Clock

Wednesday, August 10, 2011

IELSP is Back!


IIEF holds an Indonesia English Language Study Program (IELSP). It is a program that offers a chance to enroll in English Language Courses at prominent universities in the United States for a period of 8 (eight) weeks.

The goal of this program is to improve the ability of participant’s English language, especially in English for Academic Purposes. Other than that, participants will have the chance to learn intimately the people and culture of the United States. IELSP participants will join the immersion program where they will mix with other participants from other nations and countries. Within this program, participants will not only learn the English language, but they will also join various cultural programs that will enrich their experience.
So, it's really a big opportunity for you guys who want to study abroad. These are the requirements: Participant age must be 19 – 24 years old. Participant must be an active students for bachelor degree in their 5th semester above at any universities all over Indonesia and have not yet declared pass or in the course of degree completion. Participant must have posses good ability in the English language with a good TOEFL® International or TOEFL® ITP with a minimum 450 (not a Prediction Test). Participant must also have good academic achievement Active in lots of activities and organization. Have full commitment to return back to Indonesia after completing this program. Do not have experience of previous study in USA or other countries except Indonesia. Possesses these personal qualities: active, independent, responsible, confident and open minded. Master the skills for computer. Come on, try your best, Indonesian! For further information, click www.iief.or.id

Read More......

Wednesday, July 20, 2011

Liburan di Tanah Uncak Kapuas

Beberapa waktu yang lalu aku berangkat ke Putussibau, kota kabupaten paling ujung di Propinsi Kalimantan Barat, Kapuas Hulu. Ini perjalan kesekian kalinya sejak terakhir pada tahun 2000 aku menghabiskan liburan sekolah di sana. Sebelas tahun berselang, banyak yang bilang tidak sedikit perubahan yang terjadi di Putussibau. Ingatan tentang kota yang terkenal dengan kerupuk basah itu berkelebat sebentar dalam pikiran. Infrastruktur, kondisi alam, dan kehidupan sosialnya yang pasti telah berubah. Tak sabar rasanya melihat perubahan itu setelah terombang-ambing dalam bus selama tujuh belas jam di perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan.
Jalan lintas kabupaten yang dilintasi benar-benar dalam kondisi yang menyedihkan. Beberapa kali aku melambung tinggi dari kursi penumpang saat bus berjalan melewati kabupaten Sanggau hingga Sintang. Aku mendesah dalam hati karena perjalanan masih menyisakan waktu yang lama. Malam hari yang pekat membuat saya tidak bisa melihat pemandangan Bukit Kelam, salah satu situs wisata panorama alam di Kabupaten Sintang. Lintasan yang dilalui antara Sintang dan Kapuas Hulu tidak terlalu sulit karena jalanannya yang mulus. Namun, tantangan selanjutnya adalah melewati jalan perbukitan yang naik turun sehingga membuat perut terasa diaduk-aduk.

Tanpa terasa bus antar kabupaten itu pun memasuki daerah Kapuas Hulu. Udara dingin langsung menyergapku, meski pendingin di dalam bus itu telah kumatikan. Cuaca berkabut membuat jalanan di depan tidak terlalu terlihat sehingga supir memelankan laju busnya. Pepohonan tertata secara alami di kiri kanan jalan, pantas saja udara dingin ini terasa segar. Alamnya benar-benar masih asri, sangat berbeda dengan udara perkotaan di Pontianak yang telah dikontamintasi dengan asap kendaraan bermotor. Aku berharap liburan kali ini akan banyak menghirup udara segar seperti ini.


Pasir-pasir di Sungai Kapuas bertimbulan saat bus melintasi jembatan yang menuju pusat kota Putussibau. Saat ini kemarau tengah melanda kabupaten paling ujung di bagian barat borneo itu. Sungai yang mengering sepertinya menjadi objek wisata baru bagi para pelancong, termasuk aku. Hari berikutnya aku harus melihat itu, janjiku dalam hati.

Hari berikutnya keluargaku disibukkan dengan remeh temeh pernikahan, untungnya pihak mempelai lelaki hanya mengurusi beberapa hal saja. Seperti membungkus barang antaran, menghias bunga telur, dan persiapan arak-arakan. Pernikahan yang dilakukan kali ini sangat sederhana, tidak terlalu meriah seperti yang dilakukan di kota-kota besar lainnya. Adat yang dilakukan juga sangat sederhana. Karena ayah mempelai wanita berasal dari suku jawa, maka sehari sebelum prosesi akad nikah diadakan acara siraman. Acara siramanpun tidak mewah, sekedar mengikuti tradisi adat saja.


Barang antaran atau seserahan, dan bunga telur telah dihias sedemikian rupa. Kemudian disusun berdasarkan urutan, entahlah urutan apakah namanya akupun tak tahu, sepertinya urutan itu didasarkan dari tradisi melayu kapuas hulu. Pagi harinya, setelah pembacaan doa selamat, kami dari pihak lelaki siap mengantarkan calon mempelai lelaki dengan iring-iringan barang antaran dan gendang tar. Panas terik menyinari iringan pengantar calon mempelai lelaki. Untungnya, jarak rumah calon mempelai perempuan tidaklah jauh, hanya berjarak tiga rumah. Akhirnya, prosesi pernikahan pun berjalan lancar hingga akhir.

Sepertinya Tuhan bermurah hati pada masyarakat Kapuas Hulu. Setelah panas yang sangat menyengat di musim kemarau, esok harinya hujan mengguyur kota Putussibau seharian. Tak ada yang bisa kulakukan selain membaca novel dan berbincang-bincang dengan keluarga. Sore harinya sepupuku mengajak pergi melihat-lihat beberapa tempat di Putussibau. Tidak banyak yang dapat dilihat setelah hujan ini. Kami hanya berjalan-jalan ke Rumah Adat Melayu, simbol kota yang berhiaskan ikan arwana, dan melihat pasir timbul di sungai kapuas dari atas jembatan.


Sama seperti simbol-simbol yang ada di kota lainnya, sudah semestinya masyarakat yang baik akan menjaga keindahannya. Namun sayang, di simbol kota yang berhiaskan ikan arwana itu tertulis kata-kata kotor yang mestinya tidak ada. Ironisnya, monumen itu terletak tepat di depan rumah Bupati Kapuas Hulu. Ikan arwana atau yang lebih dikenal dengan Ikan Silok menjadi simbol daerah karena Kapuas Hulu adalah habitat alami Ikan Arwanai. Ikan ini sangat terkenal hingga mancanegara, dan harganya sangatlah mahal, anaknya saja dibandrol sekitar Rp. 3juta. Dengan aset daerah yang sangat besar, tentunya tidak sulit untuk melakukan pembangunan ke arah yang lebih baik. Hal ini mestinya didukung oleh semua pihak; pemerintah, masyarakat, dan swasta. Sehingga, daerah ini menjadi the most wanted place to visit in West Kalimantan.

Hal yang paling kutunggu-tunggu adalah pergi ke kebun karet dan menjelajahinya. Meskipun mengendarai sepeda motor, aku sangat antusias sekali ingin mengunjungi kebun itu. Tempatnya lumayan jauh dari kota putussibau, diperlukan waktu sekitar 20 menit untuk mencapai kebun. Ada dua buah pondok di kebun itu, yang satu untuk tempat tinggal penjaga kebun, dan satunya lagi untuk paman dan bibiku beristirahat sehabis mereka noreh atau mengambil cairan getah dari Pohon Karet. Selain Pohon Karet, ada juga Pohon Pisang, Gaharu, dan Jati. Yang membuatku tertarik saat bibi menunjukkan tanaman yang bernama Sengkubak, tanaman ini bisa menggantikan penyedap rasa untuk masakan. Cukup masak daunnya bersama sayuran lain dan tambahkan sedikit garam, maka rasa sayuran itu seperti telah diberi penyedap rasa. Andai saja bibitnya bisa kubawa ke Pontianak, pikirku.


