karena sampah yang selalu berserakan.




“Serius kali nampaknya, Lin,” Alin terperanjat saat didengarnya suara bang Adal yang sudah berdiri di sebelahnya.

“Ah, tidak juga, terkesima dengan keindahan malam yang menutupi kekacauan pada siang hari”

“Haha…puitis kali kata-katamu itu,” Alin tersenyum mendengar komentar bang Adal.

“Oya, sepertinya kau akrab sekali ya dengan Aditya, tadi aku lihat sepertinya kau senang sekali ngobrol dengan dia”

“Iyalah bang, Adit itu kan salah satu adik tingkatku, udah kuanggap kayak adik sendiri, sebelum dia ikut LK I memang udah akrab” ujar Alin.

“Oh, kau senang sekali berorganisasi ya, aku lihat kau yang paling bersemangat di angkatanmu”

“Ah, biasa saja, Bang, sama kayak yang lainnya lah. Tapi emang menantang sekali mengorganisir sesuatu itu, ada kepuasan tersendiri” kata Alin sambil sesekali memalingkan wajahnya untuk melihat reaksi bang Adal. Dilihatnya bang Adal tersenyum, entah karena perkataannya atau karena kapal galaherang yang melintas di depan mereka. Alin tergagap saat tiba-tiba bang Adal balas memandangnya, wajahnya seketika merona karena tertangkap basah sedang memandangi bang Adal. Ia segera menatap ke sungai lagi dengan gemuruh di dadanya.

“Alin,” panggil bang Adal, “mau bantu abang?” tanyanya lagi. Alin memberanikan diri untuk melihat ke arah bang Adal. Tatapan bang Adal sulit diartikan, tak seperti biasanya, seperti ada gejolak emosi yang berkilat dari matanya.

“Selama Alin bisa, Alin pasti bantu abang” jawab Alin.

“Abang ingin mendirikan sebuah organisasi, kecil saja,” Alin mengangkat alisnya sambil menunggu kata-kata bang Adal selanjutnya.

“Abang ingin Alin membantu abang, karena sepertinya hanya Alin yang bisa”

“Emp, organisasi apaan emangnya, Bang? Mau menandingi HMI?” Bang Adal terkekeh mendengar perkataan Alin.

“Ini lebih hebat lagi dari itu” Alin kembali harus penasaran lagi dengan permainan kata-kata bang Adal.

“Hmm, mencurigakan nih, emangnya organisasi apa sih, Bang?” Mereka saling menatap sebentar, sepertinya gemuruh di hati Alin semakin menjadi, suaranya seperti debur ombak di lautan lepas. Mata bang Adal melembut saat melihat Alin tersenyum.

“Err, aku tak tahu apakah kau bersedia membantuku atau tidak,” Alin kembali menunggu, “organisasi ini bernama keluarga, Alin, aku ingin kau membantuku mengorganisir organisasi ini, membangun sebuah rumah tangga yang bahagia, dan insyaallah sukses nantinya, bagaimana?” Wajah Alin semakin merah padam, debar di hatinya semakin tak menentu, apa artinya itu? Apa bang Adal baru saja melamarnya?

“Aku tidak berani menjanjikan apa-apa, Alin, aku takut suatu saat kita akan kecewa karena tidak bisa menepati janji itu, alih-alih mengingkarinya. Kalau kau mau membantuku, kita akan mulai menyusun rencana kerja kita kedepan guna suksesnya organisasi ini. Kita akan sama-sama berjuang dari titik terendah untuk menggapai kebahagiaan bersama dan kesuksesan organisasi kita” bang Adal terlihat gelisah karena Alin masih tampak berpikir.

“Alin tak tau harus bicara apa, Bang,” ujar Alin sambil kembali menatap mata bang Adal, “tapi kalau abang siap menjadi ketua organisasi ini, sekaligus imam buat Alin, Alin siap menjadi sekretaris sekaligus bendahara dalam organisasi ini, Bang, untuk kebahagiaan dan kesuksesan bersama” kata Alin sambil tersenyum manis pada bang Adal.

Selanjutnya tak ada kata terucap, rasanya kebahagiaan yang tertahan di dada Alin ingin membuncah keluar. Semilir angin di pesisir sungai kapuas menjadi saksi bisu keheningan dua anak manusia yang tengah belajar menata hati dan pikiran untuk bersama. Membangun sebuah organisasi kecil untuk mencapai kesuksesan terbesar dalam hidup mereka, untuk selamanya.

Read More......

