10.06.2010
Terlalu indah dilupakan
Terlalu sedih dikenangkan
Saat aku jauh berjalan
Dan kau kutinggalkan
Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dan sayangmu
Setulus pesanmu kepadaku
Engkau kan menunggu
Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kan ku beri
Adakah cara yang kau temui
Untuk kita kembali lagi
Alunan merdu dari Ruth Sahanaya memenuhi kamar tidur yang penuh dengan poster tokoh anime kesayanganku, Conan Edogawa. Lina, anak pengurus rumah dengan setia menemaniku yang sedang berkonsentrasi pada monitor komputer di depanku.
“Mbak, udah mo makan belum?” tanya Lina.
“Belum nih, Lin, tanggung…hehehe…”
“Kapan tuh selesai mainnya? Abis itu makan ya mbak…nanti sakit loh”
Aku hanya tersenyum pada Lina yang sedang membereskan beberapa barang di kamarku yang memang berantakan. Aku keranjingan bermain games di komputer beberapa tahun terakhir ini. Salah satu terapi yang aku terapkan untuk memulihkan kondisi kesehatan yang agak memburuk akhir-akhir ini. Kondisi yang diperparah dengan kenyataan bahwa orang yang aku cintai meninggalkanku enam bulan lalu.
***
28.04.08
“Hei, Key” sapa seseorang di belakangku. Saat aku menoleh kebelakang ternyata sudah ada sepasang mata dengan binar-binar jahil menatap mataku.
“Iiih…kamu rupanya, Sa…..darimana say?” sapaku sambil berjalan beriringan menuju pendopo kampus.
“Tadi nemuin Pak Bowo, ditanyain macem-macem masalah penelitian kemaren” ujarnya.
Aku dan Reksa kemudian duduk di pendopo sambil membuka buku tentang sosiologi konflik yang ingin aku bahas dengannya. Namaku Kaelyn Maisha, biasa dipanggil Key atau Mai, mahasiswi semester 8 Jurusan Hubungan Internasional Universitas Luar Biasa di Jakarta. Disampingku, Reksa Sabagya, kekasih hati yang telah menemaniku hampir dua tahun ini, dia semester 10 Jurusan Ilmu Pemerintahan di universitas yang sama. Sebenarnya Reksa orang yang biasa-biasa saja di mata orang lain, standar mahasiswa gitulah, tapi dia pintar berargumen, orangnya bersahaja dan super duper sabar, hehehe. Tampilannya biasa saja dengan rambut cepak dan selalu memakai tas ransel bulukan yang udah dipakainya dari pertama aku menjadi mahasiswa di kampus ini.
Banyak teman-temanku yang bertanya kenapa sih aku yang notabene “anak gaul” mau pacaran ama Reksa yang dari tampang aja kurang lebih kayak Dude Herlino lah…hehehehe...bener loh, gak bohong! tapi sayang dia agak introvert dan misterius kesannya. Aku bilang, aku juga standar-standar aja, nggak lebih kayak Laudya Cintya Bella (hahahaha *Narsis: mode on) tapi aku kebalikan dari Reksa, orangnya extrovert, agak terlalu represif malahan. Namun, justru itu yang buat aku merasa cocok dengan Reksa, dia bisa mengimbangi sikapku yang kadang agak childish.
“Key…….kok melamun? Aku kan tadi lagi nanya masalah konflik sosial yang mau kamu teliti”
“Duh, maaf, Sa…aku tadi lagi mikiran kita aja…”
“Loh, kenapa mikirin kita…ada apa emangnya?”
“Nggak sih…lagi mikir aja, kok bisa ya aku suka ama kamu…” ujarku sambil tertawa.
“Ooh…jadi gitu ya…nyesel udah jadi pacar aku? Mau ngajak putus? Atau kamu udah gak populer lagi?”
“Ih, bukannya gitu Reksa sayang…jangan ngomong sembarangan dong, kata orang omongan itu doa loh…” aku memberengut menatap wajahnya.