Kulihat paman-pamanku telah selesai memasak untuk makan hari ini, unik rasanya melihat lelaki memasak. Para wanitanya hanya menyiapkan perlengkapan makan dan sambalnya di dalam pondok. Semuanya dimasak dengan kayu bakar. Nasi, Ikan, dan sayur terlihat lebih menggiurkan, tanpa sadar aku menelan ludah. Ikan-ikan yang dibakarpun sangat segar karena baru saja ditangkap dari sungai; ada ikan Toman, Tembiring, dan Lais, dibakar begitu saja tanpa bumbu hanya sambal kecap yang dicampur cabe rawit sebagai pelengkapnya. Sayurannya juga sederhana, jantung pisang dicampur dengan dedaunan yang ada di sekitar kebun, tak lupa daun Sengkubak yang membuat rasa sayur semakin gurih. Sepertinya yang tak lapar sekalipun akan menjadi lapar melihat menu makan seperti ini. Ah, di Pontianak aku tak akan pernah menikmati makanan seperti ini. What a beautiful life! ^^,

Read More......

Monday, July 18, 2011

Sekeping Hati Kaelyn

10.06.2010

Terlalu indah dilupakan
Terlalu sedih dikenangkan
Saat aku jauh berjalan
Dan kau kutinggalkan

Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dan sayangmu
Setulus pesanmu kepadaku
Engkau kan menunggu

Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kan ku beri
Adakah cara yang kau temui
Untuk kita kembali lagi

Alunan merdu dari Ruth Sahanaya memenuhi kamar tidur yang penuh dengan poster tokoh anime kesayanganku, Conan Edogawa. Lina, anak pengurus rumah dengan setia menemaniku yang sedang berkonsentrasi pada monitor komputer di depanku.

“Mbak, udah mo makan belum?” tanya Lina.
“Belum nih, Lin, tanggung…hehehe…”
“Kapan tuh selesai mainnya? Abis itu makan ya mbak…nanti sakit loh”

Aku hanya tersenyum pada Lina yang sedang membereskan beberapa barang di kamarku yang memang berantakan. Aku keranjingan bermain games di komputer beberapa tahun terakhir ini. Salah satu terapi yang aku terapkan untuk memulihkan kondisi kesehatan yang agak memburuk akhir-akhir ini. Kondisi yang diperparah dengan kenyataan bahwa orang yang aku cintai meninggalkanku enam bulan lalu.

***
28.04.08

“Hei, Key” sapa seseorang di belakangku. Saat aku menoleh kebelakang ternyata sudah ada sepasang mata dengan binar-binar jahil menatap mataku.
“Iiih…kamu rupanya, Sa…..darimana say?” sapaku sambil berjalan beriringan menuju pendopo kampus.
“Tadi nemuin Pak Bowo, ditanyain macem-macem masalah penelitian kemaren” ujarnya.

Aku dan Reksa kemudian duduk di pendopo sambil membuka buku tentang sosiologi konflik yang ingin aku bahas dengannya. Namaku Kaelyn Maisha, biasa dipanggil Key atau Mai, mahasiswi semester 8 Jurusan Hubungan Internasional Universitas Luar Biasa di Jakarta. Disampingku, Reksa Sabagya, kekasih hati yang telah menemaniku hampir dua tahun ini, dia semester 10 Jurusan Ilmu Pemerintahan di universitas yang sama. Sebenarnya Reksa orang yang biasa-biasa saja di mata orang lain, standar mahasiswa gitulah, tapi dia pintar berargumen, orangnya bersahaja dan super duper sabar, hehehe. Tampilannya biasa saja dengan rambut cepak dan selalu memakai tas ransel bulukan yang udah dipakainya dari pertama aku menjadi mahasiswa di kampus ini.

Banyak teman-temanku yang bertanya kenapa sih aku yang notabene “anak gaul” mau pacaran ama Reksa yang dari tampang aja kurang lebih kayak Dude Herlino lah…hehehehe...bener loh, gak bohong! tapi sayang dia agak introvert dan misterius kesannya. Aku bilang, aku juga standar-standar aja, nggak lebih kayak Laudya Cintya Bella (hahahaha *Narsis: mode on) tapi aku kebalikan dari Reksa, orangnya extrovert, agak terlalu represif malahan. Namun, justru itu yang buat aku merasa cocok dengan Reksa, dia bisa mengimbangi sikapku yang kadang agak childish.

“Key…….kok melamun? Aku kan tadi lagi nanya masalah konflik sosial yang mau kamu teliti”
“Duh, maaf, Sa…aku tadi lagi mikiran kita aja…”
“Loh, kenapa mikirin kita…ada apa emangnya?”
“Nggak sih…lagi mikir aja, kok bisa ya aku suka ama kamu…” ujarku sambil tertawa.
“Ooh…jadi gitu ya…nyesel udah jadi pacar aku? Mau ngajak putus? Atau kamu udah gak populer lagi?”
“Ih, bukannya gitu Reksa sayang…jangan ngomong sembarangan dong, kata orang omongan itu doa loh…” aku memberengut menatap wajahnya.
“Hehehe…enggak kok, Key, gitu aja udah ngambek”, Reksa mengelus rambut sebahuku dengan sayang, “makanya, jangan mikirin yang macem-macem tentang hubungan kita, hehehe” ujarnya sambil terkekeh. Aku paling suka mendengar tawanya, kekehannya, dan senyumnya. Belum lagi dua lesung pipi yang terbentuk saat dia tersenyum, aku yakin bakal merindukan itu semua.
“Tuh kan, ngelamun lagi” katanya sambil menjawil hidungku.
“Ngelamunin kamu kok, sayang……” kataku sambil tersenyum lagi.

Kami pun melanjutkan diskusi tentang masalah yang ingin aku teliti. Semilir angin dan suara riuh rendah mahasiswa di sekeliling kampus menemani sore saat itu. Beberapa teman juga ikut nimbrung dan memberikan saran tentang penelitian kecil-kecilanku. Sesekali terdengar suara tawa yang pecah kala ada teman yang menceritakan cerita lucu. Rasanya begitu nyaman seperti ini dan tak ingin berubah selamanya.

***
30.04.08
“Happy Anniversary, sayang……” seruku saat Reksa datang di rumah untuk menjemputku.
“Ya ampuun…hari ini ya, Key?” tanyanya sambil menyerahkan helm kepadaku.
“Iiih…Lupa ya…” aku memanyunkan bibir sambil naik ke atas motornya.
“Yah, maklumlah banyak yang dipikirin…happy anniversary juga ya…” ujarnya sambil tersenyum.
Lagi-lagi aku luluh pada senyuman malaikatnya, tak akan mampu lama-lama marah padanya, akupun tersenyum dan kami langsung berangkat menuju kampus biru tercinta.

Lima belas menit kemudian kami tiba di kampus Unilub alias Universitas Luar Biasa, salah satu kampus swasta yang lumayan diminati oleh calon mahasiswa di Jakarta. Awalnya aku memilih kampus negeri saja untuk tempatku kuliah, tapi karena banyak faktor yang menyebabkan aku berubah pikiran dan kuliah disini. Not bad, lah! pikirku, karena banyak yang telah aku dapatkan selama kurang lebih 2 tahun aku kuliah disini. Ilmu, pengalaman, sahabat, kekasih, musuh, dan banyak lagi yang lainnya, yang semua itu membuat aku merasa betah berada disini. Di kampus ini aku bukan hanya kuliah, tapi juga berinteraksi dengan yang lain, membuatku merasa semua ini bagian hidupku yang cukup sempurna.

“Kenapa lagi sih, Key? Ngelamun terus kerjaannya, ntar pas istirahat kita makan-makan ya di kantin ngerayain dua tahun jadian kita……hehehehe”
“Benar ya???”
“Iya…mau berdua apa rame-rame?”
“Berdua aja dong…hari ini kan our special day”
“Oke deh…see you at one o’clock ya…” kami pun berpisah jalan menuju kelas masing-masing dan tak sabar menunggu waktu siang tiba.

***

“Happy second anniversary sayang……”
Tiba-tiba saat menunggu di kantin aku dikejutkan kedatangan Reksa dengan sepotong kue tar kecil yang imut banget hiasannya. Ditambah lagi dengan sikapnya yang romantis, asli bukan Reksa banget dah!
“Hmmm….hari spesial ya, Sa….nggak nyangka kamu bisa kayak gini…”
“Idih…ngejek apa nyindir nih, kamu kan tau aku emang kayak gini dari awal…makanya aku minta ajarin kamu gimana caranya romantis-romantisan…hehehehe” lagi-lagi Reksa mengeluarkan senyuman yang membuat hatiku luluh.
“I love you just the way you are kok, Sa…”
“Halah kamu……” ujarnya sambil mengusap kepalaku sayang, “Ya udah, yuk kita makan kuenye…emp, tapi kamu pesanin makanan ya…kayak biasa, Key…”
Aku mengangguk dan beranjak ke tempat bang Sam, yang nama panjangnya Samsudin, untuk memesan dua porsi karedok dan dua gelas es jeruk manis, menu makan siang favorit kami berdua. Ketika aku bergerak dengan gerakan yang lumayan cepat dan mendadak, aku merasakan sakit yang sangat menyengat di pinggangku, rasa ngilu yang amat sangat seketika langsung menghantam bagian belakang tubuhku. Aku seakan melupakan sekelilingku karena tiba-tiba pandanganku gelap dan roboh ke tanah seketika.

***

21.05.08
Hhm….akhirnya aku bisa kembali menghirup udara segar di luar rumah, setelah hampir sebulan meringkuk di tempat tidur dalam masa recovery. Entahlah apa yang terjadi dengan tubuhku ini, beberapa tahun terakhir memang terasa ada yang janggal. Aku sudah menemukan fakta-fakta yang agak menyedihkan tentang penyakitku ini. Namun, Ibuku tidak mau memberitahu apa yang dokter katakan tentang penyakitku. Aku tahu beliau hanya ingin membuatku tenang dan tidak stres dalam menjalani hidup. Tapi ada satu hal yang harus aku lakukan, satu hal yang aku yakin akan membuyarkan semua mimpi-mimpi indahku. Satu hal yang membuatku harus melatih emosi, kesabaran, dan ketabahanku.

“Morning, Key…………….” sapa seseorang yang sangat kurindukan sebulanan ini.
“Hai, Sa….” jawabku sambil senyum singkat.
“Kamu masih sakit, Key? Kok dingin gitu sih tanggapannya?”
“Emp…biasa aja kali, Sa…oya, aku mo ngomong sesuatu ma kamu nih, ke pendopo yuk”
“Ada apa sih? Buat aku penasaran aja” sahut Reksa seraya mengikutiku dari belakang. Angin sepoi-sepoi berhembus membuat rambutku sedikit berantakan. Pendopo ini sangat strategis karena berada di tengah-tengah taman kampus di sekitar kolam ikan.
“Aku mau break bentar, Sa” ujarku lirih.
Aku tak mau melihat wajahnya saat aku mengatakan itu. Hal ini merupakan keputusan yang sangat dan paling berat dalam hidupku. Aku merasa, aku tak terbiasa berkeliaran di kota ini tanpa dirinya. Tapi, ada satu hal yang membuatku harus melakukan ini, karena inilah yang terbaik untuk kami.
“Maksud kamu, Key? Berhenti sebentar berhubungan dengan aku?” aku hanya mengangguk.
“Tanpa penjelasan, Key? Apa aku ada salah ama kamu, Key? Atau ada orang lain yang masuk ke hati kamu?”
“Nggak, bukan gitu, aku masih dan akan selalu sayang sama kamu, Sa. Kamu tau itu kan? Aku hanya ingin break bentar, mikirin gimana akhirnya hubungan kita. Mikirin gimana baiknya untuk kita berdua setelah kita nggak sama-sama lagi. Apa aku bisa hidup tanpa kamu, dan kamu bisa hidup tanpa aku?”
“Kamu tau itu nggak mungkin kan, Key?” aku hanya tersenyum miris.
“Sekarang, silakan kamu pilih jalan kamu sendiri, semoga saat kita bertemu lagi, kamu tetap memilih aku” aku pergi meninggalkannya di taman itu dengan hati yang perih. Semua ini bukan kemauanku, ini hanyalah masalah keadaan. Suatu saat, ketika aku bertemu dengannya lagi dia akan tahu alasan aku melakukan ini.

***

10.01.10
Air mata ini seperti tak bisa berhenti mengalir di pipiku. Sejak dua tahun lalu aku masih tidak bisa melupakan keberadaan Reksa di hatiku. Like a shadow that always follow me wherever I am. Betapa sulitnya melupakan sesuatu yang memang tak ingin dilupakan. Mataku terpaku lagi pada sebuah undangan yang masih tergeletak di meja komputer di depanku. “Hari ini diadakan resepsi pernikahan antara Atara Eloise Novyana, S. Psi dengan Reksa Sabagya S. Sos, atas restu Allah SWT” begitu salah satu isi yang tertera di undangan tersebut. Pertama kali aku menerima undangan ini aku merasa hampa dan mati rasa, makin diperparah dengan kondisi tubuhku yang sedang tidak dalam kondisi terbaik. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa ini adalah yang terbaik. Aku sendiri yang dulu memutuskan untuk berpisah dengannya dan memilih jalan kami masing-masing. Aku harus menerima keputusan Reksa meski pahit. Selama berpisah memang kami jarang berkomunikasi, aku tengah berjuang untuk mencari jalan keluar dari hatinya. Hari ini, aku harus menghadiri resepsi pernikahan orang yang aku cintai, dan aku harus kuat menghadapinya.

