Clock

Friday, July 15, 2011

Keanehan Luar Biasa

Tulisan ini berawal dari pengalaman penulis saat menempa ilmu selama dua bulan di sebuah negara yang terkenal dengan kedigdayaannya dan terkenal dengan kemajuannya di segala bidang, yaitu Amerika Serikat.
Saya menerima beasiswa dari Indonesian International Education Foundation (IIEF) yang berpusat di Jakarta. Beasiswa ini diadakan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa Indonesia yang berada dari Sabang sampai Merauke untuk belajar bahasa Inggris langsung dari Native Speakers di Amerika Serikat. Saat pertama menginjakkan kaki di Tucson, Arizona, salah satu negara bagian di Amerika Serikat, udara dingin yang tidak biasa dirasakan menerpa. Saat ini musim dingin sedang melanda Amerika Serikat. Semua serba cepat, teratur dan disiplin. Semua berjalan dengan planning yang sudah disusun. Itulah kesan pertama saat mulai berbaur dengan kehidupan sosial yang sangat berbeda dengan di Indonesia.

Saya belajar di Center for English as a Second Language (CESL), University of Arizona. Kesan pertama yang timbul saat memasuki gedung ini adalah luar biasa. CESL merupakan lembaga bahasa University of Arizona, dan setiap mahasiswa asing yang ingin melanjutkan studi ke University of Arizona harus mendapatkan rekomendasi dari CESL. Oleh karena itu, saat pertama masuk ke lembaga ini, orang-orang yang berkeliaran di dalamnya kebanyakan orang dari benua Asia, sebagian Afrika dan Amerika Latin. Jadi, setiap calon mahasiswa yang ingin melanjutkan studinya ke University of Arizona biasanya mengikuti kursus singkat yang diadakan oleh CESL – seperti yang sedang kami lakukan sekarang – sampai pada tingkatan advanced. Lembaga ini memiliki student dari 33 negara yang ada di dunia. Oleh karena itu, saya merasa sangat senang saat mendapatkan beasiswa ini, selain belajar bahasa Inggris ternyata saya juga berkesempatan untuk mengenal orang-orang dari berbagai belahan bumi ini.
Keanehan luar biasa melanda saya saat mulai memasuki minggu kedua di negara bagian ini. Saya merasa bahwa orang-orang western di CESL lebih terlihat ‘eastern’ dari pada orang-orang dari ‘eastern’ itu sendiri. Dulu mungkin saya beranggapan bahwa orang-orang timur lebih baik dari segi tingkah laku dan sikap. Tapi sekarang saya bisa merasakan bahwa anggapan itu benar-benar salah. Mereka sangat sangat bersahabat dengan para pendatang. Apalagi dengan pendatang yang datang untuk belajar disana. Mereka sangat respectful and friendly. Diluar para pengajar dan staf di CESL – artinya mahasiswa universitas atau masyarakat lainnya – sangat ramah dan selalu tersenyum apabila melihat kita. Jauh sekali dari kesan acuh tak acuh yang biasanya melekat pada diri mereka.
Selain itu, orang-orang Amerika juga sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Misalnya, mereka membuat undang-undang khusus untuk masyarakat atau orang-orang yang cacat (disability people). Tua, muda, perempuan atau laki-laki tidak merasa malu ketika mereka beraktivitas dengan menggunakan kursi roda. Ini salah satu keanehan yang saya temui. Di setiap sudut jalan, kendaraan umum, supermarket, orang-orang cacat menjadi prioritas. Mereka diberi fasilitas dan kenyamanan yang sangat sangat membuat mereka bisa berinteraksi layaknya orang sehat. Dan satu hal yang saya salut, mereka tidak pernah merasa MALU. Itu merupakan salah satu keunikan yang menarik bagi saya. Karena apabila dibandingkan dengan Indonesia, sangat jauh sekali ketinggalan. Kecacatan tubuh apalagi permanen, bagi sebagian orang di Indonesia adalah ‘kematian’. Mereka gengsi untuk beraktivitas karena selain tertekan dari dalam dirinya sendiri, juga tertekan karena pandangan orang lain. Orang Indonesia ‘peduli’ dengan cara yang salah. Dan orang-orang barat ini ‘acuh tak acuh’ dengan cara yang benar. Mereka tidak peduli seperti apa kita dan apa yang kita lakukan. Mereka hanya akan respek pada kita apabila kita juga respek pada mereka.

No comments:

Post a Comment