“Hehehe…enggak kok, Key, gitu aja udah ngambek”, Reksa mengelus rambut sebahuku dengan sayang, “makanya, jangan mikirin yang macem-macem tentang hubungan kita, hehehe” ujarnya sambil terkekeh. Aku paling suka mendengar tawanya, kekehannya, dan senyumnya. Belum lagi dua lesung pipi yang terbentuk saat dia tersenyum, aku yakin bakal merindukan itu semua.
“Tuh kan, ngelamun lagi” katanya sambil menjawil hidungku.
“Ngelamunin kamu kok, sayang……” kataku sambil tersenyum lagi.
Kami pun melanjutkan diskusi tentang masalah yang ingin aku teliti. Semilir angin dan suara riuh rendah mahasiswa di sekeliling kampus menemani sore saat itu. Beberapa teman juga ikut nimbrung dan memberikan saran tentang penelitian kecil-kecilanku. Sesekali terdengar suara tawa yang pecah kala ada teman yang menceritakan cerita lucu. Rasanya begitu nyaman seperti ini dan tak ingin berubah selamanya.
***
30.04.08
“Happy Anniversary, sayang……” seruku saat Reksa datang di rumah untuk menjemputku.
“Ya ampuun…hari ini ya, Key?” tanyanya sambil menyerahkan helm kepadaku.
“Iiih…Lupa ya…” aku memanyunkan bibir sambil naik ke atas motornya.
“Yah, maklumlah banyak yang dipikirin…happy anniversary juga ya…” ujarnya sambil tersenyum.
Lagi-lagi aku luluh pada senyuman malaikatnya, tak akan mampu lama-lama marah padanya, akupun tersenyum dan kami langsung berangkat menuju kampus biru tercinta.
Lima belas menit kemudian kami tiba di kampus Unilub alias Universitas Luar Biasa, salah satu kampus swasta yang lumayan diminati oleh calon mahasiswa di Jakarta. Awalnya aku memilih kampus negeri saja untuk tempatku kuliah, tapi karena banyak faktor yang menyebabkan aku berubah pikiran dan kuliah disini. Not bad, lah! pikirku, karena banyak yang telah aku dapatkan selama kurang lebih 2 tahun aku kuliah disini. Ilmu, pengalaman, sahabat, kekasih, musuh, dan banyak lagi yang lainnya, yang semua itu membuat aku merasa betah berada disini. Di kampus ini aku bukan hanya kuliah, tapi juga berinteraksi dengan yang lain, membuatku merasa semua ini bagian hidupku yang cukup sempurna.
“Kenapa lagi sih, Key? Ngelamun terus kerjaannya, ntar pas istirahat kita makan-makan ya di kantin ngerayain dua tahun jadian kita……hehehehe”
“Benar ya???”
“Iya…mau berdua apa rame-rame?”
“Berdua aja dong…hari ini kan our special day”
“Oke deh…see you at one o’clock ya…” kami pun berpisah jalan menuju kelas masing-masing dan tak sabar menunggu waktu siang tiba.
***
“Happy second anniversary sayang……”
Tiba-tiba saat menunggu di kantin aku dikejutkan kedatangan Reksa dengan sepotong kue tar kecil yang imut banget hiasannya. Ditambah lagi dengan sikapnya yang romantis, asli bukan Reksa banget dah!
“Hmmm….hari spesial ya, Sa….nggak nyangka kamu bisa kayak gini…”
“Idih…ngejek apa nyindir nih, kamu kan tau aku emang kayak gini dari awal…makanya aku minta ajarin kamu gimana caranya romantis-romantisan…hehehehe” lagi-lagi Reksa mengeluarkan senyuman yang membuat hatiku luluh.
