Clock

Monday, July 18, 2011

One Heart


Aku berbeda dari mereka. A bit different I think, waktu Kak Yanti – sapaan akrabku pada Ketua Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) STAIN Pontianak, Hardianti – memintaku menjadi Ketua Divisi Penerbitan. I thought that I didn’t have capability on that. Aku sama sekali tidak memiliki kemampuan di bidang itu. Aku memang anggota LPM, tapi tak seaktif mereka, teman sesama pengurus. Itulah perbedaannya. Sedikit terharu saat Kak Yanti memintaku menjadi Ketua Divisi. Akhirnya aku menerima tawaran itu saat aku mulai menyadari disinilah duniaku.
27 Mei 2008, tanggal dimana saat-saat bersejarah itu dimulai. Pelantikan pengurus LPM periode 2008-2009. Aku merasa asing dengan orang-orang itu. Tapi aku mencoba untuk menjadi bagian dari mereka. Sedikit demi sedikit kucoba untuk masuk ke kehidupan mereka. Walau kadang aku merasa sendiri, saat Kak Yanti, Ambar, Nisa atau Marisa berbicara hal yang tidak aku ketahui. Aku merasa cukup dengan informasi yang aku dapat tanpa harus mencari sesuatu lebih dalam. Aku tak mau mencari lebih banyak tentang masalah pribadi, kecuali saat mereka sendiri yang bercerita. Aku mencoba masuk dalam lingkungan itu. Lingkungan yang sudah hampir 3 tahun kutinggalkan.

Seiring perjalanan organisasi, kutemukan banyak sekali hal yang berkesan di hati. Perlahan tumbuh menjadi bunga kasih sayang. Kasih sayang kepada sesama pengurus yang sudah kuanggap saudara. Suka duka yang dihadapi bersama menjadi bumbu penyedap selama menjalankan organisasi. Tak jarang air mata berjatuhan di balik senyum dan tawa yang selalu terulas di bibir.
Penerbitan pertama membuatku berdebar. Sudah lama aku tak bergelut di bidang ini. Untung saja aku dikelilingi orang-orang hebat yang memiliki sejuta ide dan kreativitas. Pengalaman yang takkan terlupakan saat aku, Ambar dan Kak Yanti pergi membuat Master Cetak dan membeli kertas di Jalan Siam. Harus menunggu berjam-jam, ditambah dengan tata letak tulisan yang amburadul membuat karyawan di pembuatan Master Cetak itu memberi kami ‘kertas ajaib’ yang berisikan contoh kecil dari buletin kami yang hanya terbuat dari sobekan kertas yang kecil. Setelah itu, kami bersama pergi ke percetakan Abah Press – begitu julukan yang teman-teman LPM berikan pada percetakan tetap kami ini. Rasa sesak menyelubungi hati kala Warta dicetak dan dijual pertama kali. Walau masih kurang di sana-sini, tapi tak ayal senyum itu terkembang di bibir saat tahu bahwa hasil penjualan diluar perkiraan, kami untung untuk pertama kali. Awal yang baik! Kata rekan-rekan LPM yang lain.
Setelah itu, orientasi mahasiswa kampus pun digelar. Tercetuslah sebuah ide untuk bekerja sama dalam rangka orientasi kampus ini. Tawaran pun diterima. Kami mulai bergerilya membeli segala sesuatu yang diperlukan. Mengerahkan wartawan yang tersisa untuk meliput acara itu. Tak tidur semalaman karena awalnya kami mencetak semua Warta itu dengan printer. Hingga akhirnya tak selesai dan diserahkan ke percetakan yang lebih berpengalaman. Kami menghabiskan berlembar-lembar kertas dan tinta. Dan printer yang digunakan adalah printer yang baru dibeli oleh Sekretaris Umum LPM, Ari Yunaldi. Kelelahan seolah tak dirasakan saat kebersamaan itu muncul. Dengan bermodalkan beberapa wartawan akhirnya kami bisa mengerjakan edisi khusus orientasi kampus. Tentunya dengan kekurangan di sana-sini yang menjadi pelajaran berharga bagi kami. Kekompakan dan kemauan selalu diatas segalanya! Itulah prinsip kami waktu itu.