Communication is Needed by People

Communication is needed by people all over the world. Without communication, people cannot understand each other. Because, communication is a way to make an understanding among people. The term of “communication” comes from Latin, they are “communicare” that means “a same understanding”. Actually, people communicate each other since the first man in the world even our God also made a communication with Jibril, however, communication become a science since. At that time, there was a demonstration of workers in. Then, there was someone who tried to make an understanding between workers and their boss. We can call it a public relation officer. Day by day, they found that activity could be developed to be a science and now it known as communication science.

Nowadays, Communication becomes the popular science because of its subjects which can be related by other sciences. Such as, political communication, cross culture communication, cross religion communication, interpersonal communication, and so on. I would like to talk more about the aspects of communication. There are five aspects of communication; those are communicator, communicant, message, channel, and effect. Communicator is someone who communicates some messages to the others. Every man is a communicator, not only a man with physical perfectly, but also a man with disorder problem. They are called verbal and non-verbal communication later. Furthermore, the communicators have to know their object; the social life, the background, and so on. So, they can communicate each other comfortably. The object of speaking or known as a communicant also has an important part in communication. If the communicant cannot understand what the communicator talks about, it is possible the message of the communicator cannot be sent to the communicant. Or, on the simple way, the communicator and the communicant cannot understand each other that can cause misunderstanding. For example, now we study English, just imagine we have no understanding in English so far. When we meet with the foreigner we cannot understand her/ him. Why? Because, we do not have any understanding in English anymore. It can be an obstacle for us to make a communication with other people. 

Why should English? Or maybe, why should language? Because, language is a tool to make a same understanding in spoken. Why should English? Because as we know, English is a universal language. Learning English is a way to make an understanding with people all over the world. Just imagine, with English maybe 5 years later we can meet in different opportunity and in different country. So, let’s study language hard and seriously in order to get success in our life. But remember that language is only a tool. We also have to study something that worth on us like engineering, education, politics, economics, etc. If we combine our study, maybe it can be our weapon to struggle in this world.

Read More......

So Long Time!

Wow wow wow....it's been so long time no write on this blog. Sorry for reading my old writing, I didn't have enough time to write something and it's really terrible. I just came from my short-enough course, it was around seven months. I think it's short enough. Please enjoy my new posts, guys! Thanks a bunch!

Read More......

Wednesday, August 10, 2011

IELSP is Back!


IIEF holds an Indonesia English Language Study Program (IELSP). It is a program that offers a chance to enroll in English Language Courses at prominent universities in the United States for a period of 8 (eight) weeks.

The goal of this program is to improve the ability of participant’s English language, especially in English for Academic Purposes. Other than that, participants will have the chance to learn intimately the people and culture of the United States. IELSP participants will join the immersion program where they will mix with other participants from other nations and countries. Within this program, participants will not only learn the English language, but they will also join various cultural programs that will enrich their experience.
So, it's really a big opportunity for you guys who want to study abroad. These are the requirements: Participant age must be 19 – 24 years old. Participant must be an active students for bachelor degree in their 5th semester above at any universities all over Indonesia and have not yet declared pass or in the course of degree completion. Participant must have posses good ability in the English language with a good TOEFL® International or TOEFL® ITP with a minimum 450 (not a Prediction Test). Participant must also have good academic achievement Active in lots of activities and organization. Have full commitment to return back to Indonesia after completing this program. Do not have experience of previous study in USA or other countries except Indonesia. Possesses these personal qualities: active, independent, responsible, confident and open minded. Master the skills for computer. Come on, try your best, Indonesian! For further information, click www.iief.or.id

Read More......

Wednesday, July 20, 2011

Liburan di Tanah Uncak Kapuas

Beberapa waktu yang lalu aku berangkat ke Putussibau, kota kabupaten paling ujung di Propinsi Kalimantan Barat, Kapuas Hulu. Ini perjalan kesekian kalinya sejak terakhir pada tahun 2000 aku menghabiskan liburan sekolah di sana. Sebelas tahun berselang, banyak yang bilang tidak sedikit perubahan yang terjadi di Putussibau. Ingatan tentang kota yang terkenal dengan kerupuk basah itu berkelebat sebentar dalam pikiran. Infrastruktur, kondisi alam, dan kehidupan sosialnya yang pasti telah berubah. Tak sabar rasanya melihat perubahan itu setelah terombang-ambing dalam bus selama tujuh belas jam di perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan.
Jalan lintas kabupaten yang dilintasi benar-benar dalam kondisi yang menyedihkan. Beberapa kali aku melambung tinggi dari kursi penumpang saat bus berjalan melewati kabupaten Sanggau hingga Sintang. Aku mendesah dalam hati karena perjalanan masih menyisakan waktu yang lama. Malam hari yang pekat membuat saya tidak bisa melihat pemandangan Bukit Kelam, salah satu situs wisata panorama alam di Kabupaten Sintang. Lintasan yang dilalui antara Sintang dan Kapuas Hulu tidak terlalu sulit karena jalanannya yang mulus. Namun, tantangan selanjutnya adalah melewati jalan perbukitan yang naik turun sehingga membuat perut terasa diaduk-aduk.