“I love you just the way you are kok, Sa…”
“Halah kamu……” ujarnya sambil mengusap kepalaku sayang, “Ya udah, yuk kita makan kuenye…emp, tapi kamu pesanin makanan ya…kayak biasa, Key…”
Aku mengangguk dan beranjak ke tempat bang Sam, yang nama panjangnya Samsudin, untuk memesan dua porsi karedok dan dua gelas es jeruk manis, menu makan siang favorit kami berdua. Ketika aku bergerak dengan gerakan yang lumayan cepat dan mendadak, aku merasakan sakit yang sangat menyengat di pinggangku, rasa ngilu yang amat sangat seketika langsung menghantam bagian belakang tubuhku. Aku seakan melupakan sekelilingku karena tiba-tiba pandanganku gelap dan roboh ke tanah seketika.
***
21.05.08
Hhm….akhirnya aku bisa kembali menghirup udara segar di luar rumah, setelah hampir sebulan meringkuk di tempat tidur dalam masa recovery. Entahlah apa yang terjadi dengan tubuhku ini, beberapa tahun terakhir memang terasa ada yang janggal. Aku sudah menemukan fakta-fakta yang agak menyedihkan tentang penyakitku ini. Namun, Ibuku tidak mau memberitahu apa yang dokter katakan tentang penyakitku. Aku tahu beliau hanya ingin membuatku tenang dan tidak stres dalam menjalani hidup. Tapi ada satu hal yang harus aku lakukan, satu hal yang aku yakin akan membuyarkan semua mimpi-mimpi indahku. Satu hal yang membuatku harus melatih emosi, kesabaran, dan ketabahanku.
“Morning, Key…………….” sapa seseorang yang sangat kurindukan sebulanan ini.
“Hai, Sa….” jawabku sambil senyum singkat.
“Kamu masih sakit, Key? Kok dingin gitu sih tanggapannya?”
“Emp…biasa aja kali, Sa…oya, aku mo ngomong sesuatu ma kamu nih, ke pendopo yuk”
“Ada apa sih? Buat aku penasaran aja” sahut Reksa seraya mengikutiku dari belakang. Angin sepoi-sepoi berhembus membuat rambutku sedikit berantakan. Pendopo ini sangat strategis karena berada di tengah-tengah taman kampus di sekitar kolam ikan.
“Aku mau break bentar, Sa” ujarku lirih.
Aku tak mau melihat wajahnya saat aku mengatakan itu. Hal ini merupakan keputusan yang sangat dan paling berat dalam hidupku. Aku merasa, aku tak terbiasa berkeliaran di kota ini tanpa dirinya. Tapi, ada satu hal yang membuatku harus melakukan ini, karena inilah yang terbaik untuk kami.
“Maksud kamu, Key? Berhenti sebentar berhubungan dengan aku?” aku hanya mengangguk.
“Tanpa penjelasan, Key? Apa aku ada salah ama kamu, Key? Atau ada orang lain yang masuk ke hati kamu?”
“Nggak, bukan gitu, aku masih dan akan selalu sayang sama kamu, Sa. Kamu tau itu kan? Aku hanya ingin break bentar, mikirin gimana akhirnya hubungan kita. Mikirin gimana baiknya untuk kita berdua setelah kita nggak sama-sama lagi. Apa aku bisa hidup tanpa kamu, dan kamu bisa hidup tanpa aku?”
“Kamu tau itu nggak mungkin kan, Key?” aku hanya tersenyum miris.
“Sekarang, silakan kamu pilih jalan kamu sendiri, semoga saat kita bertemu lagi, kamu tetap memilih aku” aku pergi meninggalkannya di taman itu dengan hati yang perih. Semua ini bukan kemauanku, ini hanyalah masalah keadaan. Suatu saat, ketika aku bertemu dengannya lagi dia akan tahu alasan aku melakukan ini.