“Mbak yakin dengan keputusan ini?” tanya Lina sambil mengeluarkan kursi roda yang setahun ini menemaniku.
“Insyaallah, Lin, kamu harus bantu aku ya…”
“Pasti mbak, aku selalu mendukung mbak, kok” Lina membantuku turun dari mobil dan mendorongku masuk ke dalam gedung serbaguna kampusku.
‘Bismillaah…ya Allah kuatkan aku’ batinku.
Hatiku sedikit tergetar saat kulihat Teh Irene di bagian depan penyambut tamu. Dapat kulihat tatapan sedihnya saat melihat aku datang dengan Lina. Beberapa orang membantu Lina mengangkat kursi rodaku karena memang jalanan agak sedikit bertangga-tangga. Aku menggigit bibirku agar air mata yang kutahan tidak terjatuh. Teh Irene, Ryan, dan yang lainnya sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Ini cobaan pertamaku, aku harus bertahan sampai aku bertemu dengan kedua mempelai.
“Key…apa kabar kamu? Teteh nggak tau….sejak kapan kamu...keadaan kamu seperti ini?” Teh Irene menghampiriku, memeluk dan menyiumiku.
“Alhamdulillah baik, teh, ya seperti inilah aku sekarang…udah sejak setahun yang lalu kondisiku kayak gini…aku masuk dulu ya, Teh” Teh Irene mengangguk dan membiarkan Lina mendorongku masuk ke dalam gedung. Ada beberapa orang yang kukenal menyapaku, aku tidak pernah malu dengan kondisiku seperti ini, meski orang lain memandang aneh diriku dengan kursi roda ini.

Akhirnya aku berjalan menuju pelaminan, kusalami kedua orang tua mempelai perempuan. Hingga hatiku tak kuasa menahan sakit yang sangat saat aku menghampiri kedua mempelai.
“Selamat ya…” aku menyalami Atara, aku mengenalnya sebagai adik tingkatku di kampus ini, wajahnya cantik dengan riasan pengantin serasi sekali dengan Reksa.
“Reksa…selamat…” aku menyalaminya juga tanpa melihat matanya, aku masih tak mampu.
“Te..terima kasih, Key” Reksa masih terus menatap aku dan kondisiku, aku paling tidak suka dengan tatapan penuh rasa kasihan itu.
“Selamat akhirnya kamu sudah menemukan labuhanmu, inilah jalan yang kamu pilih, Reksa, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah…” ujarku tulus seraya melepaskan tangannya dan mengarahkan Lina ke orang tua Reksa.
“Ibu…Bapak…selamat…maaf aku tidak bisa menepati janjiku dulu untuk selalu menjaga Reksa…aku…” pertahanan yang kubuat akhirnya bobol juga saat ibu Reksa memelukku. Setitik air mata jatuh ke pipiku.
“Kaelyn…ibu tak tau keadaan kamu seperti ini, nak…kamu menutup dirimu dari kami. Ibu sayang kamu, Key…tolong jangan berubah ya, Key…” aku hanya mengangguk, tanpa tahu apa yang harus aku katakan. Aku pamit dan meminta Lina untuk membawaku keluar, aku tak mau orang melihat dimataku masih ada cinta untuk Reksa. Kurasakan tatapan Reksa di punggungku saat aku pergi keluar gedung.
“Key…yang tabah ya sayang….kami semua sayang kamu” ujar Teh Irene dan memelukku lagi, sekali lagi aku tak bisa menahan tangis yang dengan susah payah kutahan.
“Iya teh…aku juga selalu sayang dengan kalian, tapi aku tau ini bukan takdirku. Aku…aku rasa ini yang terbaik buat kita semua. Reksa will be happy with her”
Teh Irene mengangguk dan sambil sesekali mengusap butiran kristal bening yang mengalir dari matanya. Tiba-tiba sesosok tubuh menyeruak antara aku dan Teh Irene. Reksa menghambur dari dalam dan memeluk tubuhku yang semakin rentan.
“Key…aku sayang kamu…aku selalu menunggu kamu menghubungi aku, Key! Aku nggak tau kondisi kamu seperti ini, pasti gara-gara kondisi kamu ini kan kamu mutusin aku? Kenapa sih, Key…Aku cinta kamu, Key, tapi kamu nggak pernah memberikan waktumu untukku lagi. Maafkan aku, Key, aku telah menghancurkan mimpi-mimpi kita” kata-kata Reksa membuat air mataku semakin deras.
“Reksa, ini jalan yang udah kamu pilih, kamu nggak boleh gitu, kasian istri kamu, Sa! Aku nggak akan bisa ngebahagiain kamu. Aku…aku sakit kanker tulang, Sa” aku merasakan Reksa dan beberapa orang di sekeliling kami terkesiap mendengar penuturanku.
“Iya, Sa, inilah alasan kenapa aku ninggalin kamu. Aku nggak akan bisa jagain kamu, Sa, apalagi bahagiain kamu! Penyakitku nggak bisa disembuhin karena nggak ada sumsum tulang yang cocok dengan aku, kamu tau kan, aku bahkan nggak pernah tau siapa Ayahku, Sa, Ayah yang seharusnya memiliki sumsum tulang yang sama dengan aku. Aku selalu cinta kamu, Reksa, tapi kita nggak bisa seperti dulu lagi. Akhirnya aku akan lumpuh total, nggak ada lagi bagian tubuh aku yang bisa digerakkan. Hingga aku hanya bisa terbaring pasrah di tempat tidurku, Reksa. Dengan kondisi seperti itu aku nggak bakalan bisa sama kamu, Sa, atau sama siapapun…nggak akan bisa…” jelasku sambil menyeka air mata di pipiku.
“Reksa, aku emang nggak bisa miliki kamu. Satu hal, aku mohon, jaga sekeping hati yang pernah aku titipkan di hatimu, Sa. Karena dengan itu aku bisa bertahan hidup hingga sekarang. Aku pernah berjanji pada diriku sendiri, Sa, hari disaat kamu telah sah menjadi milik orang lain, hari itulah aku dengan ikhlas melepaskan rasa yang ada di hatiku untuk kamu. Aku akan tersenyum untukmu hingga Tuhan mengutus malaikatNya untuk menjemputku”
Reksa memelukku semakin erat, seakan tidak mau melepasku. Aku pun berharap waktu dapat berhenti saat ini. Tapi aku tahu, ada cinta lain yang menunggu Reksa di dalam sana. Cinta yang mungkin lebih besar dari yang aku punya. Janji setia istri pada suami yang selalu menunggu dengan sabar disana. Aku melepaskan pelukan Reksa dan meminta Lina mendorongku menjauh. Lega rasanya, menumpahkan semua perasaan yang selama setahun ini aku pendam.
‘Doakan kebahagiaan untukku, Reksa! Bahkan orang sakit pun pasti menemukan jodohnya, itu janji Tuhan, Sa!’ ujarku dalam hati dan meninggalkan mereka semua tanpa pernah menoleh ke belakang.

“In my dreams I always see you soar above the sky, in my heart there will always be a place for you, for all my life. I’ll keep a part of you with me and everywhere I am there you’ll be……” (Faith Hill: There You’ll Be)

***

Read More......

The Extinction of American Bison


Nowadays, many animals become more extinct along with humans appearance; some people are considering this case related with humans behavior identically greedy for money and power. One of animals which almost extinct are American Bison in The United States. Many years ago, when amount of Bison was large, American Bison was peacefully life near humans, especially Native Americans. Bison were providing them with food, shelter, clothing, and spiritual inspiration. However, bison were begun to extinct after Europeans come to America; they slaughtered bison for clothing, sports, robe, tongue, etc. The extinction of Bison was affecting to Native American and environment.
Furthermore, Native American was living with Bison for thousand years ago, so without Bison they would be forced to leave or starve. Their relationship was very strong at that time, each of them was supply something for their life. For example, Native American plant grass as a food for Bison; likewise, Bison also provide many things for Native American like clothing and food. So, Bison was playing an important role in this life especially in Native American’s life. As a result, they really took care about Bison’s life even make a conservation place, where Bison can reproduce themselves to preserve their generations.
The other effect of Bison’s extinction is the balance of ecosystem or as known as environment. All of these things in the world need something to complete the life cycle. Wolves eat Bison, Bison eat grass, grass give energy to soil as a mineral for land life, for instance. If Bison were loss, some of part in ecosystem being incomplete. Environmentalist really took care about this case – the extinction of American Bison – because it is important to tend the balance of environment.
Therefore, the Bison, which still being life, must be preserved in a special place. Bison are found in both publicly and privately conservation places. For example, Custer State Park in South Dakota, one of the largest publicly conservation place in the world, Yellowstone National Park, Henry Mountains in Utah, Wind Cave National Park in South Dakota, and on Elk Island in Alberta, Canada. Finally, if we want to balance the environment we have to preserve Bison in a good place and treat them in a good way.