Tanpa terasa bus antar kabupaten itu pun memasuki daerah Kapuas Hulu. Udara dingin langsung menyergapku, meski pendingin di dalam bus itu telah kumatikan. Cuaca berkabut membuat jalanan di depan tidak terlalu terlihat sehingga supir memelankan laju busnya. Pepohonan tertata secara alami di kiri kanan jalan, pantas saja udara dingin ini terasa segar. Alamnya benar-benar masih asri, sangat berbeda dengan udara perkotaan di Pontianak yang telah dikontamintasi dengan asap kendaraan bermotor. Aku berharap liburan kali ini akan banyak menghirup udara segar seperti ini.


Pasir-pasir di Sungai Kapuas bertimbulan saat bus melintasi jembatan yang menuju pusat kota Putussibau. Saat ini kemarau tengah melanda kabupaten paling ujung di bagian barat borneo itu. Sungai yang mengering sepertinya menjadi objek wisata baru bagi para pelancong, termasuk aku. Hari berikutnya aku harus melihat itu, janjiku dalam hati.

Hari berikutnya keluargaku disibukkan dengan remeh temeh pernikahan, untungnya pihak mempelai lelaki hanya mengurusi beberapa hal saja. Seperti membungkus barang antaran, menghias bunga telur, dan persiapan arak-arakan. Pernikahan yang dilakukan kali ini sangat sederhana, tidak terlalu meriah seperti yang dilakukan di kota-kota besar lainnya. Adat yang dilakukan juga sangat sederhana. Karena ayah mempelai wanita berasal dari suku jawa, maka sehari sebelum prosesi akad nikah diadakan acara siraman. Acara siramanpun tidak mewah, sekedar mengikuti tradisi adat saja.


Barang antaran atau seserahan, dan bunga telur telah dihias sedemikian rupa. Kemudian disusun berdasarkan urutan, entahlah urutan apakah namanya akupun tak tahu, sepertinya urutan itu didasarkan dari tradisi melayu kapuas hulu. Pagi harinya, setelah pembacaan doa selamat, kami dari pihak lelaki siap mengantarkan calon mempelai lelaki dengan iring-iringan barang antaran dan gendang tar. Panas terik menyinari iringan pengantar calon mempelai lelaki. Untungnya, jarak rumah calon mempelai perempuan tidaklah jauh, hanya berjarak tiga rumah. Akhirnya, prosesi pernikahan pun berjalan lancar hingga akhir.

Sepertinya Tuhan bermurah hati pada masyarakat Kapuas Hulu. Setelah panas yang sangat menyengat di musim kemarau, esok harinya hujan mengguyur kota Putussibau seharian. Tak ada yang bisa kulakukan selain membaca novel dan berbincang-bincang dengan keluarga. Sore harinya sepupuku mengajak pergi melihat-lihat beberapa tempat di Putussibau. Tidak banyak yang dapat dilihat setelah hujan ini. Kami hanya berjalan-jalan ke Rumah Adat Melayu, simbol kota yang berhiaskan ikan arwana, dan melihat pasir timbul di sungai kapuas dari atas jembatan.


Sama seperti simbol-simbol yang ada di kota lainnya, sudah semestinya masyarakat yang baik akan menjaga keindahannya. Namun sayang, di simbol kota yang berhiaskan ikan arwana itu tertulis kata-kata kotor yang mestinya tidak ada. Ironisnya, monumen itu terletak tepat di depan rumah Bupati Kapuas Hulu. Ikan arwana atau yang lebih dikenal dengan Ikan Silok menjadi simbol daerah karena Kapuas Hulu adalah habitat alami Ikan Arwanai. Ikan ini sangat terkenal hingga mancanegara, dan harganya sangatlah mahal, anaknya saja dibandrol sekitar Rp. 3juta. Dengan aset daerah yang sangat besar, tentunya tidak sulit untuk melakukan pembangunan ke arah yang lebih baik. Hal ini mestinya didukung oleh semua pihak; pemerintah, masyarakat, dan swasta. Sehingga, daerah ini menjadi the most wanted place to visit in West Kalimantan.