***
10.01.10
Air mata ini seperti tak bisa berhenti mengalir di pipiku. Sejak dua tahun lalu aku masih tidak bisa melupakan keberadaan Reksa di hatiku. Like a shadow that always follow me wherever I am. Betapa sulitnya melupakan sesuatu yang memang tak ingin dilupakan. Mataku terpaku lagi pada sebuah undangan yang masih tergeletak di meja komputer di depanku. “Hari ini diadakan resepsi pernikahan antara Atara Eloise Novyana, S. Psi dengan Reksa Sabagya S. Sos, atas restu Allah SWT” begitu salah satu isi yang tertera di undangan tersebut. Pertama kali aku menerima undangan ini aku merasa hampa dan mati rasa, makin diperparah dengan kondisi tubuhku yang sedang tidak dalam kondisi terbaik. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa ini adalah yang terbaik. Aku sendiri yang dulu memutuskan untuk berpisah dengannya dan memilih jalan kami masing-masing. Aku harus menerima keputusan Reksa meski pahit. Selama berpisah memang kami jarang berkomunikasi, aku tengah berjuang untuk mencari jalan keluar dari hatinya. Hari ini, aku harus menghadiri resepsi pernikahan orang yang aku cintai, dan aku harus kuat menghadapinya.
“Mbak yakin dengan keputusan ini?” tanya Lina sambil mengeluarkan kursi roda yang setahun ini menemaniku.
“Insyaallah, Lin, kamu harus bantu aku ya…”
“Pasti mbak, aku selalu mendukung mbak, kok” Lina membantuku turun dari mobil dan mendorongku masuk ke dalam gedung serbaguna kampusku.
‘Bismillaah…ya Allah kuatkan aku’ batinku.
Hatiku sedikit tergetar saat kulihat Teh Irene di bagian depan penyambut tamu. Dapat kulihat tatapan sedihnya saat melihat aku datang dengan Lina. Beberapa orang membantu Lina mengangkat kursi rodaku karena memang jalanan agak sedikit bertangga-tangga. Aku menggigit bibirku agar air mata yang kutahan tidak terjatuh. Teh Irene, Ryan, dan yang lainnya sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Ini cobaan pertamaku, aku harus bertahan sampai aku bertemu dengan kedua mempelai.
“Key…apa kabar kamu? Teteh nggak tau….sejak kapan kamu...keadaan kamu seperti ini?” Teh Irene menghampiriku, memeluk dan menyiumiku.
“Alhamdulillah baik, teh, ya seperti inilah aku sekarang…udah sejak setahun yang lalu kondisiku kayak gini…aku masuk dulu ya, Teh” Teh Irene mengangguk dan membiarkan Lina mendorongku masuk ke dalam gedung. Ada beberapa orang yang kukenal menyapaku, aku tidak pernah malu dengan kondisiku seperti ini, meski orang lain memandang aneh diriku dengan kursi roda ini.
Akhirnya aku berjalan menuju pelaminan, kusalami kedua orang tua mempelai perempuan. Hingga hatiku tak kuasa menahan sakit yang sangat saat aku menghampiri kedua mempelai.
“Selamat ya…” aku menyalami Atara, aku mengenalnya sebagai adik tingkatku di kampus ini, wajahnya cantik dengan riasan pengantin serasi sekali dengan Reksa.
“Reksa…selamat…” aku menyalaminya juga tanpa melihat matanya, aku masih tak mampu.
“Te..terima kasih, Key” Reksa masih terus menatap aku dan kondisiku, aku paling tidak suka dengan tatapan penuh rasa kasihan itu.
“Selamat akhirnya kamu sudah menemukan labuhanmu, inilah jalan yang kamu pilih, Reksa, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah…” ujarku tulus seraya melepaskan tangannya dan mengarahkan Lina ke orang tua Reksa.
“Ibu…Bapak…selamat…maaf aku tidak bisa menepati janjiku dulu untuk selalu menjaga Reksa…aku…” pertahanan yang kubuat akhirnya bobol juga saat ibu Reksa memelukku. Setitik air mata jatuh ke pipiku.
“Kaelyn…ibu tak tau keadaan kamu seperti ini, nak…kamu menutup dirimu dari kami. Ibu sayang kamu, Key…tolong jangan berubah ya, Key…” aku hanya mengangguk, tanpa tahu apa yang harus aku katakan. Aku pamit dan meminta Lina untuk membawaku keluar, aku tak mau orang melihat dimataku masih ada cinta untuk Reksa. Kurasakan tatapan Reksa di punggungku saat aku pergi keluar gedung.