Seiring berjalannya waktu, aku semakin merasakan ikatan kasih sayang itu. Sempat stuck di tengah jalan ketika aktivitas lain lebih dikedepankan dibanding liputan. Belum lagi wartawan yang selalu mengumpulkan hasil liputan out of deadline, di luar jangka waktu yang ditentukan. Kadang merasa kesal, tak jarang kecewa. Tapi aku sadar, itu semua adalah ‘bumbu’ aktivitas yang selalu akan ditemukan di setiap organisasi manapun. Hanya saja cara penyelesaiannya yang akan berbeda-beda. Aku sadar, di organisasi ini aku selalu melihat senyum dan tawa. Walau ledekan bergaung pada setiap aktivitas di kantor redaksi, pekerjaan selalu diselesaikan dengan hasil yang memuaskan. Akhirnya aku bisa menyimpulkan bahwa aku cinta organisasi ini, dan juga orang-orang yang ada di dalamnya. Tak masalah jika aku tak tahu semua tentang mereka, selama mereka juga menganggapku ‘ada’ di LPM, aku sudah merasa menjadi bagian dari mereka.
Aktivitas rutin yang dilakukan setelah penerbitan adalah refreshing. Biasanya kami pergi ke Jungkat Beach. Atau sekedar bercengkerama di kantin Mak Karim. Setelah aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lahir dan batin yang penuh, maka kadang kami butuh kegiatan yang bisa menyegarkan pikiran kami. Dari aktivitas non formal itu juga kami memupuk kebersamaan dan persaudaraaan. Walau berbeda tapi kami saling mengerti. Dan mencoba untuk mengerti. Walau tak semua anggota LPM bisa ikut aktivitas di luar redaksi seperti itu, tapi kami selalu mencoba untuk memahami kesibukan mereka di luar LPM. Waktu itu, bersama Ambar, Marisa, Kak Yanti, Erika, Budin, Heri dan Ari. Kami berjalan bersama, menyegarkan pikiran sambil membicarakan rencana untuk LPM kedepan. Penuh tawa dan canda. Makanan juga tentunya!
Emosi seseorang tentunya mengalami pasang surut. Begitu juga dengan orang-orang yang ada di LPM. Tak selamanya pada proses penerbitan berjalan lancar. Kejenuhan, banyaknya aktivitas terkadang membuat mereka berhenti pada satu titik. Dan itu membuat penerbitan agak terhambat. Aku memang orang yang tak bisa marah, tapi aku juga orang yang tak bisa mengendalikan emosi bila sudah marah. Tak ayal lagi, sebulan Warta tak terbit. Beban kurasakan menyesakkan dada saat warga kampus mempertanyakan keberadaan Warta. Rapat pun semakin gencar digelar guna mengatasi permasalahan ini. “Tak masalah berapapun wartawan yang bisa bekerja, asal hasilnya optimal dan Warta bisa terbit. Kita tak bisa memaksakan kehendak mereka untuk eksis di sini”, kata Kak Yanti waktu itu. Ya, aku sependapat dengannya. Tak peduli berapapun anggota yang masih peduli dengan LPM, asal kami masih bisa berkarya dan masih memiliki komitmen untuk terus memberikan informasi kepada warga kampus STAIN Pontianak.
Setelah beberapa kali edisi mingguan diterbitkan, kami merencanakan untuk menerbitkan edisi bulanan. Lagi-lagi permasalahan klasik yang kami hadapi, wartawan yang memiliki sejuta kesibukan dan membuat penerbitan terlambat beberapa waktu. Ada yang spesial dari edisi bulanan ini. Selain desain sampul yang berwarna, halamannya juga lebih banyak dari edisi mingguan biasa. Yang lebih unik adalah munculnya karya-karya karikatur dari seorang Herianto yang kerap kami panggil Mak Nyah atau Mas Lembu. Sesuatu yang bisa LPM banggakan, aku pikir, memiliki karikaturnis, fotografer, dan jurnalis-jurnalis yang hebat. Walaupun hasil penjualan untuk edisi bulanan ini kurang memuaskan, tapi kami tak patah arang, segala usaha yang telah dikerahkan wartawan tak akan pernah sia-sia.