Hal yang paling kutunggu-tunggu adalah pergi ke kebun karet dan menjelajahinya. Meskipun mengendarai sepeda motor, aku sangat antusias sekali ingin mengunjungi kebun itu. Tempatnya lumayan jauh dari kota putussibau, diperlukan waktu sekitar 20 menit untuk mencapai kebun. Ada dua buah pondok di kebun itu, yang satu untuk tempat tinggal penjaga kebun, dan satunya lagi untuk paman dan bibiku beristirahat sehabis mereka noreh atau mengambil cairan getah dari Pohon Karet. Selain Pohon Karet, ada juga Pohon Pisang, Gaharu, dan Jati. Yang membuatku tertarik saat bibi menunjukkan tanaman yang bernama Sengkubak, tanaman ini bisa menggantikan penyedap rasa untuk masakan. Cukup masak daunnya bersama sayuran lain dan tambahkan sedikit garam, maka rasa sayuran itu seperti telah diberi penyedap rasa. Andai saja bibitnya bisa kubawa ke Pontianak, pikirku.


Kulihat paman-pamanku telah selesai memasak untuk makan hari ini, unik rasanya melihat lelaki memasak. Para wanitanya hanya menyiapkan perlengkapan makan dan sambalnya di dalam pondok. Semuanya dimasak dengan kayu bakar. Nasi, Ikan, dan sayur terlihat lebih menggiurkan, tanpa sadar aku menelan ludah. Ikan-ikan yang dibakarpun sangat segar karena baru saja ditangkap dari sungai; ada ikan Toman, Tembiring, dan Lais, dibakar begitu saja tanpa bumbu hanya sambal kecap yang dicampur cabe rawit sebagai pelengkapnya. Sayurannya juga sederhana, jantung pisang dicampur dengan dedaunan yang ada di sekitar kebun, tak lupa daun Sengkubak yang membuat rasa sayur semakin gurih. Sepertinya yang tak lapar sekalipun akan menjadi lapar melihat menu makan seperti ini. Ah, di Pontianak aku tak akan pernah menikmati makanan seperti ini. What a beautiful life! ^^,

Read More......

Monday, July 18, 2011

Sekeping Hati Kaelyn

10.06.2010

Terlalu indah dilupakan
Terlalu sedih dikenangkan
Saat aku jauh berjalan
Dan kau kutinggalkan

Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dan sayangmu
Setulus pesanmu kepadaku
Engkau kan menunggu

Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kan ku beri
Adakah cara yang kau temui
Untuk kita kembali lagi

Alunan merdu dari Ruth Sahanaya memenuhi kamar tidur yang penuh dengan poster tokoh anime kesayanganku, Conan Edogawa. Lina, anak pengurus rumah dengan setia menemaniku yang sedang berkonsentrasi pada monitor komputer di depanku.

“Mbak, udah mo makan belum?” tanya Lina.
“Belum nih, Lin, tanggung…hehehe…”
“Kapan tuh selesai mainnya? Abis itu makan ya mbak…nanti sakit loh”

Aku hanya tersenyum pada Lina yang sedang membereskan beberapa barang di kamarku yang memang berantakan. Aku keranjingan bermain games di komputer beberapa tahun terakhir ini. Salah satu terapi yang aku terapkan untuk memulihkan kondisi kesehatan yang agak memburuk akhir-akhir ini. Kondisi yang diperparah dengan kenyataan bahwa orang yang aku cintai meninggalkanku enam bulan lalu.

***
28.04.08

“Hei, Key” sapa seseorang di belakangku. Saat aku menoleh kebelakang ternyata sudah ada sepasang mata dengan binar-binar jahil menatap mataku.
“Iiih…kamu rupanya, Sa…..darimana say?” sapaku sambil berjalan beriringan menuju pendopo kampus.
“Tadi nemuin Pak Bowo, ditanyain macem-macem masalah penelitian kemaren” ujarnya.

Aku dan Reksa kemudian duduk di pendopo sambil membuka buku tentang sosiologi konflik yang ingin aku bahas dengannya. Namaku Kaelyn Maisha, biasa dipanggil Key atau Mai, mahasiswi semester 8 Jurusan Hubungan Internasional Universitas Luar Biasa di Jakarta. Disampingku, Reksa Sabagya, kekasih hati yang telah menemaniku hampir dua tahun ini, dia semester 10 Jurusan Ilmu Pemerintahan di universitas yang sama. Sebenarnya Reksa orang yang biasa-biasa saja di mata orang lain, standar mahasiswa gitulah, tapi dia pintar berargumen, orangnya bersahaja dan super duper sabar, hehehe. Tampilannya biasa saja dengan rambut cepak dan selalu memakai tas ransel bulukan yang udah dipakainya dari pertama aku menjadi mahasiswa di kampus ini.

Banyak teman-temanku yang bertanya kenapa sih aku yang notabene “anak gaul” mau pacaran ama Reksa yang dari tampang aja kurang lebih kayak Dude Herlino lah…hehehehe...bener loh, gak bohong! tapi sayang dia agak introvert dan misterius kesannya. Aku bilang, aku juga standar-standar aja, nggak lebih kayak Laudya Cintya Bella (hahahaha *Narsis: mode on) tapi aku kebalikan dari Reksa, orangnya extrovert, agak terlalu represif malahan. Namun, justru itu yang buat aku merasa cocok dengan Reksa, dia bisa mengimbangi sikapku yang kadang agak childish.

“Key…….kok melamun? Aku kan tadi lagi nanya masalah konflik sosial yang mau kamu teliti”
“Duh, maaf, Sa…aku tadi lagi mikiran kita aja…”
“Loh, kenapa mikirin kita…ada apa emangnya?”
“Nggak sih…lagi mikir aja, kok bisa ya aku suka ama kamu…” ujarku sambil tertawa.
“Ooh…jadi gitu ya…nyesel udah jadi pacar aku? Mau ngajak putus? Atau kamu udah gak populer lagi?”
“Ih, bukannya gitu Reksa sayang…jangan ngomong sembarangan dong, kata orang omongan itu doa loh…” aku memberengut menatap wajahnya.
“Hehehe…enggak kok, Key, gitu aja udah ngambek”, Reksa mengelus rambut sebahuku dengan sayang, “makanya, jangan mikirin yang macem-macem tentang hubungan kita, hehehe” ujarnya sambil terkekeh. Aku paling suka mendengar tawanya, kekehannya, dan senyumnya. Belum lagi dua lesung pipi yang terbentuk saat dia tersenyum, aku yakin bakal merindukan itu semua.
“Tuh kan, ngelamun lagi” katanya sambil menjawil hidungku.
“Ngelamunin kamu kok, sayang……” kataku sambil tersenyum lagi.

Kami pun melanjutkan diskusi tentang masalah yang ingin aku teliti. Semilir angin dan suara riuh rendah mahasiswa di sekeliling kampus menemani sore saat itu. Beberapa teman juga ikut nimbrung dan memberikan saran tentang penelitian kecil-kecilanku. Sesekali terdengar suara tawa yang pecah kala ada teman yang menceritakan cerita lucu. Rasanya begitu nyaman seperti ini dan tak ingin berubah selamanya.

***
30.04.08
“Happy Anniversary, sayang……” seruku saat Reksa datang di rumah untuk menjemputku.
“Ya ampuun…hari ini ya, Key?” tanyanya sambil menyerahkan helm kepadaku.
“Iiih…Lupa ya…” aku memanyunkan bibir sambil naik ke atas motornya.
“Yah, maklumlah banyak yang dipikirin…happy anniversary juga ya…” ujarnya sambil tersenyum.
Lagi-lagi aku luluh pada senyuman malaikatnya, tak akan mampu lama-lama marah padanya, akupun tersenyum dan kami langsung berangkat menuju kampus biru tercinta.

Lima belas menit kemudian kami tiba di kampus Unilub alias Universitas Luar Biasa, salah satu kampus swasta yang lumayan diminati oleh calon mahasiswa di Jakarta. Awalnya aku memilih kampus negeri saja untuk tempatku kuliah, tapi karena banyak faktor yang menyebabkan aku berubah pikiran dan kuliah disini. Not bad, lah! pikirku, karena banyak yang telah aku dapatkan selama kurang lebih 2 tahun aku kuliah disini. Ilmu, pengalaman, sahabat, kekasih, musuh, dan banyak lagi yang lainnya, yang semua itu membuat aku merasa betah berada disini. Di kampus ini aku bukan hanya kuliah, tapi juga berinteraksi dengan yang lain, membuatku merasa semua ini bagian hidupku yang cukup sempurna.

“Kenapa lagi sih, Key? Ngelamun terus kerjaannya, ntar pas istirahat kita makan-makan ya di kantin ngerayain dua tahun jadian kita……hehehehe”
“Benar ya???”
“Iya…mau berdua apa rame-rame?”
“Berdua aja dong…hari ini kan our special day”
“Oke deh…see you at one o’clock ya…” kami pun berpisah jalan menuju kelas masing-masing dan tak sabar menunggu waktu siang tiba.

***

“Happy second anniversary sayang……”
Tiba-tiba saat menunggu di kantin aku dikejutkan kedatangan Reksa dengan sepotong kue tar kecil yang imut banget hiasannya. Ditambah lagi dengan sikapnya yang romantis, asli bukan Reksa banget dah!
“Hmmm….hari spesial ya, Sa….nggak nyangka kamu bisa kayak gini…”
“Idih…ngejek apa nyindir nih, kamu kan tau aku emang kayak gini dari awal…makanya aku minta ajarin kamu gimana caranya romantis-romantisan…hehehehe” lagi-lagi Reksa mengeluarkan senyuman yang membuat hatiku luluh.
“I love you just the way you are kok, Sa…”
“Halah kamu……” ujarnya sambil mengusap kepalaku sayang, “Ya udah, yuk kita makan kuenye…emp, tapi kamu pesanin makanan ya…kayak biasa, Key…”
Aku mengangguk dan beranjak ke tempat bang Sam, yang nama panjangnya Samsudin, untuk memesan dua porsi karedok dan dua gelas es jeruk manis, menu makan siang favorit kami berdua. Ketika aku bergerak dengan gerakan yang lumayan cepat dan mendadak, aku merasakan sakit yang sangat menyengat di pinggangku, rasa ngilu yang amat sangat seketika langsung menghantam bagian belakang tubuhku. Aku seakan melupakan sekelilingku karena tiba-tiba pandanganku gelap dan roboh ke tanah seketika.

***

21.05.08
Hhm….akhirnya aku bisa kembali menghirup udara segar di luar rumah, setelah hampir sebulan meringkuk di tempat tidur dalam masa recovery. Entahlah apa yang terjadi dengan tubuhku ini, beberapa tahun terakhir memang terasa ada yang janggal. Aku sudah menemukan fakta-fakta yang agak menyedihkan tentang penyakitku ini. Namun, Ibuku tidak mau memberitahu apa yang dokter katakan tentang penyakitku. Aku tahu beliau hanya ingin membuatku tenang dan tidak stres dalam menjalani hidup. Tapi ada satu hal yang harus aku lakukan, satu hal yang aku yakin akan membuyarkan semua mimpi-mimpi indahku. Satu hal yang membuatku harus melatih emosi, kesabaran, dan ketabahanku.

“Morning, Key…………….” sapa seseorang yang sangat kurindukan sebulanan ini.
“Hai, Sa….” jawabku sambil senyum singkat.
“Kamu masih sakit, Key? Kok dingin gitu sih tanggapannya?”
“Emp…biasa aja kali, Sa…oya, aku mo ngomong sesuatu ma kamu nih, ke pendopo yuk”
“Ada apa sih? Buat aku penasaran aja” sahut Reksa seraya mengikutiku dari belakang. Angin sepoi-sepoi berhembus membuat rambutku sedikit berantakan. Pendopo ini sangat strategis karena berada di tengah-tengah taman kampus di sekitar kolam ikan.
“Aku mau break bentar, Sa” ujarku lirih.
Aku tak mau melihat wajahnya saat aku mengatakan itu. Hal ini merupakan keputusan yang sangat dan paling berat dalam hidupku. Aku merasa, aku tak terbiasa berkeliaran di kota ini tanpa dirinya. Tapi, ada satu hal yang membuatku harus melakukan ini, karena inilah yang terbaik untuk kami.
“Maksud kamu, Key? Berhenti sebentar berhubungan dengan aku?” aku hanya mengangguk.
“Tanpa penjelasan, Key? Apa aku ada salah ama kamu, Key? Atau ada orang lain yang masuk ke hati kamu?”
“Nggak, bukan gitu, aku masih dan akan selalu sayang sama kamu, Sa. Kamu tau itu kan? Aku hanya ingin break bentar, mikirin gimana akhirnya hubungan kita. Mikirin gimana baiknya untuk kita berdua setelah kita nggak sama-sama lagi. Apa aku bisa hidup tanpa kamu, dan kamu bisa hidup tanpa aku?”
“Kamu tau itu nggak mungkin kan, Key?” aku hanya tersenyum miris.
“Sekarang, silakan kamu pilih jalan kamu sendiri, semoga saat kita bertemu lagi, kamu tetap memilih aku” aku pergi meninggalkannya di taman itu dengan hati yang perih. Semua ini bukan kemauanku, ini hanyalah masalah keadaan. Suatu saat, ketika aku bertemu dengannya lagi dia akan tahu alasan aku melakukan ini.

***

10.01.10
Air mata ini seperti tak bisa berhenti mengalir di pipiku. Sejak dua tahun lalu aku masih tidak bisa melupakan keberadaan Reksa di hatiku. Like a shadow that always follow me wherever I am. Betapa sulitnya melupakan sesuatu yang memang tak ingin dilupakan. Mataku terpaku lagi pada sebuah undangan yang masih tergeletak di meja komputer di depanku. “Hari ini diadakan resepsi pernikahan antara Atara Eloise Novyana, S. Psi dengan Reksa Sabagya S. Sos, atas restu Allah SWT” begitu salah satu isi yang tertera di undangan tersebut. Pertama kali aku menerima undangan ini aku merasa hampa dan mati rasa, makin diperparah dengan kondisi tubuhku yang sedang tidak dalam kondisi terbaik. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa ini adalah yang terbaik. Aku sendiri yang dulu memutuskan untuk berpisah dengannya dan memilih jalan kami masing-masing. Aku harus menerima keputusan Reksa meski pahit. Selama berpisah memang kami jarang berkomunikasi, aku tengah berjuang untuk mencari jalan keluar dari hatinya. Hari ini, aku harus menghadiri resepsi pernikahan orang yang aku cintai, dan aku harus kuat menghadapinya.