“Key…yang tabah ya sayang….kami semua sayang kamu” ujar Teh Irene dan memelukku lagi, sekali lagi aku tak bisa menahan tangis yang dengan susah payah kutahan.
“Iya teh…aku juga selalu sayang dengan kalian, tapi aku tau ini bukan takdirku. Aku…aku rasa ini yang terbaik buat kita semua. Reksa will be happy with her”
Teh Irene mengangguk dan sambil sesekali mengusap butiran kristal bening yang mengalir dari matanya. Tiba-tiba sesosok tubuh menyeruak antara aku dan Teh Irene. Reksa menghambur dari dalam dan memeluk tubuhku yang semakin rentan.
“Key…aku sayang kamu…aku selalu menunggu kamu menghubungi aku, Key! Aku nggak tau kondisi kamu seperti ini, pasti gara-gara kondisi kamu ini kan kamu mutusin aku? Kenapa sih, Key…Aku cinta kamu, Key, tapi kamu nggak pernah memberikan waktumu untukku lagi. Maafkan aku, Key, aku telah menghancurkan mimpi-mimpi kita” kata-kata Reksa membuat air mataku semakin deras.
“Reksa, ini jalan yang udah kamu pilih, kamu nggak boleh gitu, kasian istri kamu, Sa! Aku nggak akan bisa ngebahagiain kamu. Aku…aku sakit kanker tulang, Sa” aku merasakan Reksa dan beberapa orang di sekeliling kami terkesiap mendengar penuturanku.
“Iya, Sa, inilah alasan kenapa aku ninggalin kamu. Aku nggak akan bisa jagain kamu, Sa, apalagi bahagiain kamu! Penyakitku nggak bisa disembuhin karena nggak ada sumsum tulang yang cocok dengan aku, kamu tau kan, aku bahkan nggak pernah tau siapa Ayahku, Sa, Ayah yang seharusnya memiliki sumsum tulang yang sama dengan aku. Aku selalu cinta kamu, Reksa, tapi kita nggak bisa seperti dulu lagi. Akhirnya aku akan lumpuh total, nggak ada lagi bagian tubuh aku yang bisa digerakkan. Hingga aku hanya bisa terbaring pasrah di tempat tidurku, Reksa. Dengan kondisi seperti itu aku nggak bakalan bisa sama kamu, Sa, atau sama siapapun…nggak akan bisa…” jelasku sambil menyeka air mata di pipiku.
“Reksa, aku emang nggak bisa miliki kamu. Satu hal, aku mohon, jaga sekeping hati yang pernah aku titipkan di hatimu, Sa. Karena dengan itu aku bisa bertahan hidup hingga sekarang. Aku pernah berjanji pada diriku sendiri, Sa, hari disaat kamu telah sah menjadi milik orang lain, hari itulah aku dengan ikhlas melepaskan rasa yang ada di hatiku untuk kamu. Aku akan tersenyum untukmu hingga Tuhan mengutus malaikatNya untuk menjemputku”
Reksa memelukku semakin erat, seakan tidak mau melepasku. Aku pun berharap waktu dapat berhenti saat ini. Tapi aku tahu, ada cinta lain yang menunggu Reksa di dalam sana. Cinta yang mungkin lebih besar dari yang aku punya. Janji setia istri pada suami yang selalu menunggu dengan sabar disana. Aku melepaskan pelukan Reksa dan meminta Lina mendorongku menjauh. Lega rasanya, menumpahkan semua perasaan yang selama setahun ini aku pendam.
‘Doakan kebahagiaan untukku, Reksa! Bahkan orang sakit pun pasti menemukan jodohnya, itu janji Tuhan, Sa!’ ujarku dalam hati dan meninggalkan mereka semua tanpa pernah menoleh ke belakang.
“In my dreams I always see you soar above the sky, in my heart there will always be a place for you, for all my life. I’ll keep a part of you with me and everywhere I am there you’ll be……” (Faith Hill: There You’ll Be)
***
Clock
Monday, July 18, 2011
Sekeping Hati Kaelyn
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment