Clock

Friday, July 15, 2011

Bangsa yang Besar dengan Hati yang Besar

Ini adalah sepenggal kisah dari negeri orang saat berada di Tucson, Arizona, salah satu Negara bagian yang ada di United States of America (USA). Ini adalah kesempatan
yang berharga, karena selain bisa belajar bahasa Inggris, saya juga bisa belajar banyak hal disini. Mulai dari kehidupan sosial, budaya, gaya hidup dan lain sebagainya.

Satu hal yang menjadi sorotan penting dalam tulisan saya adalah frame awal yang terbentuk di otak saya – atau mungkin kebanyakan orang Indonesia – mengenai Amerika. Semua orang tahu, Amerika negara yang besar, powerful dan sangat sangat berkuasa. Oleh karena itu, kebanyakan orang Amerika itu arogan, individualis, ambisius dan terkesan cuek. Itulah pandangan awal saya mengenai orang Amerika. Tetapi, setelah saya berinteraksi dengan mereka, semua image buruk itu seolah terhapus dari pikiran saya. Mereka memang arogan tapi hanya untuk berkompetisi dalam hal yang positif. Berbeda dengan orang Indonesia yang sikap arogannya mengarah pada hal yang negatif. Mereka memang individualis, karena mereka tidak mau peduli dengan urusan orang, mereka tidak peduli latar belakang orang yang berinteraksi di sekelilingnya karena mereka bisa menerima mereka apa adanya. Tidak seperti orang Indonesia yang terlalu mau ikut campur urusan orang lain.

Selain itu, Satu hal lagi yang penting, mereka lebih “timur” dari pada orang dengan budaya ketimuran lainnya. Walaupun tidak pernah bertemu satu sama lain mereka tetap melemparkan senyum kepada kami orang Indonesia. Belum lagi kalau sedang di jalan, pengendara kendaraan baik itu bermotor, bersepeda atau memakai skateboard sekalipun, mereka tetap berhenti apabila ada pejalan kaki yang menyeberang. Sekalipun tidak ada lampu lalu lintas, mereka tetap berhenti mempersilakan kita berjalan terlebih dahulu dengan senyuman. Mereka benar-benar respek, menghargai satu sama lain. Mereka bahkan mau mempelajari bahasa Indonesia tanpa ada pandangan merendahkan. Semua ini kontras sekali apabila dibandingkan di Indonesia. Lihat saja di jalan raya, selalu macet, tidak ada yang mau mengalah, peraturan lalu lintas seenaknya dilanggar, makian terdengar dimana-mana, suara klakson juga berdesing di telinga. Apakah seperti itu adat ketimuran? Saya selalu merasa orang-orang barat lebih baik dari orang-orang timur sekalipun. Belum lagi perlakuan mereka terhadap orang tua dan orang cacat. Mereka sangat dihargai bahkan ada peraturan tersendiri yang mengatur kelangsungan hidup orang tua dan orang cacat. Di jalan, di bus, di gedung-gedung sekitar kampus, di tempat umum sekalipun ada tanda-tanda khusus untuk orang cacat dan orang tua. Mereka selalu didahulukan dalam hal pelayanan umum. Hal tersebut membuat mereka merasa lebih ‘dianggap’ dan orang cacat khususnya, tidak merasa malu berkeliaran di jalanan menggunakan kursi roda atau alat bantu apapun untuk membantu berjalan. Sangat berbeda sekali bukan? Coba saja lihat di Indonesia, duduk di kursi roda saja bisa membuat dunia seakan runtuh. Orang Indonesia terlalu gengsi dalam melakukan apapun. Selalu ingin terlihat ‘lebih’ walaupun tidak.

Belum lagi bila bicara mengenai sistem pendidikan. Sangat jauh sekali Indonesia ketinggalan dan saya merasakan itu. Kami disini harus belajar dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 05.20 malam dan setelah itu pulang langsung mengerjakan tugas yang diberikan pengajar. Benar-benar tidak ada waktu luang untuk main-main. Semua terasa begitu cepat, para pengajar ingin yang terbaik bagi kita. Kita harus membaca paling tidak satu jam setiap hari, mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan keesokan harinya, menulis jurnal setiap hari dan menunjukkannya pada advisor kita, presentasi setiap minggu, dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan terus berulang-ulang setiap hari, saya rasanya tidak sanggup melakukan itu semua. Pada awal-awal perkuliahan terasa menyiksa, keletihan selalu mendera tubuh. Tetapi pada akhirnya jadi terbiasa melakukan itu semua. Membaca, menulis lalu dipresentasikan, dan semuanya dalam bahasa Inggris. Saya merasa bahasa Inggris saya berkembang sekali karena selain di dalam kelas, kita juga diberikan conversation partner di luar kelas, seorang native speaker, jadi kemanapun saya mau pergi dia selalu menemani. Setiap minggunya kami pergi mengunjungi tempat-tempat terkenal di Arizona. Minggu ini ada pameran batu permata dan fosil-fosil dari seluruh dunia di Tucson, saya sangat senang berkesempatan melihat pameran ini karena pada even ini saya akan bertemu dengan orang dari seluruh dunia. Sebagai tambahan, minggu berikutnya kami akan mengunjungi bangunan kuno terkenal di dekat Meksiko, San Xavier Mission, gereja misi pertama di Arizona. Bertualang ke Grand Canyon, Mt. Lemmon, dan masih banyak lagi even yang ditawarkan untuk kami.

Dari paparan diatas, sangat jelas sekali bahwa mereka sangat menghormati orang yang datang ke negara mereka. Mereka sangat senang banyak orang dari belahan bumi di dunia belajar di Amerika. Pengalaman paling menarik adalah ketika salah satu pengajar mengundang kami semua – mahasiswa dari Indonesia – untuk mempresentasikan salah satu agama di Indonesia yaitu Islam kepada sekelompok anak SMP yang belajar perbandingan agama. Kami semua merasa terkesan, mengapa pengajar itu meminta kami bukan meminta dari tokoh Islam disana atau dari negara lain yang berasaskan Islam. Ternyata beliau berkata bahwa Indonesia punya sesuatu yang unik, walaupun sebagian besar penduduknya Islam tapi orang-orang Indonesia bisa menerima keberagaman, maksudnya, kami orang Indonesia datang dari latar belakang apapun tapi tetap bisa menyatu. Sebuah alasan yang menarik saya pikir karena dia belum pernah merasakan tinggal di Indonesia yang penuh dengan kemelut, tidak seperti yang ia pikirkan.

Akhirnya, tulisan ini hanyalah sebagai refleksi, bukan bermaksud menjatuhkan bangsa sendiri. Hanya saja sebagai kritikan yang membangun agar Indonesia bisa menjadi lebih baik. Agar masyarakat Indonesia bisa berpikir bahwa bangsa yang besar bukan karena kekuatan fisik yang besar tapi karena kekuatan hati yang besar.

No comments:

Post a Comment