Read More......

One Heart


Aku berbeda dari mereka. A bit different I think, waktu Kak Yanti – sapaan akrabku pada Ketua Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) STAIN Pontianak, Hardianti – memintaku menjadi Ketua Divisi Penerbitan. I thought that I didn’t have capability on that. Aku sama sekali tidak memiliki kemampuan di bidang itu. Aku memang anggota LPM, tapi tak seaktif mereka, teman sesama pengurus. Itulah perbedaannya. Sedikit terharu saat Kak Yanti memintaku menjadi Ketua Divisi. Akhirnya aku menerima tawaran itu saat aku mulai menyadari disinilah duniaku.
27 Mei 2008, tanggal dimana saat-saat bersejarah itu dimulai. Pelantikan pengurus LPM periode 2008-2009. Aku merasa asing dengan orang-orang itu. Tapi aku mencoba untuk menjadi bagian dari mereka. Sedikit demi sedikit kucoba untuk masuk ke kehidupan mereka. Walau kadang aku merasa sendiri, saat Kak Yanti, Ambar, Nisa atau Marisa berbicara hal yang tidak aku ketahui. Aku merasa cukup dengan informasi yang aku dapat tanpa harus mencari sesuatu lebih dalam. Aku tak mau mencari lebih banyak tentang masalah pribadi, kecuali saat mereka sendiri yang bercerita. Aku mencoba masuk dalam lingkungan itu. Lingkungan yang sudah hampir 3 tahun kutinggalkan.