“Mbak yakin dengan keputusan ini?” tanya Lina sambil mengeluarkan kursi roda yang setahun ini menemaniku.
“Insyaallah, Lin, kamu harus bantu aku ya…”
“Pasti mbak, aku selalu mendukung mbak, kok” Lina membantuku turun dari mobil dan mendorongku masuk ke dalam gedung serbaguna kampusku.
‘Bismillaah…ya Allah kuatkan aku’ batinku.
Hatiku sedikit tergetar saat kulihat Teh Irene di bagian depan penyambut tamu. Dapat kulihat tatapan sedihnya saat melihat aku datang dengan Lina. Beberapa orang membantu Lina mengangkat kursi rodaku karena memang jalanan agak sedikit bertangga-tangga. Aku menggigit bibirku agar air mata yang kutahan tidak terjatuh. Teh Irene, Ryan, dan yang lainnya sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Ini cobaan pertamaku, aku harus bertahan sampai aku bertemu dengan kedua mempelai.
“Key…apa kabar kamu? Teteh nggak tau….sejak kapan kamu...keadaan kamu seperti ini?” Teh Irene menghampiriku, memeluk dan menyiumiku.
“Alhamdulillah baik, teh, ya seperti inilah aku sekarang…udah sejak setahun yang lalu kondisiku kayak gini…aku masuk dulu ya, Teh” Teh Irene mengangguk dan membiarkan Lina mendorongku masuk ke dalam gedung. Ada beberapa orang yang kukenal menyapaku, aku tidak pernah malu dengan kondisiku seperti ini, meski orang lain memandang aneh diriku dengan kursi roda ini.