Kala bulan Ramadhan tiba, euforia buka puasa bersama juga melanda para anggota LPM. Entah mengapa, periode ini aku pikir merupakan periode terbaik kepengurusan LPM selama beberapa tahun aku menjadi anggota LPM. Kami merencanakan kegiatan buka puasa bersama dan sahur bersama ini bisa dibilang mendadak. Hanya berawal dari pembicaraan ringan dari mulut ke mulut para anggota LPM. Hingga akhirnya beberapa orang setuju dan akhirnya terlaksana juga kegiatan itu. Disamping melaksanakan ibadah-ibadah di Bulan Ramadhan seperti biasanya, kami juga membicarakan beberapa hal. Mulai dari permasalahan pribadi, divisi, maupun LPM secara umum. Semua pembicaraan mengalir begitu saja. Tak jarang guyonan-guyonan segar menimpali pembicaraan itu. Serius tapi santai. Lucu dan unik bila mengingat kegiatan itu. Disaat kami harus tidur bersama, ibadah bersama, makan bersama, semua terasa lebih nikmat. Serasa kami memang ditakdirkan untuk selalu hidup bersama.
Semua hal menyangkut organisasi ini merupakan kenangan hebat yang pernah aku dapatkan. Semuanya unik, menarik dan berkesan. Manis dan getirnya organisasi ini kurasakan tanpa beban. Mengalir seperti air. Tak enak juga kadang bila terlalu santai, tapi makan hati juga kalau terlalu tegas. “Mereka sudah dewasa jadi tahu apa sebenarnya yang harus mereka lakukan” begitu kataku waktu mereka mulai bertingkah seenaknya. Tidak mau mencari berita. Hal yang sangat miris yang dimiliki wartawan. Akhirnya Ambar mulai cuap-cuap, aku pun mulai mengerjakan itu sendirian dengan data-data mentah yang sudah mereka kumpulkan. Sekali lagi aku tak bisa memaksa mereka.
Hal yang sulit dilupakan juga adalah saat-saat menjual Warta. Semua wartawan, anggota bahkan petinggi LPM pun dikerahkan untuk menjual Warta. Bukannya tak professional, tapi kami ingin membangun mental baja saat berhadapan dengan konsumen yang beragam. Inilah yang sangat aku apresiasi pada orang-orang di LPM, mereka memang orang-orang hebat! Tak kenal lelah dan malu untuk menjual Warta, meski cemoohan dan cibiran datang di sana-sini. Tapi kami tak pernah lelah untuk terus berkarya, memang susah mencari orang untuk menghargai hasil karya orang lain. Warta yang hanya berharga 1000 hingga 2000 rupiah pun tak lepas menjadi omongan beberapa warga kampus. “Masak seribu sih sekecil ini, Koran lokal jak seribu dapat besak”, “Mahalnye gak seribu…tak berwarne agik tuh…”, itulah beberapa contoh pernyataan warga kampus saat wartawan LPM berkeliling berjualan Warta. Rasanya aku mau menangis, kecewa dengan perlakuan warga kampus yang katanya ‘cinta’ kampus ini. Cinta kampus tapi tak mau menghargai hasil karya warga kampus sendiri alih-alih men-support-nya. Namun sekali lagi kukatakan, mereka adalah orang-orang hebat berhati baja. Walaupun kutahu sebenarnya mereka juga merasakan hal yang sama denganku, kesal, malu dan kecewa, tapi mereka tetap melewati itu, bahkan hingga akhir kepengurusan.
Saat terberat aku pikir adalah ketika aku dan Kak Yanti got scholarship from IIEF to studied in the USA for two months. Pada waktu itu aku mengalami dilema, tapi aku harus yakin sama mereka. Yakin bahwa mereka akan menerbitkan Warta tanpa kami berdua yang bisa dibilang lebih ‘senior’ dari mereka. Lagi-lagi pembicaraan dihadirkan sebagai solusi dan usulan untuk kinerja organisasi dua bulan kedepan. Dan lagi-lagi Jungkat Beach menjadi pilihan. Asyik juga terasa, menyegarkan pikiran sambil membicarakan masa depan LPM. Akan tetapi, ketika mau pulang ke Pontianak, kami diterpa hujan yang sangat lebat. Kebetulan pada saat itu aku membonceng Erika. Erika menyarankan kami untuk meneruskan perjalanan “menabrak” hujan yang lebat itu. “Hujan-hujanan saja, kak, sudah terlanjur basah”, kata Erika waktu itu. Akhirnya, aku melajukan motorku meninggalkan teman-teman yang berada di belakang kami. Sungguh pengalaman yang unik dan tak terlupakan, sekaligus nekat dan gila.
Aku yakin kebersamaan yang selama ini sudah kami bina membuat kami mencintai organisasi pers ini. Mungkin melebihi organisasi apapun yang selama ini kami jalani. Tapi, bagiku semua organisasi yang kujalani memiliki keunikan tersendiri, dan cara memiliki yang berbeda-beda. Aku pernah merasakan tawa dan tangis di organisasi eksternal, aku cinta saat-saat itu. Namun, aku juga memiliki setiap kepingan kenangan yang indah di LPM. Tidak ada yang dinomorsatukan dan tidak ada yang dianaktirikan, semuanya sama kurasa, sama-sama sebagai wadah pengembangan potensi diri.
Kepulanganku dan Kak Yanti dari Amerika tak mengurangi kebersamaan yang ada di LPM. Bahkan aku mendengar cerita dari ‘adik-adikku’, banyak cerita menarik selama aku berada di Negara Paman Sam, terutama mengenai penerbitan WARTA. Pahit dan manis yang mereka rasakan membuat mereka ditempa dengan keras. Senang sekali mendengar berita, WARTA telah terbit dua kali selama dua bulan. Pasca kedatangan kami, rapat dan pertemuan pun mulai sering diadakan kembali. Aku mulai merasakan lagi kebersamaan itu, walaupun baru kurasakan setelah sebulan aku di Pontianak karena aku masih mengalami euforia Arizona – dimana aku masih merindukan dan memikirkan teman-teman yang menemaniku dua bulan di Arizona. Akhirnya aku mendapatkan lagi soul kebersamaan itu.
Mereka memberi warna dalam kehidupanku, tak jarang aku tersenyum sendiri di waktu malam. Atau merasakan keengganan untuk pulang ketika sudah berkumpul dengan mereka. Mereka adalah bagian yang tak terpisahkan di LPM walau memiliki aktivitas yang berbeda. Polos dan unik. Membuat aku betah di LPM, organisasi yang mulanya tak terprediksi akan menjadi tempat paling istimewa di hati. Sekali lagi, kebersamaan adalah kuncinya. Jarang sekali aku mendengar keluhan yang berarti dari mereka. I’m proud with them! Jujur dari hati yang paling dalam. Merekalah yang menyembuhkan kerinduanku pada teman-teman Arizonaku. Menggantikan tangis – yang kadang masih datang kala gelap menyelimuti bumi – dengan tawa dan senyuman akibat tingkah polah mereka.
Sedih. Itulah perasaan yang menyelimutiku di sisa-sisa penghujung kebersamaan kami di LPM. Entah mengapa, aku merasakan setahun belum cukup bagi kami untuk terus berbagi. Sedih rasanya tidak bekerjasama dengan mereka lagi secara struktural. “Setahun rasa seminggu, Mak…”, kata Ari di sela-sela aktivitas kami di ruang redaksi yang selalu tidak tertata dengan baik. Rasa kebersamaan yang berubah menjadi rasa kekeluargaan ketika dengan iseng-iseng kami membuat “Pohon Keluarga”. Hanya untuk sekedar mengisi hari-hari kami yang dipenuhi dengan beragam aktivitas yang melelahkan. Bunda, Umi, Emak, dengan semua anak-anaknya. Aku senang mendengar panggilan itu, walau orang menganggap that’s the silly thing, tapi tidak denganku, aku benar-benar menyukainya, sepertinya ikatan batin kami menjadi lebih dekat karena itu.