Seiring perjalanan organisasi, kutemukan banyak sekali hal yang berkesan di hati. Perlahan tumbuh menjadi bunga kasih sayang. Kasih sayang kepada sesama pengurus yang sudah kuanggap saudara. Suka duka yang dihadapi bersama menjadi bumbu penyedap selama menjalankan organisasi. Tak jarang air mata berjatuhan di balik senyum dan tawa yang selalu terulas di bibir.
Penerbitan pertama membuatku berdebar. Sudah lama aku tak bergelut di bidang ini. Untung saja aku dikelilingi orang-orang hebat yang memiliki sejuta ide dan kreativitas. Pengalaman yang takkan terlupakan saat aku, Ambar dan Kak Yanti pergi membuat Master Cetak dan membeli kertas di Jalan Siam. Harus menunggu berjam-jam, ditambah dengan tata letak tulisan yang amburadul membuat karyawan di pembuatan Master Cetak itu memberi kami ‘kertas ajaib’ yang berisikan contoh kecil dari buletin kami yang hanya terbuat dari sobekan kertas yang kecil. Setelah itu, kami bersama pergi ke percetakan Abah Press – begitu julukan yang teman-teman LPM berikan pada percetakan tetap kami ini. Rasa sesak menyelubungi hati kala Warta dicetak dan dijual pertama kali. Walau masih kurang di sana-sini, tapi tak ayal senyum itu terkembang di bibir saat tahu bahwa hasil penjualan diluar perkiraan, kami untung untuk pertama kali. Awal yang baik! Kata rekan-rekan LPM yang lain.
Setelah itu, orientasi mahasiswa kampus pun digelar. Tercetuslah sebuah ide untuk bekerja sama dalam rangka orientasi kampus ini. Tawaran pun diterima. Kami mulai bergerilya membeli segala sesuatu yang diperlukan. Mengerahkan wartawan yang tersisa untuk meliput acara itu. Tak tidur semalaman karena awalnya kami mencetak semua Warta itu dengan printer. Hingga akhirnya tak selesai dan diserahkan ke percetakan yang lebih berpengalaman. Kami menghabiskan berlembar-lembar kertas dan tinta. Dan printer yang digunakan adalah printer yang baru dibeli oleh Sekretaris Umum LPM, Ari Yunaldi. Kelelahan seolah tak dirasakan saat kebersamaan itu muncul. Dengan bermodalkan beberapa wartawan akhirnya kami bisa mengerjakan edisi khusus orientasi kampus. Tentunya dengan kekurangan di sana-sini yang menjadi pelajaran berharga bagi kami. Kekompakan dan kemauan selalu diatas segalanya! Itulah prinsip kami waktu itu.
Seiring berjalannya waktu, aku semakin merasakan ikatan kasih sayang itu. Sempat stuck di tengah jalan ketika aktivitas lain lebih dikedepankan dibanding liputan. Belum lagi wartawan yang selalu mengumpulkan hasil liputan out of deadline, di luar jangka waktu yang ditentukan. Kadang merasa kesal, tak jarang kecewa. Tapi aku sadar, itu semua adalah ‘bumbu’ aktivitas yang selalu akan ditemukan di setiap organisasi manapun. Hanya saja cara penyelesaiannya yang akan berbeda-beda. Aku sadar, di organisasi ini aku selalu melihat senyum dan tawa. Walau ledekan bergaung pada setiap aktivitas di kantor redaksi, pekerjaan selalu diselesaikan dengan hasil yang memuaskan. Akhirnya aku bisa menyimpulkan bahwa aku cinta organisasi ini, dan juga orang-orang yang ada di dalamnya. Tak masalah jika aku tak tahu semua tentang mereka, selama mereka juga menganggapku ‘ada’ di LPM, aku sudah merasa menjadi bagian dari mereka.
Aktivitas rutin yang dilakukan setelah penerbitan adalah refreshing. Biasanya kami pergi ke Jungkat Beach. Atau sekedar bercengkerama di kantin Mak Karim. Setelah aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lahir dan batin yang penuh, maka kadang kami butuh kegiatan yang bisa menyegarkan pikiran kami. Dari aktivitas non formal itu juga kami memupuk kebersamaan dan persaudaraaan. Walau berbeda tapi kami saling mengerti. Dan mencoba untuk mengerti. Walau tak semua anggota LPM bisa ikut aktivitas di luar redaksi seperti itu, tapi kami selalu mencoba untuk memahami kesibukan mereka di luar LPM. Waktu itu, bersama Ambar, Marisa, Kak Yanti, Erika, Budin, Heri dan Ari. Kami berjalan bersama, menyegarkan pikiran sambil membicarakan rencana untuk LPM kedepan. Penuh tawa dan canda. Makanan juga tentunya!
Emosi seseorang tentunya mengalami pasang surut. Begitu juga dengan orang-orang yang ada di LPM. Tak selamanya pada proses penerbitan berjalan lancar. Kejenuhan, banyaknya aktivitas terkadang membuat mereka berhenti pada satu titik. Dan itu membuat penerbitan agak terhambat. Aku memang orang yang tak bisa marah, tapi aku juga orang yang tak bisa mengendalikan emosi bila sudah marah. Tak ayal lagi, sebulan Warta tak terbit. Beban kurasakan menyesakkan dada saat warga kampus mempertanyakan keberadaan Warta. Rapat pun semakin gencar digelar guna mengatasi permasalahan ini. “Tak masalah berapapun wartawan yang bisa bekerja, asal hasilnya optimal dan Warta bisa terbit. Kita tak bisa memaksakan kehendak mereka untuk eksis di sini”, kata Kak Yanti waktu itu. Ya, aku sependapat dengannya. Tak peduli berapapun anggota yang masih peduli dengan LPM, asal kami masih bisa berkarya dan masih memiliki komitmen untuk terus memberikan informasi kepada warga kampus STAIN Pontianak.
Setelah beberapa kali edisi mingguan diterbitkan, kami merencanakan untuk menerbitkan edisi bulanan. Lagi-lagi permasalahan klasik yang kami hadapi, wartawan yang memiliki sejuta kesibukan dan membuat penerbitan terlambat beberapa waktu. Ada yang spesial dari edisi bulanan ini. Selain desain sampul yang berwarna, halamannya juga lebih banyak dari edisi mingguan biasa. Yang lebih unik adalah munculnya karya-karya karikatur dari seorang Herianto yang kerap kami panggil Mak Nyah atau Mas Lembu. Sesuatu yang bisa LPM banggakan, aku pikir, memiliki karikaturnis, fotografer, dan jurnalis-jurnalis yang hebat. Walaupun hasil penjualan untuk edisi bulanan ini kurang memuaskan, tapi kami tak patah arang, segala usaha yang telah dikerahkan wartawan tak akan pernah sia-sia.
Kala bulan Ramadhan tiba, euforia buka puasa bersama juga melanda para anggota LPM. Entah mengapa, periode ini aku pikir merupakan periode terbaik kepengurusan LPM selama beberapa tahun aku menjadi anggota LPM. Kami merencanakan kegiatan buka puasa bersama dan sahur bersama ini bisa dibilang mendadak. Hanya berawal dari pembicaraan ringan dari mulut ke mulut para anggota LPM. Hingga akhirnya beberapa orang setuju dan akhirnya terlaksana juga kegiatan itu. Disamping melaksanakan ibadah-ibadah di Bulan Ramadhan seperti biasanya, kami juga membicarakan beberapa hal. Mulai dari permasalahan pribadi, divisi, maupun LPM secara umum. Semua pembicaraan mengalir begitu saja. Tak jarang guyonan-guyonan segar menimpali pembicaraan itu. Serius tapi santai. Lucu dan unik bila mengingat kegiatan itu. Disaat kami harus tidur bersama, ibadah bersama, makan bersama, semua terasa lebih nikmat. Serasa kami memang ditakdirkan untuk selalu hidup bersama.
Semua hal menyangkut organisasi ini merupakan kenangan hebat yang pernah aku dapatkan. Semuanya unik, menarik dan berkesan. Manis dan getirnya organisasi ini kurasakan tanpa beban. Mengalir seperti air. Tak enak juga kadang bila terlalu santai, tapi makan hati juga kalau terlalu tegas. “Mereka sudah dewasa jadi tahu apa sebenarnya yang harus mereka lakukan” begitu kataku waktu mereka mulai bertingkah seenaknya. Tidak mau mencari berita. Hal yang sangat miris yang dimiliki wartawan. Akhirnya Ambar mulai cuap-cuap, aku pun mulai mengerjakan itu sendirian dengan data-data mentah yang sudah mereka kumpulkan. Sekali lagi aku tak bisa memaksa mereka.
Hal yang sulit dilupakan juga adalah saat-saat menjual Warta. Semua wartawan, anggota bahkan petinggi LPM pun dikerahkan untuk menjual Warta. Bukannya tak professional, tapi kami ingin membangun mental baja saat berhadapan dengan konsumen yang beragam. Inilah yang sangat aku apresiasi pada orang-orang di LPM, mereka memang orang-orang hebat! Tak kenal lelah dan malu untuk menjual Warta, meski cemoohan dan cibiran datang di sana-sini. Tapi kami tak pernah lelah untuk terus berkarya, memang susah mencari orang untuk menghargai hasil karya orang lain. Warta yang hanya berharga 1000 hingga 2000 rupiah pun tak lepas menjadi omongan beberapa warga kampus. “Masak seribu sih sekecil ini, Koran lokal jak seribu dapat besak”, “Mahalnye gak seribu…tak berwarne agik tuh…”, itulah beberapa contoh pernyataan warga kampus saat wartawan LPM berkeliling berjualan Warta. Rasanya aku mau menangis, kecewa dengan perlakuan warga kampus yang katanya ‘cinta’ kampus ini. Cinta kampus tapi tak mau menghargai hasil karya warga kampus sendiri alih-alih men-support-nya. Namun sekali lagi kukatakan, mereka adalah orang-orang hebat berhati baja. Walaupun kutahu sebenarnya mereka juga merasakan hal yang sama denganku, kesal, malu dan kecewa, tapi mereka tetap melewati itu, bahkan hingga akhir kepengurusan.
Saat terberat aku pikir adalah ketika aku dan Kak Yanti got scholarship from IIEF to studied in the USA for two months. Pada waktu itu aku mengalami dilema, tapi aku harus yakin sama mereka. Yakin bahwa mereka akan menerbitkan Warta tanpa kami berdua yang bisa dibilang lebih ‘senior’ dari mereka. Lagi-lagi pembicaraan dihadirkan sebagai solusi dan usulan untuk kinerja organisasi dua bulan kedepan. Dan lagi-lagi Jungkat Beach menjadi pilihan. Asyik juga terasa, menyegarkan pikiran sambil membicarakan masa depan LPM. Akan tetapi, ketika mau pulang ke Pontianak, kami diterpa hujan yang sangat lebat. Kebetulan pada saat itu aku membonceng Erika. Erika menyarankan kami untuk meneruskan perjalanan “menabrak” hujan yang lebat itu. “Hujan-hujanan saja, kak, sudah terlanjur basah”, kata Erika waktu itu. Akhirnya, aku melajukan motorku meninggalkan teman-teman yang berada di belakang kami. Sungguh pengalaman yang unik dan tak terlupakan, sekaligus nekat dan gila.
Aku yakin kebersamaan yang selama ini sudah kami bina membuat kami mencintai organisasi pers ini. Mungkin melebihi organisasi apapun yang selama ini kami jalani. Tapi, bagiku semua organisasi yang kujalani memiliki keunikan tersendiri, dan cara memiliki yang berbeda-beda. Aku pernah merasakan tawa dan tangis di organisasi eksternal, aku cinta saat-saat itu. Namun, aku juga memiliki setiap kepingan kenangan yang indah di LPM. Tidak ada yang dinomorsatukan dan tidak ada yang dianaktirikan, semuanya sama kurasa, sama-sama sebagai wadah pengembangan potensi diri.
Kepulanganku dan Kak Yanti dari Amerika tak mengurangi kebersamaan yang ada di LPM. Bahkan aku mendengar cerita dari ‘adik-adikku’, banyak cerita menarik selama aku berada di Negara Paman Sam, terutama mengenai penerbitan WARTA. Pahit dan manis yang mereka rasakan membuat mereka ditempa dengan keras. Senang sekali mendengar berita, WARTA telah terbit dua kali selama dua bulan. Pasca kedatangan kami, rapat dan pertemuan pun mulai sering diadakan kembali. Aku mulai merasakan lagi kebersamaan itu, walaupun baru kurasakan setelah sebulan aku di Pontianak karena aku masih mengalami euforia Arizona – dimana aku masih merindukan dan memikirkan teman-teman yang menemaniku dua bulan di Arizona. Akhirnya aku mendapatkan lagi soul kebersamaan itu.
Mereka memberi warna dalam kehidupanku, tak jarang aku tersenyum sendiri di waktu malam. Atau merasakan keengganan untuk pulang ketika sudah berkumpul dengan mereka. Mereka adalah bagian yang tak terpisahkan di LPM walau memiliki aktivitas yang berbeda. Polos dan unik. Membuat aku betah di LPM, organisasi yang mulanya tak terprediksi akan menjadi tempat paling istimewa di hati. Sekali lagi, kebersamaan adalah kuncinya. Jarang sekali aku mendengar keluhan yang berarti dari mereka. I’m proud with them! Jujur dari hati yang paling dalam. Merekalah yang menyembuhkan kerinduanku pada teman-teman Arizonaku. Menggantikan tangis – yang kadang masih datang kala gelap menyelimuti bumi – dengan tawa dan senyuman akibat tingkah polah mereka.
Sedih. Itulah perasaan yang menyelimutiku di sisa-sisa penghujung kebersamaan kami di LPM. Entah mengapa, aku merasakan setahun belum cukup bagi kami untuk terus berbagi. Sedih rasanya tidak bekerjasama dengan mereka lagi secara struktural. “Setahun rasa seminggu, Mak…”, kata Ari di sela-sela aktivitas kami di ruang redaksi yang selalu tidak tertata dengan baik. Rasa kebersamaan yang berubah menjadi rasa kekeluargaan ketika dengan iseng-iseng kami membuat “Pohon Keluarga”. Hanya untuk sekedar mengisi hari-hari kami yang dipenuhi dengan beragam aktivitas yang melelahkan. Bunda, Umi, Emak, dengan semua anak-anaknya. Aku senang mendengar panggilan itu, walau orang menganggap that’s the silly thing, tapi tidak denganku, aku benar-benar menyukainya, sepertinya ikatan batin kami menjadi lebih dekat karena itu.
Tak terasa, hari-hari kami di LPM tinggal menghitung hari. Entah apa lagi rencana yang ingin kami buat – kami terbiasa merencanakan sesuatu dadakan, unpredictable. Di hari-hari terakhir ini ternyata aktivitas tak jua lepas menghadang jalan kami; PW ke Jambi, Milad HMJ Dakwah, kuliah, kegiatan lainnya yang menyita waktu kami. Kesemua itu membuat pikiran kami bercabang. Di antara setumpuk pekerjaan itu dan berantakannya kantor LPM, kami tak pernah merasa jenuh untuk beraktivitas. Walaupun dengan tawa dan obrolan yang jauh dari serius, kami selalu mencoba untuk mengerti arti dan fungsi masing-masing kami di organisasi ini. Dengan segala kekurangan yang tak ditutupi, kelebihan menjadi hal yang nyata. Kepenatan tak jadi masalah asal bisa bersama.
Kegiatan terakhir di periode ini menyisakan kenangan yang tak terlupakan, pengukuhan anggota baru. Pengukuhan merupakan kegiatan perdana sepanjang perjalananku di LPM selama kurang lebih 4 tahun, jujur inilah pertama kali anggota LPM dikukuhkan. Kegiatan di bukit yang bernama Bukit Rel ini benar-benar berkesan di hati. Mulai dari kedatangan, mendaki bukit yang lumayan menanjak, mendirikan tenda, membuat kakus darurat, memasak, mengerjai para anggota baru, berjaga malam-malam, hingga melakukan jurit malam yang menantang. Persiapannya memang tak terlalu maksimal, tapi hasilnya sungguh luar biasa. Sekali lagi – dan tak pernah bosan diungkapkan – kebersamaan dan kekompakan menjadi kunci keberhasilan ini. kami mengukuhkan sepuluh orang anggota yang nantinya akan meneruskan perjuangan dan tongkat estafet perjalanan organisasi ini. Seperti kata Bung Karno, “Berikan aku sepuluh orang pemuda maka aku bisa mengubah dunia!”, semoga hal ini bisa juga terjadi di LPM. Siapa lagi yang akan peduli pada organisasi ini selain kader-kadernya sendiri.
Tak tahu apa yang terjadi setelah musyawarah besar nanti. Apakah hari-hariku akan sama, ataukah tak lagi dinamis seperti hari-hari biasa? Kemana lagi aku akan kembali kalau bukan di kantor kecil yang berantakan ini. Akan tetapi aku sadar, tak selamanya aku akan berada disini. Perjalananku masih panjang, begitu juga dengan adik-adikku di LPM. Sudah saatnya mereka mandiri, menjalankan organisasi ini dengan gaya mereka masing-masing. Tak perlu lagi aku nimbrung untuk setiap permasalahan organisasi yang ada, untuk sekedar member saran mungkin saja masih bisa dilakukan. Aku termangu, betapa aku akan merindukan organisasi ini. Cerewetnya Ambar, melankolisnya Erika, cueknya Heri, sensinya Lilis, diamnya Zai, sibuknya Septian, ayunya gaya Budin, dewasanya Ari, besarnya suara Sabri, sabarnya Ica, Bijaknya kak Yanti, cool-nya Pian, dan tegasnya Nisa. Aku akan merindukan semua itu. Ditambah lagi dengan hadirnya para anggota baru yang tak kalah unik, lucu dan masih polos. I will miss them so much when I’m not around and when I much too far away from them. They are my inspiration and no doubt for me that they will be the successful person.
Ahmad Wahib berkata dalam bukunya Pergolakan Pemikiran Islam yang redaksinya sudah kuubah, setiap organisasi merupakan alat, bukan tujuan. Organisasi hanyalah benda mati yang tak memiliki kekuatan apapun. Manusia-manusia yang menggerakkannyalah yang membuat sebuah organisasi dikenal di dunia luar. Oleh karena itu, manusia yang dibekali kelebihan akal, pikiran dan hati mestinya mampu membuat sebuah ‘alat’ ini menjadi sesuatu yang kreatif dan unik hingga tujuan yang ingin diraih mampu terealisasi karena kalau bukan manusia, siapa lagi? Wallahualam bis sawab……