Akhirnya aku berjalan menuju pelaminan, kusalami kedua orang tua mempelai perempuan. Hingga hatiku tak kuasa menahan sakit yang sangat saat aku menghampiri kedua mempelai.
“Selamat ya…” aku menyalami Atara, aku mengenalnya sebagai adik tingkatku di kampus ini, wajahnya cantik dengan riasan pengantin serasi sekali dengan Reksa.
“Reksa…selamat…” aku menyalaminya juga tanpa melihat matanya, aku masih tak mampu.
“Te..terima kasih, Key” Reksa masih terus menatap aku dan kondisiku, aku paling tidak suka dengan tatapan penuh rasa kasihan itu.
“Selamat akhirnya kamu sudah menemukan labuhanmu, inilah jalan yang kamu pilih, Reksa, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah…” ujarku tulus seraya melepaskan tangannya dan mengarahkan Lina ke orang tua Reksa.
“Ibu…Bapak…selamat…maaf aku tidak bisa menepati janjiku dulu untuk selalu menjaga Reksa…aku…” pertahanan yang kubuat akhirnya bobol juga saat ibu Reksa memelukku. Setitik air mata jatuh ke pipiku.
“Kaelyn…ibu tak tau keadaan kamu seperti ini, nak…kamu menutup dirimu dari kami. Ibu sayang kamu, Key…tolong jangan berubah ya, Key…” aku hanya mengangguk, tanpa tahu apa yang harus aku katakan. Aku pamit dan meminta Lina untuk membawaku keluar, aku tak mau orang melihat dimataku masih ada cinta untuk Reksa. Kurasakan tatapan Reksa di punggungku saat aku pergi keluar gedung.
“Key…yang tabah ya sayang….kami semua sayang kamu” ujar Teh Irene dan memelukku lagi, sekali lagi aku tak bisa menahan tangis yang dengan susah payah kutahan.
“Iya teh…aku juga selalu sayang dengan kalian, tapi aku tau ini bukan takdirku. Aku…aku rasa ini yang terbaik buat kita semua. Reksa will be happy with her”
Teh Irene mengangguk dan sambil sesekali mengusap butiran kristal bening yang mengalir dari matanya. Tiba-tiba sesosok tubuh menyeruak antara aku dan Teh Irene. Reksa menghambur dari dalam dan memeluk tubuhku yang semakin rentan.
“Key…aku sayang kamu…aku selalu menunggu kamu menghubungi aku, Key! Aku nggak tau kondisi kamu seperti ini, pasti gara-gara kondisi kamu ini kan kamu mutusin aku? Kenapa sih, Key…Aku cinta kamu, Key, tapi kamu nggak pernah memberikan waktumu untukku lagi. Maafkan aku, Key, aku telah menghancurkan mimpi-mimpi kita” kata-kata Reksa membuat air mataku semakin deras.
“Reksa, ini jalan yang udah kamu pilih, kamu nggak boleh gitu, kasian istri kamu, Sa! Aku nggak akan bisa ngebahagiain kamu. Aku…aku sakit kanker tulang, Sa” aku merasakan Reksa dan beberapa orang di sekeliling kami terkesiap mendengar penuturanku.
“Iya, Sa, inilah alasan kenapa aku ninggalin kamu. Aku nggak akan bisa jagain kamu, Sa, apalagi bahagiain kamu! Penyakitku nggak bisa disembuhin karena nggak ada sumsum tulang yang cocok dengan aku, kamu tau kan, aku bahkan nggak pernah tau siapa Ayahku, Sa, Ayah yang seharusnya memiliki sumsum tulang yang sama dengan aku. Aku selalu cinta kamu, Reksa, tapi kita nggak bisa seperti dulu lagi. Akhirnya aku akan lumpuh total, nggak ada lagi bagian tubuh aku yang bisa digerakkan. Hingga aku hanya bisa terbaring pasrah di tempat tidurku, Reksa. Dengan kondisi seperti itu aku nggak bakalan bisa sama kamu, Sa, atau sama siapapun…nggak akan bisa…” jelasku sambil menyeka air mata di pipiku.
“Reksa, aku emang nggak bisa miliki kamu. Satu hal, aku mohon, jaga sekeping hati yang pernah aku titipkan di hatimu, Sa. Karena dengan itu aku bisa bertahan hidup hingga sekarang. Aku pernah berjanji pada diriku sendiri, Sa, hari disaat kamu telah sah menjadi milik orang lain, hari itulah aku dengan ikhlas melepaskan rasa yang ada di hatiku untuk kamu. Aku akan tersenyum untukmu hingga Tuhan mengutus malaikatNya untuk menjemputku”
Reksa memelukku semakin erat, seakan tidak mau melepasku. Aku pun berharap waktu dapat berhenti saat ini. Tapi aku tahu, ada cinta lain yang menunggu Reksa di dalam sana. Cinta yang mungkin lebih besar dari yang aku punya. Janji setia istri pada suami yang selalu menunggu dengan sabar disana. Aku melepaskan pelukan Reksa dan meminta Lina mendorongku menjauh. Lega rasanya, menumpahkan semua perasaan yang selama setahun ini aku pendam.
‘Doakan kebahagiaan untukku, Reksa! Bahkan orang sakit pun pasti menemukan jodohnya, itu janji Tuhan, Sa!’ ujarku dalam hati dan meninggalkan mereka semua tanpa pernah menoleh ke belakang.

“In my dreams I always see you soar above the sky, in my heart there will always be a place for you, for all my life. I’ll keep a part of you with me and everywhere I am there you’ll be……” (Faith Hill: There You’ll Be)

***

Read More......

The Extinction of American Bison


Nowadays, many animals become more extinct along with humans appearance; some people are considering this case related with humans behavior identically greedy for money and power. One of animals which almost extinct are American Bison in The United States. Many years ago, when amount of Bison was large, American Bison was peacefully life near humans, especially Native Americans. Bison were providing them with food, shelter, clothing, and spiritual inspiration. However, bison were begun to extinct after Europeans come to America; they slaughtered bison for clothing, sports, robe, tongue, etc. The extinction of Bison was affecting to Native American and environment.
Furthermore, Native American was living with Bison for thousand years ago, so without Bison they would be forced to leave or starve. Their relationship was very strong at that time, each of them was supply something for their life. For example, Native American plant grass as a food for Bison; likewise, Bison also provide many things for Native American like clothing and food. So, Bison was playing an important role in this life especially in Native American’s life. As a result, they really took care about Bison’s life even make a conservation place, where Bison can reproduce themselves to preserve their generations.
The other effect of Bison’s extinction is the balance of ecosystem or as known as environment. All of these things in the world need something to complete the life cycle. Wolves eat Bison, Bison eat grass, grass give energy to soil as a mineral for land life, for instance. If Bison were loss, some of part in ecosystem being incomplete. Environmentalist really took care about this case – the extinction of American Bison – because it is important to tend the balance of environment.
Therefore, the Bison, which still being life, must be preserved in a special place. Bison are found in both publicly and privately conservation places. For example, Custer State Park in South Dakota, one of the largest publicly conservation place in the world, Yellowstone National Park, Henry Mountains in Utah, Wind Cave National Park in South Dakota, and on Elk Island in Alberta, Canada. Finally, if we want to balance the environment we have to preserve Bison in a good place and treat them in a good way.

Read More......