Tak terasa, hari-hari kami di LPM tinggal menghitung hari. Entah apa lagi rencana yang ingin kami buat – kami terbiasa merencanakan sesuatu dadakan, unpredictable. Di hari-hari terakhir ini ternyata aktivitas tak jua lepas menghadang jalan kami; PW ke Jambi, Milad HMJ Dakwah, kuliah, kegiatan lainnya yang menyita waktu kami. Kesemua itu membuat pikiran kami bercabang. Di antara setumpuk pekerjaan itu dan berantakannya kantor LPM, kami tak pernah merasa jenuh untuk beraktivitas. Walaupun dengan tawa dan obrolan yang jauh dari serius, kami selalu mencoba untuk mengerti arti dan fungsi masing-masing kami di organisasi ini. Dengan segala kekurangan yang tak ditutupi, kelebihan menjadi hal yang nyata. Kepenatan tak jadi masalah asal bisa bersama.
Kegiatan terakhir di periode ini menyisakan kenangan yang tak terlupakan, pengukuhan anggota baru. Pengukuhan merupakan kegiatan perdana sepanjang perjalananku di LPM selama kurang lebih 4 tahun, jujur inilah pertama kali anggota LPM dikukuhkan. Kegiatan di bukit yang bernama Bukit Rel ini benar-benar berkesan di hati. Mulai dari kedatangan, mendaki bukit yang lumayan menanjak, mendirikan tenda, membuat kakus darurat, memasak, mengerjai para anggota baru, berjaga malam-malam, hingga melakukan jurit malam yang menantang. Persiapannya memang tak terlalu maksimal, tapi hasilnya sungguh luar biasa. Sekali lagi – dan tak pernah bosan diungkapkan – kebersamaan dan kekompakan menjadi kunci keberhasilan ini. kami mengukuhkan sepuluh orang anggota yang nantinya akan meneruskan perjuangan dan tongkat estafet perjalanan organisasi ini. Seperti kata Bung Karno, “Berikan aku sepuluh orang pemuda maka aku bisa mengubah dunia!”, semoga hal ini bisa juga terjadi di LPM. Siapa lagi yang akan peduli pada organisasi ini selain kader-kadernya sendiri.
Tak tahu apa yang terjadi setelah musyawarah besar nanti. Apakah hari-hariku akan sama, ataukah tak lagi dinamis seperti hari-hari biasa? Kemana lagi aku akan kembali kalau bukan di kantor kecil yang berantakan ini. Akan tetapi aku sadar, tak selamanya aku akan berada disini. Perjalananku masih panjang, begitu juga dengan adik-adikku di LPM. Sudah saatnya mereka mandiri, menjalankan organisasi ini dengan gaya mereka masing-masing. Tak perlu lagi aku nimbrung untuk setiap permasalahan organisasi yang ada, untuk sekedar member saran mungkin saja masih bisa dilakukan. Aku termangu, betapa aku akan merindukan organisasi ini. Cerewetnya Ambar, melankolisnya Erika, cueknya Heri, sensinya Lilis, diamnya Zai, sibuknya Septian, ayunya gaya Budin, dewasanya Ari, besarnya suara Sabri, sabarnya Ica, Bijaknya kak Yanti, cool-nya Pian, dan tegasnya Nisa. Aku akan merindukan semua itu. Ditambah lagi dengan hadirnya para anggota baru yang tak kalah unik, lucu dan masih polos. I will miss them so much when I’m not around and when I much too far away from them. They are my inspiration and no doubt for me that they will be the successful person.
Ahmad Wahib berkata dalam bukunya Pergolakan Pemikiran Islam yang redaksinya sudah kuubah, setiap organisasi merupakan alat, bukan tujuan. Organisasi hanyalah benda mati yang tak memiliki kekuatan apapun. Manusia-manusia yang menggerakkannyalah yang membuat sebuah organisasi dikenal di dunia luar. Oleh karena itu, manusia yang dibekali kelebihan akal, pikiran dan hati mestinya mampu membuat sebuah ‘alat’ ini menjadi sesuatu yang kreatif dan unik hingga tujuan yang ingin diraih mampu terealisasi karena kalau bukan manusia, siapa lagi? Wallahualam bis sawab……

No comments:

Post a Comment