Read More......

Friday, July 15, 2011

A Big Plan in My Life (Only My Imagination)


Do you want to become more powerful in your life? Dominating the world is one interesting plan. You can do anything you want if you could dominate the world. Everyone will follow you even do everything you say – it just like Dr. Evil in Austin Power’s movie, Lex Luthor, the archnemesis of Clark Kent, also known as a Superman, etc. So, what do you think “things” you must have to make that dream become real? There are three things that we must have to do that: personality, purpose, and resources.

First, the super villain must has a bad personality like a dark heart, greed, the will, very intelligence, has a desire for authoritarianism, and among others. To be a super villain it is really necessary to have a dark heart because with that you can dominate the world, be more powerful, and can earn much money. Furthermore, if you have a dark heart you will pretend that everybody is nothing; you are the best person. Everybody will be obedient to every policy that you have; everybody will follow you and it will make you more powerful in the world.
The second is our purpose to be a super villain. Is that power, money, or the world? If I was super villain, I would choose all of them. I want to be more powerful, get much money, and also dominate the world; however, three of that have a good connection. I have the power to make everybody follow my words, I can do anything to earn much money, even kill someone for that, and I can grab the world as mine because I have a lot of money and powerful.
After that, to make the dream comes true, I must have resources. Resources can help me dominate the world. There are many resources which I need: a group of scientists, workers, a rocket, a time machine, also, a secret base in a secret place. In addition, scientists would help me to make new weapons which have a great power to destroy. Besides, I need many workers to realize that, so I will pay many people to be my workers. On the other hand, I must have a secret base to do all of those activities, so nobody can imitate my invention; also, they can’t know about my plan to rule the world.
Finally, with all of these things above, I can – easily – reach my dream to dominate the world. Everybody will hear my commands, even they will be obedient to me; beside that, I will get money and become the richest person. Then, I will get pleasure from that as well as enjoy my new life as a strong person. What a perfect life!

Read More......

Bangsa yang Besar dengan Hati yang Besar

Ini adalah sepenggal kisah dari negeri orang saat berada di Tucson, Arizona, salah satu Negara bagian yang ada di United States of America (USA). Ini adalah kesempatan
yang berharga, karena selain bisa belajar bahasa Inggris, saya juga bisa belajar banyak hal disini. Mulai dari kehidupan sosial, budaya, gaya hidup dan lain sebagainya.

Satu hal yang menjadi sorotan penting dalam tulisan saya adalah frame awal yang terbentuk di otak saya – atau mungkin kebanyakan orang Indonesia – mengenai Amerika. Semua orang tahu, Amerika negara yang besar, powerful dan sangat sangat berkuasa. Oleh karena itu, kebanyakan orang Amerika itu arogan, individualis, ambisius dan terkesan cuek. Itulah pandangan awal saya mengenai orang Amerika. Tetapi, setelah saya berinteraksi dengan mereka, semua image buruk itu seolah terhapus dari pikiran saya. Mereka memang arogan tapi hanya untuk berkompetisi dalam hal yang positif. Berbeda dengan orang Indonesia yang sikap arogannya mengarah pada hal yang negatif. Mereka memang individualis, karena mereka tidak mau peduli dengan urusan orang, mereka tidak peduli latar belakang orang yang berinteraksi di sekelilingnya karena mereka bisa menerima mereka apa adanya. Tidak seperti orang Indonesia yang terlalu mau ikut campur urusan orang lain.

Selain itu, Satu hal lagi yang penting, mereka lebih “timur” dari pada orang dengan budaya ketimuran lainnya. Walaupun tidak pernah bertemu satu sama lain mereka tetap melemparkan senyum kepada kami orang Indonesia. Belum lagi kalau sedang di jalan, pengendara kendaraan baik itu bermotor, bersepeda atau memakai skateboard sekalipun, mereka tetap berhenti apabila ada pejalan kaki yang menyeberang. Sekalipun tidak ada lampu lalu lintas, mereka tetap berhenti mempersilakan kita berjalan terlebih dahulu dengan senyuman. Mereka benar-benar respek, menghargai satu sama lain. Mereka bahkan mau mempelajari bahasa Indonesia tanpa ada pandangan merendahkan. Semua ini kontras sekali apabila dibandingkan di Indonesia. Lihat saja di jalan raya, selalu macet, tidak ada yang mau mengalah, peraturan lalu lintas seenaknya dilanggar, makian terdengar dimana-mana, suara klakson juga berdesing di telinga. Apakah seperti itu adat ketimuran? Saya selalu merasa orang-orang barat lebih baik dari orang-orang timur sekalipun. Belum lagi perlakuan mereka terhadap orang tua dan orang cacat. Mereka sangat dihargai bahkan ada peraturan tersendiri yang mengatur kelangsungan hidup orang tua dan orang cacat. Di jalan, di bus, di gedung-gedung sekitar kampus, di tempat umum sekalipun ada tanda-tanda khusus untuk orang cacat dan orang tua. Mereka selalu didahulukan dalam hal pelayanan umum. Hal tersebut membuat mereka merasa lebih ‘dianggap’ dan orang cacat khususnya, tidak merasa malu berkeliaran di jalanan menggunakan kursi roda atau alat bantu apapun untuk membantu berjalan. Sangat berbeda sekali bukan? Coba saja lihat di Indonesia, duduk di kursi roda saja bisa membuat dunia seakan runtuh. Orang Indonesia terlalu gengsi dalam melakukan apapun. Selalu ingin terlihat ‘lebih’ walaupun tidak.

Belum lagi bila bicara mengenai sistem pendidikan. Sangat jauh sekali Indonesia ketinggalan dan saya merasakan itu. Kami disini harus belajar dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 05.20 malam dan setelah itu pulang langsung mengerjakan tugas yang diberikan pengajar. Benar-benar tidak ada waktu luang untuk main-main. Semua terasa begitu cepat, para pengajar ingin yang terbaik bagi kita. Kita harus membaca paling tidak satu jam setiap hari, mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan keesokan harinya, menulis jurnal setiap hari dan menunjukkannya pada advisor kita, presentasi setiap minggu, dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan terus berulang-ulang setiap hari, saya rasanya tidak sanggup melakukan itu semua. Pada awal-awal perkuliahan terasa menyiksa, keletihan selalu mendera tubuh. Tetapi pada akhirnya jadi terbiasa melakukan itu semua. Membaca, menulis lalu dipresentasikan, dan semuanya dalam bahasa Inggris. Saya merasa bahasa Inggris saya berkembang sekali karena selain di dalam kelas, kita juga diberikan conversation partner di luar kelas, seorang native speaker, jadi kemanapun saya mau pergi dia selalu menemani. Setiap minggunya kami pergi mengunjungi tempat-tempat terkenal di Arizona. Minggu ini ada pameran batu permata dan fosil-fosil dari seluruh dunia di Tucson, saya sangat senang berkesempatan melihat pameran ini karena pada even ini saya akan bertemu dengan orang dari seluruh dunia. Sebagai tambahan, minggu berikutnya kami akan mengunjungi bangunan kuno terkenal di dekat Meksiko, San Xavier Mission, gereja misi pertama di Arizona. Bertualang ke Grand Canyon, Mt. Lemmon, dan masih banyak lagi even yang ditawarkan untuk kami.

Dari paparan diatas, sangat jelas sekali bahwa mereka sangat menghormati orang yang datang ke negara mereka. Mereka sangat senang banyak orang dari belahan bumi di dunia belajar di Amerika. Pengalaman paling menarik adalah ketika salah satu pengajar mengundang kami semua – mahasiswa dari Indonesia – untuk mempresentasikan salah satu agama di Indonesia yaitu Islam kepada sekelompok anak SMP yang belajar perbandingan agama. Kami semua merasa terkesan, mengapa pengajar itu meminta kami bukan meminta dari tokoh Islam disana atau dari negara lain yang berasaskan Islam. Ternyata beliau berkata bahwa Indonesia punya sesuatu yang unik, walaupun sebagian besar penduduknya Islam tapi orang-orang Indonesia bisa menerima keberagaman, maksudnya, kami orang Indonesia datang dari latar belakang apapun tapi tetap bisa menyatu. Sebuah alasan yang menarik saya pikir karena dia belum pernah merasakan tinggal di Indonesia yang penuh dengan kemelut, tidak seperti yang ia pikirkan.

Akhirnya, tulisan ini hanyalah sebagai refleksi, bukan bermaksud menjatuhkan bangsa sendiri. Hanya saja sebagai kritikan yang membangun agar Indonesia bisa menjadi lebih baik. Agar masyarakat Indonesia bisa berpikir bahwa bangsa yang besar bukan karena kekuatan fisik yang besar tapi karena kekuatan hati yang besar.

Read More......